TAKDIR ALLAH SWT

Manusia itu hanya dapat berusaha tetapi segalanya yang menentukan akhir hanyalah Allah swt. Untuk itu sebagai manusia tidak boleh sombong dan mendahului kehendak Tuhan.  Manusia memang boleh berusaha  sesuai dengan ketentuan atauran main yang berlaku, setelah itu pasrahkanlah kepada Tuhan.  Jangan sampai kita memastikan sesuatu yang belum pasti, sebab hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya sebuah keangkuhan dan pada gilirannya justru akan merugikan diri sendiri, bahkan kalau tidak beruntung akan dapat merusak diri.

Jikalau kita mempunyai maksud dan keinginan terhadap sesuatu, maka yang terbaik ialah meminta petunjuk dari Tuhan melalui shalat istikharah dan banyak  melakukan kebajikan.  Kalau kita sudah mendapatkan petunjuk tersebut, berupa keyakinan dan kemantapan dalam meraih sesuatu tersebut, maka lakukanlah dengan baik dan tidak melanggar  aturan yang sudah ada.  Tentu harus dibarengi dengan doa.  Itulah yang seharusnya koita lakukan sehingga semuanya kita pasrahkan kepada Tuhan.

Namun jika kita menganggap bahwa  kita dengan sendirinya akan mampu mewujudkan keinginan tersebut, sehingga melupaka peran Tuhan, maka mungkin saja Tuhan memberikan kesempatan baginya untuk mendapatkan sesuatu tersebut, namun harus diketahui bahwa pemberian tersebut anyalah cobaan atau ujian dari Tuhan, sebab pada saatnya ketika  kita semakin jauh dan tidak memasukkan peran Tuhan dalam setiap langkah kita, Tuhan pasti akan menghukum kita dengan sesuatu yang sangat sulit untuk dilupakan.

Daya upaya dan reka apapaun yang kita lakukan tidak ada manfaatnya jika Tuhan sudah memutuskan lain.  Artinya kekatan Tuhan itu mutlak dan tidak dapat ditandingi oleh siapapun, termasuk mengenai hal hal yang mudah ditangkap oleh kita.  Bagi Tuhan, jalan untuk menggagalkan peraihan sesuatu itu sangat mudah dan hanya cukup mengatakan “kun” maka terjadilah yang diinginkan oleh Tuhan.  Kalaupun sesuatu tersebut sudah hampir terwujud, semacam sudah 99 persen teraih, namun bagi Tuhan tidak ada yang mustakhil, sehingga sesuatu yang tinggal 1 persen tersebut akan dapat menggagalkan yang 99 persen.

Karena itu kita harus yakin dengan kekuasaan Tuhan, bukan hanya dalam  lisan semata, melainkan  harus sampai ke lubuk hati yang terdalam.  Pernyataan dan pengakuan tenang kemaha uasaan Tuhan itu  harus terwujud dalam setiap langkah, tindakan dan juga pikiran kita,  sehingga semua  yang kita lakukan pastinya  diarahkan kepada pengakuan atas kekuasaan Tuhan tersebut.  Namun bukan berarti kita menjadi lemah dan sama sekali tidak mempunyai ghirah untuk berusaha, tetapi justru kita akan semakin giat berusaha, tetapi sekaligus juga  lebih yakin dengan keputusan Tuhan.

Takdir Allah itu memang mengatasi segala galanya, termasuk sesuatu yang secara kasat mata  mudah dilakukan oleh anak manusia.  Sayangnya memang masih banyak orang yang belum dapat merasakan dan meyakini secara total tentang takdir Tuhan tersebut, sehingga  saat ini masih banyak umat yang belum seluruh jiwanya  meyakni takdir Tuhan.  Akibat lebih lanjutnya ialah dia akan terbawa oleh obsesi pemikirannya yang liar tak kendalikan, sehingga seolah meniadakan kekuasaan Tuhan dan mengembalikan segalanya kepada manusia itu sendiri.

Memang ada sebuah aliran dalam Islam yang tidak mengakui atas takdir Tuhan yang diangapnya sebagai unsur pelamah seseorang dalam berusaha.  Aliran tersebut  berpendapat bahwa semua hal itu tergantung epada usaha manusia  itu sendiri.  Selama manusia  berusaha sudah pasti dia akan berhasil dan sukses, dan sebaliknya alau usahanya tidak maksimal, atau bahkan malas berusaha, maka dia akan menjadi orang yang gagal atau tidak sukses.

Sepintas memang pernyataan tersebut dapat diterima oleh nalar, namun kalau kemudian kita hadapkan dengan berbagai kenyataan yang terjadi, maka kita akan memperoleh sebuah keganjilan dalam teori tersebut.  Sebagai contoh, ternyata banyak orang yang sudah berusaha dan cermat dalam bertindak, tetapi gagal juga atau mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.  Lantas dimana letaknya  hubungan antara usaha dan kesuksesan tersebut?.  Sekali lagi  kita memang harus mengakui bahwa salah satu faktor keberhasilan ialah usaha dengan gigih, namun faktor penentu utamanya ialah Tuhan, dan bukan usaha itu sendiri.

Percaya penuh terhadap takdir bukan berarti harus menghilangkan unsur usaha,  tetapi justru dengan kepercayaan terhadap takdir tersebut akan dapat menyeimbangkan diri dalam menghadapi setiap persoalan.  Sebagai contoh kalau ada seseorang yang sudah berusaha maksimal dengan mengerahkan seluruh kemampuannya, tetapi kemudian mengalami kegagalan, maka kalau orang tersebut tidak percaya dengan takdir Tuhan, bisa bisa dia akan menjadi gila karena tidak menemukan  aspek sandaran yang kuat dalam mengatasi masalah tersebut.

Sebaliknya jika  dia itu sangat percaya kepada takdir Tuhan, maka dengan sekejap dia akan dapat menerima kenyataan dan mengembalikan semuanya kepada keputusan Tuhan.  Dengan  kelogowoan tersebut dia  kemudian akan membangun kembali usahanya dan terus berusaha, dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan pasti tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan manusia.  Dengan begitu dia  akan menjadi semakin optimis dalam berusaha dan melakukan berbagai evaluasi sehingga akan dapat menutup kekurangan yang ada.

Nah, berbicara mengenai takdir, maka kita akan mengatakan bahwa semua yang terjadi itu merupakan kehendak dan takdir Tuhan, meskipun diusahakan oleh manusia.  Taruhlah kalau dalam suatu wilayah sedang terjadi pemilihan presiden, atau gubernur atau bupati/ wali kota, maka semua  akan berusaha dengan kekuatan yang dimiliki termasuk melalui para pendukungnya.  Namun kita harus sadar bahwa dalam perhelatan pemilihan pemimp;in tersebut pasti akan ada yang kalah dan sebagai pemenangnya hanya satu.

Pada saat seperti itulah dibutuhkan  kesadaran bahwa  takdir Tuhan akan menentukan semuanya, bukan berartti pasrah tanpa usaha, melainkan tetap berusaha,  dan keputusan akhirnya berada di tangan Tuhan Yang  Mengatur segala urusan.  Mereka harus  menata hati dan peikiran  untuk pada saatnya harus menerima kenyataan bahwa  hanya satu saja yang akan dipilih sementara yang lainnya akan kalah.  Kalau kesadaran seeprti itu tidak dipunyai, maka yang terjadi ialah keinginan untuk protes dan mencari kesalahan pihak lain, sehingga kehidupan tidak akan tenang dan damai.

Hal seperti itu sangat penting untuk diketahui oleh semua orang, sehingga sebelum  mereka melakukan sesuatu harus diperitungkan secara matang sehingga kekecewaannya tidak terlalu besar.  Kebiasaan buruk anak manusia ialah terlalu berani mengambil resiko, meskipun sudah jelas ada resiko besar di hadapannya.  Kita jadi teringat tentang peringatan Tuhan  yang mengingatkan kita pada saat masih di zaman azali dahulu, yakni saat Tuhan menawarkan amanah kepada langit, bumi, gunung dan makhluk lainnya, dan mereka semua enggan menerimanya karena takut, tetapi manusia dengan kedhalimannya dan kebodohannya jusru mau menerimanya.  Karena itu banyak manusia yang kemudian tidak sanggup lagi mengemban amanah tersebut.

Atas dasar kenyataan tersebut,  seyogyanya kita menjadi lebih bijak dalam menentukan langkah ke depan agar tidak mengalami kondisi yang disebut oleh Tuhan sebagai bentuk kedhaliman dan juga kebodohan.  Mari pergunakan akal dan juga hati dan jangan  tonjolkan emosi dan nafsu, karena  kalau itu yang bterjadi, kita akan merugi dalam waktu yang sangat lama.  Semoga kita menjadi orang yang sadar sepenuhnya terhadap tanggung jawab dan posisi kita sebagai hamba Alah swt. amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.