BERBAGI TUGAS

Terkadang kita lupa dengan peran dan fungsi yang harus kita jalankan, sebagaimana pula terkadang kita juga lupa telah melakukan tugas dan fungsi pihak lain.  Tentu semuanya menjadi kurang baik.  Artinya kalau kita lupa dan mengerjakan tugas dan fungsi pihak lain, kemudian kita menjadi baik, karena telah membantu pihak lain, sama sekali bukan begitu.  Sebab boleh jadi pihak yang peran dan fungsinya kita lakukan justru merasa telah dilangkahi atau disepelekan.  Sementara ketika kita lupa dengan tugas dan fungsi kita sendiri juga  tidak baik, sebab justru akan mengganggu hal  yang telah dirancang.

Pertanyaannya ialah kok bisa peran dan fungsi pihak lain dilaksanakan?.  Jawabnya tidak terlalu sulit, sebab banyak pihak yang justru merasa hebat kalau dapat melakukan sesuatu yang bukan tugasnya, dan sekaligus hal tersebut memberikan kesan buruk kepada pihak lain.  Terkecuali kalau hal tersebut dibicarakan terlebih dahulu dengan yang mempunyai tugas dan fungsi tersebut.  Artinya kalau ada niat baik untuk membantu menyelesaikan  sesuatu tugas dan hal tersebut disepakati oleh yang berhak, maka hal tersebut dapat berbuah kebajikan.

Semua  kita sesunggguhnya telah mempunyai peran dan fungsi masing masing, namun terkadang pula kita kurang sreg dengan tugas tersebut, sehingga membuat kita mengabaikan atau tidak menjalankan tugas tersebut.  Akibatnya tentu perjalanan kerja kita tidak membaik, dan sebaliknya justru malah memburuk.  Untuk itu memang harus dicarikan solusi untuk  membagi pekerjaan  dengan semua pihak dan disesuaikan dengan keinginan masing masing.

Tetapi hal tersebut tentu tidak mudah dan mungkin tidak bisa dilakukan, karena kebutuhan antara masing masing orang dengan tujuan yang ingin dicapai secara bersama tidak singkron.  Cuma kalau proses rekrutmen yang dilakukan seudha menggunakan analisa  yang tepat, tentu akan lain ceritanya.  Artinya kalau sebuah lembaga yang membutuhkan  anggota atau pekerja dan kemudian dilakukan perekrutan  dengan  seleksi yang ketat dan terencana sesuai dengan tujuan yang akan diperoleh, maka  kondisnya akan relatif bagus.

Persoalannya ialah kalau sebuah lembaga sudah ada dan kita dipasrahi untuk meneruskan kepemimpinan dalam lembaga tersebut,  dan  kondisi yang ada tidak mudah untuk disatukan dalam meraih cita cita utama lembaga, maka  harus ada kebijakan yang dibuat untuk menyamakan persepsi terelbih dahulu sebelum memberikan dan membagi tugas kepada masing masing pihak.  Hal tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan kesamaan dalam tujuan dan target kerja.

Paling tidak harus ada sebuah orientasi bersama untuk menyegarkan niat dan tyjuan, sehingga setidaknya semua pihak akan mengingat kembali tujuan lembaga secara umum dan semuanya akan  mencurahkan seluruh kemampuannya untuk menggapai tujuan lembaga tersebut.  Walaupun hal tersebut tentu  tidak akan semudah membalikkan tapak tangan, melainkan memerlukan kesungguhan dan keteladanan yang tersu menerus.

Memang kata yang paling manis dalam masalah tersebut ialah dengan membagi tugas secara proporsional, tetapi dalam realisasinya tidak  mudah.  Membagi tugas memang sebuah keharusan, karena  sehebat apapun, seseorang tidak akan mampu melakukan segalanya  dengan sendirinya, tetapi membagi tugas juga memerlukan analisa yang cermat, sehingga masing masing pihak memang sangat menikmati  bagiannya masing masing dan akan menjalankannya dengan penuh  kesadaran dan tanggung jawab.

Hanya saja memang sekali lagi masih diperlukan untuk  menganalisa tugas yang diberikan kepada masing masing orang. Kalau misalnya  tidak ada waktu dan kesempatan untuk hal tersebut, tentu juga harus ada cara lain agar semua pihak memang  akan bertanggung jawab atas tugas yang dibebankan serta ada kemauan baik untuk meraih tujuan bersama.

Langkah yang terbaik untuk itu ialah dengan  melakukan orientasi kerja yang dilakukan secara khusus, dan tentu adanya aturan main yang jelas dan secara konsisten dilaksanakan, seperti rewrad dan punishment yang mengacu kepada aturan main yang  sehat dan adil, termasuk bagi para pimpinan.  Dengan memberlakukan aturan tersebut, meskipun pada awalnya ada semacam keterpaksaan, tetapi lema kelamaan akan menjadi sebuah kebiasaan yang akan menjelma menjadi sebuah kebaikan.

Langkah lain yang dapat ditempuh ialah dengan memberikan tanggung jawab kepada  beberapa orang tertentu, semacam pimpinan  untuk bertanggung jawab dalam sebuah hal dan yang liannya  untuk bertanggung jawab  kepada hal yang lainnya.  Namun hal tersebut akan  dapat berjalan dengan baik, jika para pimpinan yang diberi tanggung jawab terswebut menyadari dengan bagus tanggung jawab tersebut dan kemudian berusaha dengan  sekuat tenaganya untuk menjalankannya.

Tetapi jika  pemberian tanggung jawab tersebut tidak disikapi dengan baik oleh pimpinan tersebut, dan  bahkan malahan menganggap hal tersebut hanya sebagai tugas firmalitas semata, maka akan sangat sulit untuk  terselenggarakannya sebuah kegiatan yang mengarah kepada pencapaian tujuan bersama.  Untuk itu sekali lagi   dalam  hal tersebut sangat dibutuhkan sebuah aturan main yang pasti dan dilaksanakan dengan konsisten, yakni pemberian sanksi bagi yang tidak mencapai target atau  bahkan tidak melaksanakan tanggung jawab yang dibebankan.

Sesungguhnya siapapun dapat melakukan sesuatu yang diinginkan, tetapi kalau seseorang tersebut berada dalam sebuah sistem atau  dalam wilayah yang ada aturan main secara khusus, maka semua orang tersebut harus tunduk dan melaksanakan aturan tersebut secara bertanggung jawab, bukan saja kepada pembuat aturan, melainkan juga kepada Allah swt.

Kalau seseorang berada dalam sebuah lembaga tertentu dan lembaga tersebut  mempunyai aturan main yang  dijalankan secara tertiba dan konsisten, termasuk dalam hal pemberian sanksi bagi pelanggaranya, maka seseorang tersebut tidak dapat melakukan sesuatu seenaknya sendiri atau  tidak melaksanakan sesuatu.  Apalagi kalau seseorang tersebut terikat dengan  lembaga tersebut, sudah tentu harus tunduk dan patuh  kepada smeua atuarn yang berlaku.

Ketundukan seseorang tersebut tentu didasarkan atas tgas yang dibebankan kepadanya sesuai dengan keputusan dan kebijakan pimpinan yang ada.  Nah, menjadi kewajiban pimpinan untuk memberikan  atau membagi tugas tersebut dengan baik sesuai dengan keahlian yang dimiliki dan sekaligus juga  sesuai dengan garis tujuan lembaga yang akan dicapai.  Mungkin dengan pertimbangan  ketersediaan SDM, pimpinan dapat memberikan tugas yang sedikit bukan  menjadi keahliannya, tetapi tentu akan dapat dilakukan.

Jadi dengan  kondisi seperti itu seharusnya semua pihak dapat mengerti keputusan dan kebijakan yang diterapkan oleh p[impinan, asalkan dapat dilihat keseriusan pimpinan dan tidak ada  niat untuk melakukan sesuatu yang  tidak ada uhubungannya dengan tujuan lembaga.  Menurut saya akan jauh lebih bagus manakala semua pihak dapat memberikan  masukan untuk perbaikan, semisal  tugas dan fungsi yang diberikan sama sekali tidak cocok, kemudian memberikan usulan yang simpatik dan memberikan jalan keluar, sehingga akan dapat ditata kembali untuk diberlakukan  hal yang sesuai dengan kondisi yang terbaik.

Pada akhirnya semua  itu tergantung kepada para pimpinan dalam sebuah wilayah agtau lembaga, apakah akan menjalankan tugasnya dengan  bijak, yakni  melakukan analisa yang cermat sebelum membagi tugas, atau dengan melakukan sebuah orientasi bersama untuk menyapakan  sikap dan pandangan terhadap tujuan yang akan diraih bersama, lalu dilakukan penempatan SDM sesuai dengan keahliannya atau setidaknya yang mendekati keahliannya dan seterusnya.  Ataukah para pimpinan sama sekali tidak mempunyai pandangan yang pasti dan konsisten untuk meraih sebuah tujuan dan target.  Sekali lagi semuanya terpulang kepada kemauan  semua pihak terutama para pimpinan yang diberikan amanah untuk  itu.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.