MEMBUKA HUBUNGAN ANTARA TIONGKOK DENGAN INDONESIA

Hari ini universitas Islam negeri Walisongo akan menggelar seminar internasional bekerjasama dengan Beijing Language and Culture university dengan thema hubungan antara Tiongkok Indonesia.  Seminar tersebut digelar untuk tujuan membuka pintu yang lebihluas antara Tiongkos dan Indonesia, khususnya dala bidang pendikan dan budaya, sekaligus  untuk mengawali rencana pebukaan pusat kajian Chia di UIN Walisongo.

Kita semua tahu bahwa  hubungan antara Tiongkok dan Indonesia sudah berjalan cukup lama daalam berbagai bidang, namun bagi universitas Islam rasanya masih belum dilakukan, khususnya dalam hal pendidikan dan juga budaya serta kemungkinannya untuk dikembangkan kajian yang lebih mendalam tentang berbagai budaya yang terkait dengan perkembangan budaya  dan juga Islam.  Sementara kita juga tahu bahwa di Semarang ada tokoh Tionghowa yang sangat terkenal, yakni  laksamana Cheng Hoo yang petilasannya sampai saat ini masih dirawat dengan sangat bagus.

Seharusnya  dipikirkan bagaimana caranya membuka jalan sutra antara Tiongkok  Semarang, karena memang hal tersebut sangat mungkin untuk dilakukan dan tentu diharapkan akan memberikan manfaat yangbbesar bagi masyarakat kedua belah phak.  Universitas Isla negeri Walisongo, setelah menjalin kerjasama dengan BLCU di Beijing, kemudian merencanakan untuk merintis  keinginan tersebut, walaupun tentu harus dimulai dengan sebuah kajian yang kemudian ditindak lanjuti dengan langkah kongkrit selanjutnya.

Untuk itu semua pihak, khususnya pemerintah propinsi dan juga kota Semarang mendukung  usaha tersebut dengan memberikan perhatian dan  juga menganggarkan dalam APBD untuk keperluan tersebut.  Persoalan yang akan melaksanakan dan mewujudkan keingian tersbeut dapat dilakukan secara bersama sama  dengan semua pihak yang mempunyai  concern terhadap persoalan tersebut.  Kampus, dan juga pihak lain  tentu akan menyambutnya dengan sangat antusias.

Seminar yang dilakukan pada hari ini disamping mendatangkan pembicfara dari BLCU Beijing, juga akan dihadiri oleh  para pembicara dari manca negara, diantaranya ialah dari Malayasia, Thailand, Singapura, Qatar dan juga Amerika.  Hal tersebut sekaligus juga dimaksudkan untuk lebih mempererat hubungan dan kerjasama yang selama ini sudah dibangun dengan beberapa universitas dan lembaga di negara negara tersebut.  Tentu bagi mereka yang juga mempunyai concern dengan persoalan China.

Kita sangat berharap bahwa  semnar kali ini akan benar benar memberikan warna tersendiri, dan sekaligus ada beberapa hasil ang dapat ditindak lanjuti, baik dengan seminar lanjutan lannya, maupun dengan langkah  langkah lainnya yang dapat dilakukan, baik oleh universitas Islam negeri Walisongo maupun pihak BLCU dan juga pihak lain, termasuk pemerintah kota dan provinsi.  Semuanya  dimaksudakan  agar  hubungan antara China Indonesia dalam bidang pendidkan dan juga budaya dapat terus diperkuat dan dikembangkan.

Demikian juga  dengan pihak lain yang sudah menjalin kerjasama dengan pihak BLCU seperti  UWH dan juga masjid Agung Jawa Tengah.  Karena ide dasar dalam menjalin kerjasama tersebut  ialah untuk memperkuat peran masing masing dalam mewujudkan kondisi yang lebih bagus di kedua belah pihak.  Sekaligus dalam upaya  mengembangkan dan memperkenalkan budaya masing masing, sehingga akan terjadi pemahaman yang benar terhadap kondisi yang sebenarnya.

Seminar itu sendiri bagi universitas Islam negeri Walisongo juga dimaksudkan untuk turut menyemarakkan  peringatan dies natalis  ke 45 dan sekaloigus peresmian UIN yang puncaknya telah dilaksanakan pada tanggal 6 April yang lalu.  Tentu disamping berbagai kegiatan yang sudah dan masih  serta yang akan dilakukan  hingga akhir April ini.

Sementara itu substansi seminar tersebut antara lain untuk terus membangun jalinan hubungan antara Indonesia dan China yang selama ini suda terjalin cukup bagus.  Namun dalam bidang bidang btertentu masih dirasakan kurang, seperti dalam bidang pendidikan dan juga budaya.  Kita juga cukup tahu bahwa hubungan secara umum antara kedua negara tersebut terkadang diselingi dengan persoalan pinggiran tetapi cukup mengganggu, seperti persoalan etnis yang terkadang di junculkan dan lainnya.

Ke depannya kita tidak ingi memandang  sebuah etnis sebagai pangkal perbedaan, karena   dalam Islam sendiri Tuhan telah menjelaskan denganngamblang bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan memang berbeda dalam berbagai hal dan kelompok, namun bukan untuk saling menyerang atau saling mengejek atau sejenisnya, melainkan justru dimaksudkan agar terjadi komunikasi dan saling memahami masing masing, sehingga akan terjadi komunikasi yang saling menguntungkan untuk perkembangan manusia  dan budayanya.

Dari pertemuan dan saling komunikasi tersebut tentu dapat dipetik  manfaat yang sanat besar, karena sudah barang pasti masing masing  manusia yang berbeda tersebut mempunyai pengalamannya sendiri sendiri, yang dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi yang lain.  Dengan kata lain masing masing mempnyai keunggulannya sendiri yang dapat diadopsi oleh lainnya, sehingga mereka akan dapat saling melengkapi atas kekurangan yang ada.

Pernyataan Tuhan tersebut sungguh sangat memberikan inspirasi bagi kita  merajut tali hubungan diantara semua  pihak, karena  tujuan saling melengkapi dan meningkatkan peran masing masing.  Walaupun tentu bukan untuk saling mengintai kelemahan pihak lain dan sekaligus untuk upaya merendahkan atau menyerang dan lainnya.  Tuhan dengan jelas memberikan tujuan informasi tersebut untuk menjabarkan kepada kita bahwa penampilan lahir dari semua  manusia itu hanyalah ciptaan yang disenagja oleh Tuhan, dan menurut Tuhan  mereka yang paling mulia dalam pandangan-Nya ialah mereka yang bertaqwa.

Nah, dalam menjalin hubungan dengan berbagai pihak, termasuk dengan China tersebut juga dimaksudkan untuk mendapatkan banyakengalaman  yang dapat dijadikan pelajaran berhaga bagi kita dalm upaya ketaqwaan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, bukan untuk merendahkan atau tujuan lainnya.  Apalagi kalau diingat bawa lembaga kita  adalah lembaga pendidikan yang lebih megtamakan keilmuan.

Karena itu jangan ada anggapan bahwa universitas Islam negeri Walisongo salah dalam menjalin kerjasama dengan pihak yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan keislaman.  Islam itu bukan identik dengan Arab, melainkan  justru identik dengan perilaku baik, santun, saling menghormati dan memahami serta toleransi.  Dan semua perilaku tersebut dapat melekat pada semua etnis dan bangsa di manapan di dunia ini, termasuk merekaq yang secara formal bukan muslim.

Kembali kepada persoalan seminar yang diselenggarakan kali ini, kita memang benar benar berharap bahwa pada saatnya  nanti akan dapat dibukan cnetr atau pusak kajian tentang China yang sangat kaya dengan buadaya.  Bahkan pada saatnya nanti dapat juga dibuka program studi yang bterkai dengan China, seeprti bahasa Mandarin dan lainnya.  Tentu haus ada persiapan yang matang untuk mewujudkan hal tersebut, dan tentu masih sangat jauh.

Hal terpenting saat ini ialah bagaimana semua pihak memahami kondisi tersebut dan tentu juga program lainnya, sehingga semua pihak dapat fokus untuk melaksanakan tugas masing masing dengan optimal.  Hindarkan sifat curiga, tetapi sebaliknya pupuklah raqsa percaya serta dukungan yang positif untuk kemajuan bersama.  Namun demikian bukan berarti tidak ada kritik, karena justru dengan kritik tersebut diharapkan akan semakin memacu perkembangan dan kemajuan yang diinginkan bersama.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.