BAHASA LAMBANG

Sungguh para ulama tempo dulu sangat bijak dalam mendidik masyarakat, tidak ada paksaan dalam memeluk ajaran yang disebarkan, melainkan diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat sendiri.  Nyatanya  banyak masyarakat yang justru tertarik dengan ajaran yang mereka bawa, karena dipraktekkan dengan sangat bagus dan  menghormati semua orang dan juga semua kepercayaan yang hidup di tengah tengah masyarakat.  Kabijaksanaan yang ditunjukkan tersebutlah yang menyebabkan masyarakat berbondong dan ingin bergabung dengan ajaran yang sangat bagus tersebut.

Para ulama juga tidak memaksakan diri kepada meeka yang sudah masuk ke dalam Islam untuk menjalankan seluruh kewajiban, melaqinkan juga diserahkan kepada masyarakat sesuai dengan kemampuan dan kesadaran mereka sendiri.  Demikian juga mereka tidak memaksakan diri  kepada mereka yang sudah memeluk Islam untuk meninggalkan kebiasaan yang sudah mengakar dalam kehidupan mereka, terkecuali atas dasar kesadaran mereka sendiri, walaupun kebiasaan tersebut tampak bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.

Itulah barangkali kunci kesuksesan para ulama zaman dulu dalam berdakwah dan mengajak umat untuk menyembah kepada Tuhan.  Tentu bukan denganmembiarkan mereka sesuka hati mereka, melainkan para ulama selalu mengajarkan kebajikan kepada mereka, sehingga mereka yng menyaksikan secara terus menerus kebajikan tersebut, pada akhirnya sadar bahwa apa  yaang mereka lakukan selama itu sungguh sangat buruk dan ajaran yang dismapaikan oleh ppara ulama justru sangat bagus untuk ereka dan untuk ketenteraman kehidupan mereka.

Tentu akan sangat berbeda dengan cara dakwah yang dilakuka oleh orang orang di zaman ni yang suka tergesa gesa, dan sama sekali tidak memberikan ruang  kepada masyarakat untuk melakukan sesuatu yang berbeda dengan apa yang diajarkanya.  Bahkan mereka  selalu memberikan justifikasi dan menakut nakuti masyarakat dengan siksaan neraka yang maha dahsyat, jika tidak mengikuti apa yang mereka bawa.  Bahkan  mereka yang sudah masuk dalam Islam juga  akan diancam dengan berbagai siksaan jika sedikit saja tidak mengikuti cara mereka.

Sudah barang tentu cara demikian bukannya  mendapatkan simpatik dari masyarakat, melainkan justru cibiran.  Bagi mereka yang belum masuk Islam, jangankan mau mendekat, sekedar untuk mendengarkan saja mereka akan menjadi muak dan celakanya mereka  semakin menjadi jadi dalam ancaman dengan mengatas namakan agama dan juga Tuhan.  Mereka juga terus berbangga, karena telah menjadi juru dakwah dan seolah merekalah yang akan  menghuni surga, sedangkan selain mereka akan berada di dala neraka.

Kalau para ulama zaman dahulu selalu saja bersabar dan tidak pernah memaksakan kehendaknya, meskipun mereka sangat paham bahwa bagi seorang muslim itu ada berbagai kewajiban yang harus dijalankan dan juga ada beberapa larangan yang harus ditinggalkan.  Namun mereka juga sangat paham bahwa masyarakat yang sudah  terbiasa dengan kebiasaan  buruk yang sudah sekian lama dilakukannya, tidak mudah untuk begitu saja meninggalkannnya, karena itu para ulama memberikan waktu bagi  mereka untuk berpikir dan merenungkan sendiri tentang ajaran Islam yang selalu disampaikannya dengan penuh keteduhan.

Pada akhirnya masyarakat kemudian dapat menyadari dengan sendirinya dan meskipun sangat lama, tetapi mereka  pada saatnya  menjadi muslim dan mukmin yang baik serta mengikuti ajaran Islam dengan  sangat kuat.  Sebaliknya saat ini kita juga menyaksikan betapa banyak orang yang lari dari ajaran Islam disebabkan cara penyampaian yang tidak bijak serta memaksakan kehendak. Inilah yang perlu direnungkan oleh semua orang tentang bagaimana cara terbaik melakukan dakwah.

Hal lain yang sangat penting  untuk kita ketahui ialah bagaimana  para ulama dahulu menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat yang sudah muslim, yakni lebih banyak dengan menggunakan lambang atau simbul yang mudah untuk diingat oleh mereka.  Dengan demikian masyarakat akan selalu ingat dengan ajaran Islam pada saat mereka  melihat dan ingat akan sesuatu lambang tersebut, baik  lambang tersebut dalam bentuk  sesuatu yang  menjadi perhatian banyak orang ataupun berupa makanan yang biasa disantap  pada waktu tertentu, dan lainnya.

Sebagai satu contoh saja kita dapat menegrti begaiamana  syahadat tauhid dan syahadat rasul yang dikenal dengan syahadatain, kemudian dilambangkan dengan gapura yang ada di setiap ujung jalan, dengan nama seketeng.  Nah, seketeng tersebut akan mudah diingat dan diucapkan oleh masyarakat di seluruh perdesaan, karena memang keberadaan seketeng tersebut sudah sangat akrab bagi mereka, bahkan disetiap ujung jalan akan ada dan dipasang seketeng tersebut.  Syahadatain ersebut oleh  kerajaan Ngayogyakarto Hadiningrat kemudian dijadikan sebagai  hari tertentu yang dinamai dengan  sekaten, yang hinggga saat ini masih terus diperingati, terutama pada bulan Maulid.

Kita juga dapat mencontohkan  ajaran Islam yang ekmudian dilambangkan dengan makanan yang biasa disantap oleh masyarakat untuk mengingatkan bahwa ada ajaran yang perlu dilakukan oleh orang Islam, seperti lambang “apem garing”, sebuah makanan khas yang  disediakan pada saat memperingati Nuzulul Quran dan menyongsong lailatul qadar.  Kanapa lambang tersebut yang dijadikan sebagai pengingat ajaran Islam?.

Jawabannya ialah karena pada saat malam malam terakhir di bulan Ramdlkan ada sebuah anjuran dari Rasul Muhammad saw agar umat Islam selalu mencari lailatul qadar dengan memperbanyak membaca “Allahumma innaka ‘Afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni”.  Doa ini dikemudian hari banyak diajarkan kepada umat muslim dengan redaksi yang sedikit berbeda, yakni “ Allahumma Innaka ‘Afuwwun karim, tuhibbul ‘afwa fa’fu anni ya Karim”. Dari ajaran doa yang  dianjurkan untuk selalu dinbaca di bhulan suci Ramadlan tersebutlah kemudian dilambangkan dengan “apem garing” yang hampir identik dengan ‘Afuwwun karim.

Kita juga dapat mencontohkan makanan yang menjadi ciri khas  lebaran atau merayakan perayaan Idul fitri, yakni ketupat, yang aslinya ialah kupat, yang konon  berasal dari aku lepat yang terjemahannya ialah aku bersalah.  Itu merupakan pernyataan  yang memang  dianjurkan kepada seluruh muslim pada saat idul fitri untuk saling memaafkan dan meminta maaf atas segala salah dan khilaf yang pernah dilakukan.  Perlambangan tersebut untuk mengngatkan kepada seluruh muslim bahwa pada saat idul fitri tersebut mereka seharusnya saling meminta maaf dan memaafkan agar kesucian diri menjadi lengkap setelah selesai menjalankan ibadah puasa sebulan lamanya.

Makanan lainnya yang juga disediakan pada saat lebaran ialah lepet yang berasal dari lepat atau salah, sebuah pengakuan bahwa diri banyak salah, sehingga harus meminta maaf kepada  pihak lain.  Penci[taan lambang lambang tersebut sudah barang tentu ada maksud ajaran yang dikandung dan pada saat itu sangat efektif dalam memberikan pendidikan kepada masyarakat, bahkan  masih terus dilestarikan hingga saat ini.

Kita memang menjadi sangat heran bahw apada zaman ini dimana teknologi seudah begitu tinggi dan semuanya serba komputer, tetapi dalam berdakwah masih banyak orang yang  tetap  menggunakan cara  yang sama sekali tidak efektif, yakni dengan memaksakan  diri untuk segera diterima apa yang  disampaikan, bahkan dengan mengatasnakan agama atau bahkan  dengan mengatasnamakan Tuhan, memberikan ancaman siksa yang sangat pedih dan neraka.  Lantas bagaimana  ajakan seperti akan mendapatkan simpatidari  pihak yang diajak?

Sudah saatnya kita merenungkan masalah ini secara dalam dalam dan tidak boleh menganggap persoalan ini sebagai persoalan remeh.  Kita harus kembali kepada cara para ulama zaman dahulu dan juga cara Nabi dalam menyampaikan dakwah, sehingga akan efektif dan sekaligus mendapatkan respen yang positif pula.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.