MERANCANG MASA DEPAN

Mungkin bagi sebagian orang tidak terpikirkan bagaimana kita akan menjalani kehidupan di masa mendatang, sehigga tidak dilakukan antisipasi atas kemungkinan kemungkinan yang buruk, meskipun tidak ada orang yang ingin mendapatkan kondisi buruk ersebut.  Hanya saja  keidupan itu ibarat roda pedati yang terkadang berada di bawah da terkadang berada di atas. Itupun  kalau orang tersebut mampu berbuat sesuatu untuk kebaikannya, pada saat berada di atas.  Nah, persoalannya ialah kalau pada saat berada di atas dan sama dekali tidak melakukan apapun untuk kebaikan, tentu pepatah  tersebut tidak berlaku.

Artinya  pada saat seseorang sedang mendapatkan kemudahan dalam segala hal, termasuk dalamberusaha dan mencari rizki, tetapi orang tersebut tidak memikirkan bagaimana  pada saat nanti sudah tua dan  tenaga serta pikirannya sudah mulai mengendur, sedangkan kebutuhannya semakin banyak, tentu orang tersebut akan merasakan kerugian yang sangat besar.  Bahkan bisa bisa  justru akan mengalami kesulitan yang luar iasa dan tidak terpikirkan sebelumnya.

Untuk itulah disarankan kepada semua orang agar mau merencanakan masa depannya dengan cermat dan penuh perhitungan.  Siapapaun harus menyadari bahwa usia manusia itu terus  berjalan menuju kondisi tua dan tenaganya juga  akan berangsur berkiurang, sehingga  kemampuannya untuk  menghasilkan sesuatu menjadi berkurang pula.  Seiring dengan itu biasanya juga banyak penyakit yang mulai meghinggapi tubuh yang sudah tua, dan membutuhkan ongkos untuk berobat, disamping kebutuhan lainnya yang semakin meningkat.

Lantas bagaimana  dapat melakukan rancangan masa depan dengan bagus dan sekaligus mengantisipasi kemungkinan terburuk yang bakal menimpa kita?.  Hal terpenting pertama ialah bagaimana kita  menyadari semua kemungkinan sebagaimana tersebut dan kemudian dengan penuh kesadaran melakukan hal hal yang dapat dinikmati pada saat tidak produktif tersebut.  Bentuknya dapat berupa apapun, karea masing masing orang tentu mempunyai kecenderungannya sendiri sendiri.  Mungkin bagi seseorang akan lebih nyaman dengan menabung di bank yaang relatif aman dan tidak memerlukan pengawasan secara ketat.

Tetapi bagi orang lain mungkin akan lebih nyaman bilamana  dia berinvestasi melalui barang berharga, semacam emas dan lainnya, dan bagi yang lain pula  ada kemungkinan lebih  senang apaila uang yang ada dibelikan tanah dan pada saatnya nanti akan dapat digunakan untuk persiapan masa tuanya.  Bahkan yang lain  sangat mungkin lebih menyukai usaha  dalam idang apapun, yang terpenting dia dapat  mengembangkan  usahanya tersebut menjadi lebih maju dan sukses dan seterusnya.

Hanya saja yang harus diperhatikan ialah  kemampuan diri untuk menjaga aset yang diinvestasikan tersebut, agar jangan menjadi buyar atau hilang disebabkan kecerobohan atau ketidak seriusan kita sendiri.  Bagi yang merasa dirinya tidak mampu berusaha, maka  sebaiknya  tetap melakukan pekerjaan pokoknya dan kemudian juga menabung, tetapi bagi mereka yang mampu melakukan usaha dan sekaligus mempunyai keyakinan bahwa usahanya tersebut akan dapat sukses, tentu sangat  didorong untuk terus mengembangkan usahanya tersebut.

Justru bagi  mereka yang mempunyai kemampuan dan sekaligus waktu yang cukup untuk melakukan usaha  tersebut,  akan jauh lebih bagus melakukannya, ketimbang harus  berdiam diri dan tidaka melakukanapapun.  Tentu  mengecualikan mereka yang sudah mempunyai pekerjaan pokok semacam sebagai pegawai negeri sipil yang tentu harus menekuni tugas pokoknya tersebut, dan tidak meninggalkaannya  ang akan berakibat kerugian bagi dirinya, baik saat di dunia, yakni saat ada evaluasi kedisiplinan dan juga di akhirat, karena  melakukan kecurangan dalam bekerja,  teruatama dalam hal waktu.

Kita sering menemukan keanehan di dunia ini yang suli dimenegerti leh orang yang berakal sehat.  Contoh yang paling kongkerit ialah ditemukannya  orang yang lebih mementingkan  kerja sambilannya ketimbang tugas pokoknya.  Hal tersebut kita temukan lebih banyak  pada diri para  PNS. Barangkali orang orang tersebut tidak ingat bahwa kerja pokoknya itulah yang seharusnya dipentingkan, karena  dengan statusnya tersebut dia  digaji secara layak, dan bukan pekerjaan sambilannya yang hanya akan memberikan gaji atau honor  sesuai dengan pekerjaannya.

Kebanyakan orang seperti itu mengangap bahwa  kelaupun mereka tidak menjalankan tugasnya, toh seiap bulan masih tetap menerima gaji tetap,  sedangkan sambilannya tersebut akan menjadi penghasilan tambahan tersendiri.  Mereka tidak ingat bahwa melakukan haltersebut dengan menyita waktu yang seharusnya diperuntukkan bagi tugas pokoknya adalah merupakan pelaggaran disiplin dan tidak sepantasnya dibayarkan gaji tetapnya secara utuh.

Menyedihkannya lagi ialah justru yang melakaukan hal seperti itu ukan mereka yang tidak tahu aturan main dan hukum yang berlaku, karena  yang melakukan hal tersebut  ialah mereka yang digolongkan sebagai kalangan intelektual dan juga kalangan  yang seharusnya menjadi teladan bagi masyarakatnya.  Kita memang tidak mengatakan semuanya, melainkan kebanyakan, karena  profesi mulia seperti guru dan dosen adalah profesi yang sangat agung, tetapi juga ternodai oleh perilaku para pelanggar disiplin  yang diterapkan kepada mereka.

Barangkali itu semua sudah menjadi sebuah kenyataan yang sulit diubah dan hanya kesadaran seluruhnya sajalah yang akan dapat mengembalikan kondisi tersebut pada rel yang semestinya.  Nah, terlepas dari itu semua, sesunguhnya ada  hal penting yang tetap harus diingat oleh semua orang, yakni kebrkahan rizki.  Saya sendiri meyakini dan menyaksikan  banyak kejadian yang  dapat menjadi penguat iman dan sekaligus  benteng untuk tidak tergiur melakukan sesuatu yang tidak benar.

Bebera[a hal tersebut ialah  kenyataan ahwa ada sebagian orang yang secara dhahir mendapatkan  kekayaan yang sangat luar biasa, karena kepandaiannya untuk “mengakali” sesuatu.  Artinya secara formal  pertanggung jawaban  dapat memnhi standar, tetapi secara substansial  merupakan pelanggaran, karena  mengambil uang yang bukan  haknya.  Nah, meskipn tidak tertangkap oleh aturan yang berlaku, sudah barang pasti hal tersebut secara keyakinan kita pasti dilarang dana tidak boleh dilakukan, apalagi untuk menghidupi keluarga dan sejenisnya.

Akibat lebih lanjut orang orang tersebut mendapatkan cobaan ketika masih di dunia, seperti sakit atau mendapatkan masalah yang  berat dan  kehidupan selanjutnya  menjadi  sulit.  Dengan bahasa agama dapat dikatakan bahwa rizki yang didapatkannya  dengan sepertitersebut, ternyata tidak membawa keberkahan.  Meskipun demikian  ada juga yang seolah tidak mendapatkan cobaan apapun, tetapi saya sangat yakin bahwa  di akhirat anti sudah arang tentu akan mendapatkan balasan dari Tuhan.

Karena itu saya selalu mengingatkan kepada semua orang agar tetap konsisten dengan kebenaran yang kita yakini.  Meskipun penghasilan kita pas pasan, tetapi kalau berkah, insyaallah kita akan mampu mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.  Dan yang terpenting kita akan mampu mempersiapkan diri kita untuk masa depan  dengan lebih terarah dan insyaallah berkah.  Syaratnya ialah kita tetap berada dalam rel yang benar dan tidaka berani untuk melakukan apapun yang bertentangan dengan aturan yang berlaku bagi kita.

Mempersiapkan masa depan memang merupakan sebuah ikhtiyar baik kita dan untuk itu jangan kotori kebajikan tersebut dengan kebatilan dan segala yang dilarang oleh Tuhan.  Semoga Tuhan senantiasa menjaga diri kita dan  keluarga kita dari hal hal haram dan menyulitkan, khususnya di akhirat nanti. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.