ZAKAT

Salah satu rukun Islam yang terkadang diabaikan oleh umat islam sendiri ialah zakat, bahkan seolah kewajiban tersebut menjadi tidak utama dibandingkan dengan ibadah wajib lainnya, seperti shalat dan puasa.  Akibatnya banyak diantara umat muslim yang seharusnya sudah berkewajiban menunaikan zakat, malah tidak melakukannya.  Akibat lebih lanjutnya, merka yang miskin dan lemah yang seharusnya mendapatkan hak untuk menerima zakat, sama sekali tidak mendapatkannya, dan nasib merka tidak pernah berubah sebagaimana harapan diwajibkannya zakat.

Demikian juga harus kita ingatkan kepada seluruh umat muslim bahwa kewajiban zakat itu bukanlah hanya zakat fitrah yang selalu dihubungkan  dengan idul fitri setelah selesai menunaikan ibadah puasa Ramadlan, melainkan zakat tersebut diwajibkan atas  segala harta yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, seperti perdagangan, pertanian, peternakan, perusahaan, jasa, profesi dan lainnya.  Nah, zakat zakat tersebut tidak mesti terkait dengan idul fitri atau dengan Ramadlan, melainkan semata mata tergantung kepada perolehan hartanya dan ada pula yang dikaitkan dengan masa, yakni setu tahun.

Meskipun demikian secara umum kesadaran masyarakat muslim dalam berzakat saat ini sudah lebih bagus dibandingkan  dengan masa yang lalu, karena pengelolaan zakat yang sudah lebih transparan dan manfaatnya juga sudah kelihatan.  Artinya secara kasat mata masyarakat sudah dapat menyaksikan betapa dengan zakat tersebut kesejahteraan umat menjadi tertangani, walaupunmasih belum menyentuh keseluruhan.  Bantuan yang sifatnya emergensi juga sudah  selalu dikucurkan serta berbagai kondisi yang sangat membutuhkan penanganan segera, selalu dapat ditangani.

Hanya saja  samp[ai detik ini masih banyak orang yang sudah sadar zakat tersebut belum sepenuhnya  menyadari betapa pentingnya membedayakan masyarakat melalui zakat tersebut, sehingga mereka justru lebih senang membagikan zakatnya secara sendiri dengan membagi secara merata kepada sebanyak mungkin umat yang akan mendapatkannya, semisal masing masing orang  dikasih 100 ribu rupiah atau lebih sedikit dari itu.  Akibatnya mereka yang menerima zakat tersebut tidak mungkin akan dapat mengubah nasib mereka atau dengan kata lain mereka akan tetap terus sebagai mustahik zakat.

Secara akal tidak mubngkin dengan uang yang sekitar serratus ribu rupiah tersebut mereka akan mampu mengubah diri mereka.  Justru yang paling mungkin ialah mereka akan menghabiskannya untuk membeli keperluan makan mereka.  Kalau para muzakki tersebut menyadari bertapa pentingnya memberdayakan masyarakat, tentu mereka akan menitipkannya kepada lembaga yang mengurusi zakat tersebut agar dapat tersalurkan secara terencana  dan diusahakan agar para mustahik zakat pada saatnya akan berubah menjadi muzakki.

Kita tentu sudah dapat memantau kinerja  lembaga atau badan yang dibentuk untuk menangani persoalan zakat tersebut.  Bagaimana  keamanahan mereka dalam mengelola dana zakat, dan apa yang sudah diperbuat mereka dengan zakat selama ini dan seterusnya.  Sudah berapa masyarakat yang diberyakan melalui didikan dan pendampingan mereka, seperti diberikan ketrampilan tertentu dan kemudian diberikan modal serta didampingi, sehingga mereka akan mampu mengembangkan diri serta memberdayakan diri mereka sendiri.

Secara ideal zakat memang dapat mengatasi persoalan kesenjangan ekonomi antara mereka yang kaya dan mereka yang miskin.  Alasannya  ialah  zakat itu dipungut atau diambil dari harta orang yang kaya kemudian dikumpulkan dan diberdayakan untuk mereka yang belum berdaya atau relative miskin.  Namun bukan berarti  dana zakat tersebut hanya diberikan begitu saja kepada para fakir miskin, melainkan harus dilakukan dengan cermat serta mempertimbangkan efektifitasnya.  Kita sangat yakin kalau dana zakat tersebut diserahkan begitu saja kepada para fakir miskin, harta tersebut akan habis tanpa ada perubahan dalam diri mereka.

Karena itu para pengelola dana zakat harus melakukan  upaya yang memungkinkan para penerima zakat tersebut dapat mempergunakannya untuk keperluan  yang dapat dikembangkan, seperti usaha dengan pendampingan yang serius.  Kalau para pengelola memandang  diperlukannya sebuah latihan ketrampilan  terhadap sesuatu, maka  itulah yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum memberikan dana zakat kepada mereka.  Nah, setelah mereka mempunyai ketrampilan tertentu, baruylah  mereka diberikan modal serta dipantau sehingga mereka akan merasa bertanggung jawab.

Memang penggunaan dana zakat yang seperti itu tidak akan menjangkau banyak orang, tetapi jelas kegunaannya serta  jelas pula masa depan yang dapat diharapkan.  Artinya dalam waktu beberapa tahun kemudian, diharapkan mereka akan dapat mandiri dan  mengeluarkan zakatnya untuk kemudian disalurkan kepada yang lain. Kalau hal tersebut dapat berjalan, maka dalam beberapa tahun ke depannya akan  dapat dilihat bahwa dana zakat tersebut mampu mengenrtaskan mereka yang miskin menjadi berdaya.

Sesungguhnya  umat muslim itu santat kuat untuk mengentaskan  para fakir miskin yang ada di sekitar kita, melalui zakat tersebut.  Hanya sayangnya  banyak diantara mereka yang belum melakukannya dengan sadar dan tanggung jawab.  Mereka baru menyadari  bahwa zakat tersebut hanya zakat fitrah, dan bukan zakat mal yang melekat pada harta mereka.  Semua orang yang mempunyai penghasilan cukup sudah seharusnya mengeluarkan zakat, baik itu sebagai PNS, TNI, POLRI, pengacara, pedangan apalagi pengusaha, dan lainnya, wajib mengeluarkan zakat.

Allah swt sendiri telah mengancam bagi mereka yang tidak mau mengeluarkan zakat, padahal mereka sudah berkewajiban, dengan ancaman  siksa yang sangat pedih.  Terkadang  kita menjadi sangat bingung melihat sikap sebagian besar umat muslim yang tenang tenang saja  menghadapi ancaman Tuhan tersebut.  Mereka mengira bahwa dengan menumpuk harta, akan dapat membahagiakan atau menenangkan hati dan pikiran mereka.  Padahal sebaliknya bahwa dengan tumpukan harta yang tidak dizakati, justru akan semakin membuat beban bagi mereka, baik di dunia maupun nanti di akhirat.

Bahkan tragisnya diantara  mereka yang tidak membayar atau mengeluarkan zakat tersebut ialah mereka yang secara lahir mengetahui hokum zakat tersebut.  Terkadang mereka juga bertausiah tentang betapa zakat itu harus dikeluarkan, tetapi terkadang juga mereka justru berkhilah untuk tidak berzakat dengan berdalil bahwa hartanya tersebut belum atau tidak perlu dizakati.  Tentu kondisi tersebut sangat memperihatinkan, karena bagaimana pun seorang tokoh haruslah menjadi panutan atau teladan dalam beramal dan dalam segala urusan.

Namun biarlah mereka akan menanggung sendiri pebuatan mereka, yang terpenting kita  harus terus  memohon kepada Tuhan agar diingatkan untuk tetap melakukan yang terbaik bagi  dunia dan akhirat kita.  Sebagai hamba Tuhan yang taat, kita  harus berusaha  menjalankan  seluruh perintah Tuhan dan sekaligus meninggalkan semua larangan-Nya.  Itulah sesungguhnya taqwa yang diharapkan akan muncul dari pelaksanaan puasa Ramadlan selama sebulan penuh ini.  Kalau kita sudah berpuasa tetapi hati belum tersentuh untuk berbuat yang terbaik, maka itu sama dengan raihan ketaqwaan kita belum maksimal.

Mari sempurnakan ibadah di Ramadlan kali ini dengan mengeluarkan zakat, baik zakat fitrah atau zakat jiwa dan juga zakat mal atau harta.  Dengan berusaha memenuhi kewajiban zakat tersebut, kita berharap bahwa setelah keluar dari Ramadlan  kali ini, kita akan benar benar menajadi sosok manusia yang lain, yakni manusia yang menyadari sepenuhnya  hak dan kewajiban sebagai seorang mukmin dan sekaligus sebagai hamba Tuhan yang harus memelihara bumi dengan  bijaksana dan memberikan manfaat besar bagi sesame.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.