KEMBALI KEPADA ALLAH SWT.

Sampai saat ini masih banyak pihak yang terus menyuarakan dan menyerang atau mengkritik pihak lain, hanya didasarkan atas pemahaman yang belum tentu benar. Bahkan serangan tersebut tidak sekedar menyalahkan, melainkan sudah memberikan justifikasi benar di dalam dirinya dan salah di luar dirinya.  Amat disayangkan bahwa yang melakukan hal tersebut ternyata mereka yang  berilmu dan bukan mereka yang  bodoh.  Hanya saja sikap dan perbuatan mereka justru  memberikan kesan bahwa mereka itu membodohi masyarakat.

Kalau ada persoalan yang terkait dengan tindakan melawan hokum, atau sekedar dituduhkan melakukan perbuatan melawan hokum, maka seyogyanya diselesaikan di pengadilan, dan bukan  dengan melakukan hal hal lain yang justru akan memperkeruh keadaan, seperti  membakar semangat masyarakat bahwa apa yang dilakukan oleh pihak tertentu tersebut adalah kriminalisasi atau melemahkan  lembaga dan lainnya.  Kondisi masyarakat kita  sesungguhnya akan dapat tenang bilamana para tokohnya bijak dalam menyikapi setiap persoalan, dan bukan malah memanfaatkan  public yang tidak paham untuk mendukungnya.

Berbagai pernyataan yang menyudutkan pihak lain, seharusnya diakhiri untuk menjernihkan persoalan dan menentangkan masyarakat.  Kata kata yang sangat menusuk yang dilontarkan oleh berbagai pihak kepada pihak lain sungguh merupakan perbuatan yang  sama sekali tidak menyelesaikan persoalan, tetapi sebaliknya  justru akan menambah runyam persoalan.  Kita harus berani menghentikan semua  pernyataan yang seolah paling benar, padahal kebenaran itu harus dibuktikan di siding pengadilan atau diforum yang memang diperuntukkan itu itu.

Nah, untuk  memberikan  dasar dan tuntunan kepada semua pihak dalam meredam berbagai komentar dan pernyataan yang justru menambah persoalan tersebut, kiranya  patut untuk direnungkan kembali  firman Tuhan, dan sekaligus  merenungkannya  sehingga kita menjadi sadar bahwa kita ini hanyalah  makhluk yang lemah dan sangat tergantung kepada Tuhan.  Artinya  dengan kembali dan merenungkan firman Tuhan tersebut diharapkan hati dan pikiran kita tersentuh dan kemudian menjadi sadar tentang kondisi kita yang sesungguhnya.

Salah satu  firman Tuhan yang terkait dengan hal tersebut misalnya ayat yang tertera dalam surat al-Najm, yaitu ayat yang ke 43-48 yang  maksudanya kurang lebih ialah: Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang  itu tertawa dan  menangis.  Dialah yang mematikan dan juga yang menghidupkan.  Dan Dialah yang sesungguhnya menjadikan berpasang pasangan pria dan wanita.  Dari air seperma apabila dipancarkan.  Dan bahwa Dialah yang menetapkan kejadian yang lain, yakni kebangkita setelah mati.  Dan Dia pulalah yang memberikan kekayaan dan kecukupan.

Ayat tersebut sungguh memberikan peringatan kepada kita bahwa  manusia itu hanyalah makhluk yang nasibnya ditentukan oleh Tuhan, meskipun  hal tersebut harus melalui perantaraan merka sendiri.  Artinya yang menjadikan seseorang senang  ataupun sedih itu hakekatnya ialah Tuhan, walaupun tentu  lantaran perbuatan manusia itu sendiri.  Demikian juga yang membuat  manusia itu tertawa atau sedih dan menangis, yang memberikan kehidupan dan juga memataikan dan lainnya.  Semuanya tergantung kepada keputusan Allah swt.

Kita diingatkan oleh Tuhan bahwa  kejadian kita  itu hanya dari  setetes  air mania tau seperma yang kita anggap hina dan tidak mempunyai arti apa apa, lalu oleh Tuhan dijadikan sebagai manusia melalui proses sebagaimana digambarkan oleh  al-Quran sendiri, yakni  mulai dari  seperma lalu menjadi alaqah atau sesuatu yang melekat, kemudian menjadi mudlghah atau  daging lalu dijadikannya tulang dan kemudian dibalut dengan  daging, dan setelah itu dijadikan sebagai makhluk yang lain sama sekali, yakni manusia dengan segala kelengkapan anggota tubuh serta diberiikan nyawa atau ruh.

Lalu setelah lahir dan keluar dari perut seorang ibu, manusia kecil tersebut tidak dapat berbuat apa apan, terkecuali  diberikan bantuan oleh pihak lain, baik untuk makan dan minum, bergerak dan lainnya.  Nah, dengan  kasih dan sayang orang di sekitarnyalah kemudian  bayi tersebut akhirnya menjadi  besar dan dewasa.  Apakah ketika  sudah menjadi dewasa dan  dapat melakukan sesuatu dengan sendirinya, kemudian  dapat berbuat seenaknya, dan seolah sama sekali tidak ada peran dan keterlibatan Tuhan  di dalamnya.

Kita mesti terus mengingat dan kembali kepada Tuhan bahwa semua hal yang ada dan terjadi itu adalah karena keputusan Tuhan, meskipun tentu saja  melalui  perjalanan dan peran kehendak manusia itu sendiri.  Hanya saja  dengan tetap meyakini bahwa semua itu  adalah keputusan Tuhan, kita akan tetap terkendali  dan tetap dapat menghormati serta menghargai pihak lain sesame manusia.  Sebab  apa yang kita  anggap benar belum tentu itu merupakan kebenaran yang sesungguhnya, karena ternyata pihak lain mempunyai  pemahaman yang sama bahwa apa yang dilakukannya adalah benar.

Tentu kalau kemudian dipikir secara jernih, tidak akan mungkin kebenaran itu bertentangan antara satu dengan lainnya.  Pasti ada kebenaran yang hakiki terhadap sebuah hal.  Untuk iotulah kita sangat perlu menyadari kedudukan kita sebagai manusia yang sangat terbatas dan  sekali lagi  kita perlu memperhatikan sikap dan pendapat pihak lain, serta tetap menghargai tindakan yang dilakukan oleh pihak lain.  Tentu  untuk memperjelas  status perkara tertentu kita harus  melakukannya sesuai dengan aturan main yang ada dan bukan dengan mencarinya di jalanan.

Ayat tersebut di atas juga masih memberikan pengertian kepada kita bahwa kehidupan di dunia ini bukan  terakhir kalinya, karena  setelah kematian kita nanti, Tuhan masih akan membangkitkan kita di akhirat dan masing masing kita akan mempertanggung jawabkan perbuatan yang kita lakukan saat di dunia.  Karena itu seharusnya kita tidak perlu menyembunyikan apapun termasuk niat hanya untuk keuntungan kita sementara saja.  Toh pada saatnya nanti keadilan yang sesungguhnya akan kita dapatkan di akhirat sana.

Intinya kita harus tetap yakin bahwa hanya Allah lah yang akan dapat menentukan segala sesuatu,termasuk memberikan kemenangan atau kekalahan, kecukupan dan kekurangan, dan semua hal yang terkait dengan kehidupan kita umat manusia.  Artinya kalaupun kita berusaha dengan  ketidak jujuran dan  mungkin dapat mempengaruhi massa untuk mendukung kepentingan kita, tetapi kalau Tuhan tidak berkenan, maka semua itu tidak akan mampu menguntungkan kita atau memenangkan sebuah perkara.

Untuk itu usaha yang harus kita lakukan ialah   usaha yang benar dan tidak menyimpang dari koridor aturan main yang telah digariskan.  Biarlah orang lain berbuat atau berkomentar, tetapi kita harus yakin dengan kebenaran yang sangat jelas dan tidak perlu penafsiran lagi.  Mungkin memang benar  behwa kebenaran yang ada di dunia ini hanyalah relative, tetapi ketika berada dan melalui jalan yang sesuai aturan main, tentu itulah kebenaran, dan  selain itu adalah kesalahan. Dengan begitu kalau ada persoalan hokum, maka harus diselesaikan di pengadilan dan bukan di jalanan atau melalui cara lain semisal mempengaruhi massa untuk mendesakkan keinginan kepada  lembaga resmi.

Kita tentu mengajak kepada semua komponan masyarakat agar sekali lagi kita mau kembali kepada Tuhan dengan merenungkan ayat ayat-Nya  seprti tersebut di atas dan juga ayat lainnya, tetapi  setidaknya dengan memahami dan mengamalkan ayat tersebut kita dapat lebih tenang dan  tidak memaksakan kehendak kita serta mengumbar emosi, karena sesungguhnya semua yang memutuskan hanyalah Allah swt, dan bukan yang lain.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.