BANGGA DENGAN UMAT YANG BERPUASA

Terkadang kita merasa bahwa Islam di negeri kita ini semakin tidak ditaati oleh umatnya sendiri, terbukti dengan banyaknya penyimpangan dan kemaksiatan yang justru dilaukan oleh umat yang berlabel Islam.  Bahkan dengan maraknya narkoba, umat Islam juga yang banyak terlibat.  Memang kemudian ada orang yang mengatakan ya sudah semestinya karena mayoritas  penduduk negeri kita memang muslim, sehingga apapun yang terjadi, baik itu kemaksiatan, pelanggaran hukum, hingga  yang terbaik adalah dari kalangan muslim.  Kalau diteliti di kompleks wanita tuna susila, ternyata juga banyak muslimahnya.  Demikian juga dilembaga pemasyarakatan, yang terbanyak ialah umat yang beragama Islam.

Atas dasar kenyataan tersebut kita seringkali juga berkesimpulan bahwa diantara umat muslim yang benar benar taat dan menjalankan ajaran agamanya hanyalah sedikit yakni kurang dari separohnya, dan itupun bukan muslim yang berpengetahuan, sehingga akan mudah saja tergoda oleh hal hal yang menympang dari ajaran Islam.  Karena itu pantas saja kelau kemudian banyak diantara mereka yang melakukan praktek terlarang, baik dipandang dari sisi ajaran agama maupun dari aspek moral dan hukum positif yang berlaku.

Namun sesungguhnya kita tidak perlu terlalu khawatir, karena pada kenyataannya masih banyak umat yang tetap menjalankan ibadah puasa, meskipun sedang bertugas atau meskipun sedang berstatus musafir dan lainnya.  Saya sangat bangga dan sekaligus terharu dengan kondisi saat makan sahur di sebuah hotel di Jakarta, dimana sangat banyak para tamu yang menginap melakukan sahur pada  sekitar jam 3 hingga 4.30 an.  Meskipun kita tadak tahu kelanjutannya, setidaknya dengan makan sahur tersebut khusnudzdzan kita bahwa mereka adalah muslim yang taat khususnya dalam menjalankan ibadah puasa.

Bahkan setelah berjalan  lebih dari dua pertiga Ramadlan, antusias umat dalam menjalankan ibadah tarawaih juga masih cukup besar, terbukti dengan masih banyaknya  umat yang menjalankan ibadah shalat tarawih di berbagai tempat.  Mungkin ini sebagai bukti bahwa kesadaran umat dalam menjalankan ajaran aama mereka tidak sebagaimana kita kira selama ini.  Artinya kalau kita hanya melihat kejahatan  dan kemaksiatan yang dilakukan oleh para penjahat mungkin kita akan mendapatkan kesimpulan seperti di atas, tetapi ketika kita menyaksikan juga kenyataan  masih banyaknya kebajikan yang dilakukan oleh umat, tentu kita juga harus adil dalam mengambil kesimpulan.

Kalau kita mau membandingkan bahwa  pelaku kejahatan di negeri ini  dengan  pelaku kebajikan, tentu masih sangat banyak mereka yang melakukan kebajikan, cuma persoalannya ialah para pelaku kejahatan akan menarik perhatian banyak orang sehingga muncul ke permukaan dan  sangat mungkin diekspus oleh media.  Barangkali ke depannya diperlukan pengeksposan kebajikan oleh media sehingga  kebajikan akan lebih muncul dan mendominasi berita, dan bukan kejahatan yang terus dimunculkan.

Menurut saya ada efeknya ketika kebajikan selalu dimunculkan, yakni adanya rasa bangga pada setiap muslim, karena ternyata masih banyak orang yang peduli terhadap nasib umat secara umum.  Selama ini yang selalu dibesar besarkan beritanya ialah kalau ada kejahatan,apalagi kejahatan tersebut cukup besar dan dilakukan oleh orang yang mempunyaikedudukan, akibatnya umat menjadi apatis dan tidak mau berdoa untuk kebaikan  bangsa secara menyeluruh.

Kita sangat paham bahwa  tegaknya sebuah negara dan kemakmuran seluruh rakyat, itu terletak pada empat aspek yang harus saling menopang, yakni dengan ilmunya para ulama, keadilan umara’ atau pemerintah, kedermawanan para aghniya’ atau mereka yang kaya dan  dengan doanya orang miskin.  Kalau empat pilar tersebut dapat diwujudkan dalam sebuah negara, insyaallah berkah langit atau dari Allah swt, pastilah akan diturunkan dan umat menjadi sejahtera.  Sebaliknya kalau salah satunya tidak terpenuhi, maka keidealan tersebut akan sulit diraih.

Ilmu para ulama akan terus menebarkan kedamaian karena dengan ilmu tersebut diharapkan umat akan sadar dengan kondisinya dan keberadaannya, sehingga hak dan kewajiban mereka akan ditunaikan dengan seimbang.  Ilmu ulama tersebut juga sekaligus diharapkan sebagai penuntun ke arah kebajikan semua pihak dan juga menjadi benteng dari segala kejahatan dan kemaksiatan.  Sementara itu keadilan pemerintah menjadi mutlak, karena dengan perlakuan adil tersebut diharapkan seluruh rakyat akan mendapatkan perlindungan dalam berbagai aspek, tidak hanya dalam aspek hukum, melainkan juga ekonomi dan sosial serta aspek lainnya.

Kedermawanan para orang kaya  juga sangat menentukan kesejahteraan umat.  Bagaimana mungkin kalau para aghniya’ seluruhnya bakhir dan tidak mau berbagi dengan sesama, tentu akan ada kesulitan tersendiri dalam membangun umat, termasuk sarana ibadah, sarana pendidikan, sarana kesehatan dan sarana lain yang sangat dibutuhkan oleh umat.  Sedangkan doa dan dukungan para fakir miskin meskipun selalu dianggap remeh, sesunguhnya sangat menetukan juag, termasuk perjalanan sebuah bangsa.

Karena itu tidak ada jalan lain bagi kita terkecuali harus terus memberikan support kepada semua pihak agar dapat memerankan diri mereka sesuai dengan tanggung jawab dan fungsi masing masing. Selama  keempat pilar tersebut dapat menjalankan tugasnya dengan baik, selama itu pula kita akan menyaksikan betapa indahnya  hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan.  Mereka yang miskin akan mendapatkan limpahan  rizki dari kedermawanan para aghniya’ dan mereka juga akan didoakan oleh para fuqara dan masakin.  Alangkah indahnya kondisi seperti itu, jika benar benar dapat diwujudkan, dan  pasti dapat kita realisasikan atas kehndak kita dan perkenan Tuhan.

Memang dalam kenyataannya kita masih banyak menemui warung makan, restoran dan sejenisnya yang masih buka di siang hari pada bulan Ramadlan ini, tetapi kita juga harus paham bahwa di sana masih banyak juga umat lain yang tidak menjalankan ibadah puasa, sehingga kita berkhusnudzdzan  saja bahwa  semua itu dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada mereka yang bukan muslim, atau mereka yang berhalangan puasa disebabkan  hal hal yang dibolehkan, seeprti perempuan yang sedang datang bulan, atau para musafir.

Sudah barang tentu kita tidak boleh menyimpulkan  sesuatu atas dugaan kita sendiri, karena hal tersebut akan dapat menimbulkan kegaduhan dan ketidak nyamanan.  Kalaupun warung tersebut kita anggap dapat mengganggu ketertiban umum dan orang orang yang sedanag menjalankan puasa, maka himbauannya ialah dengan menutup bagian tertentu, sehingga tidak mengganggu yang lain.  Toh kita masih dapat menyaksikan betapa banyak  warung dan restoran yang tutp pada bulan Ramadlan yang tidak kita ekspos sebagai bentuk ketaatan mereka, sehingga umat akan  hormat dan mendoakan pemiliknya.

Secara keseluruhan kita memang harus  berbangga sebagai umat muslim yang hidup di negeri Pancasila ini, karena toleransi diantara umat yang berbeda keyakinan, etnis dan golongan ternyata sangat tinggi, sehingga perbedaan yang ada tidak harus menimbulkan kebencian atau pertentangan yang mengarah kepada  dis integrasi.  Sebagai umat muslim yang taat, sudah sepantasnya kita harus tampil di depan untuk menjadi teladan bagi seluruh kelompok umat yang beraneka ragam tersebut.  Mudah mudahan Tuhan senantiasa memberikan keberkahan kepada para shaimin atau orang orang yang dengan gigih dan tulus menjalankan ibadah puasa tersebut. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.