TRAGEDI MINA, APA SOLUSINYA?

Sudah berulangkali tragedy dalam pelaksanaan ibadah haji terjadi, bahkan  di Mina, tempat menginap dan melempar Jamarat, lebih sering terjadi dan memakan korban yang tidak sedikit.  Pada pelaksanaan haji tahun ini bahkan  ada tambahan musibah crane yang jatuh menimpa ratusan jamaah calon haji di masjid al-Haram Makkah.  Lantas pada saat usai melaksanakan wuku fi di Arafah, dimana para jamaah akan melempar jumrah Aqbah, terjadi tragedy  yang sangat memperihatinkan kita semua, lebih dari 750 jamaah meninggal akibat berdesakan saat lempar jumrah tersebut.

Siapapun pasti akan berkomentar bahwa pelaksanaan  atau menejemen pelaksanaan haji perlu diperbaiki.  Sesungguhnya pemerintah Arab Saudi sudah menghabiskan  milyaran dolar untuk membangun fasilitas  pelemparan jamarat, dengan tujuan untuk mempermudah dan mengurangi resiko terjadinya musibah bertumpuknya jamaah saat melempar jamarat.  Ada tiga tingkat yang dapat dilalui oleh para jamaah untuk melempar jamarat tersebut.  Namun kemudian persoalannya ialah pada saat mereka berangkat atau kembali dari melempar jamarat tersebut, di jalanan mereka juga masih  riskan untuk terjadinya penumpukan dan desakan.

Secara nalar kita memang harus mulai sadar bahwa pelaksanaan haji itu tempat dan waktunya sama dan dilaksanakan oleh jutaan orang yang datang dari penjuru dunia.  Dengan begitu menejemn jenis apapun akan sulit untuk mengatur dan mengendalikan para jamaah yang  datang dengan berbagai latar belakang etnis dan pendidikan.  Kita sudah menghimbau agar mereka  mengikuti panduan  agar dapat tertib dana man, namun jutaaan manusia yang menginginkan sesuatu yang sama  menuju satu titik yang sama, tentu tidak mudah untuk dikendalikan.

Bahkan  ada sebagian  orang yang justru terus  mendesak agar pemerintah Indonesia meminta tambahan quota kepada raja Arab Saudi untuk jamaah kita yang sudahn menumpuk menunggu giliran menunaikan ibadah haji.  Ditinjau dari aspek keamanan dan kenyamanan sebagaimana kita inginkan, tentu permohonan dan desakan tersebut sama sekali tidak rasional, karena justru untuk mendapatkan kondisi ideal dana man tersebut diperlukan pembatasan, bahkan pengurangan jumlah  orang yang menunaikan haji setiap tahunnnya.

Justru yang tepat ialah bagaimana kita menghimbau kepada pemerintah Arab Saudi untuk memikirkan ulang dan menghitung ulang jumlah jamaah haji yang ideal untuk tetap dapat menjalankan ibadah dan save.  Nah, dengan  jumlah ideal tersebut kemudian dibagi kuotanya secara proporsional.  Mungkin dengan  demikian akan muncul banyak protes dari beberapa negara, namun demi keamanan dan kenyamanan,  hal tersebut perlu diatur dan ditetapkan.

Artinya dengan mempertimbangkan  berbagai pendapat mengenai ibadah haji, seperti  kebolehan memulai melempar jumrah Aqabah, dan jamarat lainnya di hari Tasyriq.  Nah, dengan mempertimbangkan berbagai pendapat tersebut, kemudian diatur pelaksanaannya sehingga   relative tidak akan menumpuk pada saat tertentu yang dianggap sebagai saat paling afdlol.

Sebagai contoh ada ulama yang memperbolehkan melempar jamarat sejak  lewat tengah malam Idul Adlha sudah diperbolehkan sampai waktu Maghrib. Jadi tidak harus pada saat dluha atau  pagi hari sebagaimana yang dianggap afdlol.  Sementara untuk melempar jamarat pada  hari Tasyriq juga diperbolehkan sejak sebelum matahari bergeser atau sebelum dhuhur, hingga malam hari, dan tidak pada saat setelah dhuhur semata.

Pertimbangan tersebut sebagai ikhtiyar untuk mengatur arus pelemparan jamarat, sehingga jamaah tidak akan menumpuk pada saat yang bersamaan.  Kita sangat yakin bahwa  kalau dapat diatur sebegaimana  tersebut,  tentu akan dapat mengurangi resiko penumpukan yang dapat menyebabkan tragedy sebagaimana yang selama ini  terjadi.  Memang ada juga yang mengusulkan agar  jalan menuju jamarat dibagi bagi atau dipagar yang sekiranya hanya memuat 3 orang saja sehingga kalaupun ada kemacetan itu tidaka membuat panic yang lain.

Usul tersebut mungkin dapat dilakukan, namun akan sangat sulit dengan mempertimbangkan banyak aspek.  Barangkali yang memungkinkan ialah bagaimana pemerintah Saudi membatasi kuota haji pada  batas yang memungkinkan  seluruh jamaah haji dapat menjalankan rukun dan wajib haji dengan nyaman dan aman.  Namun demikian  pemerintah Saudi arabia harus siap untuk digugat oleh banyak negara dengan kebijakan pembatasan dan pengurangan kuota tersebut, karena dapat dipastikan akan banyak negara yang memprotesnya.

Menurut saya biarkan saja ada protes dari berbagai negara, namun asalkan ada argumentasi yang maton dan demi keselamatan semua pihak serta demi kenyamanan dalam menjalankan ibadah, pasti mereka yang protes, pada akhirnya akan menyadarinya.  Sudah barang tentu segala kemungkinan lainnya juga harus dianaslisa serta dilakukan  perbaikan dan persiapan yang maksimal, sehingga kelau  masih terjadi musaibah, maka hal tersebut memang  sudah berada diluar perkiraan akal manusia, semisal tragedy badai pasir yang sangat besar sehingga merenggut nyawa dan lainnya.

Kita  sama sama tahu bahwa titik yang dituju oleh para jamaah haji pada saat  Idul Adlha ialah melempar jumrah Aqabah, yakni melempar para  sebuah tugu yang hanya sekitar separoh lebih sedikit  arah.  Dapat dibayangkan kalau   taruhkan ratusan ribu manusia  pada saat yang relati sama dan menuju titik yang saam untuk melempar jumarah tersebut, betapa sulitnya dapat melakukan hal tersebut dengan baik.  Kalaupun mereka luput dari malapetakan atau musibah, sudah barang tentu banyak diantara mereka yang tidak sengaja menyakiti  saudaranya, baik dengan menyikut, mendesak atau lainnya.

Lalu bayangkan  bagaimana ibadah seperti itu dapat dikatakan khusyu’?.  Seharusnya  seluruh rangkaian ibadah haji dapat dijalankan dengan penuh kesungguhan dan  ketawadluan.  Bukankah  pada saat berhaji selalu saja didengungkan agar mereka bersabar, agar mereka berdsiplin, agar mereka selalu mengingat kepada Allah swt.  namun dalam pelaksanaannya terkadang mereka justru berlaku sebaliknya, ingin segera menyelesaikan  pelempran jumrah sehingga harus mendesak kawannya  bahkan  berlaku kasar.

Tidak ubahnya  pada saat mereka berkeinginan untuk mencium hajar Aswad, meskipun  hal tersebut tidak  wajib, tetapi mereka harus rela menyikut kawan sendiri, mendesak dan juga mendorong, sehingga  bukannya berlaku  tawadlu’ dan juga lemah lembut dengan pihak lain, melainkan justru sebaliknya berlaku kasar.  Lantas apa yang mereka dapatkan setelah itu, apakah kepuasan dapat mencium hajar Aswad? Ataukah mereka kemudian  menyesal karena telah berbuat  kasar kepada sesame muslim atau  mereka bisa bisa saja.  Semua kembali kepada masing masing.

Pantas saja kelau kemudian terjadi musibah atau tragedy Mina sebagimana yang beru saja terjadi pada saat Idul Qurban  kemarin, yakni pada saat jamaah berdesakan dan tidak terhindarkan mereka yang kehabisan oksigen, atau tergencet sehingga tidak dapat bernafas, atau mereka yang tidak kuat kemudian terjatuh dan terinjak dan lainnya.  Dengan jumlah jamaah yang begitu banyak dan  tempat yang terbatas, memang  hal tersebut dapat dimaklumi, namun apakah kita akan dipermaklumkan secara terus menerus seperti itu?.

Menurut saya, harus ada solusi untuk ke depannya, yakni  bagaimana pemerintah Saudi  memikirkan  cara berhaji yang aman dan nyaman bagi semua, bukan semakin mengejar  tambahan income karena banyaknya jamaah yang datang ke negara minyak tersebut.  Sudah saatnya pemerintah Saudi tegas  dalam hal pembatasan kuota haji, yakni  sekedar mereka yang  diperkirakan dapat menunaikan ibadah haji dengan nyaman sesuai dengan analisa ahli.

Barangkali itu yang dapat  memberikan  jalan keluar untuk mengatsi masalah yang selalu saja berpotensi untuk terjadi tragedy semacam.  Ini hanya merupakan sumbangan pikiran untuk kebaikan  pelaksanaan haji pada masa mendatang.  Tentu semuanya terserah dan kembali kepada pemerintah Arab Saudi, karena merekalah yang menentukan  segalanya tentang haji tersebut.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.