MARI KEMBALI KEPADA PEDULI

Setelah beberapa hari terakhir ini kita disibukkan dengan persoalan terkait pergesekan antara KPK dengan polri,  sudah saatnya kita memikirkan kembali persoalan hakiki kiota, yakni bagaimana kita  hidup di dunia ini untuk mempersiapkan bekal di akhirat.  Sudah barang tentu kita tidak boleh mengarang sendiri, melainkan sudah ada pedoman yang sangat jelas dan mudah untuk dipraktekkan.  Hanya saja  seluruh konsentrasi kita harus difokuskan untuk benar benar mengabdikan diri kepada Tuhan dan tidak memikirkan kepentingan sesaat yang justru akan merugikan kita.

Teks suci alqurqn sesungguhnya sudah sangat banyak membrikan pedoman bagi kita untuk dapat  berperan dalam pengabdian tersebut, dan ditanggung pasti benar dan memberikanmanfaat bagi semua pihak.  Persoalannya ialah apakah kita mau mengkaji dan merenungkannya  dan setelah itu mau merealisasikannya dalam kehidupan kita atau tidak.  Selebihnya ketika kita mau mengamalkannya, pasti ada ketenangan dan kepuasan diri yang luar biasa, dan untuk hal tersebut kita harus yakin dan tidak sedikitpun  ada keraguan.

Kita dapat melihat salah satu ayat di dalam surat  al-Nisa’ misalnya, yakni pada ayat yang ke 36, yang memberikan  dasar dan pondasi kuat bagi kita dalam mengarungi kehidupan di dunia ini.  Secara lengkap ayat tersebut  maksudnya ialah:  Sembahlah Allah swt dan janganlah  mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.  Berbuat baiklah kepada kedua orang tua ibu an bapak, karib kerabat, anak anak yatim, orang orang miskin, tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, dan juga teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.  Sesungguhnya Allah swt tidak menyukai orang orang yang  sombong dan membangga banggakan diri.

Dasar pertama untuk mengarungi hidup di dunia ialah dengan pengakuan yang tulus bahwa Allahlah Tuhan yang wajib kita sembah, karena hanya Dial ah yang maha segalanya, maha Kuasa dan Menentukan apapun.  Tidak ada sesuatu apapun yang dapat membandingi-Nya apalagi mengalahkan-Nya.  Karena itu wajib bagi kita untuk mengakuinya sebagai Tuhan dan  haram bagi kita untuk menyekutukan-Nya dengan apapun.  Menganggap ada  kekuatan lain yang melabihi atau sekedar menandingi kekuatan-Nya adalah syirik yang tidak terampuni.  Begitu pula  pernyataan lainnya yang sejenis, karena hal tersebut dapat merendahkan keberadaan-Nya.

Dasar kedua setelah kita memurnikan tauhid kita kepada Tuhan, kita juga harus tunduk dan menaruh perhatian penuh kepada kedua orang tua kita, baik ibu maupun bapak.  Karena lantaran merekalah kita kemudian  dapat wujud, dank arena kasih dan sayang yang mereka berikan secara ikhlas pulalah, kita dapat tumbuh menjadi remaja dan  kemudian dewasa.  Karena  peran mereka pulalah kita dapat seperti saat ini, dank arena itu sangat tidak patut manakala kita kemudian berani  menyakiti atau berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan  mereka.

Berbuat baik kepada kedua orang tua, dapat kita lakukan pada saat mereka masih hidup di dunia dan juga tetap dapat kita lakukan setelah mereka wafat.  Artinya ketika mereka masih hidup kita dapat menyambangi mereka, memperlakukan mereka dengan penuh kasih dan sayang,  menghormati dan menempatkan mereka  pada tempat yang terhormat dan sekaligus mengusahakan apapun yang mereka inginkan, sesuai dengan kemampuan yang  kita punyai.  Jangan sekali kali kita mengecewakan mereka, apalagi harus melakukan hal hal yang sangat menyakitkan hati mereka.  Karena itu semua akan memberikan efek jelek bagi kita dan perjalanan hidup kita.

Terkadang banyak orang yang tidak begitu menyadari bahwa  kesulitan demi kesulitan yang dialaminya saat di dunia hanya disebabkan perkataan atau perbuatannya yang tidak  menyenangkan kedua orang tua.  Mungkin ada  hal yang masih mengganjal di hati dan atau pikiran kedua orang tua kita yang tidak kita sadarai dan kita lupa tidak pernah meminta maaf kepada keduanya secara khusus serta meminta doa restu, sehingga mereka dapat melepaskan ganjalan tersebut.  Tentu ada bentuk lainnya yang barangkali masih belum disadari dan tetap seperti itu hingga wafat.

Nah, dengan begitu Tuhan belum merelakan anak tersebut berbahagia dan menikmati kepuasa hidup.  Kita tahu betul bahwa ridlo Tuhan itu  terletak pada ridlonya orang tua dan murka Tuhan juga tergantung kepada murka kedua orang tua.  Untuk itu tidak ada salahnya kalau kita sering meminta  maaf kepada kedua orang tua kita yang masih hidup dan sekaligus meminta restu kepada mereka agar diberikan ketenangan dan kebahagiaan hidup serta diselamatkan di akhirat.

Demikian juga berbuat baik tersebut tidak terbatas kepada kedua ibu bapak, melainkan juga kepada para kerabat kita, karena merekalah orang terdekat setelah kedua orang tua.  Biasanya  kalau kita mempunyai persoalan, mereka juga yang kita datangi atau keluhi untuk meminta pertolongan, baik secara material maupun non material.  Karena itu sangat jauh dari sikap yang benar jukalau ada persaudaraan yang terputus hanya disebabkan oleh persoalan sepele, dan tentu hal seperti itu sangat dilarang dan disesalkan.

Namun demikian kita masih sering menjumpai persaudaraan yang terputus, dikarenakan masing masing saling mempertahankan pendapat tanpa mau mencari solusi terbaik.  Mereka tetap memegangi apa yang dipegangi, meskipun hal tersebut sangat  janggal dan tidak masuk akal.  Biasanya hal tersebut diakibatkan oleh gengsi merka yang terlalu tinggi untuk sekedar menyadari dan kemudian mengalah untuk sebuah kemenangan yang besar.  Akibat lebih lanjutnya ialah bahwa persaudaraan tersebut gagal dan hanya menggoreskan noda hitam dalam perjalanan hidup mereka.

Keberadaan anak anak yatim di tengah tengah kita juga harus menjadi pertimbangan  khusus kita, sebab mereka adalah  anak yang sudah tidak emmpunyai gondelan hidup, yakni  ayahnya yang seharusnyan menjadi tulang punggung terhadap dirinya, termasuk memikirkan tentang  hidupnya, pendidikannya, dan lainnya.  Karena itu menjadi kewajiban bagi kita yang mampu untuk menolong mereka agar kesedihan yang dideritanya tersebut dapat berkurang dengan sikap yang kita tunjukkan dan dengan bantuan yang kita berikan.

Orang orang miskin juga harus kita perlakukan dengan baik.  Jangan sampai Karen status kemiskinan mereka, kemudian kita meremehkannya dan bahkan dapat berbuat seenaknya.  Mereka memang sangat lemah, disebabkan status merka, tetapi kita harus tahu bahwa  mereka iotu juga manusia seperti kita yang mempunyai perasaan dan harga diri. Bahkan  sangat mungkin bahwa  mereka justru lebih bagus di mata Tuhan ketimbang diri kita, dan semua itu sangat mungkin.  Karena itu jangan sampai kita hanya mengandalkan harta, kemudian  memperlakukan orang lain tidak pada tempatnya.

Justru kita harus  dapat mengerti dan sekaligus menghormati mereka yang miskin, karena dengan kemiskinan yang disandang, mereka tetap dapat bersabar dan tetap  menjalankan  kewajiban mereka selaku hamba Tuhan.

Lebih jauh lagi kalau kita menginginkan sebuah kehidupan yang memberikan keberkahan, kita memang harus berbuat baik kepada semua orang, termasuk para tetangga, baik yang  dekat maupun yang jauh, teman sejawat kita yang  selalu menjadi penentram diri kita, dan juga merka yang  berada dalam perjalanan serta mereka yang menjadi budak, atau sekarang ya mereka yang bekerja pada kita.  Semua itu berhak untuk diperlakukan baik oleh kita.  Komunikasi yang kita lakukan kepada mereka juga harus tetap jalan dan tetap memperhatikan  aspek kesopanan dan keberpihakan kita kepada mereka.

Jangan sampai kita  kemudian berbuat sesuatu  yang dapat dianggap sebagai sikap sombong dan  membanggakan  harta yang kita miliki sementara di dunia ini saja.  Kita harus dapat menunjukkan sifat baik dan sopan  serta tetap smpatik dan menghargai pihak lain, apapun status mereka, karena hanya berlaklu seperti itulah kita akan mampu memperoleh kesejahteraan dan kepuasan hidup serta tidak akan berpotensi melahirkan musuh.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.