SELAMAT IMLEK

Mungkin tidak banyak yang mempermasalahkan pernyataan  ucapan selamat kepada para etnis China yang sedang merayakan  tahun baru Imlek kali ini, sebab dukungan untuk mempersoalkan tersebut lemah, tidak seeprti saat umat muslim  menyikapi perayaan natal bagi kaum kritiani.  Itulah kenapa saaya selalu mengatakan bahwa sesungguhnya substansi dari ucapan selamat kepada siapapun, hanyalah dalam  maksud menjaga kebersamaan dan kekawanan diantara warga bangsa, dan sama sekali tidak terkait dengan eprsoalan akidah.

Namun hal tersebut ternyata tidak mudah, karena masih banyak diantara  masyarakat kita yang sangat mudah tergoda dengan symbol symbol yang tidak substantive.  Bahkan terkadang  dengan symbol tersebut, seseorang sampai berani  melakukan hal hal yang tidak masuk akal.  Bukankah Tuhan, sebagai penguasa seluruh ala mini sudah menyatakan bahwa klaim kebenaran itu hanya ada pada-Nya dan bukan pada makhluk-Nya yang serba terbatas, tetapi anehnya sebagian makhluk tersebut justru seolah penentu segalanya, dan  seenaknya saja menjustifikasi tentang kebenaran dan kesesatan.

Kita  sebagai bangsa sudah sepakat bahwa  Negara kita mengakui semua  keyakinan yang dianut oleh warga bangsanya dan mereka harus saling menghormati serta tidak saling merendahkan.  Realisasi dari kesepakatan tersebut ialah semua  warga bangsa  ini haruslah dapat mengedepankan  rasa toleransi terhadap berbagai macam keyakinan yang tumbuh dan dianut oleh  warga bangsa dan tidak berusaha untuk menyudutkan atau membuat pernyataan atau perbuatan yang dapat mencederai kekompakan dan kebersamaan yang selama ini sudah terjalin.

Kita memang harus meyakini bahwa keyakinan kitalah yang paling benar, tetapi jangan kemudian kita boleh bersuaran bahwa keyakinan yang lain itu tidak benar dan sesat.  Biarlah Tuhan nanti yang akan menentukan keputusan dan pada saat kita masih di dunia ini sebaiknya kita tetap menjaga  kebersamaan dengan siapapun, tetapi tetap saja menjada keimanan kita  masing masing tanpa harus mengganggu keimanan  pihak lain.

Pernyataan bahwa keyakinannyalah yang paling  benar itu memang sebuah keharusan, karena dengan  keyakinan tersebut, seseorang akan  tetap konsisten dan istiqamah dalam memeluk dan menjalankan seluruh ajaran agama dan keyakinan tersebut, tetapi cukuip hanya sampai disitu dan tidak boleh diteruskan dengan pernyataan  selanjutnya, yakni bahwa dengan demikian keyakinan selainnya pasti salam dan sesat.  Untuk memutuskan salah dan sesat itu biar diputuskan oleh Tuhan dan kita tidak perlu menyatakannya di muka umum.

Berbagai perayaan umat beragama di Negara kita memang cukup banyak, baik itu yang terkait langsung dengan sebuah keyakinan agama maupun yang tidak secara langsung terkait dengan ajaran agama tertentu. Di Islam sendiri banyak peringatan yang biasa kita lakukan, seperti tahun baru Hijriyyah, mauled nabi Muhammad saw, Isra’ mi’raj nabi Muhammad saw,  Nuzulul Quran, Idul fithri, Idul Adlha dan lainnya.  Di keyakinan lain ada juga seeprti natal, kanaikan Isa al-masih,  Waisak, Nyepi, dan lainnya.  Nah, sudah barang tentu kita  harus tetap menjaga ukhuwah  wathaniyah atau persaudaraan   dalam kontek kenegaraan dengan semua unsur warga Negara yang hidup di negera kita.

Kita sesungguhnya menginginkan sebuah suasana yang nyaman, damai dan penuh dengan kekeluargaan diantara seluruh masyarakat, walaupun berbeda dalam keyakinan dan agama.  Biarlah masing masing kita  mantap dengan agama dan keyakinan yang selama ini sudah menjadi  pegangan.  Jangan sampai ada diantara kita yang mengusik ketenangan dengan  kata atau pernyataan yang membuat resah dan sejenisnya.  Kita  sudah sangat bermimipi dapat hidup dengan damai, penuh dengan saling menghormati dan memahami perbedaan.

Kalaupun pada masa yang lalu masih terdapat perbedaan yang sesekali muncul ke permukaan, tetapi ke depannya kita  akan berusaha dengan segala kemampuan yang kita miliki agar semua perbedaan dapat disimpan dalam hati, dan yang mengemuka ialah kebersamaan dan toleransi dalam semua aspek.  Pada saat  mereka  yang merayakan imlek, dipersilakan untuk merayakannya tanpa ada gangguan dari manapun dan siapapun.  Sementara bagi yang tidak merayakannya, boleh menonton dan sekaligus menikmati  beberapa atraksi atau sekedar balon dan  lampu yang beraneka macam.

Kita harus berpikiran positif bahwa perayaan tahun baru Imlek tersebut sekaligus juga dapt memberikan hiburan bagi kita yang tidak merayakannya. Kita tidfak boleh berpikiran negative dengan  memaksakan untuk menyepi dari hiruk pikuk imlek.  Kita boleh menyaksikan  perayaan yang dilakukan oleh mereka yang merayakannya, karena hal tersebut justru akan menambah pengetahuan bagi kita dan semakin mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan itu sudah pasti ada dan manusia  tidak bisa dipaksa hanya  berpegang kepada satu keyakinan  yang seragam.

Kalaupun  diantara kita yang tidak menyukai perayaan Imlek tersebut, cukuplah dirasakan di dalam hati dan  mungkin akan lebih bagus tidak usah keluar untuk menyaksikan berbagai kegiatan seputar perayaan imlek tersebut.  Hal tersebut dimaksudkan  supaya tidak terjadi peperangan dalam dirinya sendiri, antara ketidak setujuannya dengan realitas di lapangan yang memang terjadi perayaan imlek tersebut.  Sementara bagi mereka yang tidak terlalu terganggu dan masalah dengan berbagai kegiatan imlek, tersebut, dipersilakan untuk menikmatinya  dan dianggap saja sebagai hiburan gratis.

Mungkin di beberapa daerah, perayaan imlek tersebut dilaksanakan dengan berbagai kegiatan yang menyedot perhatian banyak manusia, tetapi bagi sebagian daerah lainnya cukup dilakukan dengan cara sederhana.  Sebagian daerah ada yang menggelar barongsae, beberapa ketrampiolan ala China, dan juga membagi bagi ang pao dan lainnya.  Nah, kalau kita sebagai  masyarakat yang kebetulan  menyaksikan hal tersebut, tentu akan dapat menyimpulkan beberapa hal yang dapat kita manfaatkan untuk pelajaran bagi kehidupan kita ke depan.

Pembagian ang pao tentu dapat diidentikkan dengan pemberian sedekah kepada pihak lain atau sekedar kenang kenqangan atau kado kepada pihak tertentu.  Nah,  pelajaran yang dapat kita simpulkan ialah bagaimana kita dapat mempraktekkan dan menjadikan bagi bagi rizki tersebut sebagai hal yang lumprah dan  bahkan menjadi sebuah kewajiban moral bagi kita yang kebetulan mempunyai rizki lebih.  Hal tersebut sesungguhnya sangat dianjurkan dalam Islam, dan mungkin juga di agama lainnya, karena  siapapun yang mendapatkan karunia lebih dari Tuhan, sudah selayaknya mau berbagi dengan mereka yang kurang beruntung dalam hidupnya.

Jadi kalau kita mau berpikiran positif, pasti ada jalan keluar dari eprsoalan yang menghimpit dan susah untuk dipecahkan.  Artinya bagi mereka yang tidak sepaham dengan  imlek tersebut, masih tetap dapat mengambil pelajaran dari perayaan yang dilakukan oleh mereka yang merayakannya tersebut, yakni  tentang pemberian  atau  sedekah kepada pihak lain atau membantu mereka yang  kurang beruntung dalam hal harta.

Namun kalau kita berpikiran negative dan selalu saja curiga serta tidak mau memahami apapun yang tidak menjadi ajaran agama yang dipeluk, tentu tidak akan terbuka pikiran untuk dapat menyikapinya dengan penuh toleransi dan bahkan akan semakin timbul perasaan benci jkepada semua yang tidak sepaham dengan dirinya.  Ini merupakan bahaya yang sewaktu waktu akan  dapat menjadikan kita sebagai fanatic buta terhadap  ajaran yang  kita anggap paling benar dan  sekaligus membenci dan memerangi semua ajaran yang tidak sejalan.

Kita berharap bahwa  perayaan tahun baru Imlek kali ini akan berjalan dengan damai dan masyarakat akan dapat mengambil manfaat darinya, baik manfaat secara langsung maupun yang tidak secara langsung.  Semoga Tuhan membukakan pintu pikiran dan hati mereka yang belum dapat menerimanya dengan  kesadaran dan toleran,  sehingga pada akhirnya  mereka akan dapat bersikap bijak dan dapat melihat secara jernih persoalan ini.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.