SYAWAL DENGAN SEMANGAT BARU

Setelah kita menjalani puasa selama satu bulan penuh di Ramadlan kemarin, seharusnya kita akan menjadi sosok ideal yang sama sekali baru, dalam arti luas.  Baru dalam arti semangatnya, baru dalam pengabdian, baru dalam produktifitas dan lainnya.  Bulan syawal ini merupakan bulan peningkatan, sehingga semua hal seharusnya dapat meningkat.  Ibadah kita yang murni karena Tuhan juga bertambah baik dan khusyu’,  sedekah kita juga bertambah rutin dan  bertambah nilainya, produktifitas kerja kita juga bertambah serta semangat kita  semakin besar.

Keberhasilan menunaikan puasa, berarti bertambahnya ketaqwaan pada diri kita, yang bukan dalam arti keuakhiratan semata, melainkan  ketaqwaan yang mencakup sikap hidup di dunia dan di akhirat.  Kalau taqwa tersebut dimaksudkan sebagai kondisi sadar  seseorang untuk memenuhi seluruh kewajiban yang ditetapkan oleh Allah swt dan sekaligus juga menjauhi larangan-Nya, maka seharusnya semua aspek yang ada dan terkait dengan kehidupan kita akan dapat berjalan secara normal bahkan sangat bagus.

Kalau hal tersebut dipraktekkan dalam institusi pendidikan, maka semua p[ekerjaan yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi  akan berjalan dengan baik dan tidak menyisakan persoalan.  Kondisi ideal seperti itu seharusnya akan dengan mudah kita nikmati, sehubungan dengan perjalanan waktu dan pengalaman melaksanakan puasa dan menginjakkan kaki di bulan Syawal.  Hanya saja terkadang idealitas tersebut tidak sama dengan  kenyataan, karena ternyata masih cukup banyak orang yang  “gagal” mendapatkan  buah puasa, meskipun sudah menjalankan puasa satu bulan penuh.

Kebetulan bulan Syawal kali ini bertepatan dengan semester baru dalam kalender pendidikan, sehingga momentumnya sangat tepat untuk memperbaiki kinerja.  Tinggal kita, apakah mau memanfaatkan momentum tersebut dengan bagus ataukah kita akan  membiarkan kesempatan untuk mengubah kea rah lebih baik tersebut berlalu begitu saja,  semuanya terpulang kepada kita.  Bagi saya tentu  akan terus menghimbau dan tidak akan bosan mengajak semua pihak untuk mengubah kondisi agar menjadi lebih bagus dan sekaligus memberikan nilai semua pekerjaan kita dengan ibadah.

Barangkali kita perlu  sekedar mengevaluasi diri kita bahwa  sebagai orang yang dapat berpikir jernih dan mempertimbangkan  untung rugi dalam semua aspek, tentunya kita  akan menghitung keberhasilan kita dalam menjalankan ibadah puasa.  Karena akan rugi sekali, bilamana kita telah menjalani puasa satu bulan, tetapi tidak mendapatkan apa apa.  Jangan sampai kita termasuk salah seorang yang pernah disinyalir oleh Nabi Muhammad aw, bahwa banyak orang yang menjalankan ibadah puasa, tetapi  mereka tidak mendapatkan apa apa terkecuali hanya rasa lapar dan dahaga.

Kalau Tuhan memberikan petunjuk bahwa  perintah puasa tersebut dimaksudkan agar  kita menjadi taqwa, tentunya kita harus berusaha mendapatkannya.  Kalau sampai kita membiarkan bergitu saja sudah pasti kita akan merugi.  Lantas bagaimana kita dapat mengukur keberhasilan puasa, yakni bertambah taqwa tersebut?.  Apakah ada  ukuran dan standar yang baku dan dengan mudah untuk diketahui atauklah harus melakukan pengkajian terlebih dahulu, baru akan jelas persoalannya?.

Untuk menjawab persoalan ini sesungguhnya tidak terlalu berat, karena ukuran yang paling mudah ialah dalam diri kita sendiri, atau dalam hati kita sendiri.  Artinya kalau kita jujur terhadap diri sendiri, maka peningkatan taqwa pada diri, akan dapat kita rasakan.  Apakah kita bertambah taqwa ataukah sebaliknya semakin berkurang rasa ketaqwaan kita.  Sementara kalau pihak lain yang menilainya mungkin saja dapat salah, walaupun secara lahir juga dapat dilihat, seperti semakin bagus prilakunya, semakin peduli terhadap nasib sesame, semakin rajin ibadahnya, dan semakin produktif dalam pekerjaannya.

Kalau kita melihat dari sisi lain, yakni  dari aspek kebersihan hati dan kejernihan pikiran, tentu kita harus juga berusaha bahwa puasa yang kita jalani selama sebulan tersebut  juga harus berhasil membawa kita  menjadi bersih dari noda dan doa, karena menurut nabi Muhammad saw, siapapun yang menjalankan ibadah puasa dengan didasari oleh sebuah keyakinan yang benar serta pengharapan yang tulus hanya karena Tuhan, maka dosanya akan diampuni oleh Tuhan.

Mungkin untuk ukuran yang ini lebih berat, karena diantara orang yang berdosa dengan orang yang bersih tidak tampak perbedaannya secara lahir.  Barangkali hanya  orang yang cermat saja dalam melihat aura seseorang akan dapat membedakan antara mereka yang banyak menanggung dosa dengan mereka yang bersih.  Bagi mereka yang bersih tentu akan  tampak ceria, baik dalam hati maupu pikirannya, sehingga ketika  mengucapkan sesuatu pun juga akan terbnimbing oleh kebersihan hati dan pikirannya.  Tetapi sekali lagi ini tidak mudah dilakukan oleh orang biasa.

Ukuran keberhasilan puasa yang paling mudah dilakukan ialah dengan mengukur terhadap diri sendiri, dan bukan mengukur pihak lain.  Disamping itu keberhasilan puasa tersebut juga tidak akan begitu saja dapat diraih, melainkan harus secara adar diupayakan. Karena itu bagi mereka yang tidak tahu bagaimana seharusnya berpuasa itu dan semata mata hanya mengikuti orang semata tanpa tujuan yang jelas, tentu tidak akan memperoleh manfaat tersebut.  Sedangkan bagi mereka yang tahu betul tentang tujuan p[uasa, pastilah akan mengusahakan tercapainya tujuan tersebut.

Dengan begitu seharusnya masing masing orang akan dapat mengetahui sejauh apa puasa tersebut  dapat mereka raih manfaatnya, sehingga diri mereka akan menjadi sebuah sosok yang lain  yang lebih baik.  Kesadaran untuk  meraih keberhasilan tersebut juga sekaligus akan mendorong diri mereka  menjalankan sesuatu yang paling baik  agar wujud dari keberhasilan tersebut memang berdampak pada diri mereka.

Biasanya bagi mereka yang berhasil dalam puasanya, mereka akan semakin rendah hati dalam periolakunya, sehingga mereka   dengan mudahnya melengkapi kebersihan dirinya dengan meminta maafb keopada semua orang, utamanya yang sudah pernah bergaul, siapa tahu masih ada setitik noda yang  menjadi penyebab sulitnya  Tuhan mengabulkan segala permohonan.  Nah, bulan Syawal ini memang sangat  mungkin bagi siapapun untuk memohon maaf dengan rasa ringan, tanpa beban serta tanpa  harus bersusah payah.

Dengan begitu  pada saat semua orang mukmin menyadari tentang pentingnya  kebersihan hati dan peikiran tersebut, maka akan mudah pula untuk menata  kehidupan menjadi lebih baik.  Itu disebabkan niat untuk menjadi baik tersebut sudah  menempel dalam diri,  sehingga  semua ajakan untuk berbuat kebajikan sudah pasti akan mendapatkan sambutan positif, termasuk  dalam hal peningkatan kinerja.  Kita berharap dengan datangnya bulan Syawal ini  kondisi  sebagaimana yang kita harapkan tersebut memang akan benar benar terwujud, sehingga kita akan lebih mudah menggapai cita ciat yang lebih besar.

Kita memang selalu  berusaha untuk meningkatkan kualitas diri kita melalui berbagai cara, namun dengan keberhasilan menjalankan puasa ramadlan yang  kemudian dilanjutkan dengan munculnya  sosok yang  bersih dalam hati dan pikiran, tentu akan  lebih memberikan kepercayaan diri lebih  dalam upaya meraih  keinginan bersama  institusi, yakni  mewujudkan  sebuah lembaga pendidikan tinggi yang  berkualitas, bermoral, dan berhasil dalam mengantarkan seluruh mahasiswa untuk meraih cita cita serta masa depan mereka.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.