NAWAITU BERANGKAT KE BEIRUT

Hari ini nanti sekitar jam 07.30 WIB insyaallah saya akan memulai perjalanan menuju Beirut Lebanon untuk menghadiri muktamar ulama sedunia tentang Palestina.  Saya sendiri diundang untuk menyampaikan  pemikiran tentang permasalahan Palestina, masa depan dan tentu harapan, menurut versi saya.  Mungkin sya juga akan mewakili para pimpinan perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia, karena itu saya juga memohon dorongan serta doa agar semuanya menjadi lancar dan sekaligus sukses.

Sebenarnya berat bagi saya untuk menghadiri muktamar tersebut, karena persoalan waktu yang mepet dengan lebaran serta persiapan yang terlalu pendek, ditambah lagi masih banyak hal yang harus ditangani di dalam kampus.  Namun mengingat dan mempertimbangkan kepentingan yang lebih luas, akhirnya saya memutuskan untuk hadir dalam muktamar tersebut dan sekaligus akan menyampaikan beberapa pikiran tentang Palestina yang sudah sekian lama  masih terkendala untuk  menjadi sebuah negara yang berdiri sejajar dengan negara lainnya di dunia.

Sebagaimana kita tahu bahwa bangsa Indonesia sangat mendorong agar Palestina segera  merdeka dengan sesungguhnya dan sekaligus juga menjadi anggota PBB sejajar dengan negara lainnya, bahkan hal tersebut terus konsisten disuarakan sejak presiden pertama Soekarno dahulu hingga presiden yang sekaran Joko Widodo.  Politik luar negeri kita yang bebas dan aktif tentu akan mendorong  berdirinya sebuah negara dan akan menentang setiap penjajahan dan penindasan atas sebuah bangsa.

Kita semua juga tahu bahwa Palestina terkendala oleh Israil yang terus berusaha menguasainya dan bahkan telah memecah Palestina sedemikian rupa hingga mereka sama sekali  tidak berdaya.  Betapa banyak anak anak dan perempuan yang menjadi korban, baik  meninggal maupun harus dipenjarakan oleh Israil hingga detik ini.  Semenara itu rakyat Palestina tidak bosan bosannya terus menyuarakan keinginan mereka untuk segera bebas dan dapat enentukan nasib mereka sendiri.  Untuk itu sepatutnya negara lain memberikan dorongan dan bantuan agar negara tersebut benar benar terbebas dari campur tangan dan penjajahan  bangsa lain.

Keberangkatan saya kali ini memang  membawa misi ingin menyampaikan pikiran tentang Palestina, siapa tahu dengan  muktamar yang akan menyajikan banyak pikiran dari para ulama sedunia kali ini  akan dapat menyelesaikan persoalan Palestina ke depan.  Memang terkadang ada semacam keraguan tentang penyelesaian Palestina, kerena sudah banyak upaya dilakukan oleh banyak pihak, tetapi masih tetap alot dan susah.  Mungkin  jalan satu satunya ialah seluruh negara di dunia ini sepakat mendikungnya.

Namun saya sangat percaya kepada Tuhan bahwa kalau Tuhan berkehendak, tidak ada satu aral pun yang dapat mencegahnya.  Karena itu disamping kita harus menyuarakan tentang pembebasan Palestina, kita juga harus terus berdoa kepada Tuhan agar semua persoalan Palestina dapat  selesai dengan damai, tanpa harus ada  setets darahpun yang akan mengalir lagi.  Kita semua cinta damai dan  secara moral semua bangsa yang beradap juga ingin damai, karena itu pwersoalan Palestian dapat diselesaikan.

Lepas dari persoalan yang akan dibahas di Beirut nanti, sesungguhnya banyak hal yang menggelayuti pikiran saya, terutama persoalan kemanusiaan dan kedamaian di dalam negeri.  Kita tahu bahwa masih ada  persoalan seroius di beberapa daerah di negeri kita.  Baru baru ini  masih terjadi persoalan konyol yang  terjadi di bumi Papua, yakni semacam pemaksaan kehendak dengan melarang umat muslim menjalankan iabadah shalat Idul fitri.  Sudah barang pasti  tinddakan yang dimulai dengan  penerbitan suran edaran tersebut sangat tidak sesuai dengan semangat kebersamaan yang selama ini kita bangun.

Apalagi kemudian juga  banyak pihak yang menunggangi dan memberikan informasi yang tidak akurat yang menyebabkan  pihak pihak ttertentu kemudian kebakaran dan berusaha melakukan aksi tandingan.  Untung  tindakan yang juga tidak sepatutnya tersebut akhirnya  dapat diredam sehingga bangsa kita terlepas dari bentrok yang tentu akan memalukan kita semua sebagai sebuah bangsa yang bermoral dan menjunjung tinggi hukum.

Atas dasar masih banyaknya persoalan di negera kita tersebut, kemudian ada sebagian kawan yang  mengomentari kepergian saya ke Beirut untuk persoalan Palestina.  Artinya kawan tersebut menyarankan agar sebaiknya kita menyelesaikan persoalan di dalam negeri baru setelah beres, dapat ikut menyelesaikan persoalan di luar.  Saran tersebut tampaknya bagus, tetapi menurut saya  tidak tepat, karena kita harus dapat memerankan diri  sesuai dengan kapastias  masing masing.

Saya berpikir, bahwa saya ini bukan apa apa dan  sangat tidak mungkin untuk menyelesaikan persoalan Papua. Kita telah sepakat untuk menyerahkan persoalan yang timbul pada saat idul fitri  tersebut kepada aparat penegak hukum dan itu sudah sesuai dan sangat tepat.  Semnentara itu saya sendir ke beirut bukan untuk berperang atau melakukan tindakan  yang terkait langsung dengan penanganan persoalan Palestina, melainkan hanya  menghadiri sebuah muktamar yang membicarakan bagaimana  masa depan Palestina.

Dengan pertimbangan tersebutlah, pada akhirnya saya tetap berangkat, meskipun pada saatnya nanti apa yang dilakukan dalam muktamr tersebut sama sekali tidak berpengaruh terhadap persoalan Palestina.  Saya menganggap bahwa mktamar tersebut hanyalah kegiattan  yang lebih bersifat akademis tetapi mempunyai tujuan untuk ikut memberikan sumbangan pemikiran tentang  masa depan Palestina.  Tentu tidak berbeda dengan muktamar atau konferensi lainnya yang sudah  ratusan dan mungkin ribuan kali diselenggarakan.

Karena  untuk kepentingan itulah saya juga meminta saran dan bantuan kepada kawan lain  tentang apa yang harus disampaikan di sana, sehingga keberadaan saya nanti  ada arti dan manfaat yang strategis, baik bagi kepentingan kita sebagai bangsa yang terus menyuarakan dukungan kepada Palestina, maupun kepada pihak pihak lain  untuk keadilan terhadap Palestina.

Saya juga memohon kepada seluruh  kawan pimpinan PTKIN  agar  didoakan  semoga  perjalanan saya menyenangkan dan sekaligus membawa keberuntungan.  Barangkali masih ada  saran atau pokok pokok pikiran yang bagus, saya juga masih  menunggunya.  Rencananya  sore hari waktu setempat, saya baru sampai di Beirut, kemudian malam hari dapat istirahat, dan esok hari  dapat  mengikuti muktamar tersebut dengan  segar dan sehat.

Disamping menghadiri muktamar, nantinya saya juga berencana untuk melakukan penjajagan  tentang kemungkinan menjalin kerjasam dengan  pihak pihak tertentu untuk kepentingan perguruan tinggi kita UIN Walisongo.  Saya sendiri memang belum paham tentang Beirut dan  perguruan tinggi yang ada di sana, namun  dengan bantuan pihak kedutaan besar kita di Beirut,  kemungkinan penjajagan tersebut akan dapat kami lalkukan dan sekaligus  tindak lanjutnya  ke depan.

Kita tahu bahwa banyak  mahasiswa Lebanon yang saat ini studi di Indonesia, karena itu kemungkinan  kerjasama dalam bidang tri dharma perguruan tinggi, sangat besar dapat dilakukan.  Bagaimanapun kita sebagai insan akademis ahrus terus mengupayakan agar jalinan  kerjasama dengan berbagai pihak  harus terus diupayakan untuk membesarkan institusi kita dan sekaligus untuk memperkuat jejaraing kita  di luar negeri.  Semoga keinginan  gtersebut dapat tercapai dan sekaligus dapat membawa nama baik bangsa secara umum. semoga

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.