MENUNGGU BEDUK MAGHRIB

Pada umumnya masyarakat kita saat menjelang berbuka puasa selalu mempersiapkan aneka ragam makanan dan minuman. Bahkan ada yang mempersiapkannya sejak siang hari.  Satu jam sebelum maghrib pada umumnya mereka sudah siap dengan hidangan berbuka puasa, dan sambal menunggu waktunya, mereka bercengkerama dengan keluarga atau sekedar menonton televisi dan lainnya.  Tentu berbeda dengan para santri yang pada umumnya sebelum Maghrib mereka tadarrusan atau membaca al-Quran hingga Maghrib tiba.

Kebiasaan seperti itu sepertinya sudah lumrah dijalani oleh masyarakat dan juga oleh para santri, namun  sejauh itu pula  belum ada gerakan dan sekaligus juga ajakan untuk mengubah tradisi tersebut kea rah yang lebih baik, yakni dengan memanfaatkan waktu menjelang  beduk Maghrib tersebut dengan melakukan aktifitas doa kepada Tuhan secara khusus.  Menunggu Maghrib dengan berkumpul bersama keluarga dan sedikit bercerita tentang apapun, itu  tidak jelek, tetapi memanfaatkan waktu sebelum berbuka dengan doa itu jauh lebih bagus, karena konon ceritanya waktu sebelum berbuka tersebut termasuk waktu mustajab.

Bagi para santri yang memanfaatkan waktu sebelum Maghrib tersebut untuk tadarrus al-Quran, juga bagus, tetapi akan lebih bagus lagi jika juga dilakukan doa di dalamnya, sehingga kita akan senantiasa diingatkan untuk mengenang Tuhan dalam kondisi apapun.  Artinya kita dapat memulai tradisi bagus, khususnya di bulan suci ini dengan memanfaatkan waktu menjalang berbuka puasa untuk berdoa secara bersama, meskipun hanya satu keluarga.  Denga berdoa tersebut diharapkan semua yang kita jalankan akan memberikan kebaikan bagi kita dan juga masyarakat secara umum.

Ketimbang kita menunggu Maghrib dengan menonton TV atau dengan mendengarkan music, atau hanya dengan memainkan game atau sekedar ngobrol yang tidak berarti, tentu akan sangat baik, jika kita  mengambil air wudlu, kemudian berdoa memohon  keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan kepada Tuhan.  Bagi kita yang sedang  mengadakan acara pada sat menjelang berbuka tersebut, seperti mengadakan  buka bersama  dengan seluruh karyawan atau masyarakat se RT atau lainnya, maka disamping diisi dengan ceramah agama, juga  ada doa khusus di acara tersebut.

Memang kegiatan masyarakat muslim di bulan suci ini sangat padat yang semuanya bernilai baik, bahkan mulai setelah Ashur hingga menjelang Maghrib.  Biasanya setelah shalat subuh ada kajian dan ceramah agama untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang berbagai hal, terutama yang terkait dengan amal baik dan tentang Ramadlan itu sendiri.  Setelah shalah Dhuhur juga dilakukan hal yang relative sama dengan  judul kultum atau kuliah tujuh menit, dan ada juga yang melakukan kajian menjelang berbuka puasa  langsung diteruskan dengan berbuka takjil.

Namun kita juga masih menyaksikan betapa banyak umat muslim yang berpuasa, justru tidur pada pagi hari setelah shalat Subuh.  Jangankan  melakukan aktifitas yang terkait dengan pengamalan yang bersifat Rohani, untuk sekedar melakukan aktifitas rutin bekerja sama harus ditinggalkan.  Padahal disamping  hal tersebut telah menyia nyiakan waktu untuk sesuatu yang kurang bermanfaat, juga  dapat menyebabkan  kesehatan  berkurang, alias mudah terkena penyakit.  Barangkali sebagai umat muslim yang mengetahui persoalan tersebut, para dokter muslim memberikan  sebuah maklumat terkait hal tersebut, dengan maksud agar  umat muslim yang berpuasa tidak tidur di pagi hari.

Tentu himbauan  seperti tersebut hanya  dimaksudkan untuk menambah kebajikan, karena secara umum apa yang saat ini sudah dilakukan oleh mayoritas umat muslim sudah cukup bagus.  Cuma terkadang masih ada waktu yang  sayang dilewatkan begitu saja, padahal waktu tersebut sangat berharga dan  menentukan langkah kita ke depan.  Artinya waktu sekitar satu jam sebelum Maghrib pada bulan Ramadlan atau dengan kata lain  waktu menunggu berbuka puasa ternyata merupakan waktu yang  manjur untuk kita memohon kepada  Allah swt.

Memang seluruh waktu dapat kita pergunakan untuk berdoa kepada Tuhan, dan Tuhan senantiasa akan mendengarkan setiap doa hamba-Nya yang dengan kesungguhan jiwa memohon kepada-Nya.  Namun sebagaimana kita ketahui juga bahwa ada kalanya  waktu waktu tertentu merupakan waktu yang sacral, sehingga doa yang kita panjatkan akan lebih diistijabahi oleh Tuhan.  Allah memang meminta kita untuk memohon kepada-Nya, sebagaimana difirmankan dalam al-Quran yang maksudnya “ kalian semua memohonlah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan”.

Persoalan doa tersebut memang  telah dibahas oleh banyak ulama, baik mengenai kemungkinan diterima atau tidaknya  doa seorang hamba, maupun tentang berbagai hal yang berkaitan dengannya, seperti mengenai tempat, waktu, cara dan lainnya.  Namun sebagaimana kita tahu juga bahwa kita sebagai hamba pastilah  harus sadar bahwa  untuk memohon kepada Tuhan itu diperlukan  adab atau sopan santun tertentu, sehingga menurut kita permohonan yang kita pintakan  kemungkinanya akan dikabulkan.

Jika kita  memohon kepada sesame manusia saja, dan cara memintanya tanpa dibarengi dengan  sopan santun, perkiraannya permohonan kita tidak akan dikabulkan.  Apalagi ketika kita memohon kepada Tuhan, sudah sepantasnya kita melakukannya dengan penuh ketundukan dan kepatuhan serta kesopanan.  Dalam kaitannya  dengan persoalan ini, imam al-Ghazali sudah menyatakan bahwa  ketika  seorang hamba ingin  agar doanya kepada Allah swt dikabulkan, maka ia harus melakukannya dengan syarat syarat tertentu.

Syarat yang dimaksudkan tersebut ialah dia harus membersihkan dirinya dari segala kotoran, baik yang tampak maupun yang tidak tampak.  Artinya sebelum seseorang berdoa kepada Allah swt, hendaklah disiapkan mental yang bagus dan membersihkan dirinya, yakni tidak makan atau minum dari sesuatu yang  syubhat, apalagi haram.  Demikian juga pakaian yang dikenakan haruslah bersih dan didapatkan  dengan jalan yang halal, dan  pada saat memohon kepada Allah harus penuh konsentrasi dan focus hanya memohon kepada Tuhan semata.

Dengan kebersihan diri sebegaimana tersebut diharapkan doa kita akan diterima oleh Allah swt.  Itu tentu hanya merupakan ikhtiyar yang dilakukan oleh manusia, sedangkan semua keptusannya sepenuhnya menjadi wewenang Tuhan sendiri.  Allah swt sendiri menyatakan bahwa Dia itu sangat dekat dengan kita, bahkan lebih dekat ketimbang urat leher seseorang.  Itu artinya Tuhan pasti akan mendengar semua doa yang dipanjatkan oleh para hambanya.  Hanya persoalannya apakah doa tersebut dikabulkan atau tidak itu sangat tergantung kepada banyak hal, yang salah satunya ialah tentang kesiapan dan keyakinan kita sendiri.

Pada sisi lain islam sendiri juga menginformasikan bahwa ada tempat tempat yang dianggap sebagai sangat mulia sehingga ketika  kita berdoa dio tempat tersebut, insyaallah akan dikabulkan, seperti raudlah, yakni tempat  di masjid Nabawi  yang terletak antara tempat shalat Nabi Muhammad saw dan rumah beliau, yang sekarang menjadi makam beliau beserta kedua sahabat beliau, Abu bakr dan Umar, kemudian juga di Multazam, yakni tempat antara pintu Ka’bah dan Hajar Aswad, dan lainnya

Demikian juga  Islam memberikan informasi tentang waktu waktu tertentu yang  mempunyai keistimewaan dan bila kita berdoa pada saat itu insyaallah akan dikabulkan, seperti pada saat wukuf di Arafah, yakni setelah bergesernya dhuhur pada tanggal 9 Dzul hijjah hingga menjelang Maghrib, Dua pertiga malam terakhir dan masih banyak lagi.  Nah,  kali ini waktu yang dimaksud tersebut ialah waktu menjelang berbuka puasa setiap hari  selama bulan suci Ramadlan.  Untuk itulah  rasanya sayang kalau kesempatan yang mudah didapatkan tersebut kita lewatkan begitu saja.  Semoga kita menjadi orang yang pandai memanfaatkan kesempatan untuk kebajikan secara umum. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.