MOTIVASI DALAM BERPUASA

Menahan lapar dan dahaga sejak pagi hingga menjelang malam, memang cukup berat bagi siapapun, apalagi bagi mereka yang tidak mempunyai motivasi dalam melaksanakannya.  Badan yang tidak dimasuki makanan dan minuman seharian tentu juga akan terasa lelah dan lesu, sehingga  pekerjaaan juga berkurang kadarnya.  Namun  bagi mereka yang mempunyai motivasi tertentu, semisal motivasi mengejar pahala yang disediakan oleh Tuhan, atau motivasi untuk mendapatkan ridla Tuhan, atau untuk  berlatih dalam memperbaiki diri dan sejenisnya, tentu puasa akan  dijalaninya dengan penuh semangat dan optimism tinggi.

Kita dapat membayangkan bagi orang yang menjalankan puasa karena hanya menjalani sebuah kewajiban, apalagi kalau sama sekali tidak mempunyai pengetahuan serba sdikit mengenai manfaat berpuasa, maka berpuasa  sepertinya terpaksa  dilakukan, karena  sebuah kewajiban yang dia tidak tahu untuk apa puasa tersebut, sehingga  pasti akan terasa berat dan melelahkan.  Mungkin bagi orang tipe seperti itu jika diberikan pilihan antara berpuasa atau sekedar didenda, maka dia akan memilih didenda saja.

Lain halnya dengan mereka yang  mengetahui secara pasti tentang puasa Ramadlan dan manfaatnya bagi diri, jika ada pilihan sebegaiana tersebut, pasti tetap akan memilih berpuasa.  Artinya  bagi mereka yang hanya mengetahui sedikit saja dari tujuan Ramadadlan, akan memilih tetap puasa, apalagi mereka mengetahui sesuatu yang belum diketahui dan itu sangat luar biasa, maka pastinya dia akan  dengan semangat tetap akan berpuasa, walaupun ditawari dengan segala macam kesenangan.

Nabi Muhammad saw sendiri pada suatu saat pernah mengatakan bahwa “jikalau umatku mengetahui apa yang terdapat di dalam Ramadlan, maka mereka akan berharap bahwa  semua bulan selama setahun akan menjadi Ramadlan seluruhnya”.   Padahal umat Muhammad hanya mengetahuis erba sedikit tentang sesuatu yang ada pada Ramadlan, seperti janji akan diampuni dosa dosanya, jika mengerjakan puasa dengan didasari iman yang benar dan senantiasa ikhlas berharap hanya kepada keridlaan Tuhan.

Demikian juga dengan motivasi lainnya yang sementara ini sudah banyak diketahui oleh umat muslim, seperti bahwa  selama bulan Ramadlan itu secara umum  dibagi tiga , yakni sepertiga pertama merupakan rahmat Tuhan, yakni  pada saat itu rahmat Tuhan selalu dibentangkan untuk semua orang yang menjalani puasa dan amalan di malam harinya, sehingga akan  sangat rugi bagi mereka yang sama sekali tidak memanfaatkan Ramadlan untuk mendapatkan rahmat Tuhan tersebut.

Kemudian keduanya ialah sepertiga kedua yang disebuat sebagai ampunan Tuhan.  Artinya  selama bulan Ramadlan, utamanya dalam  sepertiga kedua, Tuhan akan membentangkan ampunan-Nya untuk para hamba-Nya yang mau menyongsongnya dengan berpuasa dan mengamalkan kebajikan di malam harinya.  Dan yang spertiga terakhir, disebut sebagaidimerdekakan dari  neraka,.  Artinya siapapun yang  senantiasa meminta kepada Tuhan pada sepertiga  terakhir Ramadalan, tentu Tuhan akan memberikan kebebasan dari neraka, alias  hanya surgalah tempatnya.

Tentu masih banyak motivasi lainnya yang ditujukan bagai  siapapun yang menjalankan ibadah puasa dan menjalankan ibadah pada malam harinya selama bulan suci Ramadlan.  Salah satunya yang sudah diketahui secara umum oleh masarakat muslim ialah bahwa segala tindakan orang yang bertpuasa akan dinilai sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan, termasuk membaca kitab suci, beramalshalih, bertasbih, bertahmid, tahlil dan sejenisnya.  Bahkan berdiam diri saja atau tidur dengan niat untuk menghindar dari menggunjing atau  berkata jelek, juga akan mendapatkan pahala.

Apalagi nanti pada sepertiga terakhir bulan suci Ramadlan,  dimana  orang yang menjalankan puasa sudah mulai  capek dan mengalami keletihan, maka motivasinya dilebihkan dengan tujuan agar keletihan dan jelsuan tersebut akan menjadi sirna dengan datangnya motivasi yang lebih besar.  Motivasi tersebut ialah janji akan diberikan kebajikan yang sangat luar biasa, yakni adanya satu malam yang nilainya lebih  dari seribu bulan, yakni malam lailatul qadar.  Bahkan janji tersebut secara eksplisit dijelaskan oleh al-Quran sendiri.

Secara hitung hitungan  lailatul qadar tersebut melebihi 83 tahun, padahal usaia orang  banyak yang tidak sampai 83 tahun.  Jadi dengan mendapatkan lailatul qadar saja, seseorang akan  dapat berinvestasi pahala yang luar biasa  untuk akhiratnya.  Nah, seandainya motivasi tersebut tidak dimengerti atau seandainya tidak ada motivasi, maka akan terasa sangat berat bagi siapapun untuk menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh.  Tetapi karena motivasi tersebut, rasa berat akan berubah menjadi rasa semangat menyala disebabkan  pahala yang akan didapatkannya.

Namun  sesungguhnya ada motivasi yang lebih hebat dari sekedar hitung hitungan pahala, yakni motivasi yang biasanya dimiliki oleh para ulama khas, yakni keinginan untuk mendapatkan  ampunan dan ridla dari Tuhan.  Mereka sama sekali tidak memikirkan soal pahala, surge dan lainnya, tetapi mereka hanya ingin bahwa Tuhan meridlainya.  Mereka sangat ikhlas dengan semua perintah Tuhan dalam menjalaninya bahkan sedikitpun tidak ada keluhan, karena mereka menyadari bahwa semuanya itu atas kehendak Tuhan.

Bahkan terkadang saking asyiknya, mereka tidak merasa bahwa  semua yang dilakukannya tersebut sampai membuat diri mereka seolah tidak pesuli dengan diri mereka sendiri.  Rasa lapar  dan haus sudah barang pasti sudah hilang dari ingatan mereka, bahkan mungkin kalaupun badan mereka harus menderita, mereka tidak akan merasakannya.  Kita tahu bahwa mereka itu terkadang dalam menjalankan ibadah, shalat misalnya, kaki mereka sampai bengkak dan mereka tidak rasakan, karena semuanya sudah terfokus kepada Tuhan.

Mungkin  bagi orang awam dan masih menyadari kepentingan kehidupan di dunia ini, puasa tidak harus dilakukan seperti itu, melainkan cukup dengan memasrahkan seluruhnya kepada Tuhan, dan tentu tetap menjaga kesehatan serta kebugaran, yakni melalui konsumsi makanan dan minuman yang mengancung banyak bitamin yang dibutuhkan pada saat berbuka dan sahur.  Artinya, puasa tetap kita jalani dengan penuh harapan dan motivasi mendapatkan ampunan  serta pahala dari Tuhan, sehingga puasa tetap dapat kita jalankan dengan sempurna tanpa keluhan yang berat.

Kalau misalnya puasa yang kita lakukan masih mengharap pahala dan menghitung pula menfaat yang akan diperoleh dibanduingkan dengan puasa itu sendiri, manurut saya  tidak mengapa, karena hal itu tidak dilarang.  Tuhan  dan nabi Muhammad saw sendiri yang menginformasikan  tentang pahala tersebut, sehingga kalau kita meyakininya, tentu dapat dipertanggung jawabkan.  Kita memang dapat mengerti bahwa bagi mereka yang berada ditingkatan tinggi dalam keulamaan dan kesufian, biasanya  hanya mengharap ampunan Tuhan dan ridla-Nya saja, bukan yang lain, termasuk pahala.

Justru dengan menghitung pahala tersebut akan dapat meningkatkan semangat dan gairah kita dalam menjalankan puasa dan juga amalan lainnya  di bulan suci. Dengan begitu sesungguhnya  motivsi dalam menjalankan puasa dan ibadah lainnya itu menjadi kunci kesuksesan.  Bahkan kita dapat mengklaim bahwa hanya dengan motivasi tersebutlah seseorang  dapat menyelesaikan sebuah pekerjaan, termasuk pekerjaan menjalankan ibadah.  Karena itu setiap kita melakukan sesuatu haruslah mencari motivsi yang akan mendorong kita untuk bersemangat untuk mengerjakannya, sehingga dapat sukses, dlam hal ini ialah puasa.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.