SANTRI MENJADI MILYARDER

Semakin hari istilah selalu mengalami perubahan demikian cepat, bahkan sesuatu yang dahulu dianggap sebagai sesuatu yang sangat banyak pun saat ini sudah sangat jauh ketinggalan zaman.  Amil contoh, pada masa yang lalu, set6idaknya ketika saya kecil, maka kata seribu itu merupakan sebuah ungkapan yang sangat banyak, sehingga beberapa istilah yang memakai kata seribu dianggap laing hebat, seeprti ketika memberikan makna  pada gedung peninggalam Belanda di Semarang yang mempunyai pintu sangat banyak, dilambangkan dengan gedung lawang sewu.

Demikian juga  saat kita melintas di kerumunan banyak orang, maka sebagai tanda kita menghormati mereka dengan mengungkapkan dengan bahasa Jawa amit nuwun sewu.  Kita juga memberikan  nama kepada heran yang mempunyai kaki banyak dengan sebutan hewan kaki seribu dan  masih banyak lagi kata seriu yang digunakan untuk menyebutkan sesuatu yang sangat banyak.  Namun seiring dengan berjalannya waktu, kata seribu tersebut sudah dianggap ketingalan, meskipun beberapa istilah yang sudah mengakar di masyarakat tetap saja  dipertahankan.

Setelah kata seribu tersebut semakin dianggap kecil, kemudian  muncul istilah yang lebih hebat lagi, yakni sejuta.  Kata ini jauh lebhi banyak melambangkan  nilai yang lebih dibandingkan dengan seribu, karena secara hitungan kata sejuta itu kelipatan dari seribu itu sendiri, yakni seribu ribu.  Nah,  dengan munculnya kata sejuta tersebut, kemudian tidak pernah kita dengan kata yang disertakan dengan seribu terkecuali kata yang memang sudah mengakar di masyarakat, sedangkan yang baru, selalu dikaitkan dengan kata sejuta, misalnya dulu ada dai kondang almarhun Zainuddin MZ yang karena disukai umat dan  ketika berceramah selalau dihadiri oleh banyak umat, lalu dikatakan sebagai dai sejuta umat.

Demikian juga dengan mereka yang kaya dan dianggap mempunyai  harta yang sangat banyak, lalu disebutlah sebagai seorang jutawan.  Pendeknya semua  yang banyak  disebutlah sebagai sejuta  atau kata lainnya yang seakar dengannya sep4rti jutawan dan lainnya.  Namun sebagaiamna kta seribu, kata sejuta juga tidak bertahan lama, karena  setelah itu muncul pula kata yang melambangkan sesuatu yang lebih banyak, yakni milyar.  Karena itu mereka yang sangat kaya bukan lagi disebut sebagai jutawan, melainkan sebagai milyarder.

Saya tidak tahu kapan waktunya masyarakat mengubah istilah milyar tersebut dengan triliyun, karena  sampai saat ini seprtinya belum muncul istilah itu, meskipun secara nyata  sudah banyak orang yang mempunyai  kekayaan  berjumlah trilyunan.  Nah. Saya tidak bermaksud untuk menelusuri hal hal yang terkait dengan istilah tersebut, melainkan justru ingin  menyampaikan bahwa  mereka yang selama ini tidak pernah diperhitungkan, dan hanya  disebut bilamana perlu saja, yakni santri, ternyata berpeluang juga untuk menjadi milyarder,

Kata santri biasanya  dipahami sebagai orang yang jorok dan berada di pesantren tradisional serta kehidupannya sangat sederhana bahkan cenderung sangat sederhana.  Karena itu kemudian disimpulkan bahwa santri itu identik dengan kekumuhan, tradisional, berpenyakit kulit dan miskin.  Sungguh merupakan  sebutan yang sangat meyakitkan, meskipun kita  dapat menerimanya mengingat pengertian tersebut diambil dari kenyataan santeri pada masa yang lalu.

Namun  seiring dengan berjalannya waktu, santri juga tidak ketinggalan, mengikuti perubahan, aik dalam cara  hidup mereka,  pemahaman dan pendangannya terhadap dunia dan juga pemikirannya terhadap masa depan.  Nah, revolusi pun dilakukan, baik dalam asrama atau pesantren maupun dalam usaha mereka untuk mengubah diri menjadi sosok yang potensial dan menandakan  perubahan yang sangat radikal dari posisinya yang dahulu.

Mereka yang dahulunya sama sekali tidak diperhitungkan, saat ini dan ke depannya harus menjadi sosok yang diperhitungkan dalam berbagai aspek.  Mereka juga manusia, sama dengan yang lainnya, dan mereka juga mempelajari apapun yang juga dipelajari oleh orang lai, sehingga mereka  juga melek teknologi dan siap bersaing dengan  sosok manapun untuk  meraih atau mendapatkan sesuatu yang diinginkan.  Jadi kompetisi menjadi seimbang, tidak seperti dahulu yang  mereka selalu tersisih sebelu bertanding.

Pada masa yang lalu para santri hanya mempelajari fiqh yang itupun disusun oleh para ulama  di tanah Arab dan sama sekali tidak berhubungan dan tidak mengenal kondisi yang dihadapi oleh masyarakatnya sendiri.  Seolah semua aspek hanya diukur dengan  fiqh yang dipelajarinya tersebut, sehingga terkadang mereka harus bertabrakan kepentingan dengan kondisi nyata di masyarakat da tidak pernah terselesaikan.  Dan hanya mereka yang suda menjadi ulama dan terjun di masyarakat sajalah yang kemudian mampu menjembataninya.

Namun  saat ini para santri, meskipun masih ada yang diseut tradisional,  mereka sudah banyak yang berhubungan dengan dunia maya dan ekspansi untuk mendapatkan pengetahuan dan ilmu yang diinginkan.  Kebanyakan mereka saat ini sudah melanjutkan studi di berbagai perguruan tinggi terkemuka dan mengambil  program studi yang bervariasi, seperti teknik, kedokteran,  teknologi informasi, pertanian, perikanan, energi dan lainnya.

Rupanya mereka sudah menyadari bahwa sesungguhnya tugas mereka bukan saja mengajarkan fiqh tradisinla kepada masyarakat, melainkan juga harus menjadi motivator mereka dalam mengolah dunia ini agar  menjadi ramah dan tidak membahayakan umat manusia secara umum.  Mereka semakiin menyadari apa yang dahulu selalu dibaca dan dihafal di pesantren seperti kaidah yang berbunyi : “ma la yatimmul wajia illa ihi fahuwa wajib” yang kurang lebih maksudnya ialah segala sesuatu yang tidak sempurna terkecuali dengan sesuatu tersebut, maka mengambil itu merupakan kewajiban”.

Penjabaran dari kaidah tersebut tentu sangat luas dan memerlukan pemikiran yang  luas pula, namun secara  ringkas dapat dikatakan bahwa  bidang bidang yang  selama ini tidak digeluti oleh santri, padahal bidang tersebut  menjadi  sesuatu yang harus ada dan sangat dperlukan oleh masyarakat banyak, maka mengambil bidang tersebut merupakan kewajiban.  Contohnya  pada masa yang lalu santri tidak ada yang peduli  dengan bidang  pertanian, kedeokteran, kelautan, energi, ekonomi, dan juga teknologi,  Nah, dengan pemahaman kaidah tersebut, kemudian mereka menyadarinya dan  mengharuskan diri untuk mengambil bidang idang tersebut.

Mereka berpikir bahwa bidang idang tersebut merupakan idang yang vital yang harus  ada diantara para santri yang memasukinya, karena tanpa  itu, masyaraakat akan  kesulitan untuk mendapatkannya.  Untuk itulah kemudian mereka saat ini sudah menapaki dunia yang dahulu sama sekali tidak terlintas dala pikiran mereka.

Saat ini, meskipun belum banyak yang dapat merealisasikan keinginan tersebut, tetapi secara umum  sudah menjamur di dalam prises menuju itu.   Kebanyakan mereka saat ini masih  dalam proses studi untuk sebuah cita cita besar mengentaskan mereka.  Namun demikian secara nyata kita  saat ini juga sudah dapat menyaksikan betapa  santri santri sudah  menduduki pos pos pernting di negeri ini, seperti sebagai pejabat di pemerintahan, diperguruan tinggi, dan juga  sebagai tokoh di masyarakat serta yang terpenting iala bahwa dianatra mereka saat ini sudah ada yang menjadi pegusaha besar yang boleh diseut sebagai milyarder.

Semoga ke depannya  para santri dapat menjadi pemimpn bangsa ini, sehingga kondisi  aman, damai dan  penuh dengan kasih sayang, dapat diwujudkan.  Mereka para santrilah yang kia harapkan dapat mengubah wajah negeri kita menjadi lebih sejuk dan bersahabat kepada semua orang.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.