JANGAN KATAKAN TIDAK BISA

Seringkali orang merasa tidak mampu untuk melakukan sesuatu, dan  kata yang keluar dari mulutnya ialah saya tidak bisa atau tidak mampu.  Padahal masih ada Tuhan yang Maha Kuasa, sehingga  secara hakiki kalau Tuhan  berkehendak, tidak ada yang dapat menghalanginya.  Manusia itu membutuhkan Tuhan dalam  setiap saatnya, meskipun banyak manusia yang  hanya  membutuhkan Tuhan pada saat terjepit saja.  Seandainya manusia mau mendatangi Tuhan dalam setiap waktunya, sangat mungkin  keterjepitan tersebut tidak pernah menghinggapinya.

Mengatakan tidak mampu adalah sikap  menyerah dan akan melemahkan semua  perangkat yang ada dalam diri manusia.  Otak sebagai pengendali dalam diri manusia juga akan menutup diri, sehingga tidak ada usaha untuk mendapatkan jalan keluar atau terobosan untuk menjadi mampu.  Tentu akan sangat  berbalik jika seseorang menyatakan dirnya mampu atau dengan bahasa etika agama insyaallah akan mampu, karena dengan kata optimisme tersebut, seseorang akan  tergerak melakukan sesuatu sehingga mendapatkan jalan keluarnya.

Demikian juga dengan otak sebagai penggerak dalam diri manusia, pasti akan berusaha  mendapatkan terobosan, sehingga sesuatu yang sulit sekalipun pada saatnya akan  mendapatkan jalan keluarnya.  Aktifitas otak yang kemudian bekerjasama dengan hati akan merencanakan sesuatu  dalam upaya mendapatkan jalan keluar atas kesulitan yang didapatkan, dan  selanjutnya  rencana tersebut akan selalu diupayakan realisasinya.  Itulah mengapa  pernyataan mampu tersebut akan terus menggugah dan memberikan kesadaran yang terus menrus untuk mendapatkan kemudahan dan jalan keluar.

Hanya saja masih banyak diantara manusia yang justru lebih memilih menyerah dengan mengatakan ketidak mampuannya, sehingga seluruh organ yang seharusnya mendukung pencarian jalan keluar, akan berhenti dan pasif.  Akibat  lebih lanjutnya ialah bahwa  manusia tersebut memang benar benar tidak mampu melakukan seuatu atau menghindarkan diri dari kesulitan yang  ada.  Jenis manusia semacam itu sangat  susah untuk mencapai sukses dalam hidupnya,  karena  tidak ada dukungan dari  dalam dirinya sendiri.

Pernyataan  tidak mampu tersebut juga sekaligus menunjukkan bahwa  seseorang tersebut sama sekali tidak mempunyai ghirah untuk maju dan mendapatkan  kesuksesan.  Bagi orang yang optimis dalam menjalani hidup, tidak ada kata menyerah dan selalu akan mengatakan mampu atau insyaallah mampu.  Kalaupun pada saat tersebut belum mempunyai ide atau cara untuk melakukan sesuatu, maka itu bukan halangan untuk  menyerah dan mengatakan tidak mampu,melainkan  dengan pernyataan mampu tersebut, juustru akan memacu dirinya untuk mencari dan mendapatkan cara untuk mampu melakukan sesuatu tersebut.

Pada  sisi lain dengan pernyataan menyerah tersebut juga dapat digolongan sebagai orang yang tidak mempunyai kepercayaan kepada Tuhan, karena Tuhan itu Maha Kuasa dan Mengetahui segala sesuatu, sehingga kalau kita memang benar benar mengenal dan dekat serta senantiasa menyerahkan segala urusan kepada Tuhan, pastilah kita akan  tetap optimis dapat melakukan seuatu atau dapat menjauhkan diri dari sesuatu.

Barangkali ada yang  memahami bahwa dengan pernyataan mampu tersebut akan diniali sebagai sebuah kesombongan atau  pernyataan yang mendahuli kehendak Tuhan.  Namun  kita dapat menjelaskannya bahwa pernyataan mampu tersebut sudah barang tentu akan  disertai keyakinan bahwa  hanya Tuhanlah yang menentukan segalanya.  Dengan demikian  secara etika  seyogyanya memang disertai dengan pernyataan insyaallah yang  sesungguhnya, bukan sekedar basa basi.

Bagi seorang yang  beriman dan selalu optimis, sesungguhnya  sama sekali tidak ada  perasaan sombong atau  sejenisnya, karena  semua persoalan pastilah akan diserahkan kepada Tuhan, walaupun akan tetap berusaha dan ikhtiyar dengan kesungguhan yang maksimal.  Artinya bagi kita yang  benar benar mempercayai keberadaan Tuhan sebagai Yang Menentukan segala sesuatu,  kita tetap percaya bahwa  kita memang harus berusaha dan kemudian Tuhanlah yang akan menentukan hasilnya, tetapi bukan  dengan cara  pasif dan hanya  menyerahkan segalanya kepada Tuhan.

Paham fatalis itu sama sekali tidak akan pernah hingga dalam diri manusia optimis, karena   dalam  diri dan jiwa seorang yang optimis pastilah terpateri sebuah  keinginan untuk terus maju dan mendapatkan apapun yang diinginkan.  Namun demikian tetaplah dibatasi oleh sebuah kepercayaannya sendiri, bahwa semua  masih ditentukan oleh Tuhan.  Hanya saja kelau manusia sama sekali tidak berinisiatif melakukan sesuatu, maka Tuhan pastilah tidak akan  memberikan sesuatu yang diinginkannya.

Kembali kepada persoalan pernyataan  tidak bisa atau tidak mampu tersebut, maka sangtat disarankan kepada semua manusia agar  tetap memelihara asa yang besar untuk dapat melaklukan sesuatu yang  baik dan memang  akan memberikan manfaat bagi diri dan lingkungannya.  Untuk semua kebajikan, tidak ada kamus menyerah dan tidak mampu, karena Tuhan pastilah akan senantiasa memberikan  dukungan dan bantuan untuk dapat merealisasikan kebajikan tersebut.

Pernyataan tidak ammpu tersebut  merupakan sebuah pernyataan yang sangat dijauhi dan paling dibenci oleh mereka yang sukses dalam hidup, karena mereka sudah barang tentu tidak ingin  mengendor dalam meraih  cita cita.  Ketidak mampuan harus dibuang jauh jauh dari dalam dirinya, karena itulah salah satu penghambat paling utama yang  dapat menggagalkan langkahnya untuk mendapatkan kesuksesan. Bahkan  banyak diantara mereka yang menganggap bahwa pernyataan tidak mampu tersebut merupakan musuh nomor wahid  dari mereka yang ingin meraih sukses.

Namun dalam beberapa  hal kita juga  dapat memahami ketika ada pihak yang menyatakan tidak bisa, karena ada alasan yang sangat jelas dan dapat diterma secara nalar, seperti ketika seseorang diundang untuk menghadiri sebuah resepsi, dan  dia tahu bahwa pada  saat yang sama dia sedang ada  acara di luar kota atau bahkan di luar negeri, maka dia berusaha untuk berterus terang sehingga tidak akan mengecewakan yang mengundang, dan kemudian mengatakan “aduh maaf saya tidak  bisa”.

Dalam kasus seperti itu dan  beberap kasus sejenis, sesungguhnya kita tidak memasukkannya ke dalam persoalan yang sedang dibahas, karena  maksud  jangan pernah mengatakan “saya tidak mampu” tersebut bukan untuk hal hal seperti itu, melainkan untuk menjelaskan bahwa  sesulit apapun sesuatu persoalan, seharusnya kita tidak menyerah, karena dengan menyarah, maka  seluruh organ tubuh yang seharusnya akan berusaha mencari jalan keluar, akan menajadi pasif dan  kemudian tidak bekerja sama sekali.

Apa yang sedang dibicarakan di sini adalah persoalan  kemauan  dan ghirah yang seharusnya terus ditumbuhkan dalam diri kita, dan bukan dimatikan dengan cara menyerah sebelum melakukan sesuatu atau sebelum berusaha.  Selama ada kemauan dan keyakinan  tentang kemaha kuasaan Tuhan, selama itu pula  dipastikan akan ada jalan yang dapat mengantarkan kita kepada tujuan.  Sebaliknya ketika kita  sudah menyerah sebelum memulai berusaha, maka di situlah kekalahan awal akan terus membayangi  usaha apapun yang dilakukan.

Keoptimisan akan selalu membawa keberanian untuk bermimpi dan selanjutnya mewujudkan mimi tersebut.  Sebaliknya kepasifan akan  selalu menyumbat pikiran untuk berkreasi dan  menyetop keberanian untuk merencanakan sesuatu yang besar,alagi kemudian mewujudkanya.  Jadilah orang yang selalu optimis dan  berpikiran bahwa masa depan itu sangat tergantung kepada usaha  yang dilakukan sendiri.  Pikiran mengubah dunia adalah sebuah awal untuk sukses di masa depan, semoga kita semua menjadi pihak yang selalu optimis dalam segala hal.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.