MALAM NAN AGUNG

Setiap bulan Ramadlan, apalagi sudah sampai sepertiga kedua, pastilah banyak umatnyang membicarakan masalah malam Agung yang biasa disebut sebagai lailatul Qadar atau jga biasa disebut sebagai malam seribu bulan.  Semua nama yang diberikan tersebut memang sangat erat terkait dengan keagungan dan kemuliaan satu malam yang secara khusus disebutkan oleh Allah swt di dalam al-Quran tersebut.  Disebut malam nan Agung karena pada malam tersebut sungguh sangat luar biasa, karena kebaikannya  melebihi seribu bulan, sehingga penyebutan malam seribu ulan tersebut juga untuk memberikan pernyataan bahwa malam tersebut luar biasa.

Memang Tuhan tidak menunjukkan secara langsung kapan malam tersebut terjadi, namun Tuhan menyebutkan bahwa malam al-Qadar tersebut sebagai malam tepat diturunkannya al-Quran dan sekaligus disebutkan pula kebajikannya melebihi seribu bulan.  Pada malam tersebut para malaikat dan juga al-Ruh turun dengan ijin Tuhan mereka dengan membawa perintah masing masing dan menebarkan kedamaian  di atas bumi hingga subuh.

Karena itu meskipun Nabi Muhammad saw sendiri sudah memberikan rambu rambu batasannya, tetapi para ulama  tetap berbeda dalam menafsirkan kapan terjadinya malam nan Agung tersebut.  Sebagian diantara mereka menyatakan bahwa lailatul qadar tersebut akan terjadi pada malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadlan, bahkan ada yang menentukannya  pada malam ke 27 dan lainnya.  Hanya saja menurut saya  yang lebih aman ialah mereka yang bberpendapat bahwa lailatul qadar tersebut akan  muncul atau terjadi pada salah satu malam pada sepertiga terakhir bulan Ramadlan.

Hal tersebut mengacu kepada pernyataan Nabi Muhammad saw sendiri yang ditujukan kepada  seluruh umat agar mereka menjemput dan menemukan lailatul qadar tersebut pada saat saat yang ditunjukkan.  Sabda beliau yang sangat terkenal ialah “carilah oleh kalian semua “lailatul qadar” dalam sepuluh terakhir bulan Ramadlan”.  Dedngan pernyataan tersebut memberikan pengertian bahwa terjadinya lailatul qadar tersebut tidak mesti harus pada malam ganjil.  Bagi yang mempercayai bahwa terjadinya lailatuilqadar tersebut di malam ganjil, juga aan kesulitan terutama pada saat umat muslim berbeda dalam menentukan awal Ramadlan.

Biasanya bagi mereka yang tergolong kalangan ulama, malam malam terakhir Ramadlan tersebut selalu digunakan untuk beri’tikaf di maqsjid dengan tadarrus, berdzikir, bershalawat dan membaca kalimat thayyibah.  Dengan i’tikaf tersebut mereka akan banyak berjaga dan tentu saja  dalam upaya pula untuk mendapatkan malam nan agung tersebut.  Hanya saja mereka  bukan kemudian menjadi sombong atau merasa puas diri karena telah mendapatkan kebaikan yang melebihi seribu bulan, melainkan justru akan semakin baik dalam ibadah dan amaliahnya.

Mereka  bahkan merasa masih kurang dalam hal kesyukuran dan ibadah kepada Tuhan.  Tentu akan lain halnya dengan mereka yang suka menghitung amal, dimana  mereka seolah sudah cukup untuk  investasi akhirat atau sudah cukup untuk tiket masuk surga, sehingga mereka berani melakukan perbuatan maksiat, karena mereka mengira  pahalanya  masih lebih banyak ketimbang dosanya.  Hal seperti itu sangat berbahaya, karena menghitung pahala tersebut tidaklah dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Mungkin kita mengira bahwa amalan yang kita lakukan akan mendapatkan pahala dari Tuhan, tetapi dalam kenyataannya bisa saja amal tersebut sama sekali tidak berpahala, disebabkan kurang ikhlas atau mungkin pahalanya terhapus dengan sendirinya, disebabkan keriyaan yang kita tunjukkan atau lainnya.  Nah, sebagai makhluk Tuhan yang baik, tentunya kita harus terus berharap kepada Tuhan bahwa semua yang kita kerjakan akan mendapatkan pahala dan tidak usah kita hitung dan apalagi dibandingkan dengan dosa yang  kita lakukan.

Biasanya setelah sampai pada malam kedua puluh dan seterusnya, banyak umat yang menyediakan waktu khusus untuk melakukan amal kebajikan, bahkan ada yang mensiasatinya dengan membagi amalan tersebut pada setiap malamnya.  Misalkan  akan bersedekah atau beramal jariyah, maka  semua yang akan disedekahkan atau dijariyahkan akan dibagi sepuluh atau sembilan sesuai dengan usia bulan Ramadlan, kemudian dilaksanakan pada setiap malam sehingga  orang tersebut berpengharapan bahwa salah satunya akan bertepatan dengan malam nan Agung dan mendapatkan pahala serta kebajikan senilai lebih dari seribu bulan.

Melakukan usaha seperti itu tentu tidak dilarang, karena mereka meyakini bahwa dengan begitu mereka  memastikan akan mendapatkan lailatul qadar.  Namun yang paling harus diingat ialah tentang ketulusan atau keikhlasan dalam beramal tersebut.  Artinya meskipun bukan dalam bulan suci Ramadlan, kalau kita mau bersedekah dengan tulus tentu akan mendapatkan kebaikan yang sangat banyak.  Kita sekali lagi tidak usah menghitung pahala secara matematis, yang hanya akan menyebabkan kepuasa dalam beribadah sehingga menjadi perhitungan.

Kaitannya dengan  malam nan agung yang memang dijanjikan oleh Tuhan tersebut, diantara ulama memang masih ada perbedaan, karena menafsirkan itu memang menjadi hak setiap orang.  Karena itu kita tidak usah heran ketika kita menjumpai orang yang tidak mempercayai secara hakiki adanya malam yang nilainya lebih bagus daripada seribu bulan, karena menurut mereka hal tersebut hanyalah sebuah motivasi semata untuk membangkitkan semangat umat dalam beribadah pada akhir Ramadlan yang biasanya sudah mulai ada rasa bosan dan malas.

Kita memang tidak boleh memaksakan kehendak atau pemahaman kita kepada pihak lain, karena  ketika kita sudah memaksakan kehendak atau pemahaaman  tersebut, maka saat itulah keharmonisan akan hilang, dan berganti dengan rasa permusuhan dan ketidak sukaan.  Biarlah bagi mereka mempunyai pemahaman yang berbeda, namun kita harus yakin dengan pemahaman kita yang secara lahir memang sangat jelas.  Dalam hal ini  banyak hadis yang menceritakan tentang betapa para sahabat dan juga Nabi sendiri selalu mencari lailatul qadar pada  sepluh hari terakhir  di bulan Ramadlan.

Dengan  pengertian seperti itu kita akan tetap  dapat menjaga kondusifitas umat dalam menjalni ibadah di bulan suci ini dan sekaligus tetap menjaga keharmonisa diantara sesama umat.  Toh pada hakekatnya nanti yang akan menilai ialah Tuhan sendiri, apakah pemahan kita yang benar ataukah sebaliknya pemahaman mereka yang benar.  Kita  akan senantiasa berusaha melakukan hal terbaik selama menjalankan ibadah Ramadlan, diantaranya  selalu melakukan ibadah mahdlah dan juga ibadah yang berdampak sosial seperti berinfaq, sedekah dan lainnya.

Kita memang tidak boleh bersuudzdzan kepada siapapun, apalagi kepada Allah swt, karena sekali kita  berburuk sangka, maka kita akan terseret ke persoalan yang terus akan bertambah dan pada ujungnya kita akan  menyesali semua yang kita lakukan.  Kalau tidak di dunia, pasti hal tersebut akan kita sesali di akhirat nanti.  Untukitulah kita harus mantapkan keyakinan kita serta terus memupuk persatuan diantara seluruh masyarakat, sehingga kita akan mampu berbuat yang terbaik untuk bangsa dan masyarakat kita.

Sedangkan untuk menyikapi malam nan agung atau lailatur  qadar, kita tetap pada pendirian dan keyakinan masing masing tanpa harus menyalahkan atau menganggap sesat pihak lain.  Bagi kita yang meyakininya dipersilahkan  berusaha mendapatkannya dengan cara menghidupkan malam malam terakhir Ramadlan dengan berbagai aktifitas ibadah, dan bagi yang  berpandangan bahwa lailatur qadar tersebut anyalah cara Tuhan untuk memotivasi umat agar tetap bersemangat dalam beribadah dan bukan  seperti apa yang lahir, dipersilahkan juga. Karena yang terpenting dalam hal ini ialah masing masing tetap melakukan kebajikan dan bukan saling menyalahkan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.