HUSNUDZDZAN KEPADA TUHAN

Berprasangka baik kepada semua orang itu merupakan sikap bagus, apalagi kepada Tuhan, sang Pencipta  segala alam semsta, sudah pasti harus dilakukan.  Sikap baik sangka kepada Tuhan itu ialah tidak curiga atas semua yang telah diputuskan dan diberikan kepada kita.  Dengan kata lain bahwa semua yang telah ditakdirkan oleh Tuhan kepada kita, baik itu yang kita anggap baik dan menyenangkan maupun yang kita anggap tidak baik dan menyedihkan, harus kita pandang sebagai keputusan yang terbaik.

Terkadang  kita memang bertanya kenapa Tuhan  tidak memberikan kemudahan kepada kita  atau kenapa Tuhan tidak meluluskan permohonan yang selalu kita pinta, dan kemudian kita berburuk sangka kepada-Nya.  Terkadang kita  menyangka bahwa Tuhan tidak sayang kepada kita atau bahkan menganggap bahwa Tuhan tidak adil, dan seterusnya.  Padahal sesungguhnya dengan takdir tersebut, Tuhan sangat sayang dan  adil kepada kita, cuma kita tidak mengerti atau belum terbukan hati dan mata kita terhadap kasih sayang dan keadilan Tuhan.

Namun ketika  kita  mau merenungkan dan menyadari bahwa keputusan Tuhan tersebut sungguh  telah menyelamatkan kita dari bahaya yang  sangat tragis, barulah kita dapat menerimanya, walaupun sebelumnya sempat berburuk sangka kepada Tuhan.  Sikap berbaik sangka tersebut seharusnya kita  praktekkan dalam  keseharian kita, dalam segala posisi dan kondisi kita, karena semua keputusan Tuhan itu pasti mempunyai tujuan yang sangat baik untuk kita.

Pernah ada sebuah kisah dimana seorang raja yang suka berburu, pada suatu saat melakukan perburuan di hutan  dengan mengajak pengawalnya yang  salih, dan senantiasa mengagungkan Tuhan serta menganggap bahwa semua yang diputuskan oleh Tuhan itu sangat bagus.  Pada suatu ketika ada  seekor binatang buas menyerang raja tersebut, dan pengawalnya  mampu mengusir binatang buas tersebut.  Hanya saja raja tersebut harus kehilangan salah satu jarinya, karena  digigit hewan buas tersebut, sehingga dia memaki maki pengawalnya tersebut.

Tetapi anehnya pengawalnya tersebut justru tetap bertahan bahwa apapun yang terjadi adalah sebuah kebaikan Tuhan  kepada kita.  Jadi  semua yang terjadi bukan dimaksudkan untuk keburukan.  Mendengar pernyataan pengawalnya yang jelas jelas tidak sesuai dengan kenyataan yang sedang dialami oleh raja tersebut, kemudian sang raja marah besar dan pada saat sampai di istana langsung pengawal tersebut dijebloskan ke penjara.

Pada suatu saat sang raja pergi berburu sendirian dan  kemudian dia  masuk jauh ke dalam hutan, dan sialnya dia ekmudian ditangkap oleh orang orang primitive yang suka  menjadikan manusia sebagai sesembahan.  Singkat cerita, raja tersebut ditangkap dan sudah diproses untuk dijadikan sesembahan bahkan sudah siap, namun  saat itu orang orang primitive tersebut  melihat bahwa salah satu jari raja tersebut hilang, sehingga tidak sempurna, maka dilepaslah raja tersebut, karena tidak layak untuk dijadikan persembahan.

Saat itulah dia kemudian ingat kepada pengawalnya yang selalu menyatakan bahwa semua keputusan Tuhan itu pasti baik, dan kemudian dia bergegas pulang.  Sesampainya di istana, raja tersebut langsung memerintahkan agar pengawal yang salih tersebut dikeluarkan dari penjara, dan setelah keluar, raja kemudian mengatakan, wahai pengawal, kau benar bahwa dengan jari jariku yang berkurang satu, saya menjadi selamat dan tidak dijadikan persembahan oleh orang orang primitive di tengah hutan.

Tetapi saya ingin bertanya kepada kamu, kenapa kalau keputusan Tuhan selalu bagus, kenapa ketika kamu saya penjara, kamu dan Tuhan  mengikutinya?.  Kalau keputusan Tuhan selalu bagus, mestinya kan kamu tidak perlu meringkuk di penjara.  Dengan tenangnya, pengawal tersebut menjawab, kalau seandainya saya tidak menuruti dipenjara, tentu paduka raja pasti akan mengajak saya berburu, dan  karena yang sempurna anggota badannya saya, maka pasti yang akan dijadikan tumbal persembahan adalah saya, jadi itulah yang terbaik paduka. Demi mendengar jawaban pengawalnya tersebut, raja semakin sayang kepada pengawalnya, yang telah memberikan pencerahan untuk selalu berbaik sangka kepada Tuhan.

Tentu masih banyak cerita lainnya yang hamper mirip dengan cerita tersebut, yang kesemuanya  memberikan pengertian bahwa  kalau kita mau mencermati setiap kejadian yang berkaitan dengan kita, baik yang menyenangkan meupun yang menyedihkan, pastilah ada kemanfaatan yang dapat kita petik sebagai akibat dari kejadian tersebut.  Bagi kita yang selalau berpikir positif, maka apapun yang kita alami akan dapat kita nilai sebagai sebuah keberuntungan, namun bagi mereka yang selalu berpikir negative terhadap Tuhan, maka semua kebaikan akan  tampak sebagai keburukan.

Husnudzdzan atau berbaik sangka itu memang sebuah kebajikan,  karena bemula dari  baik sangka tersebut, kita akan dapat meraih banyak keuntungan, baik yang bersifat material maupun spiritual.  Kalau toh  sikap berbaik sangka tersebut kemudian dimanfaatkan oleh pihak lain untuk niat yang tidak baik, kita masih tetap mendapatkan keuntungan, yakni telah berbuat baik kepada orang jelek.  Jadi kesimpulannya tidak ada jeleknya  selalu bersikap baik sangka kepada siapapun, apalagi kepada Tuhan.

Sebagaimana kita yakini bahwa Tuhan itu Maha Kuasa  berbuat sesuatu, karena itu apapun yang dikehendaki oleh Tuhan, maka tidak ada kekuatan apapun yang dapat menghalanginya.  Nah, untuk itu sebagai hamba, kita harus selalu berbaik sangka kepada Tuhan, karena Tuhan akan memutuskan  sesuatu atas prasangka hamba-Nya tersebut.  Sebuah hadis Qudsi telah menginformasikan  hal tersebut yang  substansinya ialah  bahwa “Aku, Tuhan, akan memutuskan  atau menakdirkan  sesuatu sesuai apa yang dipikirkan oleh hamba-Ku kepada Ku.  Kalau hambaKumemikirkan tentang kebaikan, atau berbaik sangka, maka Aku akan putuskan kebaikan, dan sebaliknya, jika hamba Ku berburuk sangka, maka Aku akan memutuskan sesuatu yang buruk”.

Jadi dengan begitu sudah seharusnya kita selalu berbaik sangka kepada Tuhan, sehingga Tuhan  akan memutuskan sesuatu yang terbaik bagi kita sebagaimana apa yang kita sangkakan.  Namun kita harus juga yakin bahwa kebaikan yang diputuskan oleh Tuhan untuk kita belum pasti sesuatu yang  tampak menyenangkan, karena belum pasti sesuatu yang tampak menyenangkan itu akan baik dan memberikan manfaat bagi kita.  Sebaliknya sesuatu yang tampak buruk bagi kita itu  buruk bagi kita, bahkan terkadang malah menjadi kebaikan bagi kita.

Itulah mengapa Tuhan juga melarang kepada orang mukmin untuk berburuk sangka kepada saudaranya yang mukmin.  Secara umum Tuhan juga melarang orang untuk melihat yang lahir saja, padahal  hakekatnya justru berlawanan dengan yang tampak.  Karena itu larangan Tuhan untuk menghina seseorang yang tampak rendah dimata kita, karena justru terkadang orang seprti itu menurut pandangan Tuhan malah lebih baik ketimbang kita yang menghina tersebut, dan begitu seterusnya.

Pendeknya kalau kita ingin mendapatkan kebaikan dan kesuksesan dalam hidup, maka kita harus mengembangkan sikap berbaik sangka, apalagi kepada Tuhan sebagai Penentu segala sesuatu.  Demikian juga kalau kita ingin selamat, pangkal utamanya ialah kita mau meninggalkan buruk sangka kepada siapapun, lebih lebih kepada Tuhan.  Semoga kita  mendapatkan bimbingan dan hidayah dari Tuhan sehingga kita akan mampu konsisten untuk berbaik sangka. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.