JENIS DAN MACAM HAKIM

Kita tahu bahwa posisi hakim  merupakan posisi yang menentukan, bahkan terhadap nyawa seseorang, karena hakimlah yang  berhak memutuskan seseorang  tidak bersalah atau bersalah dan harus dihukum.  Walaupun ada upaya hokum untuk menentang putusan hakim, namun upaya tersebut dapat dianggap sangat sulit dilakukan, misalnya dengan melakukan banding atau kasasi ataupun peninjauan kembali.  Ini tentu dalam pandangan  dunia kehakiman di negeri kita Indonesia, sebab  di sini ada tingkatan  pengadilan, yakni tingkat pertama, tingkat banding dan tingkat kasasi.

Posisi hakim yang sangat menentukan tersebut, sudah barang pasti mengharuskan hakim berlaku cermat dalam memeriksa dan menerapkan hokum, agar tidak ada seorangpun yang  tidak mendapatkan keadilan.  Artinya semua keputusan yang dilakukan oleh hakim harus didasarkan atas keyakinan yang pasti dan didukung oleh alat bukti yang meyakinkan.  Boleh jadi alat bukti yang meyakinkan tersebut ialah alat bukti yang tidak memberikan keyakinan sama sekali.  Nah, alat bukti yang demikian kemudian akan menjadi dasar hakim untuk meyakinkan dirinya bahwa alat bukti tersebut tidak benar.  Itulah bukti yang meyakinkan tersebut.

Nah, dalam kenyataannya, hakim yang menempati posisi strategis tersebut tidak semuanya  menyadri posisi tersebut dan kemudian berusaha dengan sekuat tenaga untuk memenuhi harapan keadilan kepada semua pencari keadilan.  Hal tersebut disebabkan  masih ada hakim yang tega untuk menjual kepercayaan yang diberikan oleh negara kepada pihak lain yang berani membayar mahal.  Jadilah kemudian dikenal ada mafia pengadilan, dan  buktinya sudah sangat banyak, dimana hakim ditangkap tangan oleh pihak KPK dan lainnya.

Beberapa kasus terakhir yang melibatkan suap antara para hakim dengan para advikat sungguh sangat menampar dunia peradilan kita, padahal beberapaa waktu yang lalu juga sudah banyak diantara oknum hakim yang sudah diberikan pelajaran penjara oleh negara.  Bahkan seorang ketua mahkamah konstitusi, sebuah  dunia kehakiman yang  mempunyai kemutlakan dalam putusan, juga  menjadi nara pidana untuk persoalan suap karena menjual  kepercayaan kepada pihak lain.

Tentu masih banyak lagi yang hingga saat ini belum ketahuan dana man aman saja.  Namun bukan kemudian kita membiarkan mereka  menikmati kedudukan dan  uang haram menjual kepercayaan negara tersebut, melainkan mereka harus terus dauber hingga ke manapun.  Cukup banyak orang menderita, disebabkan oleh ulah hakim nakal tersebut, utamanya yang terkait dengan urusan perdata, dan  banyak pula negara dirugikan disebabkan oleh kenakalan hakim pula.

Tadinya kita memang selalu nggerundel tentang praktek mafia peradilan yang marak terjadi dihadapan kita, dan kita juga sering mengatakan  ketidak berdayaan apparat untuk memberantas segala macam mafia yang jelas jelas berada di hadapan kita, namun dengan terus menerusnya kondisi yang serupa  tanpa ada perubahan, meskipun  apparat sudah berusaha keras untuk memnyetopnya, sebagaimana yang dapat kita saksikan, maka kita kemudian berkesimpulan bahwa  secara teori saja  dunia peradilan  akan sulit untuk dibenarkan, apalagi kalau dalam praktek.

Nabi Muhammad saw sendiri sudah memprediksi bahwa  hakim itu ada tiga jenis dan macamnya, yakni hakim yang bener, yakni hakim yang tahu tentang masalah yang dihadapi  dan memutuskan dengan pengetahuannya dan kebenaran, kedua hakim yang tidak bener, yakni hakim yang mengetahui persoalan yang sedang dihadapi dan diperiksanya, tetapi kemudian tidak memutuskan berdasarkan pengetahuan dan kebenaran, melainkan  menyelewengkannya, dan ketiganya, ialah hakim yang tidak bener juga, yakni hakim yang  tidak perlu mengetahui persoalan sesungguhnya,  yang penting memutuskan sesuai dengan kehendaknya.

Kehendaknya tersebut justru atas desakan atau permohonan  pihak tertentu dengan memberikan imbalan tertentu.  Dengan begitu hakim tersebut sudah melacurkan diri untuk menjual keadilan kepada pihak yang membutuhkan dan berani membayar mahal.  Secara kepercayaan Islam, hakim pertama, yakni hakim yang bener, akan mendapatkan kemuliaan dan surge, dan kedua hakim terakhir, akan mendapatkan kenistaan dan neraka.

Pernyataan Nabi Muhammad saw tersebut secara filosofi mengandung  pernyataan yang sangat jelas, bahwa  hakim yang tidak benar dan tidak adil itu jumlahnya lebih banyak dua kali lipat dibandingkan dengan hakim yang jujur dan baik.  Pantas saja kelau kemudian dunia peradilan, utamanya yang  berada di  lingkungan kita menjadi sesuatu yang paling ditakuti oleh mereka yang tidak mempunyai harta, karena mereka sudah dapat memperkirakan kalau berperkara di pengadilan, pasti mereka tidak akan pernah memenangkannya.

Namun sesungguhnya  pernyataan Nabi tersebut juga  masih memberikan harapan kepada kita bahwa seburuk apapun pengadilan kita, tetapi pasti di sana masih ada orang atau hakim yang baik, jujur, dan berani memutuskan dengan  kebenaran.  Untuk itulah siapapun tidak boleh pesimistis dan menyerah sebelum bertanding, jika mempunyai persoalan yang harus diproses  sampai ke pengadilan, karena masih ada hakim yang bijak dan pasti akan memperjuangkan keadilan, meskipun  tanpa  harta sedikitpun.

Ada banyak cara  bagaimana  hakim  mencederai keadilan, karena meskipun telah dibungkus dengan sangat rapat, tetapi pada saatnya pastilah akan terungkap.  Kalau misalnya hingga meninggal, kasus busuknya tidak ketahuan, maka yakinlah bahwa  pengadilan Tuhan di akhirat justru lebih hebat.  Namun kalau saat di dunia ini kemudian terungkap, seharusnya  dijadikan pelajaran bagi siapapun yang pernah melakukan kecurangan, baik sebagai hakim, jaksa, apparat penegak hokum lainnya  dan masyarakat secara umum.

Persoalan hakim nakal memang sudah menjadi  rahasia umum, dan bahkan semenjak masa orde Baru sudah diupayakan untuk menghentikannya, antara lain dengan menaikkan gaji pokoknya  menjadi dua kali lipat  pegawai lainnya, namun upaya tersebut bukannya menyurutkan  niat jahat mereka, malahan sepertinya tidak ada perubahan sama sekali.  Justru yang kasat mata, malah semakin banyak penyeleweangan yang dilakukan oleh para pemutus perkara tersebut.

Dunia kehakiman memang sarat dengan godaan, bahkan semenjak pengadilan tersebut diadakan, karena  perkara yang masuk dan harus ditangani begitu banyak dan menggiurkan siapapun yang mendapatkan tawaran dari pihak pihak yang berperkara untuk memenangkan perkaranya.  Tidak saja dalam perkara perdata yang biasanya terkait langsung dengan persoalan harta, melainkan juga dalam kasus pidana, terutama  dalam kasus  yang diancam dengan hukuman berat.

Pantas saja kelau kemudian islam melalui nabi Muhammad saw memberikan ancaman dan  janji  dengan sesuatu yang luar biasa, yakni tempat akhir kita untuk selamanya, yakni di  surge bagi mereka yang kuat dan tetap teguh dalam mempertahankan kejujuran dan keadilan serta menjauh dari godaan, dan neraka bagi mereka yang tergoda dan kemudian mengambil sesuatu atas kecurangannya.  Mungkin bagi mereka saat ini belum dapat merasakan, namun setidaknya hati nuirani mereka pasti akan menentang, walaupun kemudian dikalahkan oleh nafsunya.

Berbahagial;ah mereka yang  menjadi hakim dan dapat kuat mempertahankan integritasnya, karena pasti akan mendapatkan pahala yang besar pula, dan sengsaralah bagi mereka yang menyelewengkan keadilan serta merugikan pihak lain.  Kita bermohon kepada Tuhan agar mereka yang tetap gigih mempertahankan keadilan di negeri ini selalu diberikan kekuatan serta ketabahan, dan mereka yang  curang, akan dibukakan aibnya saat di dunia ini, untuk kepentingan  banyak orang.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.