BERSENTUHAN DENGAN KEMENKO BIDANG PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

Sebuah angin baru sudah bertiup saat kementerian koordinator idang pembangunan manusia dan kebudayaan yang dipimpin oleh Puan Maharani mengundang  para pimpinan perguruan tinggi keagamaan untuk mendialogkan berbagai hal, seputar pentingnya sumber daya manusia  dan kebudayaan.  Kita memang belum tahu persis kemana arah koordinasi yang akan digelar pada pagi ingga siang hari ini, karena mungkin baru saat ini kementerian tersebut berkoordinasi dengan kita.

Sudah barang tentu kita  menyambut optimis dan berharap banyak bahwa pertemuan koordinasi tersebut akan menghasilkan banyak hal yang dapat memperkuat posisi masing masing. Kita tahu bahwa pendidikan merupakan salah satu garapan  kementerian ini, walaupun selama ini dianggap bahwa pendidikan dasar dan menengah saja yang  masuk dalam ranah koordinasinya, karena memang kementerian pendidikan dan kebudayaan merupakan salah satu bagian dari kementerian koorndinasinya.

Sementara untuk pendidikan tinggi, baik yang berada di kalangan kementerian risrtekdikti maupun kementerian agama, meskipun juga termasuk dalam wilayah koordinasi kemnterian ini,  namun  selama ini sepertinya belum terjadi  singkronisasi diantaranya. Kalau kemudian ada koordinasi  dalam upaya untuk mensinergikan  program masing masing guna mempercepat pencapaian dan target yang dicanangkan oleh masing masing, maka hal tersebut tentu harus disambut dengan baik.  Sementara bagi kemenko PMK sendiri juga sekaligus sebagai bukti bahwa mereka telah menjalankan fungsinya.

Walaupun secara formal pendidikan tinggi  berada  dalam wilayah koordinasi kementerian PMK tersebut, yaknimelalui kemnterian masing masing, namun  disadari bahwa  pembangunan manusia itu merupakan tugas yang tidak diemban oleh kementrian ristek dan agama, lebih khusus lagi perguruan tinggi keagamaan, namun  sesungguhnya secara makro juga menjadi tanggung jawab kementerian PMK tersebut.  Kita tahu bahwa pendidikan itu tujuannya  ialah untuk mencerdaskan  anak anak bangsa  sekaligus memperbaiki akhlak dan budi pekerti mereka, sehingga dengan demikian pembangunan manusia menjadi niscaya bagi PTKN.

Atas dasar pemikiran tersebut kita semua memang harus menyambut baik undangan untuk berkoordinasi yang dilakukan oleh kementerian PMK tersebut, dan menurut saya menjadi wajib hukumnya para pimpinan PTKN untuk menghadirinya.  Sudah barang tentu dalam pertemuan tersebut, kita  dapat memberikan  urun rembuk  untuk kebaikan bersama, baik dalam hal koordinasi untuk mempercepat pencapaian  program masing masing, maupun mungkin ada program baru yang dapat dilakukan secara bersama.

Sebagaimana kita tahu bahwa kementerian PMK tersebut sudah meluncurkan  KIS atau kartu Indonesia Sehat dan juga KKS atau kartu keluarga sejahtera, serta juga akan segera meluncurkan KIP atau kartu Indonesia  pintar.  Nah, rencananya KIP akan diluncurkan pada tahun 2015 ini, dan bahkan sebagiannya sudah diluncurkan.  Tentu dalam hal tersebut kita dapat memberikan masukan agar program tersebut tepat sasaran dan memang  memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat Indonesia secara umum.

Semua orang  menyadari betapa pentingnya  sumber daya manusia itu, yakni  manusia yang  cerdas, sehat, berkepribdaian ala Indonesia, berakhlak mulia dan tentu peka terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya.  Untuk semua itu bukan pekerjaan mudah, melainkan  memerlukan usaha keras dan terus menurus serta konsisten, melalui jalur formal pendidikan yang  saat ini dipercayakan kepada kita sebagai pimpinan PTKIN.

Untuk itu kesempatan yang sangat bagus pada saat kita  diajak berembuk masalah  pembangunan manusia  yang memang menjadi garapan utama kita dalam bidang pendidikan.  Bidang lainnya yang juga sangat penting ialah bagaimana  mereka  menjadi generasi yang sehat, baik jasmani maupun rohani, bagaimana mereka sadar bahwa mereka berada di negera Kesatuan Republik Indonesia dan sekaligus mereka juga  mengerti bahwa tugas mengentaskan dan membebaskan negarakita dari ketertinggalan, kebodohan dan kemiskinan adalah tugas utama yang harus dilaksanakan.

Namun sebagaimana disinyalir oleh sebagian diantara kita bahwa undangan koordinasi tersebut terkait dengan persoalan ISIS yang saat ini marak di negeri kita, tentu kita harus  dapat memberikan penjelasan yang tuntas bahwa persoalan ISIS sama sekali tidak terkait dengan ajaran Islam yang benar.  Justru PTKIN merupakan tempat untuk menangkal aliran yang tidak sejalan dengan Islam moderat, seperti ISIS dan sejenisnya.  Kita tidak  perlu tersinggung, karena memang masih banyak diantara umat di negeri kita ini yang belum tahu secara detail.

Pada umumnya mereka hanya tahu bahwa ISIS tersebut merupakan  aliran Islam yang ingin memperjuangkan negara Islam dengan cara kekerasan,  sehingga akan membahayakan kehidupan bangsa Indonesia yang sudah relatif aman dan tenteram.  Memanmg kita perlu memberikan penjelasan kepada pihak yang belum tahu tersebut, yang seolah Islamlah yang menjadi penyebab munculnya aliran meresahkan tersebut, termasuk pihak kementerian.

Justru kita harus menjelaskan bahwa munculnya  aliran keras tersebut berada di perguruan tinggi umum, karena memang  di sana tidak diajarkan secara khusus tentang Islam secara mendalam.  Para mahasiswa  justru mendapatkan  pengetahuan tentang aloran keras tersebut dari luar yang kemudian  disusupkan ke beberapa mahasiswa di perguruan tinggi, melalui kelompok tertentu.  Secara kasat mata kita dapat melihat bahwa justru mahasiswa yang memakai cadar itu berada  di pergruuan tinggi yang bukan PTKIN.

Kita harus membedakan antara cadar dengan jilbab, sebab kalau jilbab, memang dianjurkan bahkan diwajibakan bagi perempuan yang berada di luar rumah, meskipun itu uga bukan merpakan kesepakatan semua umat, melainkan ada pula yang memberikan pemaknaan lain.  Hanya saja untuk jilbab ini, masyarakat menganggap sebagai hal biasa dan merupakan pilihan perempuan muslimah di negera kita.  Namun tentang cadar yang dipakai oleh sebagian muslimah, memang menjadi hal yang menarik bagi siapapun.

Biasanya mereka itu mempunyai pemahaman Islam secara kaku dan  tidak dapat menerima perbudaan dengan pemahaman mereka.  Untuk itu menurut kita, kementerian koordinator pembangunan manusia dankebudayaan, sangat perlu untuk berbicara dengan  kementerian lain yang juga mengurus pendidikan, yakni kemendikbud dan juga kemen ristek dikti.  Kita sesungguhnya  sama sekali tidak menuduh kepada siapapun,  tetapi agar terjadi keseimbangan antara seluruh pendidikan yang ada di negeri kita, koordinasi sangat diperlukan untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat.

Pada saat kementerian PMK yang dahulu mungkin  identik dengan kemenko kesra tersebut mengundang kita untuk berkoordinasi, kita harus menyambutnya dengan baik, agar  terjadi saling  memahami dan mengetahui peran masing masing.  Kita  sama sama  menghendaki bahwa  manusia Indonesia itu akan  cerdas dan berakhlak karimah, dan semua itu  akan dapat diraih melalui pembelajaran yang terarah dan terkoordinasi dengan semua pihak terkait.

Kementerian PMK bisa saja mensupport dari sisi pendanaan bagi mereka yang miskin dan tidak mampu untuk meneruskan studi di perguruan tinggi,l mereka sangat potensial dan sangat bedsar keinginannya untuk tetap terus  belajar.  Nah, melalui KIP atau kartu Indonesia pintar yang menjadi salah satu programnya, kementerian tersebut  akan  dapat berperan langsung dalam  pembangunan manusia Indonesia sebagaimana tugas dan fungsinya.

Tentu masih banyak hal lain yang dapat dikoordinasikan antara lembaga pendidikan melalui kementerian yang menjadi wilayah koordinasi kementerian PKM tersebut.  Pertemuan koordinasi kali ini harus dianggap sebagai momentum yang sangat bagus untuk menjalin kerjasama yang lebih nyata dan berkesinambungan, dan bukan kareena tujuan sementara, apalagi kalau didasari kecurigaan yang tentu tidak sehat dan akan menmbulkan ketegangan diantara kita. Semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.