SELAMAT UTUK PARA WISUDAWAN

Hari ini Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang akan menggelar wisuda, baik untuk S1, S2, S3 maupun D3 perbankan syariah.  Namun sangat sayang sekali bahwa  pada saat seperti itu saya justru tidak dapat menghadirinya, disebabkan sedang berada di Beirut, meskipun hari ini nanti saya  sudah  meninggalkan Beirut untuk pulang ke tanah air.  Saya hanya dapat mengucapkan selamat kepada seluruh wisudawan dan juga keluarga mereka, serta memohon mafaat yang sebesar besarnya atas kondisi ini dan sekaligus  saya juga mengucapkan selamat Idul fitri 1436 H, mohon maaf lahir dan batin.

Walaupu kehadiran  seorang rektor dalam sebuah  perhelatan wisuda sangat penting, tetapi karena ada tugas yang  saya sanggap lebih penting, maka harus mendahulukan yang lebih penting dan membawa kemaslahatan lebih banyak.  Toh, kedudukan rektor dapat dengan mudah diwakili oleh wakil rektor dan tidak akan mengurangi arti wisuda itu sendiri.  Sekali lagi atas nama  rektor, saya harus meminta maaf dan  mendoakan semoga seluruh wisudawan kali ini akan menghadapi masa depan dan membawa manfaat bagi keluaga, masyarakat dan bangsa.

Sudah barang tentu kondisi seperti saat ini sudah cukup lama dinanti, karena  para wisudawan telah berjuang dengan seluruh kemampannya untuk dapat lulus sesuai dengan jenjang masing masing.  Demikian juga keluarga sudah  bersabar menunggunya sedemikian rupa, oleh karena itu sangat pantas bilamana  saat ini mereka semua bergembira dan meluapkan rasa syukur kepada Tuhan atas capaian yang sudah diraih.

Hanya  saja perlu diingatkan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan mereka,  tetapi hanya sebuah terminal kecil yang harus dilalui sebelum mereka  menjalani perjalanan panjang untuk mengabdikan diri kepada masyarakat, sehingga hidup mereka bermakna dan memberikan manfaat yang besar bagi manusia lainnya.  Itulah sesungguhnya yang menjadi tujuan utama dalam hidup kita sebagaimana yang  pernah disampaikan oleh Nabi Muhammad saw bahwa sebaik baik manusia ialah mereka yang dapat memberikan manfaat terbesar bagi sesamanya.

Setiap kali wisuda, saya juga terus menginatkan bahkan sejak awal para mahasiswa masuk di UIN Walisongo, bahwa jangan bercita cita menjadi PNS, karena yang terjad hanya kekecewaan saja, Cuma kalau misalnya nanti ada kesempatan untuk menjadi PNS, jangan disia siakan.  Jadilah orang yang menguasa ilmu pengetahuan dan teknologi, karena dengan berilmu, pastilah banyak jalan menuju kesuksesan.  Tuhan saja menjamin siapapun yang beriman dengan benar dan sekaligus diberikan ilmu yang banyak, untuk diangkat derajatnya.

Mungkin bagi mereka yang baru lulus S1, sangat perlu mempertimbangkan untuk meanjutkan kulaih di S2, demikian juga bagi mereka yang lulus S2 perlu mempertimbangkan melanjutkan ke jenjang S3.  Untuk saat ini sangat banyak pemberi beasiswa, baik dari dalam mapun dari luar negeri yang  menawarkan kepada mereka yang berprestasi.  Syarat mutlaknya memang berprestasi, sehingga para pemberi beasiswa  nantinya dapat berharap yang dibantu tersebut dapat menyelesaikan studinya tepat waktu.  Prestasi tersebut, tentunya juga termasuk penguasaan bahasa asing yang dipersyaratkan.

Karena itu sebaiknya yang saat ini diwisuda, kalau memang merasa kemampuan bahasanya belum memenuhi harapan, dapat mengambil kursus intensif sebelum memasuki studi lanjut berikutnya, agar  benar benar matang terlebih dahulu, karena nantinya  diharapkan pada saat studi tidak lagi dituntut untuk kursus yang tentu akan terganghu konsentrasinya  kepada studi dan juga kursus.  Bagi mereka yang saat ini masih  belum diwisuda, masi ada banyak kesempatan untuk memperkuat bahasa melalui kursus intensif sehingga akan mempermahir diri dalam bahasa asing terwsebut.

Mungkin pada zaman dahulu, lulus S1 sudah dianggap cukup, tetapi untuk zaman sekarang, lulusan S1 belumlah cukup, karena tuntutan zaman mengharuskan  seseorang lebih menguasai ilmu dan teknlogi yang secara formal diwujudkan dalam jenjang pendidikan formal.  Kita memang mengakui bahwa ada sebagian orang yang tanpa melalui pendidikan formal, dapat meraih kesuksesan, namun itu  tidak boleh menjadi ukuran, tetapi hanya sebagi penyemangat saja, utamanya bagi mereka yang terlanjur tidak meneruskan pendidikan, agar mereka juga dapat meraih kesuksesan.

Hanya saja studi tersebut harus dilakukan dengan melalui standar yang ada yang normal, dan bukan dengan instan, karena studi yang dilakukan dengan standar yang benar akan memungkinkan seseorang matang dalam bidangnya, naun kalau dilakukan secara instan, yang diperoleh anyalah selembar kertas yang sesungguhnya sangat membahayakan dirinya sendiri.  Kita  saat ini sedang gencar untuk membongkar kepalsuan ijzah yang sengaja dibuat dan dijual oleh mereka yang tidak bertanggung jawab dan sangat merugikan dunia pendidikan.

Namun bagi mereka yang sudah merencakan untuk membangun rumah tangga, dipersilahkan untuk meneruskannya, karena itu memang manusiawi, apalagi kalau usia sudah memungkinkan untuk itu dan semuanya sudah matang serta siap.  Hanya saja sebagai lulusan dari sebuah perguruan tinggi Islam, seharusnya persoalan pendidikan tidak boleh berhenti, meskipun tidak harus melalui pendidikan formal.  Artinya terus membaca dan membaca adalah cara untuk terus mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang harus tetap dilakukan hingga habis usia kita.

Kita semua berharap bahwa  masyarakat negeri kita  akan terdidik dan dapat memosisikan diri mereka sebagaimana mestinya, sehingga hak dan kewajiban akan berjalan selaras.  Kita tidak perlu saling menunggu antara para aparat dengan rakyat, karena kalau saling menunggu maka tidak akan pernah  menyelesaikan persoalan.  Kita memang mengkritisi bahwa masih ada hal yang belum benar dalam penegakan hukum dan penerapan atas hak dan kewajiban di masyarakat dan negara kita, tetapi kalau kita memulainya dan berusaha untuk mewujudkannya, maka kondisi tersebut akan terus berlarut dan tidak pernah berubah.

Masyarakat akan menyadari posisi dan menjalankan  seiring dan seimbang antara hak dan kewajiban, bilamana mereka terdidik dengan baik dan berkarakter baik pula.  Kondisi masyarakat semacam itu memang tidak dapat diciptakan dengan serta merta, melainkan harus dilakukan dengan terprogram dan keteladanan dari para tokoh dan pemimpin yang ada dalam setiap levelnya.  Pentingnya akhlak saat ini  disadari penuh oleh semua pihak, dan pendidian selama ini rupanya sedikit tidak memperhatikan persoalan tersebut dengan baik.

Artinya  pendidikan kita selama ini  lebih menekankan aspek pengetahuan ketmbang akhlak, sehingga hasil yang dicapai juga menunjukkan hal tersebut, yakni banyak orang pandai, tetapi akhlaknya kurang.  Nah, kondisi seperti itu merupakan salah satu tantangan yang saat ini menjadi musuh kita bersama, yakni korupsi yang justru dilakukan oleh mereka yang berilmu, dan tentu menempati posisi yang strategis dalam negara.

Mungkin harapan saya tersebut terlalu banyak, tetapi itulah yang harus saya sampaiakn terutama kepada pada para lulusan UIN Walisongo yang hari ini diwisuda.  Saya sungguh sanat menaruh harapan bahwa ke depannya para lulusan tersebut dapat menjaga diri dan sekaligus juga mengharumkan nama almater mereka.  Kita semua  akan terus mendoakan kepada semua alumni agar mereka sukses di masyarakat sesuai dengan posisi masing masing. Amin.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.