JANGAN GRUSA GRUSU

Sebagaimana kita tahu bahwa pada saat Idul fitri yang lalu, ada insiden yang sangat memalukan, yakni terjadinya pembubaran shalat id di tanah Papua, setelah sebelumnya beredar surat edaran dari pihak tertentu yang melarang kegiatan shalat Id.  Tentu  hal tersebut sama sekali tidak dapat dibenarkan, karena bagaimanapun Negara menjamin kepada setiap[ warga negara untuk memeluk dan menjalankan ajaran agama mereka dengan aman dan pihak lain tidak boleh mengganggu aktifitas ibadah tersebut.  Bahkan insiden tersebut bukan hanya memalukan tetapi sudah mencoreng wajah negara kita.

Kita harus menilai dan melihatnya secara jernih, karena itu bukanlah persoalan yang dapat disama ratakan, karena itu hanyalah ulah sebagian orang yang tidak memahami arti kebersamaan.  Kita tidak boleh menggeneralisasi bahwa umat nasrani memusuhi umat Islam.  Memang ada insiden di tanah Papua, dan itu harus diselesaikan  sesuai dengan aturan hokum yang berlaku, karena itu kita tidak perlu terpancing untuk melakukan aksi yang justru akan memperkeruh suasana dan  akan menjadi  pemicu ketegangan dalam kehidupan kita.

Bahkan umat nasrani sendiri sangat menyesalkan kejadian tersebut, karena mereka sangat ingin terjadi kebersamaan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.  Mereka juga mengharapkan agar para apparat penegak hokum menyelidiki persoalan tersebut dan  menyelesaikannya dengan cara yang  bijak serta tidak memandang lain, terkecuali atas nama penegakan hokum.  Karena itu umat muslim di seluruh Indonesia diharapkan tetap tenang dan tidak melakukan sesuatu yang justru dapat membuat suasana menjadi lebih buruk.

Kita menyadari bahwa ada pihak pihak tertentu yang sengaja mengompori, sehingga memancing emosi umat  muslim di berbagai daerah.   Namun penjelasan yang jernih atas persoalan ini alhamdu lillah dapat meredakan semua itu.  Meskipun demikian kita sempat menyaksikan betapa marahnya umat muslim di beberapa daerah yang secara sepontan meluapkan  kemarahannya dengan mendatangi beberapa  gereja, namun masih tetap dalam kondisi terkontrol, dan hanya memberikan peringatan saja kepada  umat nasrani tersebut.

Bahkan ada sebagiannya yang  tersulut emosi karena dikompori bahwa umat nasrani emmbakar masjid di Papua, sehingga umat kemudian ingin membalaskan dengan membakar gereja, tetapi kondisinya saat ini sudah relative semakin membaik.  Untuk itu para penegak hokum memang harus bergerak cepat dan menangkap provokator dan pembuat surat edaran yang menyebabkan insiden tersebut.  Sudah barang tentu kita sangat mengharapkan kepada seluruh umat muslim untuk tetap tenang dan menjaga ketertiban agar  kondisi umat dan negara tetap terjaga dan kondusif.

Apalagi saat ini  banyak bermunculan pernyataan yang seolah diucapkan oleh pihak pihak tertentu, yang kalau kita tidak cermat dalam menyaring, akan mampu membuat kondisi tidak stabil di masyarakat.  Seharusnya sebagai kaum intelek, kita yang berada di kampus dan juga para tokoh agama yang mempunyai posisi strategis di masyarakat, dapat berperan aktif dalam menenangkan masyarakat dan memberikan pencerahan yang benar dan adil kepada mereka.  Dengan begitu masyarakat akan tetap tenang dan tidka mudah terpengaruh oleh  usaha  pihak pihak yang tidak bertanggung jawab.

Persoalan bangsa memang cukup kompleks dan menjadi kewajiban seluruh anak bangsa untuk tetap menjaga keutuhan  sertta ketenangan negara.  Artinya  tugas untuk membuat nyaman dana man bukan  saja menjadi tugas para apparat keamanan, melainkan juga  menjadi tugas kita semua, sesuai dengan kapasitas masing masing.  Memang apparat keamanan mempunyai kewajiban yang paling  terdepan dalam mengawal keamanan dan ketertiban, namun warga bangsa juga seharusnya mempunyai andil yang signifikan dalam memerankan diri sebagai pencipta keamanan tersebut.

Kita memang tidak  mungkin hanya  mengandalkan aspek keamanan tersebut kepada apparat, karena jumlahnya yang sangat terbatas, dan harus menangani keseluruhan wilayah RI.  Karena itu  secara otiomatis setiap warga  bangsa  mempunyai kewajiban untuk turut menciptakan keamanan tersebut melalui berbagai aktifitas yang  dapat mengarah dan memperkuat tali kebersamaan dan persudaraan.  Tanpa itu, mustakhil kiranya  negara kita akan dapat aman dan tenang dari berbagai gangguan.

Sebagaimana kita tahu bahwa  warga negara kita sangat kompleks juga yang terdiri atas berbagai etnis, berbagai  kepercayaan dan agama, dan juga terdiri dari berbagai golongan atau ras, yang semua itu sangat potensial untuk terjadinya konflik.  Nah, kalau tidak ada tindakan atau aktifitas yang  memperstukan mereka, sudah barang pasti akan  meletus perpecahan dan perseteruan,  bukan saj antar etnis, antara pemeluk agama dan lainnya, tetapi juga  di dalam intern  umat  beragama itu sendiri dan dalam satu etnis dan suku sendiri.

Kemampuan kita selama ini untuk menciptakan kerukunan dan ketenteraman, sungguh sangat luar biasa, dan mendapatkan  acungan jempol dari banyak negara.  Nah, untuk itu kita tidak boleh lengah, sehingga  apresiasi  pihak lain tersebut  akan menjadi luntur dan bahlan balik  akan menohok kita yang dianggap tidak mampu mengelola beraneka ragam etnis, kepercayaan dan juga suku.  Kita memang harus dapat membuktikan kepada dunia bahwa kita  bangsa yang beradab dan selalu ingin  sesuatu yang terbaik.

Justru karena itulah setiap pihak yang berusaha merusak ketenangan dan kerukunan tersebut, baik dengan mengatas namakan agama, etnis maupun apapun, harus diberikan sanksi sesuai aturan hokum yang berlaku.  Ketegasan seeprti itu harus  ditunjukkan agar tidak ada satu pihak pun yang merasa  hebat di negeri hokum ini.  Semua harus tunduk  kepada peraturan yang berlaku.  Namun kalau para apparat penegak hokum tidak berbuat adil dalam penindakan para pelanggar aturan tersebut, maka itu  akan menjadi pemicu paling kuat  untuk terjadinya kerusuhan dan ketidak nyamanan.

Untuk itulah nasehat “jangan grusa grusu” menjadi sangat tepat untuk diperhatikan dan dipraktekkan.  Tindakan tidak cermat dan lebih cenderung mudah terpengaruh oleh isu apapun yang berkembang di masyarakat, tentu akan menjadi sebuah kondisi yang memprihatinkan.  Sudah selayaknya kita tetap  berada dalam kondisi tenang dan berpikir jernih serta tidak bertindak sembrono.  Apalagi kalau  kesembronoan kita tersebut kemudian ditangkap oleh masyarakat sebagai sebuah kebenaran dan kemudian masyarakat melakukan aksi yang merugikan.

Ajaran Islam sendiri sangat menekankan  kedamaian, karena  kata Islam itu sendiri juga bermakna damai, sehingga sangat tidak tepat kalau para pemeluk Islam justru melakukan kekerasan  dengan mengatas namakan agama atau apapun.  Para pemeluk Islam seharusnya selalu berperilaku santun dan tetap m,enjaga kekompakan diantara umat dan dapat mengembangkan sikap toleransi kepada semua warga negara, karena  itulah hakekat ajaran Islam.  Bukan sebaliknya suka memaksakan kehendak dan  menghakimi  sesat kepada  yang berbeda.

Kita memang harus meyakini bahwa ajaran Islam itulah yang paling benar, namun  kita tidak perlu menyalahkan pihak lain.  Cukuplah kita  menyatakan bahwa keyakinan  kita, yakni Islam adalah yang benar, karena itu kita harus tetap mempertahankannya dengan cara yang bijak dan tidak menodainya dengan tindakan kita yang sembrono dan grusa grusu tersebut.  Semoga ke depan kita akan mampu berbuat yang terbaik bagi kita dan negara serta agama kita. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.