WASPADA TERHADAP MUSIBAH

Mungkin sudah menjadi tradisi umat, baik yang muslim maupun yang non muslim bahwa  pada saat lebaran atau hari raya Idul fitri, umat berbodong pulang kampung hanya sekedar bertemu dengan famili dan keluarga yang  ada di kampung.  Bahkan kalaupun ongkos untuk mudik tersebut harus mengalami kenaikan dua hingga tiga kali lipat, mereka seolah tidak mempedulikannya, paling paling hanya gerundel, etapi tetap diambil juga tiket untuk mudik tersebut.  Tradisi mudik tersebut pada awlanya tentu hanya milik orang Islam, tetapi saat ini sudah menjadi milik seluruh anak bangsa.

Tenu sama dengan halal bi halal yang awalnya hanya milik umat muslim, kemudian  menjadi milik bangsa, sehigga tidak heran kalau kemudian kita menjumpai halal bi halala yang diselenggarakan oleh jemaat gereja atau umat lainnya. Namun sebagaimana biasanya pada saat musim mudik seperti itu, kita menjadi sangat sedih saat meyaksikan mereka  mengalami musibah kecelakaan yang te3rkadang malah tidak sampai tujuan, karena harus mondok di rumah sakit atau bahkan sebagiannya ada yang meninggal dunia.

Sudah banyak himbauan yang dilakukan oleh masyarakat dan juga pihak kepolisian, termasuk mereka telah menyediakan tempat tempat untuk beristirahat agar  kebugaran didapatkan sebelum meneruskan perjalanan panjang.  Namun himbauan tersebut seolah tidak dianggap, karena banyak diantara mereka memaksakan diri untuk terus melaju meskipun  sudah sangat capek.  Akibanya mereka harus mengalam musibah tersebut.

Kita juga sering menyaksikan betapa banyaknya rumah yang ditinggal mudik kemudian dirampok atau dimanfaatkan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab, bahkan sering pula kita menyakisikan banyaknya rumah yang terbakar setelah ditinggal mudik.  Pengalaman seperti itu seharusnya menjadi pelajaran yang sangat berharga  bagi masyarakat agar berhati hati dalam semua hal, lebih lebih pada saat merayakan idul Fitri di kampung alias mudik.

Untuk itu kita hanya menghimbau kepada seluruh umat agar tetap menjaga  lingkungan dan waspada terhadap kemungkinan terjadinya sesuatu yang tidak kita inginkan.  Artinya keinginan untuk mudik yang hanya beberap haritersebut harus tidak boleh megalahkan masa depan yang terbentang di depan kita.  Mudik boleh kita lakukan, bahkan mungkin bagi sebagian orang merupakan sebuah kewajiban karena sekaligus dapat bersilaturrahmi dengan orang tua, handai tolan dan kawan yang berada di kampung, akan tetapi harus dilakukan dengan penuh perhitungan.

Perhitungan tersebut meliputi kewaspadaan dan menjaga agar rumah yang ditinggalkan di kota tetap aman dengan memarahkan kepada keamanan setempat dan dengan berusaha mengamankan  darti aspek lainnya.  Demikian juga pada saat proses kepulangan atau mudik, harus juga dipertimbangkan mengenai aspek keselamatan, baik dirinya maupun piahk lain.  Karena itu semua nya harus siap untuk perjalanan jauh.  Artinya kalau mengendarai kendraan sendiri, maka harus dipastikan bahwa kendraan tersebut aman untuk perjalanan jauh.

Pada saat  melakukan perjalanan di jalan raya  harus tetap menjaga kebugaran tubuh, yakni dengan beristirahat cukup ketika sudah merasa lelah atau mengantuk.  Jangan sekali kali kita memaksakan diri untuk jalan dengan alasan apapun, termasuk alaqsan ingin segera bertemu dengan keluarga atau orang tua sekalipun.  Keselamatan harus menjadi hal yang utama dan diletakkan di atas segalanya.  Sudah barang pasti yang tidak boleh ketinggalan ialah kita bertawakkal kepada Allah swt serta berdoa agar mendapatkan keselamatan selama mudik hingga pulang lagi ke rumah.

Mungkin di jalanan akan sesak dengan berbagai kendaraan yang semuanya mempunyai maksud yang relatif sama, yakni mudik, sehingga mereka berusaha untuk mempercepat laju kendraannya, namun disarankan agar hal tersebut tidak diikuti, karena justru dengan keinginan untuk cepat sampai tujuan tersebutlah menjadi awal terjadinya kecelakaan yang tidak diinginkan.  Akan lebih aman jika kita menjalankan kendaraan secara normal dan mengikuti rambu rambu yang telah diatur oleh polisi lalu lintas.

Bukankah kita sudah sangat paham bahwa  ketergesaan tersebut merupakan salah satu sifat setan dan sebaliknya ketenangan dan kesesuaian  dengan aturan main itu petunjuk dari Tuhan.  Artinya dalam setiap aktifitas apapun sebaiknya kita memang harus terus mengingat Tuhan, karena kita sangat yakin bahwa semua keputusan di dunia ini  sudah diatur oleh-Nya.  Karena itu pasrah total epada Tuhan dengan tetap bertawakkal atau berusaha untuk selamat adalah sikap yang paling bijak dan disukai oleh Tuhan.

Bagi mereka yang berprofesi sebagai driver komersial, seperti bus, kapal, dan lainnya,  juga harus tetap mempertimbangkan aspek keselamatan para penumpang.  Mungkin para penumpang akan tetap ngotot ingin ikut dalam kendraan yang sudah penuh sesuai dengan tempat duduk, namun terkadang ada sebagian diantara sopir kita yang lebih mementingkan aspek ekonomi dengan semboyan “mumpung musim mudik, cari keuntungan yang lebih banyak”, lalu memadati kendaraannya  di luar kapasitas muatan yang diperbolehkan.

Hal seperti itu akan sangat membahayakan  para penumpang, karena kekuatan kendaraan  ada batasnya, sehingga ketika over penumpang, bisa jadi kendaraan akan tidak terkendali saat dijalankan, sehingga kemungkinan terjadinya kecelakaan  sanat besar.  Sudah sering terjadi dan bahkan hampir setiap tahun, dimana kendaraan yang dimuati  melebihi kapasitas yang normal, kemudian mengalami kecelakaan, baik di darat maupun di lautan atau di sungai.  Karena itu semua sopir memang harus tetap menahan diri untuk tidak tergiur dengan banyaknya penumpang sehingga lupa aspek keselamatan.

Musibah memang keputusan Tuhan yang kalau sudah diputuskan oleh-Nya, kita tidak dapat berbuat apa apa, akan tetapi keyakinan yang ada di hati kita ialah bahwa keputusan atau takdir tersebut boleh kita yakini setelah terjadi, sedangkan sebelum terjadi, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya.  Artinya semua musibah yang terjadi di atas dunia  sesungguhnya dapat kita usahakan untuk dihindari,yakni dengan sikap hati hati dan waspada dan tidak lengah dalam menjalankan  aktifitas.  Hanya saja kalau kemudian usaha kita tersebut mengalami kegagalan karena adanya faktor lain yang tidak mampu kita nhindari, maka itulah takdir Tuhan.

Kta tidak boleh menyerah kepada tekdir, sebelum terjadi, karena kalau kita asrah sebelum berusaha, itu namanya memang pasrah yang tidak pada tempatnya.  Ingatkah kita pada sebuah kisah dimana ada seorang sahabat Nabi yang datangke masjid dengan menaiki onta, lalu setelah smapaidi masjdi ontanya dibiarkan begitu saja.  Mengetahui hal tersebut, Nabi lalu mengur kapada seorang sahabat tersebutkenapa ontamu tidak kau ikat?.  Sahabat tersebut menjawab bahwa ia telah memasrahkan kepada Tuhan.  Mendengar jawaban tersebut Nabi kemudian mengatakan bawa pasrah itu boleh tetapi harus ikhtyar dahulu, yakni ikat ontamu lalu pasrahkan kepada Tuhan.

Nah, dengan begitu kepasrahan kepada Tuhan itu harus didahului oleh usaha yang kita lakukan sehingga kepasrahan tersebut akan banar dan memperoleh keyakinan.  Ibaranya kalau kita mudik lalu rumah ita biarkan begitu saja, dan kita hanya pasrahkan keada Tuhan, tentu semua barang berharga yang ada di rumah akan ludes disambar oleh para penjahat.  Cara Tuhan menyelamatkan sesuatu itu bukan dengan sendirinya, melainkan harus dibarengi dengan usaha kita.  Memang ada kalanya dalam kejadian tertentu, Tuhan akan berbuat yang menurut kita istimewa, tetapi secara umum hukum alam yang telah diciptakan oleh-Nya akan tetap berlaku.  Camkan hal itu!.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.