ALHAMDU LILLAH SAMPAI DI BEIRUT

Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, tentu dengan transit di Dubai sekitar 3 jam, akhirnya pada  jam 18.10 menit waktu Beirut saya dapat menginjakkan kaki di Lebanon yang sudah saya kenal sejak lama, Cuma baru kali ini dapat berkunjung.  Perbedaan waktu antara Indonesia dengan Lebanon 4 jam, sehingga kalau jam Indonsia sudah jam 22.10 malam.  Perkenanalan saya dengan kota  Beirut memang melalui buku buku referensi yang berbahasa Arab yang tersebar di negeri kita dan diterbitkan di Beirut, dan bukan melalui aspek lainnya.

Memang saya tidak sempat melihat banyak hal di kota tersebut disebabkan harus terus ke hotel, tempat diselenggarakannya muktamar ulama muqawamah sedunia yang rencananya akan digelar mulai hari Selasa kemarin.  Meskipun untuk waktu Maghrib baru jam 20.06, tetapi kondisinya memang memang belum memungkinkan bagi saya untuk jalan jalan menikmati kota Beirut tersebut.  Rasa capek ditambah kondisi  badan saya sejak sebelum keberangkatan yang memang agar terganggu, saya lebih memilih berustirahat sambil menunggu waktu Maghrib.

Nah, pada Selasa tanggal 27 Juli setelah sarapan pagi, saya bersama selurh muktamirin dibawa ke UNESCO untuk acara pembukaan sekitar jam 9 dan sesuai dengan rencana pembukaan dimulai pukul 10.00.  Karena banyanya sambutan, pembukaan harus berakhir sekitar jam 12 lebih, dan langsung pulang ke hotel.  Hanya saja sebelum sampai di hotel diampirkan ke rumah makan dan sampai di hotel sudah jam 15.00.  Ada waktu satu jam untuk sekedar rileks sebelum acama sesi pertama mukmtamar dilangsungkan.

Karena presentasi saya masih pada hari kedua, maka sekitar jam 18.00 saya mengunjungi kedutaan besar RI di Beirut dan alhadu lillah bertemu langsung dengan dubes bapak KH Chozin, dan sempat berbincang cukup lama  dan saya juga mendapatkan banyak informasi penting, hanya saja sayangnya saya harus buru buru pulang Kamis, karena banyak hal yang harus diselesaikan di tanah air.  Disamping itu pak Dubes beserta 6 ulama Lebanon juga hari ini rencananya ke Indonesia untuk menghadiri muktamar Nahdlatul Ulama di Jombang.

Kebetulan saya juga  dapat kabar bahwa di global university sedang libur, sehingga tidak mungkin berkunjung ke kampus tersebut dan kampus lainnya yang diinformasikan oleh dubes, hanya saja  menurut salah seorang mahasiswa di Global yang saya minta untuk dihubungkan agar saya dapat menemuinya, justru hari ini akan menemui saya di muktamar kali ini.  Karena itu  saya merasa terhormat dan senang dan saya lakukan penjajagan kerjasama dengan universitas tersebut.

Itulah pengalaman saya  setelah satu hari di Beirut, sebuah kota di negara yang cukup kecil dengan penduduk hanya sekitar 4 juta jiwa.  Namun saya juga dapat merasakan betapa menderitanya  para pengungsi Palestina yang ada di Beirut yang hanya menempati rumah, bahkan tidak layak disebut sebagai rumah, yang sangat sederhana dan mungkin kalau musim dingin tiba mereka harus menderita.  Saya menyaksikan langsung, karena perjalanan dari hotel ke kedutaan, kebetulan melewati sebagian kampung pengungsi yang dihuni oleh sekitar 300 an orang.

Sementara itu menurut informasi dari pak dubes bahwa penduduk asli Lebanon sesungguhnya banyak hidup secara hedonis, mereka suka sekali nongkrong dan hidup mewah, karena negara tersebut cukup tinggi pendapatannya.  Kita dapat membayangkan sebuah negara dengan penduduk hanya 4 juta jiwa, sementara penduduk kota Semarang saja sudah 3 sampai 4 kali lipatnya.  Sedangkan para pengungsi yang saat ini ada di Lebanon diperkirakan ada sekitar 2 juta jiwa, baik dari Palestina maupun dari Syria.

Seacara faktual saya memang tidak dapat memberikan informasi tentang  kota Beoirut dan atau negara Lebanon, karena sangat minim informasi yang ada pada diri saya, namun selintas dalam perjalanan, saya dapat menyimpulkan bahwa kota Beirut dapat dikatakan cukup aman, meskipun banyak tenara yang berjaga di hampir setiap sudut kota.  Penduduknya yang sekitar 55% muslim dan lainnya Nasrani tersebut memungkinkan Lebanon membagi kekuasaannya dengan cukup dirasakan adil, yakni membagi antara muslim dan nasrani dan di dalam kalangan muslim sendiri juga dibagi antara yang sunni dengan yang syiah.

Walaupun demikian rupanya rakyat tidak terlalu peduli dengan pemerintah, terbukti bahwa  sudah sekitar satu tahun, dimana presidennya belum terpilih, juga tetap dapat berjalan dengan cukup baik, karena  masih ada perdana menteri yang menjalankan  roda pemerintahan.  Menurut informasi yang dapat saya tangkap bahwa di Lebanon memang sedikit unik dibandingkan dengan negara lain, karena pembagian kekuasaan tersebut yang menjadi pos masing masing kelompok, yakni Islam sunni, Islam syi’i dan juga nasrani.

Pada malam hari saat saya pulang dari kedubes, jalanan sangat lengang, padahal baru jam 22.00, dan perlu diketahui bahwa waktu Maghrib di Lebanon adalah jam 20.07, sehingga  jam 22.00 sesungguhnya  baru  kurang dari satu jam setelah Isya’.  Mungkin mereka lebih suka berada  di dalam rumah dana beristirahat, ketimbang harus melakukan perjalanan di malam hari, walaupun pada  siang hari juga tidak dapat dikatakan sebagai sangat sibuk, karena keramaiannya   biasa  saja dan tidak ditemukan jalanan yang macet.

Walaupun dinyatakan aman, tetapi saya memang harus berhati hati benar berada di  daerah yang sangat dekat dengan wilayah konflik.  Untuk ituuntuk hari ini saya  kemungkinan besar tidak melakukan perjalanan keluar, melainkan hanya di sekitar hotel, baik untuk mengikuti muktamar yang nanti malam akan selesai dan ditutup maupun untuk melakukan komunikasi dengan pimpinan perguruan tinggi yang sudah menyatakan akan bertemu di hotel Assaha, tempat saya menginap dan juga tempat diselenggarakannya muktamar.

Mungkin secara detail entang  pembicaraan  di seputar muktamar, pada saanya akan saya tulis, namun sebagai gambaran awal yang sudah disampaikan kemari, baik dalam pembukaan sendiri, maupun pada sesi hari pertama, ialah tentang pendangan  banyak ulama  secara normatif  baik di dalam al-Quran maupun dan  dalam al-Sunnah, dan juga di Taurat tentang  bani Israil dan juga tentang kehancurannya.  Harapan yang muncul ialah tentang menyatunya mat muslim sedunia untuk sebuah tujuan yang sangat luas, termasuk membantu memerdekakan rakyat Palestina.

Namun demikian ada juga yang cukup realistis dengan kondisi saat ini sehinga  mereka mengusulkan agar dilakukan muktamar berikutnya yang diselenggarakan di salah satu negara di Afrika, karena masih banyaknya persoalan yang dialami oleh bangsa bangsa muslim di dunia, khususnya di Afrika.  Dengan penyeleggaraan muktamar yang semangatnya ialah untuk kebersaman tanpa harus memandang aliran dan golongan yang dianut, diharapkan akan muncul kebersamaan yang hakiki.

Bahkan saat pembukaan juga disampaikan bahwa Ayatullah Khumaini sendiri sesungguhnya sudah pernah menyerukan agar umat muslim bersatu, dan tidak perlu lagi melihat mereka itu Syiah, maupun Sunni dan lainnya.  Saya sangat apresiasi  dengan adanya usulan tentang kebersamaan antara umat, tidak saja umat muslim, melainkan juga umat lainnya, termasuk nasrani untuk menyerukan kemerdekaan bagi bangsa Palestina, yakni atas nama kemanusiaan dan  keadilan.

Semoga muktamar ini akan mampu menggugah semua umat untuk menyatukan langkah mendukung kemerdekaan bangsa Palestina yang sudah cukup lama menderita, bahkan lebih dari enam puluh tahun sejak bersama  dalam konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, dimana negara lainnya sudah memperoleh kemerdekaannya, dan hanya Palestina yang hingga saat ini belum memperolehnya.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.