PEMBENAHAN KURIKULUM

Bagi sebuah pendidikan yang dinamis dan menginginkan alumninya menjadi tanggap terhadap persoalan umat, sudah barang tentu harus dimulai  dengan sistem pembelajaran yang baik, termasuk didalamnya perangkat kurikulum yang baik pula.  Artinya arah, proses dan materi yang disampaikan kepada peserta didik haqruslah mengrah kepada sebuah kondisi dimana  anak didik diperkenalkan secara langsung dengan kondisi kekinian yang ada, dan bukan diberikan informasi tentang  masa lalu.

Memang pengalaman masa lalu sebagai sebuah sejarah, perlu dibwerikan kepada peserta didik, tetapi yang lebih banyak tentunya hal hal yang terkait dengan persoalan kekinian yang sedang dihadapi oleh umat.  Dengan beigitu para alukmni yang dihasilkan nantinya akan mampu berperan dan langsung mengenal perwoalan yang ada di masyarakat, sehingga dengan bekal ilmunya, mereka diharapkan akan mampu mengatasi dan mencari solusi terbaiknya.

Nah, atas dasar itulah kemudian menjadi wajib hukumnya bagi lembaga pendidikan untuk terus mengembangkan kurikulum dan setidaknya harus ada adjusment atau penyesuaian dengan aturan main yang selalu dinamis, sehingga mereka tidak ketinggalan.  Memang tidak semestinya kurikulum  diubah setiap tahun, melainkan  idealnya setiap lima tahun sekali harus ditinjau ulang.  Walaypun sesungguhnya akan lebih ideal manakala  lebih pendek dari itu, sebuah kurikulum sudah harus disesuaikan dengan kondisi yang ada.

Sebagaimana kita tahu  bahwa perkembangan di masyarakat begitu cepat, demikian juga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sedemikian cepatnya, sehingga kalau terlalu lama  dalam hal penyesuaian kurikulum, tentu akan merugikan kepada peserta didik.  Hanya saja kalau terlalu cepat diubah, juga akan menimbulkan persoalan, khususnya di negara kita, mengingat kompleksnya persoalan.  Sebagai contoh, biasanya perubahan kurikulum akan selalu diikuti oleh kebijakan dan yang buku referensi yang harus disediakan dan sesuaikan.

Nah, persoalan itulah yang barangkali pemerintah dan masyarakat belum siap menerimanya, padahal persoalan tersebut menjadi sebuah keniscayaan.  Untukitulah kemudian diambil sebuah  kebijakan bahwa peninjauan kurkulum  adalah setiap lima tahun sekali, dan itupun masih banyak yang keberatan, karena persoalan  yang terkait dan menyertai perubaha kurikulum tersebut.

Bahkan  kasus terakhir yang dapat kita simak dalam perubahan kurikulum  kita pada tahun yang lalu, juga masih menyisaka opersoalan, karena  para pendidiknya sendiri juga kurang dapat menyesuaiakan diri dengan kurikulum baru.  Memang ironis, karena para pendidik yang seharusnya selalu memperkaya diri tentang materi pembelajaran, khususnya yang terkait de3ngan bidangnya, tetapi mereka justru inginnya statis dengan apa yang selama ini sudah dikuasai, dan sama sekali tidak mau mengembangkannya.

Persoalan pendidik yang belum siap dengan kurikulum baru dan sejenisnya  seharusnya tidak muncul, karena  justru seharusnya merekalah yang  mengusulkan perubahan kurikulum, karena melihar kurikulum yang ada  sudah tertinggal dengan ipteks yang sudah sedeikian maju.  Barangkali memang ada sebagian, mungkin malahan sebagian besar para pendidik kita yang belum memerankan diri sebagai pendidik profesional, sehingga seolah pendidik tersebut hanyalah sebuah pekerjaan semata, dan bukan sebagai profesi yang menuntut tanggaung jawab besar dalam mendidik.

Jadi persoalannya sangat  komleks dan tidak sekedar perwsoalan perubahan kurikulum ditinjau dari  sisi idealitas semata.  Namun bagi lembaga pendidikan tinggi, sudah seharusnya  perubahan kurikulum tersebut dilakukan, setidaknya  disesuaikan dengan kondisi perkembangan imu pengetahuan dan telnologi.  Karena tanp itu sudah  pasti alumni yang akan diluluskan  tidak akan mampu berhadapan dengan persoalan yang pasti dihadainya nanti.

Setiap lembaga pendidikan tinggi, bahkan  program studi  memang mempunyai ciri khas tersendiri dalam mencetak alumninya, namun  secara umum mereka itu  harus mengacu kepada visi yang diusung oleh lembaga  secara umum.  Penjabaran visi tersebut menjadi sangat penting mengingat semua program studi yang ada dalam  sebuah lembaga tersebut memang harus bersama sama mewujudkan visi tersebut, walaupun dalam mencapai visi tersebut dapat dilakukan dengan  penekanan kepada  spesifikasinya masing masing.

Sementara itu mengenai persoalan SDM atau dosennya, sudah barang tentu tidaka  menjadi persoalan, karena  semua dosen itu seharusnya  disamping sebagai pendidik, sekaligus juga sebagai ilmuwan yang tentu akan senantiasa mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni sesuai dengan  kajian keilmuan yang ditekuni.  Dengan demikian mereka sudah tentu akan selalu melakukan penelitian, baik yang terkait dengan pengembangan bidang keilmuannya, maupun lebih luas lagi dalam bidang terapan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara umum.

Sementra itu mengenai persoalan referensi yang harus terus diubah, tentu bukan persoalan bagi para dosen dan mahasiswa, karena  hal tersebut sudah menjadi sebuah keniscayaan.  Apalagi saat ini, tentu sudah tidak menjadi persoalan, karena  semua orang dapat memperoleh informasi penting dan dapat mengakses beberapa situs yang menyediakan referensi tersebut melalui internet.  Jadi problem yang selalu diklaim sebqagai persoalan, seharusnya sudah dapat diatasi dengan perkembangan IPTEK tersebut.

Persoalannya ialah  ada pada para pemimpinnya, apakah  mau dan menginginkan adanya perubahan dan kemanfaatan  bagi para peserta didik ataukah tidak.  Artinya kalau para pimpnan lembaga pendidikan tersebut peduli dan memanag mempnyai jiwa pendidik, sudah barang tentu akan selalu menginginka perubahan dan penyesuaian terhadap perkembangan, tetapi kalau mereka sudah tidak mempunyai ghirah untuk berubah, maka sesungguhnya mereka bukanlah pendidik profesional.

Memang perubahan kurikulum secara formal dilakukan setiap tiga sampai lima tahun, tetapi uhntuk penyesuaian terhadap regulasi yang muncul dalam pengaturan persoalan yang terkait dengan program studi yang ndikembangkan, tentu harus dilakukan pada setiap saat, dan tidak harus menunggu sampaitia hingga lima tahun.  Penyesuaian tersebut cukup dilakukan oleh pimpinan tingkat fakutas dan program studi, dan tidak perlu pada tingkat universitas.

Pada saat ini, ada sebuah kewaqjiban bagi seluruh perguruan tinggi untuk menyesuaikan kurikulumnya dengan kerangka kualifikasi nasional Indonesia, dimana  di situ diatur tentang  standar yang harus dipenuhi  oleh setiap lulusan  dari perguruan tinggi, dan kalau sampai pada saatnya  sebuah perguruan tinggi tidak menyesuaikan dengannya, maka akan dilakukan evaluasi, apakah  perludilakukan teguran ataukah bahkan dicabut ijinnya.

Sesungguhnya  ketika tidak ada KKNI pun sudah sehartusnya sebuah perguruan tinggi menentukan keraqngkanya sendiri, termasuk  seperti apa  profil lulusannya, sebaba sebuah lembaga pendidikan memang bukan didesain hanya untuk melakukan kagiatan proses belajar mengajar semata, melainkan ada  tujuan yang lebih dari itu, yakni ingin mencptakan lulusan yang mempunyai kualifikasi tertentu, sehingga ada sebuah misi yang harus dilakukan.

Visi dan misi besar yang sejak awal dicanangkan  tentu harus diwujudkan dalam  semua proses yang dilalui, termasuk proses pembelajaran dan perangkat kurikulumnya.  Walaupun kita juga harus mengakui bahwa  ada sebagian lembaga pendidikan yang dibuak bukan dengan tujuan mulia tersebut, melainkan semata mata hanya ingin mendirikan saja tanpa diiringai dengan sebiah cita cita luhur dala mencerdasakan anak bangsa.

Namun  kita masih tetap berharap bahwa lembaga pendidikan yang demikian, pada saat ini harus menyesuaikan diri dengan kondisi dan regulasi yang ada, sehigga dapat seiiring dengan lembaga pendidiikan yang lain untuk bersama sama menghasilkaan lulusan yang berkualitas dan  diharapkan akan mampu mengelola  negara ini melalui berbagai sektor yang tersedia.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.