HARAPAN BESAR KEPADA PARA SARJANA

Setiap kali kita menyaksikan proses wisuda bagi para lulusan dari perguruan tinggi, terutama perguruan tinggi Islam, kita selalu dipenuhi  harapan dan optimisme tinggi bahwa kedepan bangsa ini akan menjadi lebih baik.  Atau setidaknya kegalauan sehubungan dengan maraknya kemaksiatan dan kemungkaran sedikit terobati, walaupun belum ada jaminan bahwa mereka yang diwisuda memang benar benara akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Secara teori, para sarjana muslim yang dihasilkan oleh perguruan tinggi Islam akan  dapat diandalkan memperoleh ilmu pengetahuan sesuai dengan bidangnya, dan sekaligus dibekali dengan akhlak mulia.  Bahkan secara umum para sarjana dari perguruan tinggi di Indonesia, seharusnya memenuhi syarat, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, sebagaimana diamanatkan oleh undang undang sistem pendidikan nasional kita.  Namun  dalam kenyataannya, sering kita mendapati yang sebaliknya.

Kita memang menyadari penuh bahwa tidak semua alumi atau lulusan perguruan tinggi dapat memenuhi harapan sebagaimana idealitas kita.  Hanya saja  kalaupun ada yang tidak memenuhi harapan tersebut, hanyalah sebagian kecil saja, sehingga secara umum mereka tetaplah para sarjana yang diharapkan akan mampu menjadi teladan bagi masyarakatnya dan sekaligus  dapat menjadi sumber inspirasi bagi semua masyarakat untuk berubah menjadi lebih bgaik dan mengembangkan kreatifitas mereka.

Namun  seiring dengan berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat kita, terkadang kita menjadi pesimistis dengan kondisi bangsa ini ke depannya, walaupun  terus  dihasilkan para sarjana di negeri ini.  Kita tidak tahu bagaiamana mereka lebih banyak tergantung kepada pihak lain, atau dengan kata lain, mereka lebih nyaman menjadi buruh ketimbang menjadi bos.  Pada umumnya para lulusan perguruan tinggi lebih memilih menjadi pekerja, seprti sebagai PNS atau  diperusahaan yang sudah jadi dengan gaji yang wah.

Sebaliknya  sangat jarang dari para lulusan tersebut yang mempunyai keinginan untuk membangun sebuah usaha dari nol atau dari awal.  Mereka tidak  menyukai usaha yang berat dan penuh dengan tantangan dan rintangan.  Padahal sesungguhnya  bagi para petualang, justru akan lebih menyukai sebuah usaha yanga menentang dan  lebih asyik manakala harus berhadapan dengan rintangan yang berat, sebab kalau semua  tantangan dan rintangan dapat dilewati, akan  lebih memuaskan dana menjadikannya sebagai pemenang.

Akibat dari kurangnya para lulusan yang mempunyai sifat  suka tantangan tersebut,  justru kebanyakan dari lulusan tersebut justru lebih suka menganggur ketimbang harus memulai usaha, meskipun dari kecil atau awal.  Mental kebanyakan dari mereka sungguh kurang bagus, karena tidak mau  memulai sebuah cita cita dari usaha sendiri, melainkan hanya berharap menjadi pihak yang tergantung kepada pihak lain dan sama sekali tidak dapat menentukan nasibnya sendiri.

Atas dasar kenyataan  tersebut,  kita memang harus memulai dari perguruan tinggi yang menghasilkan para sarjana tersebut.  Artinya setiap perguruan tingghi, utamanya yang  berlabel Isla,, sudah seharusnya menyadari dengan sungguh sungguh bahwa perguruan tinggi yang dikelolanya harus dapat memberikan harapan kepada bangsa untuk menelorkan  alumni yang siap bekerja keras membangun masyarakat melalui keahlian yang dimiliki, dan bukan hanya bergantung kepada  pihak lain.

Caranya ialah dengan memberikan bekal yang paling fundamental kepada para mahasiswa, yakni tentang mental  mereka, yakni bekal akhlak karimah, bukan hanya sekedar teori saja, melainkan juga sekaligus  praktiknya dalam kehidupan keseharian.  Hal terpenting lagi ialah bagaiamna perguruan tinggi dapat memberikan bekal kewirausahaan kepada semua mahasiswanya, sehingga pada saat mereka sudah menjadi sarjana, mereka  tertarik untuk berusaha, dan bukan tertarik untuk bergantung kepada pihak lain.

Memang harus ada perubahan orientasi kurikulum yang selama ini dijadikan pegangan, karena tanpa  ada perubahan arah dan kebijakan kurukulum yang menjadi acuan dalam proses pembelajaran, tentu tidak akan pernah ada perubahan dalam hal proses dan hasil.  Untuk itu diperlukan kemauan semua pihak, utamanya para pengelola perguruan tinggi untuk selalu mencari sesuatu yang berbeda  dalam upaya menghasilkan  alumni yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan yang lain.

Orientasi kuliah pada saat ini harus diubah dari ingin menjadi pegawai, menajdi ingin berbuat sesuatu yang  memberikan manfaat bagi sesama.  Salah satu caranya ialah semua alumni harus  sudah mempunyai bekal yang cukup untuk berusaha dan memulai dari awal.  Ghirah atau keinginan besar untuk sukses mnelalui tangannya sendiri, tentu  merupakan hal lain yang juga harus diberikan kepada para alumni, karena bagaimanapun bekal yang didapatkan dari perguruan tinggi belumlah cukup, apalagi perkembangan selalu akan terus terjadi.

Jadi maksudnya ialah bahwa bekal yang cukup tersebut ialah termasuk di dalamnya  keinginan untuk terus maju dan belajar, melalui  bidang yang ditekuni.  Artinya kalau seseorang sedang menekuni bidangbtertentu,  maka  orang tersebut juga harus mau terus belajar dan membaca pengalaman pihak lain yang sudah terlebih dahulu sukses dalam usaha mereka.  Kiat kiat yang dilakukan  oleh mereka yang sukses tentu dapat dipelajari dan kemudian dianalisis serta disesuaikan dengan kondisi yang sedang dialami.

Kita semua tentu tahu bahwa  kiat bagi seseorang dalam meraih kesuksesan tentu berbeda beda, dan pembelajaran terhadap semua kiat dan cara yang pernah dilakukan oleh mereka yang sudah sukses,  sudah pasti harus juga  dirumuskan kembali untuk disesuaikan dengan masalah yang dihadapi.  Kita juga tahu bahwa cara dan kiat yang pernah membawa seseorang sukses, belum  pasti akan membawa kesuksesan juga kepada generasi berikutnya, karena zamannya sudah berbeda.

Hanya ada satu hal yang  ajek dan tidak perlu diubah dalam semua keadaan, yakni tekat yang kuat serta  semangat pantang menyerah.  Sudah pasti kita utama bagi para orang sukses ialah  pantang putus asa dan menyerah kepada keadaan serta menyerah kepada rintangan.  Bahkanmereka yang sukses biasanya  akan memandang sebuah rintangan dan kendala, sebagai sebuah tantangan, sehingga akan menarik  mkinat serta menyenangkan.

Kalau para pengelola pendidikan tinggi sudah melakukan semua hal yang disampaikan di atas,  tentu ada harapan besar bagi lahirnya sebuah generasi yang akan mengubah wajah Indonesia menjadi lebih bagus dan bermartabat.  Kondisi seperti itu sesungguhnya sudah sangat dirindukan oleh masyarakat kita, karena saat ini  sangat tidak memuaskan serta memb uat was was  serta tidak menenteramkan.

Artinya kondisi yang saat ini ada sangat tidak memungkinkan kita  dapat hidup nyaman, meskipun  secara lahir ada syarat untuk menjadi nyaman tersebut.  Hanya sayangnya  kekisruhan, baik dalam bidang keamanan,  bidang ekonomi, hukum dan juga politik, tidak akan dapat menjamin hidup nyaman tersebut, setidaknya untuk sedikit bernafas lega.

Sebagaimana kita tahu bahwa saat ini banyak sekali kejahatan yang berada di  sekitar kita, dan bahkan dilakukan dengan penuh keberanian.  Hal tersebut disebabkan kurang maksimalnya  sanksi hukum yang diberikan dan kurangnya konsistensi dalam menjalankan hukum tersebut.  Nah, harapan yang masih tersisa ialah dengan mengharapkan para sarjana baru yang diberikan pendidikan yang  kuat dalam hal karakter dan akhlak serta kepekaan terhadap lingkungan.

Dengan  mengharapkan lahirnya sebuah generasi yang akan mengubah wajah negeri kita menjadi lebih bagus tersebut, kita tidak boleh hanya berpangku tangan, melinkan harus turut menciptakan suasana yang mendukung hal tersebut serta selalu memberikan support bagi perguruan tinggi yang sudah memulai  dengan perubahan kurikulum menuju kondisi yang kita harapkan bersama.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.