UJIAN KESABARAN

Ketika kita mengingat cerita nabi Ayyub AS yang diberikan cobaan oleh Allah swt dengan penyakit yang menjijikkan  cukup lama, bahkan harus dijauhi oleh keluarga, tentu itu sangat  memperkuat tekat kita untuk senantiasa merasa bersyukur kepada Tuhan, karena meskipun kita diberikan cobaan dengan saki, tetapi tentu masih sangat ringat dibandingkan dengan cobaan yang diberikan oleh Tuhan kepada nabi Ayyub AS.  Hanya saja terkadang diantara kita  sudah mengeluh berlebihan, pada saat diberikan cobaan sakit yang tidak seberapa.

Secara  teori, banyak orang yang pandai berbicara dan memberikan saran untuk bersabar dalam menghadapi musibah, tetapi bilamana  kemudian diuji oleh Tuhan dengan sebuah cobaan, justru mereka tidak berlaku sabar sesuai dengan ungkapan yang biasa disampaikan kepada pihak lain.  Barangkali orang seperti itu, termasuk mereka yang antara perkataan dan perbuiatannya tidak singkron, atau mungkin juga termasuk mereka yang disebut Tuhan dengan “kabura maqtan an taqulu ma la yaf’alun”.

Namun sesungguhnya masih cukup banyak orang yang tetap konsisten dengan ucapannya, meskipun harus menderita dalam batin, karena  dia mempunyai tanggung jawab yang besar tidak saja kepada manusia, melainkan juga kepada Allah swt.  Artinya sekali berkomitmen untuk berbuat sesuatu yang benar, apalagi kemudian sesuatu tersebut sudah dikomunikasikan dengan orang lain, tentu pantang baginya untuk mengingkarinya.

Setiap manusia memang akan diuji dengan  ujian yang berbeda dan tentu Tuhan mempunyai tujuan tertentu dengan ujian tersebut.  Secara dhahir mungkin kita akan memandang behawa ada sebagian hamba yang diberikan  ujian cukup ringan dan mudah untuk dilewati, tetapi ada juga seorang hamba yang diberikan cobaan cukup berat dan  sulit pula menanggungnya.  Tetapi  secara substansial, pasti Tuhan sudah  mengetahui bahwa semua ujian yang diberikan akan mampu dihadapi oleh manusia tersebut.

Cuma persoalannya  adalah  kemauan orang tersebut, apakah akan sanggup untuk  menerima dengan penuh ketulusan ataukah tidak.  Nah, persoalan ketulusan dan kesabaran dalam menerima cobaan tersebut akan berpengaruh pula kepada  kekuatan orangtersebut untuk menerima  cobaan tersebut.  Semakin bersabar dan menerima dengan tulus cobaan tersebut, meskipun secara lahir tampak sangat bnerat, maka semakin ringan dia menanggungnya.  Sebaliknya  semakin orang tidak sabar dan tidak ikhlas menerima cobaan tersebut, walaupun  tampak ringan, maka akan berat rasanya dia menanggungnya.

Berbicara soal ujian, memang setidaknya ada dua bentuknya yang saling berhadapan atau bertolak belakang dalam pandangan manusia, yakni ujian dalam bentuk kesusahan, seperti sakit, miskin, bodoh dan sejenisnya, dan kedua ujian yang dalam bentuk kesenangan, seperti sehat, kaya, pintar dan sejenisnya.  Kebanyakan manusia tentu akan menganggap bahwa ujian tersebut dalam bentuknya yang pertama, yakni kesusahan, dan  mereka sama sekali tidak menganggap bahwa kesenangan itu bukan sebuah ujian melainkan justru berupa nikmat.

Memang kita tahu bahwa nikmat Tuhan yang diberikan kepada manusia sangat banyak, hingga manusia sendiri secara nyata tidak mampu untuk menghitungnya, tetapi nikmat itu juga sesungguhnya mkerupakan ujian pula.  Artinya apakah dengan nikmat yang banyak dan besar, manusia  dapat mensyukurinya atau justru malah membuatnya semakin sombong dan melupakan keberadaan Tuhan sebagai Pemberi nikmat tersebut.  Bahak menurut sebagian ulama, ujian nikmat itu jauh lebih berat menanggungnya ketimbang ujian  susah.

Namun dalam  konteks ini,  hanya akan dimaksudkan  sebagai ujian yang susah, dan bukan ujian yang menyenangkan, karena  terkait dengan persoalan kesabaran yang biasanya dikaitkan dengan sikap  dalam menghadapi ujian kesusahan, seperti sakit, miskin dan lainnya.  Sebagaimana disebutkan di atas, sampai saat ini masioh banyak diantara  manusia yang tidak mampu untuk bersikap sabar dalam menghadapi apapun yang dirasakannya sebagai hal yang menyudutkan dirinya.

Sebagai contoh bilamana  ada orang yang merasa bahwa dirinya itu terhormat, kemudian  diperlakukan kurang pas oleh pihak lain, tentu dia akan merasa diperlakukan secara tidak senonoh dan kemudian tidak sabar.  Ekpspresi tidak sabar tersebut dapat dilakukan dalam bentuk memberikan sanksi kepada yang merendahkannya, bilamana ada kemampuan untuk itu, atau sekedar mengomel dan sikap tidak puas, kalau memang hanya itu yang dapat dilakukan, dan seterusnya.

Ketika diberikan  ujian sakit, baik dirinya maupun  keluarganya, selalu mengeluh dan membandingkan dengan orang lain yang menurutnya  lebih mudah dalam kehidupannya.  Sangat jarang  ada manusia yang ketika diberikan ujian tersebut justru merasa bersyukur, karena dapat mengevaluasi dirinya dan sekaligus dapat diingatkan untuk tetap  dekat dan beribadah kepada Tuhan.  Artyinya kalau sedang tidak diuji, kemungkinan besar akan sedikit melupakan Tuhan, tetapi saat diuji akan  mengingat Tuhan lebih banyak.

Kata kunci dari semua itu sesungguhnya ada pada kata sabar dalam arti yang benar, bukan sabar yang keliru, yakni sikap menyerah tanpa syarat, atau sikap negative dengan  tidak mau berusaha.  Sabatr yang benar ialah sikap selalu berusaha dengan keras untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, sperti pada saat sakit terus berusaha mencari obat, saat miskin akan selalu berusaha agar mendapatkan  harta, dan seterusnya, dengan diimbangi dengan semangat pantang menyerah kepada keadaan seberat apapun keadaan tersebut.

Kesabaran tersebut akan muncul ketika kita  sangat yakin kepada Allah swt, tentang keadilan-Nya, tentang sifat-Nya yang menentukan segala sesuatu.  Sebab dengan keyakinan seperti itu seseorang akan sangat mempercayai bahwa pada saatnya Tuhan pasti akan memberikan penilaian tentang kesabaran yang diujikan tersebut.  Nah, saat penentuan tersebut dilakukan dan dinyatakan lulus, sudah barang pasti Tuhan akan memberikan kemurahan dan karunia-Nya.

Hanya saja persoalan kesabaran tersebut tidak harus terkait dengan waktu, sebab kalau dikaitkan dengan waktu, sangat mungkin seseorang dapat menuntut kepada Tuhan dan bukannya semakin menjadi tulus  menjalani ujian dengan kesabaran.  Artinya segala sesuatu yang dilimitasi dengan waktu, pasti manusia akan menhitungnya pula, dan pada saatnya akan menuntut, padahal dalam hal ini kepasrahanlah yang akan menentukan dan bukan tuntutan atau klaim atas kesabaran yang sudah dilaksanakan.

Sungguh banyak ayat yang memuat tentang  bagusnya kesabaran  dan bahkan orang yang sabar tersebut akan bersama dengan Tuhan, “innallaha ma’ashshabirin”.  Hanya saja   dalam kenyataannya masih banyak orang yang tidak dapat mengimplementasikan  sifat sabar tersebut dalam kehidupan kesehariannya.  Barang kali hal tersebut disebabkan oleh kurangnya latihan dan praktek dalam mengamalkan sabar tersebut atau mungkin tertutup oleh banyaknya persoalan hidup  atau sejenisnya.

Hal yang dapat disarankan kepada seluruh umat manusia ialah kita harus  tetap percaya bahwa semua ujian  dari Tuhan pasti ada tujuan baik untuk manusia itu sendiri.  Semakin terasa berat sebuah ujian, pasti akan semakin besar pula  reward yang akan didapatkan dari Tuhan, asalkan dapat menjalani ujian tersebut dengan penuh ketabahan dan kesabaran serta keikhlasan.  Karena itu sudah sepatutnya kita  jalani semua  yang terjadi dengan ketulusan, walaupun tentu kita tetap harus berusaha untuyk selalu dalam kondisi yang menyenangkan dan terjauhkan dari segala hal yang menyedihkan.

Semoga Tuhan senantiasa memberikan jalan terbaik bagi kita dalam menjalani hidup di dunia  serta memberikan balasan yang terbaik pula  pada saat kita menjalani kehidupan di akhirat.  Sebagai orang beriman kita harus membuktikan diri bahwa memang kita itu sungguh sungguh dalam keimanan dan  luar dalam  pada saat membuktikan kesabaran atas ujian dan cobaan dari Allah swt.  amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.