MENYIKAPI UJIAN TUHAN

Terkadang kita hanya menganggap bahwa ujian atau cobaan dari Tuhan itu hanyalah sesuatu yang sangat menyedihkan atau yang tidak mengenakkan, padahal ujian itu dapat juga berupa sesuatu yang secara lahir tampak sangat menyenangkan.  Hanya mereka yang menyadari sajalah akan dapat menyikapi semua ujian dengan baik dan tidak terlena.  Kejadian yang tidak diinginkan, seperti sakit, kecelakaan, kematian, kebakaran, kehilangan benda dan sejenisnya, selalau saja kita anggap sebagai musibah dan ujian, sedang kondisi yang menyenangkan, seperti mendapatkan harta yang banyak, menjadpatkan promosi jabatan, mendapatkan tambahan gaji dan sejenisnya, tidaqk pernah kikta anggap sebagai ujian.

Akibatnya banyak diantara kita yang justru tidak lulus dalam ujian yang menyenangkan tersebut.  Mungkin dia  sangat kuat dalam menghadapi ujian yang sangat berat, tetapi justru keboblan pada saat menjalani ujian yang menyenangkan tersebut.  Untuk itulah  kita harus terus waspada bahwa hidup ini adalah sebuah ujian, karenanya harus disikapi dengan bijak dan tidak pernah terlena dengan kesenangan atau dengan kehidupan yang penuh dengan kenikmatan.  Kita harus tetap ingat bahwa hidup ini hanyalah sandiwara dan permainan saja, sehingga sangat mungkin kita akan dengan mudah mengalami nasib yang sebaliknya dari kondisi yang dialaminya.

Ada sebuah pelajaran yang sangat bagus dari tamsil kisah imajinatif angin yang berkeinginan untuk menjatuhkan seekor monyet yang sedang bergelantungan di atas dahan sebuah pohon.  Kisahnya dapat diceritakan sebagai berikut.  Konon  angin yang bermacam macam tersebut ingin berkompetisi untuk menjatuhkan seeokor monyet yang sedang asyik berada di atas pohon.  Pada awalanya hanya ada  tiga angin, yakni angin topan, angin tornado, dan angin bahorok.  Ketiganya  sama sama mengandalkan kekuatan tiupan masing masing.

Berkatalah angin topan bahwa dia sanggup untuk menjatuhkan monyet tersebut hanya dalam 30 detik saja,  Tidak mau kalah dengan topan, tornadomengatakan bahwa dia cukup membutuhkan waktu 20 detik saja, dan  bahorok dengan kesombongannya  akan mampu menjatuhkan monyet dalam sepuluh detik.  Jadilah mereka kemudian melakukan niatnya. Angin Topan memulai aksinya dengan menyemburkan tiupan angin dengan kerasnya, tetapi monyet menyadari bahwa ada angin kencang sehingga dia kemudian  berpegangan dahan dengan kuat sehingga hingga waktunya habis monyet tetap tidak jatuh.

Giliran Tornado melakukan aksinya dengan mengerahkan kekuatan dahsyatnya, namun monyet semakin kuat berpegangan, sehingga tornado pun tidak sanggup menjatuhkan monyet dalam waktu yang diperkirakannya.  Terakhir Bahorok yang terkenal dengan kekerasan tiupan anginnya, memulai aksinya meniupkan angin dengan kencangnya, tetapi monyet semakin keras juga dalam berpagangan, sehingga semua angin tidak mampu menjatuhkan monyet tersebut.  Dalam kondisi seperti itu tiba tia datanglah angin sepoi poi basah dan dia juga ingin mengiktu kompetisi menjatuhkan monyet.

Tentu saja  keinginan angin sepoi poi basah tersebut ditertawakan oleh mereka bertiga, karena  jangankan aepoi poi basah, mereka bertiga yang dikenal mempunyaikekuatan maah dahsyat saja tidak mampu menjatuhkan monyet dari atas  pohon, mana mungkin angin yang sangat lembek tersebut dapat menjatuhkan monyet, tetapi pada akhirnya  mereka bertiga memberikan kesempatan kepada  sepoi poi basah untuk melakukan hal tersebut.  Mulailah  dia meniupkan diri pada umbun umbun monyet.  Nah, demi mendapatkan  tiupan yang sangat halus dan menyegarkan tersebut, monyet merasa nyaman dan  akhirnya terkantuk.  Saat itulah pegangannya  menjadi longgar dan kemudian dia benar benar jatuh.

Mungkin  cerita ini hanyalah cerita fiktif semata, tetapi kalau kita cermati sesungguhnya mengandung makna yang sangat dalam dan  mengandung sebuha petuah yang sangat luar biasa.  Artinya  dapat saja seseorang itu sangat mampu untuk menghadapi ujian berat yang menimpanya, seperti sakit dan sejenisnya, sehingga  dia tetap dalam kondisi percaya dan mengabdi kepada Tuhan, walaupun diberikan sakit yang cukup akut dan lama.

Namun siapa sangka pada saat diuji oleh Tuhan dengan harta yang  mudah didapatkannya dan sangat banyak, tetapi dia kemudian mulai menjadi sombong, mulai kikir dan  dengan kesombongannya tersebut sama sekali dia tidak menghargai orang lain dan bahkan mungkin meremahkannya.  Tidak  hanya sampai di situ, karena ternyata dengan banyaknya harta, dia kemudian malah sibuk mengurus hartanya dan melupakan Tuhan.  Jadilah dia justru tidak lulus dengan ujian kesenangan yang ditimpakan kepadanya.

Karena itu penting untuk selalu diingat bahwa sesungguhnya hidup ini adalah ujian, baik itu senang maupun susah.  Jangan sampai kita tertipu oleh kesenangan yang diujikan oleh Tuhan kepada kita, sebab ujian dari Tuhan tersebut pasti diberikan kepada setiap manusia.  Tujuannya agar manusia senantiasa  waspada dan emngingat Tuhan dengan lebih banyak.  Selama kita selalu berdzikir kepada Tuhan dan menyadari keberadaan hidup kita yang pasti diuji oleh Tuhan, selama itu insyaallah kita akan  mampu mengatsi semuanya dengan baik dan kita akan menjadi hamba Tuhan yang pandai bersykur.

Allah swt sendiri juga telah mengingatkan kepada kita sebagai hamba-Nya bahwa  hidup itu hanyalah sebuah permainan dan banyak manusia yang berlomba mengumpulkan harta untuk kesenangan, namun banyak pula diangtara mereka yang  lupa dengan posisinya sebagai hamba yang harus mengabdikan diri secara total kepagda Tuhan sebagai wujud kesyukuran atas  semua nikmat yang telah dilimpahkan.  Dengan demikian mereka yang lupa tersebut nantinya akan mendapatkan balasan  siksz yang sangat pedih.  Nah, atas peringatn tersebut kita  harus senantiasa berdoa agar kita tidak mengalaminya.

Kita  harus terus memohon kepada Tuhan agar diberikan hidayah dan kekuatan untuk menghadapi ujian dunia dan sekaligus dapat melewatinya dengan mulus.  Kalau kita selalu memgingat posisi kita yang sebagai hamba tentu kita akan terus diingatkan oleh Allah untuk berbuat baik dan dijauhkan dari sifat difat tercela yang akan menyeret kita ke jurang yang sangat menyedihkan.  Memang  sikap yang  harus kita ambil ialah dengan mengiktui cara cara yang  dilakukan oleh Rasulullah saw, yakni hidup sederhana dan tidak suka menyimpan harta untuk diri sendiri, melainkan  lebih banyak disumbangkan kepada yang membutuhkan.

Hanya saja  kondisi kita saat ini  mungkin berbeda jauh dengan kondisi Rasul saqw, sehingga  mengharuskan kita untuk menghitung keperluan primer kita di dunia, dan bafru selebihnya dapat kita bagi dengan sesama.  Artinya di dunia ini kita membutuhkan ongkos untuk pendidikan anak, untuk kesehatan seluruh keluarga, untuk sandang, pangan dankebutuhan  rutin  hidup kita, seperti untuk membayar listrik, air, dan lainnya.  Nah, semua itu memang harus kita perhitungkan, tetapi bukan untuk dibesar besarkan sehingga uang seberapapun tidak akan tersisa.

Kita harus pandai untuk memperkirakan dan mengharuskan diri untuk ada sisa dari pendapatan atau gaji yang kita hasilkan untuk disedekahkan.  Bahakn mungkin untuk menyelamatkan diri dari kemungkinan dikalahkan oleh nafsu kita, maka bagian untuk sedekah harus didahulukan.  Sebab  sedekah itulah sesunguhnya harta kita yang hakiki, karena  tidak mungkin hilang atau dicuri orang.  Bahkan banyak nasehat orang bijak yang kita ketahui bahwa kita harus  sesegera mungkin bersiap untuk bekal akhirat, karena kematian itu tidak dapat diperkirakan datangnya.  Semoga kita termasuk orang yang beruntung, dunia dan juga akhirat.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.