BERSIKAP MENYESUAIKAN

Barangkali  ada sebagian orang yang masih menganggap sama antara menyesuaikan diri dengan sikap tidak jelas alias plin plan, tetapi sesungguhnya keduanya  sangat berbeda. Karena itu perlu dipertegas mengenai istilah istilah tersebut, agar dapat dibedakan secara jelas.  Sikap menyesuaikan diri ialah sikap positif dan cenderung dapat menerima perbedaan serta  toleransi terhadap setiap perbedaan yang ada.  Hanya saja  penyesuaian diri tersebut bukan berarti kemudian mengekor dan mengikuti apapun yang ada tanpa  seleksi sama sekali.

Penyesuaian diri  hanyalah untuk  menghindari bentrok atau ketegangan yang mungkin timbul, manakala perbedaan terus dipelihara.  Demikian juga penyesuaian diri dilakukan untuk kebersamaan dan keselamatan bersama.  Sebagai contoh jikalau  seseorang terbiasa berada dalam  sebuah komunitas dengan adat tertentu, maka jika dia kemudian memasuki komunitas lain dengan adat dan kebiasaan yang lain, orang tersebut tentu boleh beradabtasi dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang ada.  Tentu dengan catatan  kebiasaan tersebut tidak melanggar aturan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan keyakinannya.

Kalau seseorang biasa  berjalan di sebelah kiri, baik  ketika berjalan kaki maupun saat mengendarai kendaraan di Indonesia, maka saat  seseorang tersebut berada di negera yang  ketika berjalan  berada di sebelah kanan, maka penyesuaian diri menjadi mutlak, untuk keselamatan bersama.  Demikian juga saat seseorang terbiasa dengan  sesuatu yang tidak diatur secara rigit, dan kemudian  berada di tempat yang  melakukan aturan secara rigit dan rinci, maka  orang tersebut juga harus menyesuaikan diri dengan aturan tersebut.

Sedangkan  sikap plin plan itu sangat berbeda, yakni sifat yang selalu tidak konsisten, meskipun  masih tetap berada dalam sebuah wilayah.  Artinya sikap tidak konsisten tersebut ditunjukkannya pada saat menghadapi  orang yang berbeda, kepada seseorang dia bersikap lain dan kepada orang lain dia bersikap lain pula.  Jadi perubahan perilakunya buykan didasarkan atas aturan yang ada, melainkan jugstru disesuaikan dengan seleranya sendiri untuk kepentingannya sendiri pula.

Dengan perbedaan tersebut, dapat diketahui bahwa sikap penyesuaian diri itu merupakan sikap positif dan harus  dilakukan oleh siapapun, sementara sikap plin plan itu merupakan sifat negative yang seharusnya tidak dilakukan oleh orang yang kesatria.  Jika penyesuaian  tersebut tidak diindahkan, maka  dapat menyulitkannya,. Seperti kalau seseorang terbiasa  berada di tempat yang boleh sesukanya membuang sampah, maka jangan dipertahankan bilamana  sedang berrada di tempat yang ketat memberlakukan aturan buang sampah, karena hal tersebut akan dapat menyulitkannya.

Sementara  sebagai perbandingan kalau seseorang terbiasa dengan aturan makan dan minum  sesuai dengan keyakinan dan kebiasaan di tempatnya, lalu  dia berada di tempat yang  orang bebas makan dan minum,  termasuk yang diharamkan oleh keyakinan dan agamanya, maka  dia harus tetap konsisten, karena justru kalau dia  berani melakukan sebagaimana dilakukan oleh orang lain, maka dia akan mendapatkan kesulitan.  Meniru kebiasaan orang lain yang tidak berpengaruh  pada aspek hokum, justru dapat dikatakan sebagai inkonsisten, dan sama sekali berlainan dengan penyesuaian.

Sementara itu ketika  sebuah  lembaga dimana orang berada dan  menjadi bagian tidak terpisahkan dengan lembaga tersebut, kemudian lembaga tersebut  berubah sesuai dengan proses dan aturan yang berlaku, maka  seharusnya semua orang  yang menjadi bagian  dari lembaga tersebut haruslah menyesuaikan diri dengan lembaga baru tersebut.  Penyesuaian diri tersebut dimaksudkan agar semua yang terklait dengan kelembagaan akan dapat diperankan dengan baik dan tidak  ada kendala yang berarti.

Kita dapat membayangkan kalau sebuah lembaga sudah berubah menjadis esuatu yang lain, tetapi para anggotanya masih belum mau menyesuaikan diri dengan kondisi lembaga tersebut, sudah pasti akan  ditemukan kejanggalan dan kesulitan.  Sebagai contoh kongkritnya ialah lembaga kita, UIN Walisongo yang meskipun tidak banyak berbeda  dengan sebelumnya saat masih menjadi IAIN, tetapi pasti ada perbedaannya, yang seluruh warganya  menyesuaikan diri dengan kondisi perubahan tersebut,  sebab kalau tidak, akan dapat menyebabkan terjadinya kesulitan tersendiri, dikemudian hari.

Kita tahu bahwa dengan perubahan status tersebut mengakibatkan banyak perubahan yang terjadi, seperti  tata kelola,  administrasi,  dan juga benyak aspek lainnya, seperti lambing,  mars, hymned an lainnya.  Nah, agar semuanya berjalan mulus dan tidak mengalami kendala yang berarti, maka  semua  warga kampus memang harus menyesuaikan diri dengan lembaga tersebut dalam semua aspeknya.  Bahkan bukan semata mata perubahan statusnya, tetapi juga perubahan kebijakan yang diterapkan.

Dalam hal kedisiplinan masuk kerja dan  kinerja, tentu semua warga kampus harus menyesuaikan diri dengan aturan baru yang ditetapkan.  Semua itu  ditujukan untuk meningkatkan kinerja dan capaiannya.  Semua pegawai harus melakukan  presensi melalui  finger print, dan  disesuaikan  dengan peraturan perundangan yang berlaku.  Sedfangkan bagi dosen, misalnya, mereka harus mengisi jurnal perkuliahan dengan on line serta mengisi rencana BKD serta pada akhirnya nanti melaporkannya secara on line pula.

Nah, kalau aturan main yang sudah dfitetapkan dan ditata sedemikian rupa tidak diikuti, maka akan terjadi  benturan antara  diri dan ketentuan yang hanya  akan merugikan diri sendiri.  Untuk itu sekali lagi penyesuaian diri terhadap semua ketentuan yang berlaku haruslah dilakukan dengan kesadaran yang tinggi, dan bukan dengan cara keterpaksaan.  Memang secara efek tidak berbeda saat dilakukan pengecekan, namun  kalau semua dilakukan dengan keterpaksaan, tentu akan sangat berat dan  tentu tidak akan mendapatkan pahala.

Kalau saat ini  semua pegawai harus membuat rencana kerja serta target yang akan dicapai,  sedangkan  dosen juga harus membuat RBKD dan  capaian kinerja, maka semua itu dimaksudkan untuk  memperbaiki lembaga kita, terutama dari aspek administrasi yang  menjadi sangat penting bagi pertanggung jawaban, baik kepada Negara  maupun kepada pihak pihak lain yang terkait.  Perbaiikan yang dimaksudkan tersebut ialah dalam upaya  menjadikan lembaga kita sebagai lembaga terbaik dalam bidangnya.

Mungkin masih ada pihak yang belum mengetahui pentingnya perbaikan tersebut, karena masih  berada dalam alam yang tidak tertantang untuk maju.  Boleh jadi ada sebagian yang menganggap bahwa seperti adanya saja  sudah  bagus, kenapa harus dilakukan perubahan?.  Tentu kita menyadario bahwa diantara kita memang ada yang  ingin  bersantai atau sekedar menjalankan tugas rutin sebagaimana hari hari biasa, tetapi kita juga harus menyadari bahwa ada sebagian yang menginginkan terus maju dan tidak boleh berhenti.

Nah, kita sudah berkomitmen bahwa  sebagai insan akademik, kita tidak boleh berhenti dan puas dengan apa yang  telah kita capai, tetapi harus terus melakukan inovasi dan mengembangkan lembaga  sehingga dapat bersiang dengan lembaga sejenis yang lain yang sudah lebih dahulu maju.  Karena itu kita memang tidak boleh lelah untuk terus melakukan pembenahan dan “memitati” semua aspek untuk mendapatkan  sesuatu yang kurang dan kemudian diupayakan  perbaikannya.

Memang kalau kita tidak mau mencermati aspek di lembaga kita, mungkin kita akan memandang bahwa semua sudah berjalan dengan bagus, tetapi jika kia mencermatinya, ternyata masih banyak kekurangan yang harus diusahakan perbaikannya, termasuk dalam bidang yang menjadi core bisnis kita.   Untuk itu kita berharap semua  keluarga besar UIN Walisongo dapat menyesuaikan diri dengan kebijakan yang sudah ditetapkan bersama, demi kemajuna dan kejayaan kita bersama.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.