MEMBACA

Konon awal mula seseorang berkenalan dengan ilmu pengetahuan ialah dengan cara membaca, walaupun   membaca itu sendiri bukan  hanya berarti terkait dengan  rangkaianhuruf haruf yang membentuk kata dan kalimat sehingga dapat dimengerti, melainkan juga berarti mencermati kondisi dan keadaan segala sesuatu, sehingga aknmemberikan kesan dan arti.  Ketika  nabi Muhammad saw untuk pertama kalinya menerima wahyu dari Allah melalui malaikat Jibril, juga dengan cara disuruh membaca. Tentu semua orang yang mencari ilmu pengetahuan juga melalui proses membaca, sehingga mereka dapat mengerti dan mengetahui sesuatu.

Kalau kemudian  ada sebagian diantara umat manusia tidak dapat membaca, disebabkan buta atau kabur pandangannya, maka saat ini sudah disediakan huruf yang khusus disediakan bagi mereka yang tidak dapat melihat, yakni dengan huruf braille.  Lantas bagaimana dengan mereka yang hidup di zaman dahulu, apakah mereka juga dapat membaca, sehingga mereka  dapat memperoleh pengalaman dan pengetahuan yang dibutuhkan?.  Jawabannya ialah dapat, yakni melalui bantuan orang lain seeprti  mendengar bacaan orang lain, atau mendengarkan suara apapun yang dapat disimpulkan sebagai sebuah pengetahuan.

Tuhan tentu tidak kurang apapun dalam memberikan ilmu kepada para hamba-Nya, meskipun para hamba tersebut ada yang kurang memenuhi syarat normatif, seperti bisu, tuli,  buta dan lainnya.  Buktinya Tuhan telah memberikan kepada sebagian diantara mereka yang cacat tersebut,  berbagai ilmu dan ketrampilan yang tidak kalah jka dibandingkan dengan yang dimilki oleh mereka yang sempurna  anggota tubuhnya.  Karena itu sangat tidak terpuji, jikalau manusia yang diberikan kesempurnaan fisik, kemudian tidak mau memanfaatkannya untuk memperoleh kerunia Tuhan.

Bagi kita yang saat ini berada di lingkungan dunia pendidikan, baik di tingkat dasar, menengah maupun tinggi, seharusnya selalu mensyukuri nikmat keutuhan anggota badan tersebut dengan menggunakannya  bagi kepentingan peningkatan kualitas pendidikan, baik bagi diri sendiri maupun bagi pihak lain.  Artinya, kalau kita kebetulan sebagai pendidik, tentu  kita harus terus erusaha meningkatkan kualitas diri melalui membaca, dan kemudian hasilnya disamping untuk diri sendiri, juga sekaligus diperuntukkan bagi anak didik yang menjadi tanggung jawab kita.

Kita harus yakni bahwa  bilamana kita  meningkat kualitas diri, baik dalam hal materi pelajaran atau perkuliahan  maupun dalam  hal metode pembelajaran, kita akan mendapatkan kemudahan dalam berbagai hal.  Bukan saja dalam menjalankan kewajiban  menjadi pendidik, melainkan juga dalam mengarungi hidup dan memerankan diri sebagai bagian dari anggota masyarakat.  Sebaliknya, bilamana kita sudah puas dengan apa yang kita miliki dan tidak mau lagi meningkatkan pengetahuan, tentu kita akan menemukan berbagai kesulitan, aik dalam menjalankan profesi maupun dalam hidup di tengah tengah masyarakat.

Membaca adalah sebuah jalan yang sangat jelas untuk memperoleh kesuksesan, baik dalam karior maupun dalam hidup.  Hanya saja  kebanyakan manusia tidak mau melakukannya, dan hanya puas dengan sedikit pengetahuan yang telah digapainya.  Namun demikian  bukan berarti semua manusia  mempunyai kecenderungan seperti itu, karena  masih banyak diantara mereka yang terus membaca dan berusaha untuk meningkatkan  apapun yang dimiliki sehingga menjadi  lebih banyak dan menjadi investasi baginya.

Terkadang saya menjadi  sedikit iri ketika melihat banyak diantara  bangsa Barat secara umum, terbiasa membaca, khususnya buku, baik saat bepergian maupun saat erada d kampus.  Artinya  pada saat mereka berada di kendaraan, pesawat dan di manapaun, selalu saja mereka membawa buku, sehingga pada saat ada kesempatan pasti mereka membukanya,  sehingga tidak akan pernah mereka mengkhayal dan melakukan hal hal yang tidak berguna.

Sementara  ketika kita menyaksikan  anak anak di negeri kita yang lebih suka berhura hura  dan tidak memanfaatkan waktu dengan baik, kita menjadi semakin merasa tidak nyaman.  Artinya kita lebih banyak menyaksikan anak anak kita  bergurau atau bercengkerama  atau bahkan melakukan hal hal tidak bagus pada saat mereka berkumpul.  Kita juga sangat jarang menyaksikan mereka membaca di dalam us, kereta atau pesawat, misalnya.  Justru yang kkita lihat ialah mereka selalu bermain game melalui ponsel yang dipegangnya.

Karena itu saya berpendapat bahwa  sesungguhnya kondisi membaca tersebut dapat diciptakan dan dijadikan sebagai kebiasaan dan budaya di masyarakat.  Selama  hal tersebut dibiarkan saja dan tidak ada gerakan memaca diantara kita, maka  generasi kita akan semakin terjauhkan dari membaca tersebut.  Sebaliknya jikalau kita mau mempelopori  membaca bagi masyarakat secara terus menerus dan tidak  menerah terhadap berbagai rintangan, tentu pada saatnya kita akan dapat menyaksikan kebiasaan membaca tersebut ada di generasi kita.

Pertanyaannya ialah dari mana kita harus memulainya? Apakah harus ada kesepakatan terlebih dahulu diantara semua komponen bangsa, khsusnya  mereka yang berada di lingkungan pendidikan, barru kemudian diwujudkan secara bersama? Atau mungkin harus ada instruksi presiden melalui menteri yang mengurusi pendidikan untuk melakukan hal tersebut? Atau bagaimana?.  Sudah barang pasti kalau kita masih harus menunggu dari siapapun, maka  keinginan untuk menciptakan suasana membaca di kalangan masyarakat kita, tidak akan dapat terwujud.

Kita memang harus memulainya sendiri, ibdak binafsik, mulailah dari diri sendiri untuk menjadi teladan dalam membaca.  Kita tidak boleh malu atau merasa risih dengan siaiapun saat kkita membaca dalam  kondisi apapun.  Mari kita selalu membawa buku, meskipun kecil dalam setiaplangkah kita.  Jangan sampai kita lupa untuk menyelipkan buku tersebut dalam  saku atau tas yang akan kita bawa dalam bepergian atau ke kantor.  Mungkin  satu dua kali kita dapat lupa, namun kalau kita  fokus dan serius dalam hal ini, lama kelamaan kita pasti akan selalu ingat.

Nah, setelah kita  memulainya  dengan menjadikan diri kita sebagai teladan, kemudian baru kita dapat mengajak kepada pihak lain, khususnya bagi mereka yang berada di lingkungan dunia pendidikan, untuk juga memulainya.  Barangkali yang paling memungkinkan untuk kita ajak dan bahkan kita tugaskan ialah  para  peserta didik atau mahasiswa, karena merekalah yang memang harus mensukseskan membaca tersebut.  Kita dapat memberikan tugas kepada mereka untuk membaca   sebuah buku tertentu dalam waktu yang dibatasi.

Dengan memperoleh tugas yang harus dikerjakan dan  mengharuskan mereka membacanya,  tentu mereka akan membacanya juga, meskipun pada awalnya  mereka  terpaksa membaca dan bukan dengan keikhlasan dan  kesadaran diri.  Namun tidak mengapa, karena yang terpenting ialah bagaimana pada saatnya nanti mereka akan terbiasa membaca.  Kalau kebiasaan tersebut terus dilakukan, maka secara perlahan, pasti mereka akan menyadrinya dan  kemudian dapat memanfaatkannya sebagai usaha untuk  menambah pengetahuan yang mereka butuhkan.

Untuk itu kita  sangat berharap bahwa semua karunia yang  diberikan oleh Tuhan kepada kita berupa  kelengkapan anggota tubuh dengan fungsinya  yang sempurna, dapat kita manfaatkan secara maksimal untuk  menambah pengetahuan, sehingga kita  akan mampu menyikapi semua  pemberian Tuhan dengan bijak dan selalu berada dalam keridlaan-Nya.  Mari kita menggunakan indera kita untuk membaca semua   firman Tuhan, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis.  Dengan begitu kita berharap akan menjadi lebih bijak dan memperoleh manfaat dari semua alam di sekeliling kita. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.