PERTANGGUNG JAWABAN

Manusia diciptakan oleh Allah swt dan kemudian dijadikan khalifah di atas bumi dengan tugas memelihara dan memakmurkan bumi, tentu bukan  hanya kebetulan semata, melainkan sudah didesign dengan sebuah pertanggung jawaban yang jelas.  Artinya kalau manusia tidak memenuhi kewajibannya untuk memelihara dan memakmurkan bumi, maka akan muncul sanksi yang diberikan kepadanya, baik  pada saat manusia masih berada di dalamnya, ataupun pada saat manusia sudah beralih kea lam yang lain, yakni alam akhirat.

Jadi jangan mengira bahwa  hidup di dunia ini  hanya  sebagai sebuah  keniscayaan yang tanpa pertanggung jawaban sama sekali.  Setiap manusia pasti akan memikul tanggung jawab kepada Tuhan, baik terhadap keberadaannya di bumi yang harus memperlakukan bumi dengan baik, maupun  terhadap keberadaannya sebagai hamba Tuhan yang  harus tunduk dan patuh serta menyembah kepada-Nya.  Bukankah manusia pada saat masih di alam ruh telah berjanji untuk mempertanggung jawabkan amanah yang dipikulnya?

Pada saat itu Tuhan sudah menawarkan amanah tersebut kepada langit, bumi, gunung dan lainnya, namun mereka semua  menolak dengan alasan takut tidak mampu melaksanakan amanah tersebut.  Akan tetapi dengan kebodohannya atau dengan kenekatannya, manusia kemudian mengambil amanah tersebut.  Nah, dengan keputusan tersebut tentu manusia  harus dapat melaksanakan amanah yang sudah diambilnya tersebut.  Akibatnya kalau kemudian manusia ingkar terhadap janjinya, maka pasti akan diberikan sanksi oleh Tuhan.

Bahkan dalam skala apapun, manusia itu memang harus mempertanggung jawabkan perilakunya, termasuk terhadap dirinya sendiri.  Dalam sebuah hadis, Nabi mUhmmad saw telah pernah bersabda bahwa setiap diri manusia itu bertanggung jawab atas semua perbuatannya;  lebih lanjut dijelaskan bahwa pembantu  harus bertanggung jawab atas pekerjaan yang dibebankan kepadanya, isteri juga bertanggung jawab atas keselamatan harta suaminya yang dipercayakan kepadanya, demikian juga seorang laki laki harus bertanggung jawab atas kepemimpinannya, dan begitu seterusnya.

Sudah barang pasti kalau dalam skala yang lebih besar, semua pihak juga harus bertanggung jawab atas amanah yang diberikan, semisal kepala desa  harus bertanggung jawab atas semua rakyatnya, mengenai keamanan, kesejahteraan dan lainnya.  Lebih lanjut tentunya camat, bupati, guibernur dan juga presiden.  Semuanya mempunyai tanggung jawab sesuai dengan kapasitas masing masing.  Jadi tidak ada satu pun  pihak yang terbebas dari sebuah tanggung jawab, walaupun kadarnya  sangat kecil.

Bahkan kita juga tahu bahwa dalam syriat Islam, Tuhan juga telah menentukan  sebuah tanggung jawab anggota badan atas  apapun yang dilakukannya, misalnya  mulut, telinga, mata, hati, dan lainnya.  Sudah barang tentu mulut akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang diucapklannya, apakah mulut tersebut mengucapkan kata atau kalimat yang baik dan memberikan kesenangan bagi pihak lain, ataukah sebaliknya, mengeluarkan kata kata yang menyakitkan dan menusuk hati.  Semua akan dimintakan pertanggung jawabannya.

Bahkan konon kata kata yang menyakitkan itu jauh lebih  memberikan dampak negative ketimbang perbuatan, dan sebaliknya perkataan yang santun itu bahkan lebih bagus ketimbang bersedekah yang disertai dengan  sesuatu yang  tidak menyenangkan.  Nah, kalau mulut dimintai pertanggung jawaban, sudah tentu anggota tubuh lainnya, seperti mata, hati, telinga dan  yang lainnya, juga  akan dimitai pertanggung jawaban atas semua yang dilakukannya.

Tangan misalnya, kalau dipergunakan untuk kebajikan, seperti menolong pihak lain atau untuk  mempererat persaudaraan melalui jabat tangan dan sejnisnya, tentu akan  dibalas dengan kebaikan pula, tetapi kalau tangan digunakan untuk melakukan hal hal tidak baik, seperti untuk mencuri, atau untuk  menempeleng pihak lain,  atau untuk melakukan hal hal negative lainnya, tentu akan mendapatkan sanksi sesuai dengan  kapasitasnya.  Dan demikian juga dengan mata, telinga, hati dan lainnya.

Namun dalam kenyataannya sering kali manusia lupa dengan amanah tersebut, sehingga mereka hanya mengejar dan mengambil amanah tersebut, tanpa mengingat pertanggung jawabannya.  Karena itu kemudian kita dapat menyaksikan betapa banyak ketimpangan atau ketidak seimbangan, disebabkan oleh kelalaian atau kesengajaan untuk tidak menjalankan amanah tersebut.  Akibat dari itu, mungkin saja  akan langsung terasa dan menyebabkan terjadinya kekacauan yang meluas, atau mungkin juga tidak terlalu berpengaruh di dunia, tetapi pasti di akhirat akan ditemui sebuah keadilan yang sesungguhnya.

Dalam kondisi seperti itu manusia  masih saja berlomba untuk mendapatkan amanah, terutama yang berupa sebuah tanggung jawab yang mengharuskannya berbuat sesuatu yang susah untuk diwujudkan.  Sebagai contoh kongkritnya ialah bagaimana saat ini kita dapat menyaksikan betapa banyak pihak yang berkeinginan untuk menjadi pemimpin di sebuah  lingkunagn tertentu, seperti menjadi bupati, gubernur dan juga pada saatnya untuk menjadi wakil rakyat dan juga presiden.

Padahal mereka semua tahu bahwa tanggung jawab menjadi sesuatu yang diinginkannya tersebut sungguh sangat berat danhampir tidak akan dapat dilakukannya.  Bahkan dalam kenyataannya untuk menuju dan mengambil amanah yang berat tersebut juga diperlukan ongkos yang sangat mahal, baik dari sisi finansial maupun moral dan lainnya.  Demikian juga secara kalkulasi  finansial, juga tidak ketemu nalar antara modal yang digunakan dengan kemungkinan  manfaat yang akan diperolehnya, tetapi kenapa mereka tetap saja  berebut untuk mengambil amanah tersebut?

Barangkali  amanah  tersebut memang sudah dianggap  sebagai sesuatu yang  tidak perlu dipertanggung jawabkan secara hakiki, tetapi hanyalah sebagai sebuah lambing semata, sehingga mereka akan memaknai amanah tersebut dengan makna lain, yakni  sekedar untuk formalitas, dan dalam realisasinya boleh ditinggalkan atau hanya sekedar dilakukan sedikit sebagai “lamis” atau sekedar untuk memberikan kesan telah menjalankan amanah, padahal sesungguhnya justru mencederai amanah tersebut.

Namun demikian kita patut bersyukur bahwa  ternyata masih ada diantara mereka yang bersungguh sungguh dalam menjalankan amanah tersebut, meskipun harus berjibaku dan tertatih dalam memikulnya.  Artinya kita menjadi sangat salut kepada mereka, karena kalau mereka tidak tyampil dan merebut amanah tersebut, tentu amanah tersebut akan diambil pihak lain yang mungkin lebih buruk dan akan menjadikannya sebagai barang yang  sama sekali tidak perlu dipertanggung jawabkan.

Pada saat ini kita memang sedang menghadapi persoalan yang sangat rumit, terkait dengan persoalan tanggung jawab tersebut, karena  di satu sisi kita berharap akan muncul sebuah kondisi ideal, dimana amanah yang mengharuskan tanggung jawab tersebut tidak lagi diperebutkan, melainkan dibebankan.  Namun hal tersebut sungguh tidak mungkin lagi ditunggu, karena  pandangan masyarakat sendiri terhadap amanah tersebut kurang menggigit dan bahkan banyak yang apatis serta masa bodoh.  Lalu kalau kita harus mengubahnya sedemikian rupa, tentu menjadi sebuah utopi semata.

Karena itu yang dapat kita lakukan ialah  bagaimana kita berusaha memperbaiki kondisi dengan etrus memberikan pengawasan atas kinerja para pemegang amanah tersebut serta mengkritisinya.  Bahkan pada pada saat proses pengambilan amanah tersebut kita mulai terlibat, meskipun tidak secara langsung, tetapi dapat memberikan pengaruh yang kuat dan menentukan.  Semua itu kita lakukan dengan kesadaran bahwa  kita memang harus ikut bertanggung jawab atas  pertanggung jawaban para pengambil amanah tersebut, khususnya yang terkait dengan nasib masyarakat itu sendiri.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.