HATI HATI, BATAL PUASA

Pada tingkatan awam, kita tentu paham bahwa  berpuasa itu untuk menunaikan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah swt.  Sementara itu puasa sendiri dimaksudkan sebagai kondisi menahan  diri dari makan, minum, dan berkumpul atau bersenggama di siang hari sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.  Dengan pengertia puasa yang demikian, orang yang sedang menjalankan puasa sudah pasti akan menghindari makan, minum dan berkumpul suami/isteri sebagaimanaa ditentukan oleh syraiat tersebut.  Mereka  tidak ingin puasa yang mereka lakukan menjadi batal dan sia sia, karena melakukan pelanggaran atas larangan tersebut.

Hanya saja mereka  kebanyakan tidak tahu bahwa  ada beberapa hal yang meskip[un tidak membatalkan puasa, namun akan dapat menghilangkan nilai dan pahala puasa.  Inilah yang seharusnya disampaikan secara  benar kepada mereka, sehingga mereka akan menjadi lebih berhati hati dalam menjalani hari hari mereka  selama menjalankan ibadah puasa.  Kita sangat paham bahwa masyarakat awam itu akan mempertimbangkan  semuanya dari sisi bernilai atau berpahala atau tidaknya sesuatu yang dijalankannya.

Selama ini merka hanya mengetahui bahwa  hal hal yang membatalkan puasa sebagaimana yang selalu disampaikan oleh para dai, yakni makan, minum dan berkumpul suami isteri di siang hari.  Memang mereka juga tahu bahwa bahwa arti makan dan minum tersebut cukup luas, termasuk makan sesuatu yang tidak lazim, karena yang dimaksudkan dengan makan di sini ialah memasukkan benda ke dalam perut, baik bbenda tersebut halal maupun haram untuk dikonsumsi. Benda padat seperti karet, batu, plastic dan sejenisnya juga tetap sama, yakni kalau dimakan atau dimasukkan ke dalam perut, akan membatalkan puasa.

Sementara itu untuk minum juga demikian, yakni bukan saja minum air, tetapi juga termasuk di dalamnya merokok dan kegiatan lain yang substansinya memasukkan  benda cair ke dalam perut, sedikit maupun banyak, yang halal maupun yang haram dikonsumsi.  Dengan begitu mereka menganggap bahwa asalkan tidak melakukan semua itu, puasa akan  sah dan kewajiban telah gugur serta mereka akan mendapatkan pahala, sebagaimana dijanjikan.

Nah, kalau pengetahuan mereka seperti itu, kita tentu  bertanggung jawab untuk memberikan pencerahan kepada mereka.  Artinya jangan sampai mereka sudah demikian yakin bahwa puasa yang dikerjakannya sudah benar, tetapi dalam hakekatnya  mereka sama sekali tidak mendapatkan apapun, terkecuali  rasa lapar dan dahaga. Bagi orang yang tahu memang ada kewajiban menyampaikan informasi  kepada mereka yang belum mengerti.  Persoalan mereka mau menerima informasi tersebut atau tidak itu persoalan lain, karena kewjiban kita hanyalah menyampaikan kebenaran, dan bukan memaksakan penerimaan oleh mereka yang diberikan informasi.

Menurut para ulama, ada beberapa hal yang kalau dilakukan oleh mereka yang menjalankan puasa, akan dapat menghancurkan pahala puasa tersebut.  Beberapa hal tersebut antara lain:

1.     Berdusta.  Kita tahu bahwa berdusta itu merupakan perbuatan yang sangat tercela dan sangat menyakitkan pihak lain yang didustai.  Pada saat tidak puasa saja berdusta itu dilarang, apalagi kalau hal tersebut dilakukan pada saat sedang berpuasa, tentu akan dapat mencederai puasa itu sendiri. Bahkan kita  ingat  suatu ketika  rasul ditanya oleh sahabat beliau yang baru saja masuk Islam tentang apa yang harus dia lakukan setelah islam, maka nabi Muhammad saw, dengan santunnya mengatakan cukuplah tidak berdusta.  Pada awalnya sahabat tersebut menganggap ringan perintah tersebut dan dia meminta lagi selain itu, namun Nabi tetap hanya memerintahkannya untuk tidak berdusta.  Nah, pada  proses selanjutnya, ternyata sahabat tersebut baru mengatahui bahwa tidak berdusta tersebut berimplikasi kepada  persoalan lainnya, sehingga dia berkesimpuilan kalau orang jujur dan tidak berdusta, pastilah dia akan selalu berbuat kebajikan.

2.    Menggunjing atau ghibah.  Kita juga tahu bahwa menggunjing itu dilarang oleh islam, kapanpun dan dimanapun serta terhadap siapapun.  Nah, kalau menggunjing tersebut tetap dilakukan pada saat berpuasa, tentu puasa yang dijalankannya akan menjadi rusak dan bahkan pahalanya akan hilang.  Perbuatan menggunjing itu sama dengan menguliti dirinya sendiri, karena semua orang mukmin itu sesungguhnya bersaudara, karena  itu islam mengancam mereka yang suka menggunjing dengan dipotong lidahnya di akhirat nanti.

3.    Iri dan dengki. Kita tahu bahwa kedua sifat ini merupakan satu kesatuan dan merupakan penyakit hati yang sangat akut.  Siapapun yang memelihara kedua sifat ini pastilah tidak pernah akan merasa tenteram dalam hidupnya, dan  kedua sifat tersebut  dilarang oleh islam.  Sifat tersebut sebagaimana kita ketahui ialah sifat dimana  seseorang tidak merasa nyaman dan senang dengan keberhasilan orang lain, dan menginginkan agar orang lain selalu celaka, sementara dirinya lah yang mendapatkan keberhasilan.  Nah, kalau sifat ini dipelihara  pada saat sedang berpuasa, tentu akan dapat membinasakan pahala puasa itu sendiri.  Meskipun kita tahu bahwa ada kalanya iri kepada  sesuatu itu diperbolehkan, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi sendiri, yakni  iri yang bermakna sebuah keinginan, yaitu iri kepada orang yang diberikan karunia harta oleh Tuhan dan digunakan untuk kebajikan, serta  iri kepada orang yang berilmu dan dimanfaatkan untuk kebenaran dan mengajarkannya kepada orang lain.

4.    Dendam dan sakit hati.  Kita juga paham bahwa dendam merupakan sifat yang harus dijauhi oleh seorang mukmin, karena dendam tersebut hanya akan mengantarkannya kepada kehancuran.  Dendam itu  identic dengan sakit hati dan ingin membalas serta melapiaskan pembalasan kepada orang lain yang dianggap telah membuat ketidak nyamanan dirinya.  Sifat ini sangat buruk  dan  diharuskan untuk ditanggalkan, sebab kalau diturti justru akan dapat menyengsarakan diri sendiri.  Bahkan kalau ada kondisi  dimana ada pihak lain yang menyakitinya, sebaiknya dimaafkan ,akrena itulah yang terbaik.  Nah, kalau dendam dan sakit hati tersebut dilakukan pada saat puasa,  kita juga akan yakin bahwa puasa kita akan hilang pahalanya.

Itulah beberapa hal yang kalau kita lakukan pada saat berpuasa, akan dapat menghapuskan pahala, walaupun  bukan berarti kelau di luar puasa boleh dilakukan, sama  sekali tidak seperti itu,  karena maksudnya ialah  jangan sampai  pada saat kita sedang menjalankan ibadah puasa, kita juga melakukan kemaksiatan atau  mempraktekkan  perbuatan tercela yang menjadi penyakit hati dan dilarang.  Karena itu siapapun yang menjalankan ibadah puasa seharusnya juga menghindari semua perbuatan yang dilarang oleh syariat.

Tentu masih banyak lagi perbuatan yang tidak boleh kita lakukan, baik pada saat tidak sedang puasa, apalagi ketika sedang beribadah puasa. Seperti  menipu, mencuri, korupsi, menghardik orang lain, memukul orang lain tanpa kesalahan, dan juga menyakiti pihak lain, apalagi membunuh.  Pokoknya semua larangan atau sesuatu yang diharamkan dilakukan oleh kita, otomatis ketika kita lakukan pada saat berpuasa,meskipun secara syar’I tidak membatalkan puaa, tetapi akan  menghapus pahalanya.

Bahkan mungkin kita dapat menyatakan bahwa hal hal yang membatalkan puasa bukan saja yang disebutkan diatas, yakni hal hal yang disebutkan oleh syariat sebagai pembatal puasa, melainkan juga  hal hal lain yang diharamkan oleh Islam, sebab semua  itu dapat memperhangus puasa  atau membatalkan puasa secara hakiki.  Jadi secara umum masyarakat awam harus diberikan pengertian bahwa yang membatalkan puasa itu disamping makan, minum dan berkumpul suami isteri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, melainkan juga melakukan segala hal yang dilarang oleh islam.

Dengan demikian kita juga dapat menghimbau kepada semua masyarakat muslim yang saat ini sedang menjalankan ibadah puasa agar berhati  hati dalam berkata, berbuat dan berperilaku, agar puasa yang kita laksanakan tidak sia sia serta  kita selalu berharap akan mendapatkan pahala dari Allah swt.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.