MEMBAHAGIAKAN KELUARGA

Pada saat manusia  baru saja menikah dan membangun rumah tangga, mungkin tidak ada sesuatu pun yang tampak suram, semuanya begitu indah dan membahagiakan.  Namun begitu memasuki tahun kedua atau bahkan ada yang lebih cepat dari itu, apalagi ditambah belum hadirnya  anak yang diinginkan, maka  hubungan  suami isteri tersebut sudah mulai  renggang, walaupun masih tampak baik dan bahagia.  Sebabnya  dapat berupa apapun, karena masing masing sudah mulai berpikir tentang diri mereka sendiri, dan biasanya yang dijadikan alasan  pokonya ialah soal anak.

Kalau sebuah pernikahan tidak didasari oleh saling percaya dan tulus, dan hanya didasarkan atas  ketertarikan satu dengan lainnya, karena  kecantikan atau ketampanan atau posisi, maka keluarga tersebut akan semakin cepat renggang dan mudah retak serta berantakan.  Biasanya  api yang srring menyulutnya ialah persoalan kecemburuan.  Hal tersebut  buah dari ketidak percayaan masing masing pihak kepada lainnya,sehingga  ketika ada sedikit saja  persoalan yang mungkin tidak disengaja, kemudian akan mudah memunculkan tuduhan  yang macam macam.

Memang tidak harus sampai ada perjanjian tertulis sebelum melangsungkan pernikahan, seperti pernyataan “apapun yang terjadi kita tidak akan berpisah atau bercerai, dan apabila  hal tersebut kita lakukan, maka kesengraaan dan kecelakaan akan selalu menimpa kita”  atau janji sejenisnya.  Sebab dengan janji semacam itu  boleh jadi justru Tuhan akan selalu menguji kekuatan  pasangan sami isteri tersebut, dan kalau misalnya ada hal yang ptinsip dan tidak dapat dihindari, maka  pasangan tersebut akan  tertimpa  sesuatu yang sangat  menyengsarakan, meskipun hanya sekdear dalam pikirannya.

Kita tahu bahwa  bercerai atau talak dalam ajaran Islam itu dimungkinkan, yakni jika  diantara kedua suami isteri memang sudah tidak  dapat distukan lagi, dan kalau dipaksakan untuk tetap bersatu, maka kebahagiaan tidak mungkin dapat diraih.  Itulah mengapa Islam juga memberikan  jalan keluar untuk mengatsi masalah  keluarga yang tidak dapat dihindari, yakni cerai.  Namun demikian bukan berarti alasan tersebut  dicari cari dan  seolah pernikahan hanya sebuah permainan semata, melainkan cerai tersebut benar benar jalan terakhir  dan  tidak ada jalan lainnya.

Nah, kalau kita memang benar benar niat membangun rumah tangga dengan tujuan sebagaimana disampaikian dalam al-Rum ayat ke 21 bahwa  pernikahan itu agar mendapatkan ketenangan bersama dengan pasangan serta menginginkan terciptanya  kasih dan sayang diantara mereka, niscaya akan dipersiapkan dengan matang serta akan terus dipelihara dengan baik.

Artinya bahwa persiapa untuk menikah tersebut  harus dilakukan, bukan semata mata  persoalan materi, melainkan persoalan hati dan perasaan juga.  Karena itulah  Islam juga menganjurkan kepada  mereka yang akan menikah membangun rumah tangga saling mengenal terlebih dahulu, dan kemudian juga melamar agar ada waktu untuk mempersiapkan segalanya sehingga pada saatnya nanti telah benar benar siap dalam arti segalanya.  Kemantapan hati dan komitmen diri untuk  membangun rumah tangga yang sakinah dan mawaddah serta rahmah haruslah menjadi unsur utama.

Kalau niat tersebut sedemikian kuatnya, maka pada saat ada sedikit persoalan,  niat tersebut tidak akan terganggu.  Bahkan  pada saat ada prahara besar sekalipun, kekokohan niat tersebut akan mampu memeprtahankan hubungan dan mahligai rumah tangga.  Apalagi kalau keluarga tersebut sudah mempunyai anak yang  harus dididik dengan benar dan diantarkan untuk menjadi generasi yang ternaik, pastilah semua itu akan mendukung terpertahankannya  rumah tangga.

Memang harus diakui dalam perjalanan rumah tangga, setiap orang mempunyai persoalan dan maslaah yang berbeda dan  pasti  akan muncul, kecil maupun besar.  Hanya saja  cara menyikapi persoalan tersebut, terkdang  tidak semua orang sama, sehingga ada yang dengan cepat terselesaikan, tetapi ada ang harus  membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan ada pula yang tidak kuat mempertahankan  keutuhan rumah tangga.

Ada saran yang  perlu dipegang oleh semua orang dalam  berumah tangga, yakni  saling melengkapi dan  beruaha untuk menjadi peredam dalam  sebuah kemelut.  Dengan kata lain, jika salah satu pihak sedang terbakar oleh nafsu amarah, yang disebabkan oleh persoalan yang dihadapinya, mungkin disebabkan oleh kecemburan yang luar biasa,  atau oleh  perselingkuhan  salah satu pihak dan   mungkin juga  oleh ketersinggungan dan lainnya, sebaiknya  pihak yang lain  mencoba untuk memadamkannya dengan menjelma sebagai air.

Memadamkan amarah pihak lain, tidak dapat dilakukan dengan kata kata  terutama pada saat emosi sedang memuncak, karena hal tersebut malah akan semakin menyulut emosi lebih besar, melainkan harus dicari celah pada saat emosi sudah mulai mereda dan dalam kondisi yang memungkinkan.  Ada seninya untuk menghadapi pihak yang sedang  memuncak amarahnya.  Mungkin sesekali waktu  dapat didiamkan untuk sementara sambil terus mendengarkan dengan baik semua yang disampaikan.  Tetapi mungkin juga dapat dilakukan  dengan sikap lain, tergantung siktuasi dan kondisinya.

Barangkali  sesekali waktu, sesikbuk apapun,  pasangan suami isteri dan juga anak anak, sangat perlu diajak untuk refressing dengan makan di luar bersama, atau pada  hari libur dapat  mendatangi tempat tempat rekkeasi bersama dan juga sesekali blehlah menginap di penginapan atau hotel.  Perbedaan situasi tersebut, aka sedikit menolong pikiran tidak tegang dan saling curiga  diantara  seluruh anggota keluarga.  Kondisi yang monoton secara terus menerus tanpa ada selingan ringan,  akan berpengaruh kepada cepat munculnya persoalan dalam rumah tangga.

Pada saat umur keluarga sudah relatif  matang, memang dibutuhkan sebuah pengorbanan kita, terutama  untuk membuat suasana di dalam rumah tetap terjaga dan tetap romantis.  Artinya terkadang karena terlalu lama, seseorang berusaha mencari sesuatu yang lain, dan hal tersebut kalau tidak dikendalikan dengan pengorbanan kita, sangat mungkin akan terlalu  jauh dan pada saatnya akan  menimbulkan persoalan dalam rumah tangga.

Kita  juga telah menyaksikan betapa ada  rumah tangga yang cukup lama  dan kita menduga keluarga tersebut akan tetap utuh, namun dalam kenyataannya rumah tangga tersebut  rusak dan berantakan.  Semua itu hanya disebabkan oleh adanya  semacam kejenuhan salah satu pihak dan tidak dibicarakan dengan lainnya, serta  mengambil jalan pintas dengan sendirinya.  Mungkin saja  salah satu pihak sudah  tidak mampu lagi  memberikan sesuatu sebagiaman ketika masih muda, tetapi kemudian  tidak saling memahami.

Seringkali masalah seperti itu muncul dalam kehidupan rumah tangga. Namun kalau semua pihak menyadari dengan keberadaan  mereka, tentu semua akan dapat dilalui dan diselesaikan dengan baik danbijak, tanpa harus merusak kondisi rumah tangga yang sudah dibangun  puluhan tahun.  Kia semua harus mempunyai prinsip membahagiakan   keluarga dengan cara yang  dapat dilakukan, walaupun tidak harus dengan berlimpahnya materi duniawi.

Barangkali perlakuan kita, kasih dan sayang yang tulus yang  masih terus kita tunjukkan kepada seluruh keluarga, adalah salah satu hal terpenting untuk  mempertaankan keutuhan rumha tangga kita.  Tentu kita akan dapat membedakan antara kasih sayang yang tulus dengan yang kamulflase, dan   pihak lain juga akan dapat merasakannya pula.  Karena itu sudah saatnya kita  memulai kembali untuk  melakukan kebajikan kepada semua keluarga kita agar kita tetap utuh sebagai satu keluarga yang dipenuhi dengan kasih dan sayang serta kesejahteraan, lahir dan batin. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.