MEMBANGUN KEIKHLASAN

Peringatan Idul Adlha telah dianggap usai, setelah takbiran, shalat Id dan penyembelihan hewan kurban.  Namun sesungguhnya ada yang masih tertsisa dari Idul adlha itu sendiri, yakni apa yang didapatkan oleh umat dari Idul Adlha tersebut?. Apakah  hanya  peringatan sejenak dan setelah itu semuanya selesai tanpa bekas, atau mungkin  masih ada sebagian orang yang masih meyisakan daging kurban, atau bahkan mungkin ada pihak penjual hewan kurban sedang menghitung  keuntungan atau lainnya.

Sudah barang tentu bagi umat awam yang hanya  dapat menyaksikan Idul Adlha tersebut, baik dalam pelaksanaan shalat ataupun penyembelihan hewan kurban, mungkin tidak ada kesan mendalam dari Idul Adlha, terkecuali nasib yang menimpanya. Nasib tersebut menyangkut hal hal yang dialami saat antri untuk mendapatkan daging kurban atau bahkan  mungkin kesakitan disebabkan tergencet oleh sesame  orang yang mengantri.  Namun bagi mereka yang berkurban tentu akan lain lagi kesannya.

Sebagian diantara mereka merasa sangat puas, karena telah berhasil berkurban dari sekian tahun menabung.  Mereka ini  sangat berharap bahwa apa yang sudah dilakukannya tersebut mendapatkan ridlo dari Allah swt, sehingga menjadi amal yang berpaha dan  memberikan manfaat baginya, terutama pada saat nanti di akhirat.  Namun sebagian yang lainnya ada yang kurang puas, karena  namanya tidak diumumkan oleh panitia kepada khalayak, sehingga  masyarakat tidak tahu kalau dirinya juga ikut berkurban.

Bahkan sebagian yang lainnya lagi justru sama sekali sudah melupakan peristiwa Idul Adlha tersebut, karena tersibukkan oleh aktifitasnya sendiri.  Barangkali  merka itu telah meyakikni bahwa hewan kurban yang diserahkan kepada panitia sudah tersalurkan dengan baik, dan mereka  ridak meikirkannya lagi.  Toh hal seperti itu sudah rutin dilakukannya setiap tahun.

Sikap masing masing orang tersebut memang tidak terelakkan, karena niat  dalam berkurban masing masing orang memang berbeda.  Ada yang  benar benar ingin mendapatkan ridla dari Tuhan, sehingga  merka itu berusaha dengan kekuatan yang dimiliki agar dapat berkurban, meskipun kesehariannya  dapat dibilang kurang mampu.  Itulah keyakinan yang sudah mendarah mendaging untuk menjalankan sebuah syariat yang diyakininya benar.

Kelompok merka itu, meskipun tidak perlu mendengungkan  kata ikhlas, tetapi kita dapat menggolongkannya ebagai kelompok yang tulus dalam berbuat.  Itulah sesungguhyan diteladankan dalam  berkurban ini.  Akan lebih bagus jika ketulusan seperti itu dapat pula diwujudkan dalam aktifitas lainnya.  Artinya sifat  dan sikap tulus dalam berbuat tersebut harus menjadi dasar dari semua aktifitas seseorang, karena dengan begitu pondasi  untuk menciptakan sebuah kondisi yang bagus sudah  terpaterikan.

Namun kita juga tahu bahwa sebagian dari para  pihak yang berkurba tersebut semata mata ingin mendapatkan pujian atau setidaknya diketahui oleh masyarakat bahwa orang tersebut berkurban.  Dengan niat tersebut jika panitia ternyata tidak mengumumkan  nama nama para pihak yang berkurban, maka  mereka pasti akan tidak rela atau kurang suka.  Mereka akan merasa rugi, karena sudah berkurban tetapi tidak disebutkan, sehingga dianggapnya  kurban yang dilakukannya sama sekali tidak memberinya apa apa.

Tipe orang seeprti ini memang tidak  benar, tetapi nyatanya ada dan bahkan mungkin banyak terjadi di beberapa daerah.  Kurban bukannya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan  dilakukan secara ikhlas, melainkan hanya untuk  gengsi diri atau untuk seekedar dikenal sebagai orang yang berkurban. Kita patut kasihan dengan orang  tersebut, karena kurbannya tidak akan memberikan manfata bagi dirinya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Semenetara bagi mereka yang sudah melupakan  semua kegiatan tentang Idul Adlha karena kesibukan yang mereka alami, juga mungkin  kurang bagus untuk membangun diri dalam hal keikhlasan, terkecuali mereka itu memang benar benar lupa terhadap kebaikan yang telah mereka lakukan.  Artinya pada saat mereka beramal seperti berkurbnan tersebut tidak lagi diingat dan sudah dilupakan semenjak menyerahkan hewan tersebut kepada panitia, sehingga dia tidak ada urusan lagi apakah namanya akan diumumkan ataukah tidak.

Nah, kalau tingkatannya sudah seeprti itu sesungguhnya tingkat keikhlaannya justru telah mencapai derajat tinggi, dan  tidak perlu lagi memikirkan tentang ikhlas tersebut, karena ternyata  mereka itu telah mempraktekkannya, bukan lagi melatih diri.  Akan tetapi mencari orang seperti itu meang agak sulit pada zaman ini, karena pada umumnya justru sebaliknya, yaitu mereka ingion sekali dikenal sebagai orang yang suka berkurban.

Memang kalau kita merunut  pada  peristiwa awal  tentang kuban tersebut ialah ujian yang diberikan oleh Tuhan kepada nabiyullah Ibrahim AS.  Ujian tersebut untuk menjajaki  kesetiaan dan kepatuhan serta keikhlasan Ibrahim dalam menjalankan  perintah Allah swt.  Kita tahu bagaimana beratnya Ibrahim untuk melaksanakan perintah Tuhan yang tidak lazim, yakni perintah menyembelih putranya tercinta Ismail yang sedang tumbuh menjadi remaja cerdas  dan lucu, seorang putra yang sudah didambakannya sejak usia muda dan baru didapatkannya pada saat sudah tua.

Andaikata Ibrahim bukan seorang nabi, dapat dipastikan bahwa perintah tersebut tidak akan dipenuhinya, namun karena Ibrahim adalah orang yang sangat percaya kepada Tuhan, maka apapun perintah dan betapa beratnya sebuah perintah tersebut, haruslah dikerjakannya dengan penuh kepatuhan dan keikhlasan.  Itulah kisah  awal mula kenapa ada ibadah kurban.  Dengan keikhlaan nya itulah Ibrahim kemudian mendapatkan  kenyataan bahwa semua itu hanyalah ujian belaka, dan kemudian  Ismail dikembalikan kepada Ibrahim serta untuk kurbannya diganti dengan seekor domba.

Allahu akbar, sebuah  kepatuhan dan keikhlasan yang tidak dapat dibayangkan.  Karena itu setidaknya kita yang mewarisi syariat tersebut, yakni berkurban, hendaknya juga  disertai dengan rasa ikhlas sebagaimana Ibrahim telah dengan tulus menjalankan perintah Tuhan.  Tentu kita lebih ringan, karena hanya  memotong seekor hewan, dan bukan menyembelih anak.  Namun bagi mereka yang lebih cinta harta, tentu akan berat juga untuk melaksanakan perintah berkurban tersebut, padahal Allah swt telah memberikan begitu banyak limpahan harta kepadanya.

Beruntunglah bagi mereka yang diberikan hidayah oleh Tuhan, sehingga walaupun berat untuk berkurban tersebut, karena kemiskinan yang akrab dalam hidupnya, tetapi mereka  bertekat untuk dapat memenuhi kurban tersebut.  Mereka  sangat yakin bahwa pada saatnya mereka pasti akan dapat mengumpulkan harta yang cukup untuk membeli seekor hewan untuk kurban tersebut.  Mereka melakukan hal tersebut pastilah bukan untuk pamer atau untuk keperluan dan niat lain, salin hanya ingin menjalankan perintah Tuhan saja dan berharap pahal dari-Nya.

Ikhlas itulah inti dan tujuan akhir dari pelaksanaan kurban tersebut, sehingga kelaupun seseoranag  berkurban dengan banyak hewan, tetapi tidak dilakukan dengan keikhlasan, maka sesungguhnya kurbannya tersebut tidak akan memberinya manfaat, melainkan hanya  sebuah kesombongan dan riya semata.

Sebaliknya  akan  merugilah bagi mereka yang  secara lahir mampu berkurban, tetapi selalu beralasan untuk tidak melaksanakannya, sehingga sampai akhir hayatnya tuidak  terlaksana untuk berkurban.  Pastilah mereka itu akan  menyesal karena  walaupun  kurban tersebut tidak merupakan sebuah kewajiban secara syar’i,  akan tetapi nilainya sudah sebagaimana sebuah kewajiban.  Karena itu Tuhan pasti tidak akan suka kepada mereka yang tidak mau berkurban tersebut.

Semoga keikhlasan senantiasa berada dalam diri kita dan kita akan selalu dimudahkan dan disenangkan dalam ibadah kurban tersebut.  Dalam realisasnya, Tuhan  pasti akan memberikan sesuatu yang banyak dan baik untuk mereka yang berkurban dengan ikhlas dan juga senantiasa menjaga shalatnya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.