MEMBESARKAN PTKIN

Akhir akhir ini kita kita dikejutkan oleh adanya berita tentang pendirian universitas Islam Nusantara oleh kementerian Agama, walaupun hal tersebut belum pasti, karena baru hanya  sekedar gagasan dari beberapa orang.  Namun hal yang paling membuat terkejut ialah disebabkan konon ceritanya bahwa universitas tersebut akan dibiayai oleh kementerian  hingga mecapai angka lebih dari 5 T.  Sudah barang tentu  berita tersebut seolah menjadi bom yang  meletus di dekat telinga para pimpinan PTKIN.

Kalau hgal tersebut benar adanya, seharsnya dibicarakan dengan matang, termasuk mendapatkan masukan dari para pimpinan PTKIN.  Kita semua tahu bahwa pembiayaan PTKIN yang berjumlah 55 itu saja tidak mencapai angka fantastis yang direncanakan untuk membangun satu universitas.  Pada umumnya para pimpinan PTKIN  tidak atau belum dapat menerima gagasan tersebut, dan menyarankan untuk memberdayakan PTKIN yang sudah ada.

Banyak PTKIN yang sangat potensial untuk dijadikan andalan menjadi universitas  yang mampu bersaing dengan berbagai universitas  lain, baik di dalam mauoun di luar negeri.  Kenapa tidak beberapa universitas tersebut yang dipacu untuk meningkatkan kualitasnya sehingga menjadi universitas kebanggan kementerian Agama.  Disamping itu beberapa PTKIN juga masih sangat membutuhkan sentuhan pembiayaan untuk menjadikan dirinya  sebagai PTKIN yang  cukup disegani dan sejajar dengan perguruan tinggi lainnya.

Kita sangat paham bahwa masih banyak diantara 55 PTKIN yang masih sangat tertinggal, baik dalam bidang sarana prasarana, maupun dalam hal kualitas SDM dan juga suppor dana untuk membangun jaringan.  Karena itu seharusnya kementerian memperhatikan  PTKIN yang sudah ada dan meningkatkannya menjadi lebih baik dan  dapat bersaing secara sehat dengan beberapa perguruan tinggi lainnya.

Kita sangat yakin bahwa  kalau diberika  kesempatan dan pembiayaan, PTKIN kita akan mampu bersiang dan menjadi perguruan tinggi baik serta berkualitas.  Bahkan beberapa diantaranya sudah siap untuk menjadi universitas berkelas dunia.  Sementara rencana mendirikan universitas baru, belum dapat diprediksi, akankah dapar menjadi universitas yang benar benar hebat ataukah sekedar memenuhi keinginan beberapa pihak yang belum teruji kualitas menejerialnya untuk memulai membenguna sebuah universitas yang dibiayai sngat mahal.

Kalaupun kementerian mempunyai anggaran berlebih untuk sekedar membiayai rutin ope,biayaan PTKIN,  tentu akan lebih bagus bilamana anggaran PTKIN yang ada sekarang diberikan peningkatan, minimal sesuai dengan standar yang ditetapkan.  Sebagaimana kita tahu bahwa anggaran untuk PTKIN saat ini sama sekali belum standar, karena masih di bawah 10% dari total keseluran anggaran kementerian.

Lalu kalau kemudian harus membiayai rencana pendirian universitas baru yang mencapai lebih dari 10%  tersebut, apakah tidak kemudian terjadi  sebuah tragedi yang sangat menyedihkan.  Saya sendiri sudah mendengar rasan rasan dari beberapa pimpinan PTKIN untuk menolak rencana tersebut, dan menyarankan agar anggaran yang besar tersebut digunakan untuk memberdayakan PTKIN yang sudah ada. Termasuk laua misalnya anggaran PTKIN tetap sama dengan yang selama ini ada.

Pada umumnya mereka  masih dapat menrima kalau anggaran PTKIN belum standar karena msih banyak persoalan kementerian yang harus dipacu dan diberikan prioritas penganggaran, namun kelau kemudian  anggaran tersebut untuk membangun universitas baru yang belum jelas, maka mereka tetap akan menolak dan meminta agar anggaran yang ada di gunakan  sebesar besarnya untuk memberdayakan dan membesarkan PTKIN yang sudah ada.

Bahkan sesungguhnya mereka sudah lama menginginkan adanya perubahan dalam penganggaran untuk PTKIN yang masih tertinggal, manakala dibandingkan dengan perguruan tingghi lain di luar kementerian Agama.  Kalau rencana pendirian universitas tersebut terus bergulir, bukan tidak mungkin bahwa para pimpinana  PTKIN akan beramai ramai mendesak agar ada peninjauan kembali penganggaran PTKIN dan disesuaikan dengan standar yang ada.

Namun saya sangat  yakin bahwa kementerian akan memperhatikan  suara pimpinan PTKIN yang terus memberikan masukan terbaik untuk kementerian kita. Apa yang selama ini disuarakan bukan sebagai tanda  berontak, melainkan justru rasa cinta mereka kepada kementerian.  Termasuk penolakan  rencana pendirian universitas baru tersebut juga semata mata untuk  menyelamatkan  kementerian dari kemungkinan  yang tidak diinginkan bersama.

Sebaiknya  memang forum pimpinan PTKIN yang diberikan amanah untuk memimpin PTKIN  dapat segera bertemu dengan pihak kementerian dan  meminta kejelasan tentang rencana tersebut.  Jangan sampai ada dusta diantara para pimpinan dengan pihak kementerian, karena ketidak jelasan tersebut.  Semua wacana yang ada sebegaiamana disebutkan di atas memang masih  merupakan sebuah rumor, meskipun sumbernya cukup valid, tetapi akan lebih bagus jika ada pertemuan dengan pihak keenterian yang  didalamnya dijelaskan tentang rumor tersebut.  jangan jangan  hanya benar benar rumor yang tidak patut untuk diperbincangkan.

Kalau misalnya rumor tersebut memang benar, terus bagaimana langkah selanjutnya agar tidak terjadi simpang siura dan kondisi yang meresahkan.  Artinya pertemuan tersebut menjadi sangat urgen dan harus dilakukan dalam waktu yang dekat, agar segala sesuatunya tidak tertinggal dan  kalau memang ada persoalan, akan dapat segera dipecahkan.

Persoalan  isu akan  didirikannya universitas Islam nusantara tersebut memang menjaqdi pembicaraan  hangat di kalangan para pimpinan PTKIN, tentu disamping isu isu lainnya yang tidak kalah menarikuntuk dibahas dan disampaikan kepada pihak kementerian.  Diantara isu menaruk tersebut ialah tentang persoalan lama yang hingga saat ini belum klir, yakni tentang ijin dan tugas belajar, kemudian tentang pendelegasian  pemberian ijin ke luar negeri bagi selain rektor, dan juga tentang beberapa aturan yang dianggap “meresahkan”.

Forum pimpinan PTKIN memang harus memerankan diri sebagai jembatan antara PTKIN dengan kementerian, dan harus dapat menjadikan dirinya sebagai kekuatan dalam bargaining dengan pihak lain, termasuk kementerian.  Selama ini keberadaan forum namaknya belum dianggap oleh pihak lain, bahkan oleh keenterian  sendiri juga belum  ditempatkan sebagai mitra dalam semua  aspek yangb terkait dengan PTKIN.  Bargaining tersebut diperlukan, utamanya  dalam hal regulasi yang menyangkut PTKIN, agar PTKIN tidak menjadi obyek, melainkan juga sekaligus sebagai subyek.

Karena itu pembicaraan  mengenai berbagai isu penting tersebut tidak boleh dikalahkan oleh pembicaraan  guyonan yang selama ini dilakuka banyak pimpinan PTKIN.  Kita terkadang memang harus serius dan terkadang pulan  santai, tetapi jangan terlena dengan kesantaian, karena tugas kita untuk membenahi berbagai kekurangan di PTKIN kita masih cukup banyak dan memerlukan  sentuhan pemikiran kita.

Satu hal yang segera harus dipecahkan ialah tentang  universitas Islam nusantara tersebut, agar para pimpinan tidak berkutat membicarakan tentang sesuatu yang belum jelas.  Setidaknya dalam minggu ini para pimpinan PTKIN harus  bertemu dengan pihak kementerian untuk memperjelas masalah ini dan sekaligus kalau  benar adanya rencana tersebut, dicarikan solusi terbaik. Yang terpenting ialah kepentingan PTKIN  secara umum tidak diabaikan atau tidak dirugikan.

Sudah barang pasti dalam memperjelas  hal tersebut, juga dibawa pula beberapa persoalan lainnya, agar  sekaligus dapat  diupayakan titik temu dan mempermudah perjalanan PTKIN dalam membesarkan dan memajukan serta meningkatkan kualitasnya.  Kita tetap optimis dan berharap bahwa semua masalah kalau dicarikan titik temunya  dalam sebuah  pertemuan yang khusus untuk itu, maka akan mudah dicarikan jalan keluarnya  serta tidak melukai pihak pihak lain, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.