TINDAK LANJUT SEMINAR

Sebagaimana diketahui bahwa seminar internasional yang digelar di universitas Islam negeri Walisongo kemarin cukup berhasil dan  ada beberapa semacam kesimpulan bahwa hubungan antara Tiongkok Indonesia yang selama ini telah terjalin dengan bagus, sangat perlu ditindak lanjuti dengan  berbagai aktifitas, khususnya yang terkait dengan persoalan pendidikan dan kebudayaan.  Demikian pula  dengannuapaya untuk lebih mengintensifkan hubungan tersebut, disamping  kerjasama kelembagaan yang sudah dijalin, perlu juga dilakukan  upaya mewujudkan sebuah  pusat kaijan.

Lantas apa yang harus dilakukan dalam waktu dekat tersebut, setidaknya untuk melakukan upaya agar semangat yang sudah berkobar tersebut tidak padam dengan sendirinya.  Menurut saya tidak cukup hanya dengan usaha yang dilakukan oleh pihak kampus UIN Walisongo, melainkan juga seharusnya didukung secara rill oleh pemerintah, baik propinsi maupun kota, agar dapat lebih diakselerasi dalam pencapaian maksud tersebut.

Demikian juga dengan pihak lain yang terkait dengan persoalan budaya Tiong hoa.  Mungkin ada yang masih mempertanyakan kenapa harus dengan Tiongkok dan bukannya dengan dunia Arab?.  Kita sesungguhnya tidak membedakan semua bangsa dan etnis, dan hal tersebut sudah kita buktikan dengan  jalinan kerjasama dengan dunia Arab, baik yang di Asia, maupun Afrika, dan bahkan yang berada di belahan Eropa, yakni Turki.

Nah, pada saat ini kita memang sedang menindak lanjuti kerjasama dengan China dalam hal pendidikan dan budaya.  Memang agak disayangkan bahwa kedubes Indonesia di Beijing kemarin berhalangan hadir, karena  peran kedutaan besar sangat besar untuk  lebih mempercepat pencapaian tujuan yang ingin kita capai.  Namun kita yakin bahwa ke depannya kedubes akan support dengan baik dan terus melakukan upaya untuk mewujudkan  sebuah lembaga atau pusat kajian  China yang  rencananya akan dibuka di kampus.

Pentingnya China sesungguhnya juga sudah sama sama kita tahu karena saat ini dan prediksi ke depan, China merupakan negara  besar yang akan menjadi macam Asia dan bahkan dunia.  Bahkan  menurut sebuah riwayat, Nabi Muhammad  saw sendiri juga  menganjurkan kepada umat muslim untuk belajar hingga negeri China tersebut.  Demikian juga  ada salah satu orang yang masih sezaman dengan Nabi yang kemudian  meninggal di Tiongkok, yakni Saad bin Waqash atau nama lainnya.

Mungkin cerita tentang perjalanan sahabat Rasul hingga ke negri China  dapat diragukan dan makam yang ada di sana juga  mungkin diragukan juga, tetapi bukti tentang hal tersebut memang dapat disakaiskan hingga saat ini.  Setidaknya ketika kita menjalin hubungan dengan berbagai lembaga dan universitas di China untuk saling memberikan informasi budaya, bahasa dan juga persoalan ekonomi, tentu tidak salah, karena memang kita ingin dan akan terus mengembangkan kerjasama  dengan semua pihak, khususnya dalam hal tri dharma perguruan tinggi.

Pusat kajian China yang kita gagas tersebut sesungguhnya  sangat menarik untuk dilakukan dan wujudkan, karena minat untuk hal tersebut cukup tinggi, termasuk juga tentang minta dalam belajar bahasa  Mandarin.  Untuk itu sekali lagi, kita tidak perlu cemas dan ragu dengan upaya untuk mewujudkan itu, hanya saja yang harus dipersiapkan ialah persoalan SDM dan dorongan yang kuat serta suppoort dari pemerintah dan lembaga terkait.

Namun kita sangat yakin bahwa  dengan semangat yang membara, apapun dapat dilakukan, dan  pemerintah tentu akan memberikan suportnya.  Persoalan SDM, mungkin kita dapat merekrut mereka yang mempunyai  kemempuan dalam bidang tersebut atau  melakukan kerjasama dengan pihak yang mempunyai  minat dan concern yang relatif sama, sehingga kerjasama tersebut  saling menguntungkan dan memberikan kontribusi yang nyata bagi masing masing pihak.

Persoalannya saat ini ialah berada di tangan kita sendiri, apakah kita  akan menindak lanjuti  hasil seminar kemarin dengan  mewujudkan  sebuah centre di kampus, ataukah kita akan mebiarkan peluang tersebut berlalu begitu saja.  Menurut saya seharusnya ada  diantara keluarga besar UIN yang tertarik dan kemudian melakukan upaya untuk hal tersebut, tentu  tetap dengan  berkoordinasi dengan  pihak universitas dan atas nama universitas.

Memang tidak selalu bahwa  setelah dilakukan sebuah seminar kemudian langsung ditindak lanjuti dengan membuat semacam pusat kajian, tetapi memang ada kalanya  hal tersebut harus dilakukan, karena tujuan dilaksanakannya sebuah seminar tersebut diperuntukkan  bagi terwujudnya hal tersebut.  Pusat kajian tentang China tersebut sangat menarik dan  kita semua yakin bahwa kalau keinginan tersebut dapat diwujudkan, tentu akan menjadi salah satu pusat yang ramai dengan erbagai aktifitas.

Namun kalau dalam waktu dekat belum memungkinkan untuk dibukanya sebuah pusat,  kiranya akan lebih bagus jika tindak lanjut dari seminar tersebut bukan langsung membentuk pusat melainkan  dilakukan dahulu berbagai kajian lainnya, dan diskusi intensif dengan berbagai pihak terkait agar mendapatkan  keyakinan yang lebih, bahkan  mungkin  dengan  dukungan pemerintah secara riil serta  penyiapan SDM yang lebih cermat.

Akan tetapi harus ada target waktu, semisala  pada tahun depan pusat kajian China tersebut sudah harus terealisasi sambil juga merencanakan kegiatan lainnya yang memungkinkan untuk mengembangkan berbagai potensi yang kita miliki.  Saya sendiri sangat antusias dengan  pusat kajian China ini, karena  beberapa pihak seperti  perkumpulan  Tionghoa Semawis dan juga PITI akan mendukung pembukaan pusat kajian China tersebut.

Bahkan pada tahun yang lalu duta besar Indonesia  untuk China di Beijing sudah memberikan lampu hijau untuk mendorong dan membantu berbagai rencana untuk menjalin hubungan yang lebih earat dan saling menguntungkan dengan pihak China.  Untuk itu jikalau nanti tidaka ada pihak yang menawarkan diri untuk menindak lanjuti hasil seminar kemarin dari  keluarga besar UIN, maka bagian kerjasama  harus pendai  membuat sebuah terobosan  agar dapat dilakukan persiapan dengan menggandeng pihak luar.

Memang biasanya untuk memulai sesuatu yang belum ada, banyak orang yang  tidak mau berspekulasi, tetapi  jika nanti telah berjalan dan kemudian mendapatkan respon yang positif dari berbagai pihak, tentu akan banyak yang ingin bergabung dan sekaligus  menguri uri pusat kajian tersebut.  Artinya memang  kita harus memulainya dengan bekerjasama dengan berbagai pihak khususnya di Semarang untuk mempersiapkan pembukaan pusat kajian tersebut, sambil mempersiapkan segala sesuatunya dengan lebih baik.

Demikian pula dengan rencana untuk membuka  pusat kajian Timur Tengah yang sudah tergagas terlebih dahulu, tetap akan  jalan, sambil  terus mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk  menjalin hubungan dengan beberapa universitas di wlayah Timur Tengah yang saat ini  sudah dan sedang akan dilakukan.  Mungkin untuk kajian tersebut sedikit berbeda, maksudnya yang berminat dan SDM yang kita punyai sudah cukup.

Mudah mudahan  dalam waktu yang tidak tertalu lama, kedua pusat ajian yang akan kita buka tersebut akan mendapatk sokongan moral dari seluruh warga kampus, dan sekaligus mendorong dan memberikan supportnya agar cepat terwujud.  Kita santat yakin bahwa kedua pusat kajian yang akan kita buka tersebut dapat direalisasikan setidaknya dalam waktu dua tahun ke depan. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.