MEMPERTENTANGKAN KELOMPOK DALAM ISLAM

Idealnya  Islam itu satu yakni meliputi semua kelompok yang mengakuti bahwa Allah swt itu sebagai Tuhan yang tidak ada duanya, mengakui bahwa Muhammad saw adalah utusan-Nya, mengakui bahwa kita sucinya al-Quran, lalu menjalankan shalat yang lima waktu, mau mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadlan. Dan menunaikan haji  bilamana sudah mampu.  Sementara untuk urusan lainnya seperti baju dan sejenisnya, tidak menjadi masalah bila berbeda, karena itu bukan pokok, melainkan hanya asesoris saja.  Namun demikian memang ada sesuatu di luar yang disebutkan di atas yang dapat disebut sebagai pokok juga.

Maksudnya ialah bahwa  ada kelompok dalam Islam yang membuat dasar lainnya yang menambah atas dasar yang sudah ada, semisal sikap terhadap sesuatu.  Ambil contoh saja bahwa  mayoritas ulama mengakui bahwa para sahabat Nabi, terutama yang menggantikan beliau setelah  beliau wafat, seperti Abu bakar, Umar bin Khattab, Utsman, Ali bin Abi Thalib dan lainnya adalah sahabat sahabat beliau yang  sangat dekat dan bahkan  sangat baik sehingga dalam sebuat riwayat, bahwa mereka itu ditanggung akan masuk  surge.

Namun karena  demi kepentingan  sesuatu lainnya, ada sekelompok  umat Islam yang seolah tidak mengakui kebaikan mereka, atau setidaknya tidak menyebutkan keberadaan mereka.  Nah,  kenyataan tersebut kemudian  dianggap oleh para pengikutnya  sebagai sebuah pokok yang tidak boleh ditawar, sehingga kelompok tersebut menjadi saling  tentang, bahkan pada gilirannya pertentangannya bukan sekedar masalah tersebut, melainkan  sampai kepada urusan pengkafiran segala.

Tentu kenyataan tersebut sangat memprihatinkan, karena sesame umat ternyata harus bertentangan mengenai persoalan yang sesungguhnya tidak masuk dalam  substansi ajaran Islam sebagaimana yang dibawa oleh nabi Muhammad saw.  bahkan anehnya  ada  kelompok yang membawa bendera yang sama tetapi perilakunya sangat jauh berbeda, terutama jika letak atau lokasi mereka berbeda.  Artinya ada sebagian yang perilakunya sangat keras dan  akan berbenturan dengan semua hal yang tidak sama dengan pandangannya, tetapi ada yang dapat beradaptasi dengan lingkungan dan pendapat lainnya.

Kalau kemudian kita membaca  laporan dan tulisan yang  ada, kita akan dapat melihat kenyataan bahwa ternyata  terdapat banyak kelompok di dalam Islam itu sendiri, yang  masing mempunyai ciri khas dan berbeda dengan lainnya, khususnya dalam hal tambahan pokok sebagaimana disebutkan di atas.  Mungkin selama ini yang kita kenal dan  sering muncul ialah antara kelompok sunni dan syi’ah, atau  kelompok Ahmadiyah, dan jarang sekali kita mendengar selain kelompok  tersebut.  Bahkan kelompok yang sama saja  juga masih terbagi lagi menjadi sub kelompok yang l;ebih banyak lagi.

Kelompok sunni misalnya, juga masih terbagi menjadi beebrapa kelompok yang terkadang juga berbeda dalam beberapa hal.  Kasus di negeri kita misalnya yang dianggap kelompopk sunni  antara lain ialah jamiyyah Nahdlatul Ulama dan juga Muhammadiyah.  Namun sebagaimana kita tahu bahwa keduanya juga berbeda dalam menyikapi  penetapan awal bulan Qamariyah dan  tentu masih banyak lagi perbedaan amaliah penganutnya.  Demikian juga dengan kelompok  syiah, yang  terbagi lagi menjadi beberapa sub kelompok, ada syiah Imamiyah, ada zaidiyah dan lainnya.  Sudah barang tentu di kelompok Ahmadiyah juga terdapat beberapa sub kelompok lagi.

Bahkan hanya berbeda  madzhab saja, terkadang harus membawa perecahan dan terbentuk kelompok kecil atau sub kelompok, sehingga memang kelompok kelompok tersebut menjadi semakin banyak.  Padahal kalau kemudian kita  buatkan kriterianya yang lebih global, mereka itu  tidak beda kelompok, namun hanya beda baju saja.  Namun  untuk membuatkan kriteria tersebut tidaklah mudah, karena memang semuanya mempunyai kepentingan dan kepentingannya yang  bersifat kulit tersebut  diharuskan untuk ditonjolkan.

Sesungguhnya kalau boleh berandai andai, semisal  nabi  Muhammad saw hidup kembali dan menyaksikan kondisi saat ini, kita pasti  akan menyaksikan betapa Rasul Muhammad saw akan  menggeleng gelengkan kepala  setelah menyaksikan betapa banyaknya kelompok yang sama sama mengaku Islam.  Meskipun beliau  menurut sebuah riwayat sudah memprediksikan bahwa pada saatnya nanti umatnya akan berbeda dan pecah menjadi banyak  golongan, tetapi mungkin tidak sampai kepada  jumlah yang seperti saat ini kita saksikan.

Sedikit saja berbeda kepentingan yang sama sekali tidak terkait dengan substansi ajaran Islam, kemudian dengan mudahnya seorang tokoh kemudian membentuk kelompok tersendiri, dan kemudian diberikan label tertentu sebagai tanda perbedaannya dengan kelompok lainnya.  Atau dengan perkataan lainnya ada kepentingan selain ajaran agama yang dimasukkan kedalam dan dicampur dengan ajaran agama, sehingga seolah kepentingan personal atau kepentingan politik misalnya, harus dimasukkan ke ranah agama.  Tentu ini sangat memperihatinkan karena sudah berjalan cukup lama.

Nah, kenapa  sampai saat ini kondisi ini tidak pernah berubah? Apakah belum ada orang yang sadar terhadap persoalan ini, ataukah  sudah banyak orang yang apatis terhadap persoalan ini, ataukah  mereka sudah bosan dengan  segala macam hal yang terkait dengan perbedaan tersebut, sehingga mereka menjadi malas dan membiarkan hal tersebut menjadi urusan pribadi masing masing, atau  entahlah.

Seharusnya kita mau berpikir lebih jauh untuk  mencoba menghindarkan  kemungkinan terburuk yang dapat terjadi pada umat kita, yakni dengan mengupayakan agar persoalan ini dikaji secara serius dan kemudian.  Kita mempunyai pengalaman pahit, yakni terjadinya tawuran atau perang anatara penganut kelompok tertentu yang  kebetulan  berdomisili tidak  berjauhan hingga menelan korban jiwa.  Mereka yang sesungguhnya sama sekali tidak tahu tentang substansi ajaran agamanya, malah harus menjadi korban kegagalan kita dalam memenej kelompok yang semakin beragam muncul di tengah tengah masyarakat kita.

Menurut saya  pengupayaan untuk menyatukan pandangan atau setidaknya memahamkan masyarakat atas realitas berbedanya pendangan tersebut, sangatlah mendesak untuk dilakukan, karena tanda tanda keretakan sebagaimana yang  tidak kita kehendaki sudah mulai tampak.  Artinya kalau kondisi seperti itu terus kita biarkan, kekhawatiran yang muncul ialah terjadinya sebuah pertentangan yang bukan saja dalam arti pemikiran, melainkan sudah menjalar ke fisik,  sehingga itu pastilah akan muncul kerusakan yang lebih parah.

Persoalan baju yang dipakai oleh masing masing kelompok biarlah berjalan sedemikian rupa, tetapi dianatra meeka harus ada pemikiran yang relative sama dalam hal perbedaan tersebut, yakni mereka akan saling menghargai dan menghormati pandangan masing masing, tanpa harus menyalahkan ataupun menganggap sesat pihak lainnya.  Mereka harus emmahami bahwa  substansi dari Islam itu satu yakni Islam sebagaimana yang dibawa dan diajarkan oleh nabi Muhammad saw, sedangkan perbedaan yang muncul hanyalah soal yang bukan merupakan ajaran yang substansial.

Tentu para tokoh dan pemimpin kelompok tersebutlah yang harus bertanggung jawab untuk menjelaskan persoalan ini kepada umatnya masing masing, bukan malah menyebarkan semangat untuk berbeda dan permusuhan.  Mungkin hal terbaik yang harus dilakukan oleh para tokoh dan pimpinan ialah bagaimana menjelaskan kepada umat tentang persamaan yang ada dalam kelompok kelompok tersebut, dan bukan memunculkan apa perbedaannya.  Selama yang ditonjolkan dan  dimunculkan adalah persamaannya, maka selama itu pula akan terwujud sebuah kondisi yang menyenangkan, bukan sebaliknya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.