ANTARA SBMPTN DAN UMPTKIN

Kalau dilihat dari sisi nama dan singkatan, tentu keduanya berbeda, karena SBMPTN merupakan  seleksi bersama  masuk perguruan tinggi negeri, sebagai wahana untuk ujian masuk perguruan tinggi secara mandiri, alias bukan nasional yang diselenggarakan secara bersama sama, sedangkan UMPTKIN merupakan singkaan dari ujian masuk perguruan tinggi keagamaan Islam negeri.  Maksudnya juga saa, yaknis ebagai ujian yangbukan nasional dan diselenggarakan secara bersama sama  oleh seluruh  PTKIN.

Melihat substansi dari keduanya, sesungguhnya  dapat disimpulkan sebagai ujian masuk  yang bentuknya sama, yakni ujian mandiri alias bukan nasional tetapi diselenggarakan secara bersama dengan perguruan tinggi sejenis lainnya.  SBMPTN diselenggarakan leh PTN di lingkungan kementerian riset, teknologi dan Pendidikan Tingi, sedangkan UMPTKIN diselenggarakan oleh sebuah panitia   dalamlngkungan PTKIN pada kementerian agama.

Mungkin  masih ada sebagian masyarakat yang belum tahu bahwa harus ada penyelenggaraan seleksi yang berbeda tersebut, karena memang mungkin belum  dan tidak mengetahui secara detail berbagaiaturan di pendidikan tinggi.  Kita tahu bahwa  ada pendidikan tinggi di dalam lingkunagn kementerian ristek dikti dan ada pandidikan tinggi di lingkungan kementerian agama, dan mungkin aa pula  PTN di luar kementerian keduanya, tetapi jumlahnya tidak signifikan.

Nah, di dalam undang undang nomor 12 tahun  2012 tentang pendidikan tinggi, disebutkan bahwa  ada dua pola penerimaan  calon mahasiswa pada perguruan tinggi negeri, yakni pola nasional dan  pola bukan nasional.  Pola penerimaan calon mahasiswa baru secara nasional, semua pembiayaan pendaftaran ditanggung oleh pemerintah, sehingga calon mahasiswa dibebaskan dari pembiayaan, alias gratis.  Nah, pola nasional tersebut kemudian  dilaksanakan  tanpa  test, melainkan hanya  melaluia seleksi  prestasi, yang meliputi prestasi siswa, prstasi sekolah, dan lainnya.

Sementara itu seleksi mandiri atau bukan nasional, kemudian dibagi menjadi dua, yakni seleksi yang diselenggarakan secara bersama, melalui test tertulis bagi seluruh calon mahasiswa baru.  Sedangkan ujian mandiri yang dilaksanakan sendiri sendiri oleh perguruan tinggi, tidak mesti dilaksanakan oleh PTN, karena kalau sebuah PTN sudah merasa cukup dengan dua jalur tersebut, maka untuk ujian mandiri secara sendiri tidak dilaksanakan, dan hal tersebut dibenarkan, asalkan diberitahukan kepada masyarakat secara transparan.

Ada perbedaan persyaratan bagi calon mahasiswa yang akan  memasuki PTN melalui dua jalur utama tersebut, yakni melalui  jalur nasional dan mandiri.  Untuk jalur  seleksi secara nasional, para calon dipersyaratkan harus  ada pada kelas 12 atau kelas 3 SLTA dan sekaligus juga harus megikuti ujian nasional di sekolahnya.  Dengan demikian bagi mereka yang sudah lulus pada tahun sebelumnya, sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk masuk melalui jalur tersebut, dan demikian juga bagi mereka yang tidak mengikuti ujian nasional sekolah, juga tidak ada kesempatan mengikutinya.

Semenetraa itu bagi para calon yang akan masuk PT melalui jalur mandiri,  tidak dipersyaratkan seperti di atas.  Artinya bagi mereka yang sudah lulus SLTA pada tiga tahun sebelumnya, masih diperbolehkan  mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa melalui jalur mandiri, tetapi dengan membayar  uang pendaftaran yang besarnya ditentukan oleh PTN  secar tersendiri, sesuai dengan aturan yang sudah disahkan leh kementerian keuangan.  Sedangkan bagi mereka yang mengikuti ujian mandiri yang diselenggarakan bersama, masih mendapatykan subsidi dari pemerintah, sehingga mereka hanya dikenakan biaya sebesar 100 ribu rupiah.

Untuk ujian mandiri yang diselenggarakan secara sendiri oleh PTN pembiayaannya seluruhnya dibebankan kepada para calon.  Ujian mandiri, baik yang diselenggarakan secara bersama maupun secara swendeiri sendiri, dilaksanakan secara tertulis  dan menyangkut berbagai mata pelajaran tertentu yang dianggap sebagai mata pelajaran p[okokyang harus dikuasai oleh siswa atau calon mahasiswa.  Sudah barang tentu bagi  para calon yang akan masuk di PTKIN juga harus bersiap dengan mata pelajaran  agama Islam dan sekaligus juga bahasa Inggris dan Arab.

Secara keseluruhan sesungguhnya  seleksi masuk melalui test tersebut dianggap lebih sesuai dengan keinginan para pimpinan PTN, karena  lebih selektif dan obyektif.  Artinya  meskipun saat ini  seleksi prestasi yang diselenggarakan secara nasional juga sudah dilakukan berbagai evaluasi dan perbaikan,api kita masih mendapati beberapa  sekolah yang cukup nakal, yakni dengan memberikan raport yang lebih tinggi ketimbang yang sejatinya.

Sampai saat ini masih ditemukan beberapa sekolah yang sesungguhnya  kurang dikenal sebagai sekolah  hebat,api nilai raport para siswanya  ternyata sangat tinggi, sehingga hal tersebut juga mempengaruhi hasil akhir seleksi itu sendiri.  Namun jumlahnya sudah mulai  menurun, karena panitia nasional sangat jeli serta akan memberikan sanksi kepada sekolah yang kedapatan memberikan nilai tdak wajar bagi para siswanya, alis  curang.

Jadi sebagaimana disebutkan di atas bahwa  antara  ujian masuk melalui SBMPTN dan UMPTKIN sesungguhnya  mempunyai kesamaan, yakni dalam hal pelaksanaannya yang dilakukan melalui test tertulis dan pembiayaannya  sebagiannya ditanggung oleh pemerintah sebagai subsidi, dan sebagiannya ditanggung oleh para calon atau oleh masyarakat.  Memang ada  sebagian orang yang kemudiana memberikan tafsirnya sendiri, yakni bahwa ujian SBMPTN dan juga UMPTKIN  sebagai seleksi nasional, karena dilaksanakan oleh sebuah kepanitiaan yang nasional.  Namun anggapan tersebut hanyalah sebuah tafsiran dan bukan sebenarnya.

Kenapa harus disebut sebagai seleksi mandiri tetapi dilaksanakan secara bersama sama, semata mata  ditujuakan untuk memberikan sebuah kebersamaan dan  menjamin kualitas soal atau test tetap terjamin  dan juga  yang terpenting ialah bahwa pembiayaannya tetap ditanggung oleh masyarakat, meskipun tetap disubsidi.  Tanggung jawab masyarakat tersebut dimaksudkan untuk keseriusan para calon dan sekaligus sebagai bagian dari tanggung jawab masyarakat atas pendidikan itu sendiri.

Sepintas memang  seleksi model tersebut seperti seleksi nasional, karena  secara serentak dilaksanakan di semua daerah di seluruh Indonesia, tetapi tetap harus dibedakan dengan seleksi nasional itu sendiri.  Disamping  bentuk seleksinya yang berbeda, yakni seleksi atas prestasi yang sudah diraih oleh calon dan sekolahnya dengan prestasi calon pada saat dilakukan ujian  atau test, juga  dari aspek pembedaan dalam hal pembiayaan sebagaimana dimaksud oleh undang undang nomor 12 tahun 2012.

Sementara itu seleksi mandiri yang dilaksanakan oleh masing masing  perguruan tinggi dimaksudkan untuk memberikan kesempatan  kepada para calon yang mungki belum beruntung atau belum mendapakan kesempatan melalui dua seleksi sebelumnya, sperti mereka yang sudah lulus  lebih dari tiga tahun sebelumnya, atau mereka yang mempunyai prestasi khusus, seperti mereka yang hafal a-Quran dan hanya mempunyai ijazah dari sekolah tertentu yang tidak memungkinkan untuk ikut seleksi sebelumnya.

Itulah sebabnya ada sebagian PTN yang tidak melakukan ujian mandiri terakhir tersebut, dan ada pula yang tetap menyelenggarakannya.  Kita juga tahu bahwa ada sebagian PTN yang memberikan porsi tertentu bagi kalangan tertentu, semisal  kalangan  mereka yang  menjadi tetangga kampus, Mereka yang  datang dari  ujung Indonesia terjauh dan sejenisnya.  Nah, kesempatan dalam seleksi mandiri  seperti itulah yang sangat memungkinkan memberikan apresisasi terhadap kalangan tertentu.

Jadi  sesunghguhnya antara kedua  bentuk seleksi  sebagiaman disebutkan di atas, yakni SBMPTN dan UMPTKIN ada kesamaan, hanya keduanya  mempunyai panitianya sendiri sendiri.  Hal terpenting yang juga perlu diketahui ialah bahwa  SBMPTN hanya mengikutkan program studi yang “umum” saja, sementara itu UMPTKIN  mengikutkan  program studi yang “keagamaan”, saja, walaupun tentu ada pengecualian yakni hal tersebut hanya berlaku bagi PT yang telah bergabung dengan SBMPTN saja.

Barangkali ke depannya  santat diperlukan adanya pembicaraan yang serius tentang persoalan ini, agar semuanya menjadi  sangat baik.  Artinya diperlukan adanya pembicaraan anatara kepanitiaan  di SBMPTN dan UMPTKIN agar masyarakat  menjadi tahu bahwa jalur jalur tersebut memang diperlukan sehubungan dengan progran studi yang memang berbeda.  Semoaga bermanfaat, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.