TARAWIH DI MALAM MALAM TERAKHIR RAMADLAN

Secara kuantitas para jamaah yang mengikuti shalat tarawih di beberapa masjid ataupun mushalla memang mengalami penurunan dibanding pada awal Ramadlan, walaupun sudah diberikan motivasi yang sangat kuat, tentang banyaknya pahala di akhir Ramadlan, bahkan juga telah diberikan support tentang adanya Lailatul qadar. Biasanya mereka lebih berkonsentrasi terhadap periapan lebaran dengan berbagai aktifitas yang semuanya mengarah kepada persiapan menghadapi Idul fitri.  Sementara bagi mereka yang berniat untuk lebaran di kampung halaman juga sudah mulai berbenah diri untuk mudik.

Kebiasaan tersebut sesungguhnya sudah berjalan cukup lama dan  meskipun telah dihimbau dengan berbagai seruan dan motivasi, tetapi kebanyakan umat  masih saja  lebih mementingkan persiapan lebaran. Amun sesungguhnya ada sisi lain yang dapat kita rasakan sebagai sebuah kekhidmatan tersendiri menjalankan shalat tarawih di akhir akhir Ramadlan.  Kondisi tersebut tentu akan sangat membantu kita untuk lebih memfokuskan diri kita kepada Tuhan dan sekaligus untuk merenungkan segala hal sehingga kita kemudian dapat  melakukan langkah strategis lebih lanjut.

Artinya kita dapat menyaksikan betapa ada akhir akhir Ramadlan anak anak yang biasanya datang ke masjid atau mushalla dan kemudian disamping iktu shalat, juga serngkali lebih banyak bermain dan guyonan sehingga mengganggu kita yang sedang menjalankan shalat, semuanya sudeah tidak nampak.  Tinggalah para orang tua yang  dapat menjalankan shalat dengan khusyu’ dan konsentrasi penuh.  Tentu kondisi tersebut dapat  membantu kita dalam  menjaga keikhlasan dalam beribadah.

Dengan begitu sesungguhnya kita  dapat menikmati ibadah shalat dengan tanpa gangguan birisiknya anak anak yang berada  di sekitar kita.  Kita memang memaklumi kondisi anak anak yang masih sering bermain, bahkan juga  berteriak dan lainnya, karena yang terpenting dari mereka ialah mau berada dan ikut menjalankan shalat, sehgingga diharapkan nantinya mereka akan terbiasa  datang ke masjid atau mushalla sebagai tempat ibadah dan sekaligus tempat untuk memupuk tali silaturrrahmi diantara seluruh umat muslim.

Kita sengaja tidak menghardik mereka meskipun  keberadaan mereka  mengganggu saat kita sedang shalat, tetapi kalau kita lihat manfaatnya tentu akan lebih banyak.  Membiasakan anak untuk pergi atau berada di lingkungan masjid adalah sebuah usaha yang sangat bagus, semenetara untuk mendidik mereka agar menyadari keberadaannya di masjid yang harus tenang dan mengikuti shalat, adalah hal kedua yang juga harus kita lakukan secara bertahap.  Dengan begitu pada saatnya nanti kita akan dapat menyaksikan mereka  sebagai aktifis masjid atau mushalla dan meramaikan masjid.

Bagi kita  orang tua, terutama yang menyadari bahwa hari hari terakhir bulan suci Ramadlan ini justru menjanjikan banyak pahala, tentu akan merasa sayang meninggalkannya. Bahkan kalaupun harus ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan, mereka pun tentu akan melakukannya tersendiri.  Keberadaan hari hari terakhir bulan Ramadlan tersebut memang sengaja diberikan motivasi dan  janji pahala yang besar, disebabkan  beberapa pertimbangan, yang salah satunya ialah karena setelah sekian lamanya menjalankan  shalat tarwaih dan berpuasa di siang hari, maka secara manusiawi dan fisik, mereka akan merasa lelah dan capek.  Nah, kalau kondisi badan sudah demikian, maka wajar jika mereka juga sedikit malas.

Untuk itulah kemudian Tuhan memberikan motivasi berupa pahala yang sangat besar bagi siapapun yang mampu  dan mau menjalankan ibadah di akhir akhir Ramadlan.  Nabi Muhammad saw sendiri juga menjelaskan bahwa turunnya lailatul qadar yang nilainya lebih baik ketimbang seribu bulan pun juga akan berada di sekkitar sepuluh hari terakhir  Ramadlan.  Dengan begitu umat yang ingin mendapatkannya wajib untuk terus menjalankan ibadah di dalamnya dan melakukan berbagai amalan baik agar  dapat menemukan lailatul qadar tersebut.

Secara umum Nabi Muhammad saw juga memberikan jaminan bahwa siapapun yang berpuasa Ramadlan dengan didasari oleh iman dan perngharapan serta keikhlasan, maka segala dosanya akan diampuni oleh Allah swt.  Nah, maksid  keikhlasan serta dasar kepercayaan tersebut  tentu akan ditemukan jika seseorang menjalankan  perintah Tuhan dengan keikhlasan  sampai tuntas.  Artinya kalau Tuhan memerintahkan p[uasa selama bulan Ramadlan, tentu harus dilaksanakan dengan penuh keikhlasan selama satu bulan penuh tanpa mengeluh dan rasa  lelah.

Tentu  bagi mereka yang beriman dan menginginkan bahwa puasa yang jalankannya bermakna serta menghasilkan sesuatu yang baik, dia akan tetap tegar dalam menjalankan ibadah, meskipun sudah di akhir bulan dan disibukkan dengan berbagai aktiftas menjelang lebaran.  Mereka akan lebih mementingkan dan mendahulukan  ibadah menjalankan perintah Tuhan  termasuk kesunnahannya ketimbang sekedar mempersiapkan lebaran.  Persiapan lebaran tetap masih dapat dilakukan setelah  selesai menjalankan kewajiban dan amalan shalih lainnya.

Sementara itu khusus  dalam hal shalat tarawih pada menjelang akhir Ramadlan yang biasanya menyisakan sedikit saja jamaah,  meskipun kita maklumi  dengan segala alasan umat, seyogyanya kita juga tetap tidak bosan untuk mengingatkan kepada mereka agar mereka  tetap bersemangat untuk menjalankan shalat tarawih tersebut, karena akan sangat rugi bagi mereka yang justru tidak menjalankannnya di akhir akhir Ramdlan tersebut.  Dengan terus  kita berikan himbauan se[erti itu, kita berharap mereka akan menyadari dan kemudian kembali semangat untuk datang ke masjid danmushalla untuk shalat tarawih bersama.

Mungkin untuk anak anak kecil kalau misalnya mereka sudah capek dan tidak mau lagi mengikuti tarawih, kita tetap memakluminya dan tidak perlu kita memaksakan diri, karena dengan pemaksaan tersebut akan timbul kesan yang kurang bagus pada diri anak.  Ajakan dengan halus dan kasih sayang justru akan lebih membuahkan hasil yang lebih baik, meskipun  awalnya tidak akan terlihat.  Mendidik anak memang memerlukan proses yang panjang dan ketekunan.  Isyaallah kalau kita terus melakukannya, pasti mereka akan menjadi sadar juga  dan mereka akan mengikuti himbauan dan keinginan kita.

Himbauan juga ditujukan kepada semua jamaah agar lebih konsentrasi dalam beribadah, termasuk shalat.  Artinya segala perhatian dan pikiran serta hati ahtus kita tujukan hanya kepada Tuhan, sehingga kita akan memperoleh sebuah kepuasan dalam beribadah yang maksimal.  Kalaupun pada malam malam sebelumnya kita sulit melakukannya, disebabkan adanya sedikit gangguan dari anak anak kecil, maka saat saat inilah waktunya untuk lebih fokus dalam mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Saya merasakannya  hal tersebut dan sekaligus gairah untuk menjalankan shalat menjadi  sangat besar, sehingga kalaupun badan sedikit capek maka dengan motivasi yang timbul dalam diri sendiri, akan dapat menghilangkan rasa capek tersebut.  Demikian juga dengan konsewntrasi penuh, maka  kedamaian dan kenikmatan akan dapat kita rasakan.  Mungkin itulah yang disebut dengan manisnya iman dan beribadah kepada Allah swt.  Sungguh para ulama salah yang  menyatakan hal demikian ternyata benar adanya.

Meskipun kita menyadari bahwa masih banyak yang belum dapat merasakan dan mempercayai bahwa ibadah itu dapat mendatangkan kenikmatan dan kedamaian yang hakiki.  Kalau dalam menjalankan ibadah sebagai perintah Tuhan tersebut, dikarenakan sebuah keterpakasaan atau karena  semata mata  perintah, maka kelezatan yang dimaksud sudah barang tentu tidak akan pernah didapatkan.  Karena itu marilah kita fokus dan  ikhlas dalam berbuat, sehingga akan muncul sebuah  kenikmatan yang hakiki tersebut.  semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.