APRESIASI NIAT BAIK

Ternyata masih banyak tokoh yang berpikirnya serampangan dan tidak didasarkan kepada informasi yang akurat atau tidak berdasarkan data, melainkan hanya sekedar beringan angin yang belum tentu benar.  Hal tersebut tentunya sangat memperihatinkan, karena kalau seorang tokoh atau seorang pemimpin sudah  bertindak dan berpikir seperti itu, lantas apa yang dapat diharapkan darinya?.  Kesan ini mungkin juga dapat benar dan sekaligus juga dapat salah, hanya saja  rasanya tidak nyaman saja ketika ada isu tentang sesuatu, lalu ditanggapi secara serius, padahal belum diketahui secara pasti kebenaran sesuatu isu tersebut.

Akhir akhir ini kita memang  mengetahui tentang  isu rencana kementerian agama akan membangun universitas baru yang diberi nama universitas Islam nusantara, yang bertaraf internasional, dan hanya akan menerima mahasiswa  pasca sarjana, S2 dan S3 saja.  Nah, dengan munculnya  informasi yang belum jelas juntrungnya tersebut,  sebagian pimpinan PTKIN sudah bersikap menolak dan  tidak ingin tahu lebih lanjut tentang makhluk yang akan dilahirkan tersebut, tjuannya dan juga sumber pembiayaannya.

Memang dalam isu tersebut  diunculkan juga tentang pembiayaannya yang mencapai trilyunan rupiah dalam setahunnya.  Tentu saja  mereka yang menolak berargumentasi bahwa keberadaan PTKIN yang selama ini  menjadi andalan kementeran saja  tidak diberikan anggaran sebesar itu, lantas bagaimana kementerian akan mendirikan universitas baru dengan biaya yang melangait,  dankenapa tidak  membesarkan saja yang sudah ada? Dan tentu masih banyak deretan pertanyaan lainnya yang kesimpulannya menolak keinginan tersebut.

Saya sendiri sudah berpendapat bahwa  sebaiknya kita mencari tahu dahulu tentang kebenaran isu tersebut, dan kalau memang kementerian agama memang benar akan mendirikan universitas tersebut, bagaimana rencanya, pembiayaannya, dan juga bagaimana dengan PTKIN yang sudah ada dan sangat perlu disupport pembiayaan, agar lebi berdaya?.  Namun  ada sebagian diantara kita yang  justru sudah meyakini rencana tersebut, karena  telah mendirikan sendiri pernyataan tersebut dari orang nomor satu di kementerian.

Lantas pada saat  bertemu dengan menteri dalam koordinasi dengan seluruh pimpinan PTKIN, menteri kemudian menjelaskan tentang rencana pendirian universitas tersebut.  Memang benar rencana tersebut akan segera digulirkan dan segera akan membentuk tim untuk pendahuluan.  Dalam kesempatan tersebut menteri memang menjelaskan bahwa ide tersebut sesungguhnya sudah cukup lama sehingga beliau hanya meneruskan saja ide bagus tersebut.

Hanya saja beliau enjelaskan bahwa  pendirian tersebut tidak boleh dan tidak akan mengurangi atau mempergunakan anggarankementerian agama yang selama ini sudah dipakai untuk PTKIN, melainkan akan dicarikan jalan lain sebagaimana yang sudah disetujui oleh orang penting di negeri ini.  Bahkan menteri  memberikan syarat bahwa  anggaran untuk pendis tidak akan terkurangi sepersenpun, karena itu para pimpinan PTKIN tidak perlu khawatir, dan PTKIN juga tetap dapat berkompetisi untuk menjadi universitas berkelas internasional.

Tentu akan sayang kalau kementerian agama tidak menangkap rencana pendirian universitas Islam yang berskala internasional tersebut, karena kalaupun kemnterian agama tidak menangkap, pasti akan ada pihak lain yang akan menangkapnya, karena rencana tersebut merupakan rencana nasional yang akan dibiayai oleh negara.  Nah, kalau demikian ceritanya, tentu justru kita harus mendukung rencana tersebut dan kita tidak perlu merasa khawatir  dengan segala persoalan persiapannya, karena  kita tidak akan “diganggu”, baik SDM yang ada maupun  anggaran yang ada di pendis.

Bahkan kalau misalnya  rencana tersebut ditangkap pihak lain, kita sendirilah yang akan merasa rugi,  sebab universitas yang diperkirakan akan menjadi besar tersebut bukan menjadi milik kementerian kita.  Hanya saja memang kementerian harus  memikirkan  kepada PTKIN yang anggarannya masih sanat minim dan belum sesuai dengan standar minimal yang seharusnya.  Artinya dengan dimunculkannya universitas yang  diberikan anggaran begitu melangit, tentu PTKIN lainnya yang selama ini sudah ada juga harus tetap ditingkatkan melalui anggaran kementerian yang  ada.

Sudah barang tentu kita belum dapat menerima dengan nyaman ketika  seluruh PTKIN yang berjumlah 55 buah, hanya diberikan anggaran sekitar 3 T lebih, sementara anggaran kementerian agama secara keseluruhan sudah lebih dari 50 T.  Seharusnya untuk PTKIN ada angaran sekitar 6T agar mereka dapat berdaya  dalam memajukan dan meningkatkan kualitasnya.  Sangat mustakhil dengan anggaran yang sangat minim tersebut, PTKIN  akan mampu bersaing dengan perguruan tinggi lainnya yang dibiayai dengan lebih dari 38 T.

Sekali lagi gagasan yang bagus tersebut seharusnya kita dukung secara maksimal, sambil kita terus berupaya untuk  tetap memajukan PTKIN yang suda ada.  Sungguh tidak masuk di akal kita  kalau ada niat baik dari luar kita dan meminta dukungan kita tanpa harus merugikan kita, kemudian kita menolaknya.  Apalagi  keinginan baik tersebut tetap akan jalan terus, meskipun kita tidak menangkap atau menolaknya, dan sikap menolak keinginan baik tersebut justru akan memberkan efek kurang baik bagi kita sendiri.

Jadi setelah semuanya jelas dan duduk persoalannya  jelas, kita baru dapat  berbicara atau bersikap, karena itulah hal yang memang harus kita lakukan.  Kalau misalnya kita melaukan penolakan secara ramai ramai, justru kita akan dianggap sebagai pihak yang berpikiran kerdil dan seolah takut untuk disaingi, padahal sesungguhnya kita semua ingin ada kemajuan dalam pendidikan Islam dinegeri kita tercinta ini.  PTKIN  yang kita pimpin  harus terus dimajukan dengan usaha yang maksimal dari kita sendiri, meskipun kita tetap meminta kementerian  menambah anggaran untuk tujuan baik tersebut.

Isu lainnya yang cukup hangat adalah niat baik kementerian untuk membuat damai dan nyaman  di dalam kampus, dan menjauhkan kampus dari praktek politik, utamanya pada saat pemilihan calon rektor dan efeknya yang  lama tidak sembuh.  Dalam masalah ini memang harus dilihat secara jernih, dan dikaji secara mendalam, apakah memang  politik di kampus sudah sedemikian membahayakan ataukah  hal tersebut hanya sekedar riak kecil yang tidak akan mengganggu ketenangan dan keilmiahan kampus.

Dengan mengkajinya secara detail serta didukung oleh  analisa  yang kuat, maka  baru dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa  harus ada perbaikan dan semuanya  tetap harus tetap dilaksanakan dengan cara yang baik dan tidak merugikan semua pihak.  Otonomi kampus yang selama ini terjaga jangan sampai tercabut yang akan menyebabkan kemandulan dan daya kreatif kampus.  Dalam menganalisa hal ini tentu  tetap akan muncul pro dan kontra, karena semua pihak akan  mendasrkan pada pemahaman dan sisi pandang masing masng.

Oleh sebab itu pada saatnya  memang harus diambil keputusan dengan mempertimbangkan  akhoffudl dlororain, atau mengambil  keputusan yang lebih rendh resikonya.  Dan kita semua tahu bahwa hal tersebut akan memberikan  sebuah kondisi yang  cukup nyaman di kalangan kampus.  Namun kita memang harus memberikan apresiasi kepada kementerian yang prihatinterhadap kondisi kampus yang dijadikan ajang politik praktis oleh sebagian pihak.

Kita semua sepakat bahwa kampus harus dibebaskan dari politik praktis dan harus tetap dijaga otonominya sehingga kampus akan tetap menjadi tempat yang ilmiah dana penuh gairah dalam melahirkan gagasan baru untuk kesejahteraan umat secara umum.  Hanya caranya yang masih harus dicari dan diperlukan kajian yang sangat mendalam agar semuanya menjadi  menyenangkan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.