PERSIAPAN WUKUF

Kesibukan di tanah suci menjelang wukuf di Arafah sudah barang pasti meningkat, karena semua terkonsentrasi ke Arafah.  Kita dapat membayangkan betapa hebatnya kondisi tersebut, karena jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia, akan erada dalam waktu yang sama di tempat yang samapula untuk berwukuf.  Kalau dahulu pada zaman nabi Mhammad saw, wukuf di padang Arafah tanpa fasilitas sebagaimana saat ini, sehingga dapat dianggap bahwa pelaksnaan haji saat ini lebih ringan, khususnya pada saat berwukuf.

Namun kita tidak boleh membandingkan hal ersebut, khususnya terkait dengan berat dan ringannya pelaksanaan haji, karena saat inipun kaum muslim yang menunaikan ibadah haji akan menemukan kesulitan, terutama disebabkan banyaknya  umat yang menjalankan ibadah haji tersebut.  Jutaan manusia dengan berbagai  etnis dan warna kulit memenuhi  kota Makkah, atau bahkan secara lebih khusus menjalankan thawaf di sekitar Ka’bah, tentu  sangat sulit, terutama bagi yang sudah berusia tua dan sedang sakit misalnya.

Pada saat berwukuf di Arafah, mungkin saja masih  diangap ringan, karena disamping ada tenda yang dipersiapkan untuk berteduh dari terik mata hari di siang hari dan dari dinginnya angin di malam hari, namun pada  saat mereka harus menunaikan kewajiban melempar jumrah Aqabah, setelah mereka berwukuf, yakni pada  tanggal sepuluh Dzul Hijjah pagi hari, merekaharus berjuang untuk dapat melakukan pelembaran jumrah tersebut di tempat yang sangat sempit untuk ukuran jutaan umat.

Demikian juga setelah itu mereka juga harus melempat jamarat, yakni Ula, Wushtha, dan Aqbah setidaknya untuk dua hari setelahnya, yakni tanggal 11 dan 12 Dzul Hijjah atau bagi yang mengambil nafar Tsani malahan tiga hari, yakni dengan tanggal 13 nya.  Pada hari hari itu juga semua umat yang menjalankan haji akan melaksanakan Thawaf Ifadlah sebagai bagian tidak terpisahkan dari hajji.  Thawaf tersebut yang dirangkai dengan Sa’i, iasanya  berbarengan dengan seluruh jamaah yang melaksanakan haji, sehingga aka sangat berat dan sesak.

Namun sesunguhnya, jamaah dapat menyiasatinya dengan mencari waktu yang dianggap tidak terlalu sibuk, meskipun pastitidak akan ada waktu longgar sebagiamana yang kita harapkan.  Siasat tersebut ialah dengan mengambail jam  dan waktu  dimana  tidak Afdlal, karena  hampir seluiruh jamaah haji dipastikan akan mengambil waktu yang disunnahkan atau waktu yang utama.  Waktu tersebut, pada saat melempar jumrah Aqabah di hari Nahar, ialah pada saat  waktu dluha, dan pelemparan jamarat setelahnya ialah pada saat setelah dhuhur.

Nah, para jamaah dapat mencari waktu yang di luar itu, seperti lempar jumrah Aqabah sebelum Dluha atau bahkan mungkin setelah dhuhur, sehingga relatif lebih aman dibandingkan pada saat  sebagaimana disnnahkan tersebut.  Sementara itu untuk Thawaf Ifadlah dapat mengambil nafar Tsani, dan dilaksanakan setelah hari ke 13 setelah pulang dari Mina, sehingga sangat mungkin juga lebih mudah dibandingkan  waktu tanggal 10,11, dan 12.

Namun yang tidk boleh dilupakan ialah pada hujjaj haruslah terus berdoa memohon kepada Allah swt agar diberikan kemudahan  dalam menjalankan semua rukun, kewajiban, dan kesunnahan haji.  Kita tidak boleh menyombongkan diri dan menentukan waktu tersendiri, tanpa menyandarannya kepada Tuhan.  Kita boleh menyiasati wktu sebagaimana dijelaskan di atas, tetapi kalau kita memastikannya dan tidak mau memohon kepada Tuhan, sangat mungkin dalam waktu yang disiasaiitupun, masih akan tetap kesulitan dan mungkin juga akan mendapatkan hambatan.

Hal terpenting  sebelum menjalankan ibadah wukuf di Arafah dan rangkaian haji selanjutnya, ialah bagaimana  mempersiapkan  fisik yang prima sehingga tidak repot dan merepotkan pihak lain.  Kesehatan harus tetap dijaga agar kebugaran tetap  dapat melekat dalam tubuh dan  secara normal akan mampu melaksanakan rangkaian ibadha haji dengan baik dan sempurna.  Menjelang wuku fsebagaimana saat ini jangan gunakan waktu untuk umrah, karena pasti akan capek, utamanya dalam menjalankan Thawaf dan Sa’i yang sangat berat dengan padatnya manusia yang melaksanakanya.

Lebih bagus dimanfaatkan untuk memperbanyak membaca kitab suci, dan shalat berjamaah di masjid, serta  sekedar bersedekah kepada para fakir miskin yang ada.  Bukannya menjalankan  ibadah umarah dilarang, melainkan  semata mata  untuk menjaga fisik agar tetap bugar pada saat menjalani rangkaian ibadah haji yang menjadi tujuan utamanya.  Umrah sudah cukup dilaksanakan sekali saja pada saat datang untu pertama kalinya, dan kalau setelah haji nanti masih memungkinkan, seperti masih ada waktu yang cukup dan  fisik memungkinkan untuk melaksanakan umrah lagi, maka dipersilahkan untuk melakukannya.

 Memperbanyak doa merupakan keputusan yang tepat karena di tanah sucitersebut sangat bagus untuk merenung dan memutar ulang kisah hidup untuk selanjutnya  memohon ampunan kepada Tuhan, seraya berkomtmen untuki melakukan  hal hakl terbaik setelah kembali ke tanah air.  Bertobat untuk menghentikan semua perbuatan dosa dan aniaya,  apalagi dilakukan di tanah suci, maka hal tersebut akan  membawa kepada kebajikan yang sangat banyak, dengan catatan bahwa taubat yang diungkapkannya tersebut bernilai tulus dan secara konsisten dijalankan.

Nah, kalau memang benar  semua komitemen tersebut dijalankan setelah sampai ditanah air, maka  dapat dipastikan bahwa  haji yang dijalaninya akan menjadi mabrur.  Kemabruran haji tidak harus diungkapkan dengan kata kata, tetapi cukup dilaksanakan dalam kerja nyata, yakni menjalankan semua kebajikan dan meninggalkan  semua  kejelekan.  Jika kemudian dibandingkan antara sebelum dan setelah menjalankan haji, maka perbedaannya akan sangat tampak, yakni  menjadi lebi baik dalam segala amalnya.

Hal penting lainnya pada saat mempesiapkan  diri untuk menjalani wukuf dan rangkaian ibadah lainnya, ialah menjaga diri untuk tidak melakukan hal hal yang dapat mengganggu ibadah kita, seperti meggunjing kepada saudaranya, mencemooh jamaah lainnya, disebabkan kebiasaan yang tidak sama dengan kebiasannya, atau menghardik sesama jamaah, hanya disebabkan kelalaiannya saja, atau  melakukan hal hal tercela lainnya.

Pesan Allah swt di dalam al-Quran sangat jelas bahwa barang siapa yang melaksanakan ibadah haji, maka hendaknya dia menjauhi rafas, fasiq, dan  bermujadalah.  Artinya  semua yang sedang menjalankan haji hendaknya  tetap fokus  mencari ridla dari Tuhan dengan memperbayak ibadah, seepeti membaca kitab suci, memperbanyak  sedekah, memperbanyak shalat sunnah dan berjamaah pada shalat maktubah.  Dalam waktu yang sama juga menghindari  dari berdusta, berzina, bertengkar, menggunjing, berkata kotor, dan  perbuatan lain yang menyakitkan pihak lain.

Demikian juga dalam mempersipkan pelaksanaan wukuf dan rangkaian ibadah lainnya,  hendaknya menjaga barang barang berharga miliknya agar tidak hilang.  Kalau barang tersebut tidak cukup untuk dibawa pada saat wukuf, sebaiknya dititipkan pada pihak hotel dimana menginap, sehingga akan lebih aman dan pada saat wukuf tidak memikirkan tentang harta.  Sebab kita sering mendengar kehilangan yang dialami oleh banyak jamaah haji pada saat menjalani thawaf, dan kehilangan barang pula pada saat  wukuf dan rangkaian lainnya.

Kita doakan dari tanah air agar semua jamaah haji  yang  sebentar lagi akan melaksanakan rangkaian ibadah haji, akan dapat menjalankannya dengan baik, sehat, dan sempurna.  Pada saat menjalani semua  aktifitas  selalu mendapatkan pertolongan dari Tuhan, sehingga  tampak ringan dan mudah.  Pada  akhirnya mereka akan mendapatkan haji yang mabrur dan akan  menjadi modal yang sangat bagus bagi Indonesia untuk membangun masyarakat yang baik dan berkeadaban. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.