JANGAN PESIMIS DAN CURIGA

Pengangkatan pimpinan sementara KPK oleh preiden telah dilakukan dan mereka sudah mulai bekerja.  Ada tiga nama yang diangkat sebagai piomponan sementara KPK melengkapi sua yang sudah ada.  Ketiga nama tersebut ialah Johan Budi Sapto Prabowo, Taufiequrachman Ruki dan Indriyanto Seno Aji. akan tetapi ternyata tidak sdikit yang meragukan kinerja mereka, khususnya terkait dengan nama  terakhir, yang dianggap sebagai pihak yang pernah menjadi advokat cendana dan beberapa kasus korupsi.  Demikian juga  nama kedua  juga diragukan karena saat menjabat sebagai ketua KPK tidak  ada prestasi yang menonjol.

Masyarakat  mengkhawatirkan kinerja mereka kurang bagus dan tidak dapat memberantas korupsi itu hal yang wajar, asalkan tidak  kemudian  terus menerus mempermasalahkannya, karena  kita harus melaihat terlebih dahulu kinerja mereka ke depan.  Mungkin saja ada  pimpinan KPK yang pernah membela klien tentang kasus korupsi, tetapi memang tugas dari pengacara adalah membantu dan  membela klien yang menyewanya.  Namun integritas memang menjadi  nomor satu dalam hal pemberantasan korupsi.

Kita dapat mengerti kalau banyak pihak meragukan  mereka, akan tetapi  bisa saja ada perubahan dalam  sisi kinerja dan komitmen mereka untuk memberantas korupsi.  Karena itu  sikap bijak kita ialah  menunggu sambal terus memberikan support kepada mereka untuk mengungkap persoalan korupsi serta meneruskan proses yang sudah ada. Kita lebih menginginkan  KPK dapat memerangi korupsi dengan cara yang damai, yakni tidak usah dibesar besarkan, namun bukti nyatanya terjadi.  Kita tidak memerlukan koar koar atau pernyataan, melainkan kita menginginkan semua koru[si dapat diungkap dan diproses, meskipun tidak perlu dibesar besarkan.

Kita  harus mengapresiasi  apa yang telah diputuskan oleh presiden yang menurut saya cukup berani untuk mengambil sikap dan memutuskan.  Kita semua tahu bahwa presiden sudah  banyak ditekan oleh opini publik dan juga oleh pihak pihak tertentu, seperti pihak partai politik, baik pendukung maupun pihak sebelah, kalangan DPR dan juga  p[ihak lainnya, agar segera melantik komjen BG pasda saat itu.  Di lain pihak presiden juga sekaligus didesak oleh rakyat untuk membatalkan  pelantikan.  Bahkan desakan tersebut banyak yang disertai ancaman dan sejenisnya.

Dan pada saat yang tepat presiden kemudian telah mengambil keputusan yang dianggap paling beresiko kecil, yakni mengusulkan calon kapolri baru, dan sekaligus membatalkan pelantikan komjen BG, meskipun dia memenangkan praperadilan.  Keputusan tersebut tentu melegakan sebagian besar masyarakat, karena bagaimanapun juga kalau presiden tetap melantik BG, akan terjadi  kekacauan yang cukup panjang dan melelahkan.

Keputusan yang telah diambil oleh presiden merupakn win win solution untuk mengakhiri perseteruan antara KPK dengan polri.  Bagaimanapun  kita hartus mengakui bahwa pangkal persoalan tersebut ialah  sejak ditetapkannya BG sebagai tersangka oleh KPK dengan cara yang  dianggap tidak etis dan tidak ada koordinasi.  Nah, dengan tidak dilantiknya BG dan sekaligus diberhentikannya sementara dua pimpinan KPK yang sudah dijadikan terdangka oleh pihak polri, maka diharapkan tidak akan terjadi perang lanjutan dan  semuanya dapat dihentikan.

Pada saat ini kita seharusnya  berpandangan ke depan dengan tetap terus mengawasi kinerja pimpinan KPK yang baru, apakah mereka dapat bekerja dengan baik dan menuntaskan persoalan korupsi di negeri ini, ataukah mereka  tiarap dengan  tidak berdaya melakukan apa apa.  Semuanya harus kita tunggu dalam waktu dekat.  Persoaan sebagian diantara mereka ada yang pernah membela perkara korupsi, sesungguhnya tidak terlalu masalah, asalkan setelah menjadi pimpinan KPK ada komitmen jelas dan tidak ada keberpihakan kepada pihak tertentu.

Khawatir memang boleh mengingat kerja KPK ke depan akan lebih berat dan diharapkan semua pimpinan harus satu kata dalam memberantas korupsi. Tetapi kekhawatiran tersebut cukuplah diungkapkan sekali saja dan tidak perlu terus menerus menyatakannya, yang hanya akan kontra produktif.  Kita dapat berharap kepeda mereka bahwa integritas dan komitmen mereka harus di tunjukkan dalam kenyataan dan bukan saja dalam pernyataan.

Kita akan dapat memantau dan sekaligus mengawasi, apakah mereka bersungguh sungguh dalam memberantas korupsi ataukah justru berkomplot dengan para korupstor.  Nah, kalau ternyaata mereka tidak mampu mengatasi korupsi dan takut dengan para koruptor, maka  mereka harus diberhentikan di tengah jalan dan kita meminta presiden untuk memperhentikan mereka sebagai pimpinan sementara  KPK.  Namun bialamana mereka menujmukkan kinerja yang bagus dalam memberantas korupsi, maka kita akan menunggunya sampai berakhir masa kepemimpinan mereka.

Presiden tentu sudah mendapatkan masukan dari berbagai pihak tentang  kapasitas mereka yang kemudian diangkat sebagai pimpinan sementara untuk tetap memberdayakan lembaga KPK.  Karena itu kita memang harus mempercayai mereka  dan tidak perlu  meragukannya, apalagi curiga bahwa mereka justru akan melemahkan lembaga KPK.

Beberapa waktu yang lalu pimpinan KPK yang lalu juga dianggap  masih tebang pilih dalam memberants korupsi, walaupun kemudian  tertutupi oleh sikap tegas dan  banyaknya pernyataan mereka di media.  Justru yang kita inginkan ialah  semua pimpinan KPK dapat bekerja secara professional dan tidak perlu mengumbarnya di media.  Waktulah yang akan membuktikan apakah mereka  bersungguh sungguh dalam menjalankan kinerja, ataukah tidak.  Sekali lagi kita wajib menunggu kinerja mereka  dalam beberapa waktu ke depan.

Keberadaan KPK sampai saat ini masih utuh dan sama sekali tidak berkurang, bahkan pimpinannya malah bertambah dari empat menjadi komplit lima orang. Meskipun  dua pimpinannya menjadi tersangka.  Kita harus realistis bahwa KPK itu merupakan lembaga anti korupsi dan bukan orangnya.  Orangnya dapat berganti beribu kali, tetapi lembaga KPK harus tetap ada dan berfungsi memberantas korupsi, karena itu kita juga harus dapat  berpandangan bahwa presiden  sudah memperkuat lembaga KPK dan bukannya memperlemahnya.

Kalaupun ada diantara pimpinannya yang dijadikan tersangka itu, semata mata disebabkan ada persoalan hokum yang menjerat mereka, dan bukan dalam arti melemahkan KPK.  Toh kalaupun semua pimpinan KPK menjadi tersangka, dan kemudian diberhentikan sementara, KPK tetap dapat berjalan dengan mengganti pimpinannya, sebagaimana yang saat ini dilakukan oleh presiden.  Jadi KPK tidak boleh bubar dan lemah, melainkan harus terus dikuatkan, baik dari sisi SDM nya maupun dari sisi perannya.

Justru kita sedang menunggu ketokohan dan keteladanan dari para pimpinan KPK yangdiberhentikan sementara, apakah mereka benar benar abdi hokum yang taat dan mengikuti prosedur hokum, ataukah merka justru menghindar dari proses hokum.  Persoalan ap[akah sangkaan kepada mereka nantinya terbukti atau tidak, itu menjadi urusan nanti, tetapi ketaatan mereka dalam menjalani proses hokum tentu akan menjadi pelajaran yang sangat berharga  bagi masyarakat di negeri ini.

Kalau mereka taat terhadap proses hokum yang  terjadi, meskipun nanti mereka harus menerima sanksi hokum, tentu masyarakat akan mencatat mereka sebagai pendekar hokum yang perlu diberi apresiasi tinggi, karena  mereka ternyata memang benar benar taat hokum.  Tetapi sebaliknya kalau mereka kemudian berusaha untuk menghindar dari proses hokum dengan mencari cari dalih, meskipu tuduhan tidak terbukti, tetapi masyarakat akan tetap mengecap mereka sebagai orang yang tidak taat hokum.

Pada akhirnya kita memang harus tetap  menunggu sepak terjang para pimpinan KPK yang telah diberikan amanat untuk memimpin KPK dalmupaya memberantas korupsi.  Namun harapan tersebut  memang  dipusatkan kepada kinerja mereka yang  sangat bagus dan komitmen yang tidak mengenal kepemntingan, terkecuali hanya penegakan hokum semata.  Untuk itu sangat diharapkan semua perkara korupsi yang  sudah diketahui oleh piblik dan belum diungkap sampai detik ini, nantinya akan dapat diangkat oleh pimpinan yang sementara ini . Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.