PEDULI TERHADAP MAHASISWA YAMAN

Sebagaimana kita tahu bahwa negara Yaman saat ini sedang dilanda perang yang cukup dahsyat, sehingga membuat seluruh warga Yaman dan warga lainnya harus berusaha menyelamatkan diri dari berbagai kemungkinan terkena imbas perang tersebut.  Kita juga tahu bahwa saat perang, siapapun tidak akan dapat menghindari benturan, termasuk dengan mereka yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan peperangan tersebut, seperti warga sipil,  perempuan, anak anak dan juga orang tua.

Bahkan beberapa waktu yang lalu kedutaan besar kita di Yaman juga terkena bom dan melukai beberapa orang, serta merusakkan fasilitas yang kita punya.  Tidak menutup kemungkinan bahwa  kalau ada yang ingin tetap berada di Yaman, akan terkena imbas serangan juga yang sangat mungkin juga akan menewaskannya.  Untuk itu pemrintah Indonesia berinisiatif untuk memulangkan warga negara kita, baik untuk sementara maupun utnuk selamanya.

Nah, kalau warga nebara tersebut adalah para pelajar atau mahasiswa, tentu tidak dapat menganggur cukup lama sambil menunggu kembali pulihnya Yaman untuk  kembali ke Yaman lagi meneruskan sekolah atau kuliahnya.  Untuk itu pemerintah Indonesia juga sudah menghimbau kepada seluruh lembaga pendidikan di negera kita  dapat menerima para pelajar atau mahasiswa  yang pulang dari Yaman tersebut.  Salah satu yang menghimbau demikian adalah menteri Agama RI Lukman hakim Saefuddin.

Nah, dengan himbauan tersebut kemudian menjadi wajib bagi PTKIN untuk dapat  menampung mereka, tentu dengan persyaratan sebagaimana sudah ditetapkan.  Artinya kita dapat menerima mereka sebagaimana proses yang sudah biasa dilakukan, yakni dengan melalui  pertimbangan, seperti memperhatikan program studinya, sks yang sudah diambil dan kesesuaian dengan mata kuliah yang ada di  kita.

Sebagaimana diketahui bahwa  ada kurikiulum wajiba secara nasional yang harus diambil oleh seluruh mahasiswa kita, seperti bahasa Indonesia, Pancasila, kewarganeraan, dan agama.  Sudah barang tentu semua mahasiswa, tdak terkecuali mahasiswa asing dan juga mahasiswa pindahan dari Yaman, harus mengambil mata kuliah wajiba tersebut, kalau memang belum pernah mengambilnya.  Sementara mata kuliah lainnya yang juga pasti berbeda, meskipun jurusan dan program studinya sama,  akan dilihat kemiripan dan kandungan materinya.

Mungkin ada sebagian mata kuliah yang mirip akan dapat diterima sebagai mata kuliah yang tidak perlu diambil lagi, teapi tentu ada sebagian mata kuliah yang harus diambil oleh mereka, agar  mereka nantinya juga dapat menjadi alumni sebagaimana diharapkan.  Karena itu kalau mereka  saat ini sudah semester 4 atau 6 misalnya, maka ada kemungkinan mereka masih harus mengambil mata kuliah sebagaimana mereka yang baru semester 3 atau 5.  Namun kalau mereka tekun dalam mengikuti perkuliahan, tentu akan dapat menyesuaikan diri dan cepat menyelesaikan kuliahnya.

Sesungguhnya kita sudah mempunyai pengalaman menampung para mahasiswa dari Libia pada saat negara tersebut mengalami kegungcangan dan perang, sehingga para mahasiswa kita terpaksa harus pulang dan menyelesaikan kuliahnya di negara sendiri.  Pada saat itu kita juga memperlakukan aturan tersebut, dan nyatanya mereka juga dapat menyelesaikan kulaihnya dengan baik, walaupun harus mengambil mata kuliah yang masih cukup banyak.

Kita juga tahu bahwa  mahasiswa kita yang studi di Yaman cukup banyak dan pada umumnya mereka juga dari keluarga  pas pasan atau bahkan kurang mampu.  Mungkin hanya sedikit sekali mereka yang dari keluarga mampu dan cukup, untuk itu pemerintah sudah sepatutnya memberikan perhatian secara khusus  dalam masalah ini.  Konon kabarnya kementerian agama sudah memikirkan tentang anggaran tersebut dan diambilkan dari anggaran pendidikan yang sudah ada.

Kita  tentu akan sangat berharap bahwa  pembiayaan mereka akan dilakukan oleh kementerian dan bukan dibebankan kepada PTKIN yang  tentu  akan sulit diupayakan.  Artinya  kalaupun ada bea siswa yang disediakan oleh PTKIN, tetapi  hal tersebut sudah ditentukan para penerimanya, sehingga akan  sangat sulit untuk mengalihkannya.  Dengan kata lain kalau PTKIN harus menanggung pembiayaan mereka, sudah barang pasti tidak ada yang sanggup melaksanakannya, walaupun  ada niat untuk menolong mereka.

Walaupun saya sendiri tidak tahu tentang seluk beluk universitas di Yaman, akan tetapi kemungkinan besar  para mahasiswa yang akan pindah ke PTKIN adalah mereka yang mengambil program studi Islamic studies, seperti  halnya  di Indonesia.  Bahkan pengalaman yang dari Libia dahulu ialah  dari fakultas yang hampir sama dengan fakultas yang ada di PTKIN, seperi fakultas  dakwah, Syariah, Ushuluddin, dan lainnya.

Untuk itu mereka memang “hanya” ingin pindah dan meneruskan kuliah di PTKIN saja dan bukan di PTN lainnya.  Teta[pi yang harus diantisipasi dari mereka ialah bagaimana  memberikan pencerahan kepada mereka, bahwa   cara kuliah di PTKIN mungkin berbeda dengan cara yang selama ini sudah mereka lakukan di Yaman.  Lagi lagi hal ini disebabkan pengalaman ketika kita menerima  mahasiswa dari Libia dahulu, dimana  mereka lebih banyak  dituntut untuk hafalan dan bukan menganalisa.

Namun kita  tetap optimis bahwa  mereka yang pindah adalah para mahasiswa yang baik dan cerdas, sehingga akan mudah untuk menyesuaikan dan mengikuti proses pembelajaran yang dilakukan.  Dahkan kita  justru dapat berhapa lebih banyak kepada mereka yangb tentu sudah cukup menguasai bahasa Arab, apalagi bagi mereka yang sudah bertahun tahun di sana.  Dengan bekal bahasa yang cukup tersebut diharapkan mereka akan dapat memberikan inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk  dapat berkompetisi dengan  sehat.

Kita harus dapat memperlakukan mereka sebagaimana mahasiswa lainnya, karena mereka adalah warga bangsa kita sendiri yang kebetulan stdui di Yaman dan saat ini sedang dilanda perang sehingga mereka harus pulang.  Bahkan pengalaman selama ini  kita juga sudah berbuat adil dan perlakuan yang sama terhadap maahasiswa dari negara lain yang kuliah di kampus kita, karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk membedakan kepada mereka.

Harapan tersebut tentu bukan sekedar harapan, melainkan didasari oleh sebuah keinginan kiba bahwa siapapun yang  studi di kampus kita, harus kita perlakukan secara sama, terutama dalam hal yang berkaitan dengan aturan.  Lembaga kita  merupakan lembaga pendidikan milik pemerintah sehingga kita memang harus mengelolanya sedemikian rupa mengikuti tata cara yang sudah ditentukan oleh pemerintah.

Nah, kalau saat ini kementerian sudah menghimbau kepada seluruh PTKIN untuk membantu dalam hal menerima para mahasiswa  Indonesia yang sebelumnya studi di Yaman, maka  kita pun harus  mau dan denang hat menerima mereka, meskipun tetap haus disesuaikan dengan prosedur dan cara yang telah diatur sebelumnya.  Kita sangat yakin bahwa kita akan mampu  mengantarkan mereka hingga tuntas dalam studi mereka, meskipun harus melalui beberapa treatmen khusus untuk penyesuaian.

Mungkin bagi mereka yang baru semester 2, mereka akan lebih mudah mneyesuaikan diri dengan kondisi di PTKIN kita, namun bagi mereka yang sudah semester 6 atau bahkan 8 yang seharusnya sebentar lagi sudah selesai studinya, masih harus menyesuaikan diri dengan beberapa mata kuliah yang belum diambil dan harus diambil oleh mereka.  Namun sekali lagi kita tetap takin bahwa mereka akan mampu dan menhyelesaikan studi dengan baik.

Kita akan senantiasa berdoa dan membantu mereka terutama tentang hal hal yang diperlu diadaptasi oleh mereka,  sehingga mereka  tuidak merasa  menjadi mahasiswa yang lain.  Itu  merupakann tugas dan sekaligus  kewajiban kita untuk membantu dan memperhatikan mereka sehingga sebagai anak bangsa, mereka akan tetap menjadi generasi penerus bangsa yang diharapkan  di masa depan.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.