MENERIMA DAN BERSYUKUR

Keinginan orang tentu tidak sama, meskipun  secara umum semua orang ingin  mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan, utamanya  dalam hal keduniaan.  Artinya secara umum semua manusia membutuhkan harta yang banyak sehingga akan mampu melakukan sesuatu yang diinginkannya, meskipun  harta tidak menjamin bahwa seluruh keinginannya dapat dipenuhi.  Atas dasar itu maka semua manusia  terus berusaha mendapatkan harta melalui berbagai cara yang dapat ditempuh, termasuk mereka yang menempuhnya melalui jalan salah dan dilarang.

Namun kita sekaligus juga mengetahui bahwa tidak semua keinginan untuk mendapatkan harta tersebut dapat diraih dan kalupun dapat diraihnya, tetapi sering kali juga tidak sesuai dengan keinginannya.  Akibatnya ada sebagian diantara umat manusia yang kemudian  membanting setir beralih  dalam usahanya mendapatkan harta tersebut, dan begitu seterusnya.  Jarang sekali diantara mereka yang tidak dapat memenuihi keinginanya tersebut  beristiqamah dan terus  berusaha dalam bidang yang  dugeluti tersebut.

Bahkan tidak jarang mereka yang tidak puas dengan penghasilan yang didapatkannya tersebut kemudian menyalahkan pihak lain, dan akibat selanjutnya merka kemudian  tidak suka bilamana orang lain sukses, sementara dirinya masih tetap susah.  Sikpa tersebut sesungguhnya sangat dilarang oleh ajaran agama kita, yakni iri, atau sikap  tidak senang ketika melihat orang lain senang, dan sebaliknya  akan menjadi puas ketika orang lain kesusahan.  Sikap seperti itulah sesungguhnya yang membuat kita tidak akan pernah puas dan tenang dengan apapun yang diberikan oleh Tuhan.

Untuk  menjauhkan diri kita dari sikap dan  perilaku yang membahayakan diri kita tersebut,  kiranya patut kita kembali kepada salah satu ayat yang ada dalam alquran yang merupakan periongatan  Tuhan kepada kita semua, yakni  pada surat al-Nisa’, ayat yang ke 32, yang  secara umum maksudnya  adalah: Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih daripada sebagian yang lain.  Bagi laki laki ada bagian atas apa yang diusahakannya, dan bagi perempuan juga ada bagian atas apa  yang diusahakannya.  Dan  mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ayat tersebut merupakan  peringatan Tuhan kepada kita bahwa  seharusnya kita dapat menikmati hidup ini dengan enak, jikalau kita tidak memikirkan tentang hal yang terkait  dengan apapun yang dipunyai orang lain.  Justru sebaliknya kita akan menjadi puas dan tenang jikalau kita mau membagi apapun yang kita punyai  dengan orang lain, dan bukan mengharapkan sesuatu dari mereka.  Ketika kita menganggap bahwa apa yang telah diberikan oleh Tuhan ke[ada kita  sebagai pemberian yang kita anggap cukup untuk kebutuhan kita, maka akan sangat terpuji bilamana kita juga menyisihkan sedikit untuk dibagi dengan orang lain.

Kita berusaha  menikmati dan puas terhadap karunia yang Allah berikan kepada kita, meskipun bukan berarti kemudian tidak lagi mau berusaha, melainkan  apapun yang telah diberikan Tuhan melalui usaha kita, kemudian kita berkhusnudzdzan bahwa itulah karunia yang terbaik bagi kita, maka itu merupakan awal dari ketulusan kita dan awal dari  jaunya kita dari sifat iri tersebut.  Berbarengan itu kita  juga berharap bahwa  harta atau rizki yang diberikan kepada orang lain juga akan memberikan manfaat yang besar bagi keluarga mereka dan sekaligus menjadi salah satu syarat bagi terbentuknya masyarakat yang  dipenuhi rahmat oleh Tuhan.

Kita juga harus menyadari bahwa rizki itu sudah ditetapkan oleh Tuhan kepada masing masing kita, meskipun kita tidak mengetahui sebelumnya, tetapi yakinlah bahwa setelah semua terjadi, maka itulah ketetapan Tuhan yang harus kita terima dengan keikhlasan penuh.  Artinya kalaupun kita  berusaha dengan  optimal, tetapi harta yang kita dapatkan ternyata   lebih sedikit ketimbang yang didapatkan oleh orang lain yang tampak berusaha dengan santai, maka itulah memang rizki yang menjadi  bagian kita.  Pasti di sana ada rahasia yang diberikan oleh Tuhan untuk kemaslahatan kita.

Karena itu khusnudzdzan  merupakan jalan terbaik bagi kita untuk menyikapi pemberian rizki tersebut.  Tuhan sendiri telah memperingatkan kepada kita agar kita jangan iri atas karunia yang diberikan kepada orang lain, karena masing masing kita, baik itu laki laki  maupun perempuan sudah diberikan ketentuan masing masing; sebagiannya ada yang  melebihi sebagian yang lain dan itu bukan persoalan yang harus diperdebatkan.  Tuhan tentu lebih mengetahui hal tersebut dan kita hanya  dapat berusaha mendapatkan hikmah yang ada di dalamnya saja.

Justru yang terpenting bagi kita adalah bagaimana kita terus memohon kepada Allah swt untuk diberikan karunia yang disediakan oleh-Nya melalui uasaha yang terus kita jalankan, tanpa membandingkannya dengan  karunia yang diberikan kepada orang lain.  Manusia memang diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang tidak akan merasa puas dengan apapun yang telah diraih, tetapi dengan menyipaki  karunia Tuhan tersebut secara tulus dan sesuai dengan  anjuran Tuhan, tentu kita akan dapat mengendalikan diri dengan baik.

Faktor nerimo ing pandum dan ikhlas  menerima apapun pemberian Tuhan adalah  pengekang nafsu yang paling jitu sebagaimana dianajurkan oleh Tuhan dan juga Rasul Muhammad saw.  Selama orang terus  membiarkan nafsunya menelusuri sendi sendi kehidupan, maka orang tersebut akan semakin tidak terkendali dan tidak akan pernah merasa puas, meskipun karunia yang diberikan oleh Tuhan sudah di atas rata rata.  Hal tersebut disebabkan mereka akan tetap melihat kelebihan pihak lain sehingga mereka tidak akan pernah puas dan menerima dengan legowo.

Orang yang mempunyai sifat seperti itu tentu akan jauh dari kepuasan dan syukur, bahkan  sejatinya mereka tidak akan pernah dapat menikmati karunia Tuhan tersebut, karena justru yang ada dalam hati mereka ialah iri dan dengki dan terus haus harta.  Itulah  yang disebut sebagai orang orang yang menderita penyakit hati dan sangat sulit untuk disembuhkan.

Satu satunya  obat ialah kembali kepada  apa yang disampaikan oleh Tuhan yang salah satunya seperti yang termuat dalam ayat tersebut di atas.  Hanya saja  kalau tidak ada ketetapan dalam hati kita dan niat yang kuat, maka  untuk sekedar memulainya saja sangat sulit.  Artinya untuk menghilangkan pembandingan dengan melihat kebahagiaan orang lain itu merupakan  usaha yang sangat berat dan penuh dengan godaan.  Namun kalau kita  sudah berniat dan tekat yang prima serta terus mendekatkan diri kepada Tuhan, tentu seberat apapun godaan tersebut, pasti dapat kita lewati dan pada akhirnya kita akan mampu mengendalikan diri kita.

Tuhan sudah barang tentu Mengetahui apapun yang kita lakukan, apakah kita memang benar benar ikhlas dalam menerima  karunia dari-Nya ataukah kita hany berpura pura saja, sedangkan dalam hatinya masih tetap tidak puas karena membandingkan dengan orang lain.  Karena itu akan sangat bagus bagi kita bilamana kita tidak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain yang kebetulan sedang mendapatkan karunia yang banyak dari Tuhan.

Banyak  hal yang dapat kita jadikan sebagai wahana untuk mekp[raktekka hal tersebut, semisal ketika kita mendengar bahwa PNS di DKI  akan mendapatkan gaji yang wah, meskipun itu PNS golongan rendah, dan bila dibanding kita yang  lulusan doktor misalnya, tetapi tetap saja masih jauh dibawah mereka.  Demikian juga saat pegawai tenaga kependidikan kita mendapatkan tunjangan kinerja, sementara  kita yang dosen justru malah tidak.  Nah apakah dengan kenyataan tersebut kita dapat menerimanya dengan tulus dan justru bangga bahwa kesejahteraan para pegawai justru meningkat dan diharapkan kinerja mereka juga meningkat.  Mari kita buktikan bwersama.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.