NIKMATNYA BERBUKA PUASA

Tepat apa yang disampaikan nabi Muhammad saw melalui sebuah riwayat bahwa  ada dua kebahagiaan atau kenikmatan bagi orang yang berpuasa, yakni kenikmatan saat berbuka puasa dan kenikmatan nanti pada saat bertemu dengan Tuhan.  Konon bertemu dengan Tuhan itu merupakan nikmat tiada tara, karena tidak ada kenikmatan yang melebihi bertemu dengan Tuhan.  Mungkin saat ini kita belum dapat membayangkan seperti apa bertemu dengan Tuhan itu, mungkin juga kita hanya membayangkan seperti bertemu dengan orang yang sangat dikasihinya, tetapi pasti semua itu tidak tepat.

Kita baru dapat merasakan betapa nikmatnya berbuka puasa, setelah seharian  menahan diri dari lapar dan haus, kemudian pada saat yang telah ditentukan, kita diperbolehkan menikmati hidangan dengan penuh  nikmat, meskipun hidangannya bukan sesuatu yang mahal, seprti daging, ikna dan sejenisnya.  Kalaupun hidangan untuk berbuka puasa hanya sekedar satu gelas teh hangat, buah segar, dan mungkin nasi dengan lauk tempe atau tahu, tetapi dapat melebihi makanan mahal yang kita makan bukan pada saat berbuka puasa.

Namun bagi kita orang beriman diingatkan agar dalam menikmati sebuah nikmat Tuhan, kita tidak boleh berlebihan, semisal makan terlalu kenyang, karena sesuatu yang berlebihan itu termasuk kebiasaan setan.  Disamping itu kalau pada saat kita berbuka puasa dengan melahap semua yang ada, sangat mungkin kita akan menderita sakit kekenyangan dan akibatnya akan menjadi malas untuk menjalankan kewajiban dan amalan baik lainnya di malam hari.

Secara nalar kita memang dapat menrima kenyataan bahwa berbuka puasa setelah  cukup lama tidak makan dan minum, kemudian terswedia makanan dan minuman, tentu akan terasa nikmat sekali.  Apalagi kalau saat berbuka puasa disertai dengan rasa kemenangan atas kemampuan kita menaklukkan nafsu serta berpengharapan beasr akan ampunan Tuhan, pastilah akan semakin nikmat.  Jadi kenikmatan yang disampaikan oleh Nabi sebagaimana dalam riwayat di atas, bukan sekedar nikmat menyantap makanan dan minuman yang ada, melainkan justru lebih dari itu ada rasa kemenangan  yang berbaur dengan rasa kebahagiaan karena  akan mendapatkan sesuatu yang besar dari Tuhan.

Akan lebih nikmat rasanya bilamana buka puasa tersebut dilaksanakan bersama dengan seluruh keluarga, karena dengan berkumpulnya seluruh keluarga akan muncul sebuah kondisi dimana hati  dan pikiran menjadi sangat tenang.  Bukan berarti kalau ada sebagian keluarga yang sedang menjalankan tugas  seperti anak yang sedang belajar di luar kota, atau orang tua yang sedang menjalankan dinas ke luar kota, kemudian hati dan pikiran tidak tenang.  Tetapi ketenangan hati akan lebih terasa bilamana berkumpul dengan seluruh keluarga, itu sudah pasti dan itu merupakan sebuah naluri manusia yang normal.

Kalau dibanding  makan dan minum biasa saat perut kita belum terlalu lapar,  tentu saat buka puasa setelah menahan lapar seharian, akan terasa berbeda.  bahkan semangat untuk makan dan minum pun juga  berbeda.  Bahkan kalau tidak sedang berpuasa dan  sudah sekian lama tidak makan dan minum pun juga pasti ada perbedannya.  Artinya kalau bukan dalam kapasitas berbuka puasa, meskipun perut kita lapar dan dahaga, tetapi saat mnenyantap makanan pastilah berbeda, karena pada saat berbuka, ada sesuatu yang lain yang dapat kita rasakan sebagai sebuah kenikmatan tersendiri yang tidak dapat kita peroleh pada selainnya.

Bagi mereka yang berpuasa secara tulus hingga seolah tidak merasakan lapar dan dahaga sekalipun, pada saat berbuka tetaplah dapat merasakan nikmat yang luar biasa.  Kita mengetahui bahwa sebagian diantara umat muslim, ada yang menjalankan puasa dengan penuh ketulusan dan pengharapan kepada Tuhan, sehingga mereka sama sekali tidak memikirkan  persoalan perut, alias mereka tidak merasakan lapar dan dahaga, bahkan mereka juga tidak meikirkan  tentang surga dan neraka.  Mereka hanya memikirkan bagaimana mendapatkan perkenan Tuhan semata.

Nah, bagi mereka, puasa bukan  merupakan sebuah perintah yang berat atau menyusahkan, me,lainkan justru merupakan kondisi yang memang mereka kehendaki dan selalu mereka rindukan.  Mereka sangat yakin bahwa puasa tersebut membawa banyak keberkahan dan menfaat untuk kebajikan mereka.  Bahkan diantara mereka juga ada yang hanya makan sekdarnya  saja, namun secara pandangan duniawi mereka tetaplah  sebagai manusia yang  dapat merasakan  sesuatu yang nikmat dan yang bukan.  Nah, pada saat berbuka puasa, mereka juga dapat merasakan kenikmatan tersebut, walaupun hanya dengan cukup meminum seteguk air.

Tidak ubahnya dengan para dermawan yang dengan kesadaran dan ketulusan selalu berusaha memberikan buka takjil kepada mereka yang membutuhkan.  Artinya  mereka yang  bersedekah takjil, meskipun tidak secara langsung  berbuka bersama, akan tetapi dengan ketulusan memberikan makan orang yang berpuasa, tentu akan  merasakan betapa nikmatnya bersedekah tersebut.  Tentu akan berbeda dengan mereka yang meskipun memberikan sedekah, tetapi belum  secara tulus, maka mereka belum dapat merasakan makna ketulusan dan kenimatan di dalamnya.

Saya sendiri sering menyaksikan betapa banyak anak yang  saat menyantap makanan buka puasa  yang diberikan oleh para dermawan, sangat lahap dan begitu menikmati makanan dan minuman yang ada di hadapannya.  Bahkan   dengan hanya menyaksikan mereka saja rasanya sudah ikut kenyang.  Aada rasa bangga bahwa  sebagian rizki yang diberikan oleh Tuhan kemudian dibagi dengan sesama yang membutuhkan, apalagi mereka yang  berpuasa.

Rasanya semakin nikmat apa yang sedang kita santap, karena Tuhan telah memberikan karunia yang begitu banyak kepada kita, sehingga kita dapat berbagai dengan orang lain.  Nah, kalau kita dapat melakukan hal yang demikian, tentu kenikmatan saat berbuka puasa akan semakin terasa mendalam.  Sebab  kita  berbuka puasa bukan  semata mata makan dan minum, melainkan juga didahului oleh permohonan kepada Tuhan, yakni dengan mengungkapkan bahwa  puasa yang kita lakukan hanya untuk Tuhan, dan hanya kepada Allah lah kita beriman serta hanya dengan rizki yang diberikan-Nya kita berbuka puasa.

Menurut nabi Muhammad saw saat kita berbuka puasa sebaiknya dengan mengkonsumsi sesuatu yang cair dan berasa manis, seperti segelas air kemudian disusul dengan buah kurma.  Namun bagi kita yang berada didaerah yang buahnya bermacam, dapat diganti dengan buah lainnya, seperti mangga, pepaya dan lainnya.  Ternyata buah yang demikian akan cepat memulihkan tenaga yang seharian berkurang.  Disarankan juga agar pada saat berbuka puasa tidak langsung menyantap makanan yang berat, seeprti nasi dan sejnisnya.

Hanya saja semua itu masih tergantung pada ketersediaan dan  menurut kondisi yang mungkin.  Artinya kalau semua yang disarankan tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan, maka berbuka dengan apa saja  juga tidak mengapa, asalkan dijadikan sebagai sesuatu yang dapat membatalkan puasa pada saat maghrib tiba, walaupun hanya seteguk air, tidaklah mengapa.  Atau bahkan kalau situasinya menghendaki bahwa pada saat berbuka langsung makan besar setelah minum sekedarnya pun juga tidak menjadi masalah.

Walhasil mengenai berbuka puasa itu ada berbagai cara dan hidangan yang disajikan juga  dapat berbeda, namun yang terpenting dalam hal tersebut ialah bagaimana kita menyikapi buka tersebut.  Apakah kita hanya sekedar menyantap makanan untuk menambal  perut yang kosong  setelah seharian berpuasa, ataukah ada nilai lain yang ditambahkan sehingga akan merasa lebih nikmat, semuanya terpulang kepada kita masing masing.  Tentu  akan berbahagialah mereka yang tahu bagaimana caranya  menempatkan buka puasa sebagai salah satu hal yang paling dapat dirasakan kenimatannya hingga relung hati yang paling dalam.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.