BEROBAT

Semua orang tentu pernah mengalami sakit baik yang berat maupun ringan, namun semuanya membutuhkan pengobatan yang tepat dan diharapkan akan segera sembuh sebagaimana sebelumnya.  Hanya saja  masing masing manusia mempunyai keyakinan yang berbeda dalam persoalan pengobatan tersebut.  Ada sebagiannya yang lebih mengandalkan pengobatan alternatif dibandingkan dengan pengobatan yang dilakukan oleh doter.  Demikian juga dalam memilih obat yang digunakan, sebagian masyarakat ada yang lebih mantap dengan obet jenis herbal dan ada pula yang lebih cocok dengan obat kimia.

Perbedaan tersebut sesungguhnya tidak  menjadi persoalan, karena kemantapan dan keyakinan tersebut sesungguhnya sudah merupakan obat tersendiri.  Artinya kepecrayaan terhadap pengobatan yang sedang dijalani itu merupakan syarat untuk sebuah percepatan dan kesembuhan, karena  dapat dibayangkan, kalau ada orang yang berobat kepada pihak tertentu, dan sama sekali tidak mempercayainya atau dengan kata lain ragu dengan cara dan obat yang diberikan untuk penyembuhan, maka kemungkinan besar pegobata tersebut akan gagal.

Sebaliknya kalau ada orang yang sangat percaya dengan pengobatan  pihak tertentu, meskipun sangat mungkin  sangat sedrhana, tetapi karena kepercayaan penuh tersebut,  ternyata malah menjadi sembuh.  Saya menyaksikan sendiri betapa banyak orang di kampung saya, lebih suka mendatangi seorang ulama yang dianggapnya mempunyai daya linuih  aqtau dianggap sangat dekat dengan Tuhan dan meminta air untuk kesembuhan keluarganya yang sedang saki, dan ternyata dengan air yang diberikan tersebut, orang yang sakit dapat sembuh.

Pada pihak lain ada orang yang sering harus keluar masuk rumah sakit, karena sakitnya sering kambuh, meskipun sudah diupayakan  pegobatannya oleh dokter spesialis dan dengan jenis obat yang palingmahal.  Tentu dengan mengamati hal hal tersebut, kita dapat menyimpulan bahwa bagaimanapun kalau sakit harus ada usaha  untuk menyembuhakannya, baik melalui usaha yang sedrhana maupun dengan meminta tolong kepada dokter dan paramedis lainnya.  Hanya  saja kita harus yakin bahwa semua usaha tersebut hanyalah sarana, sedagkan yang memutuskan untuk sembuh adalah Tuhan, Allah swt.

Untuk itu sarana tersebut terkadang cocok untuk seseorang dan terkadang pula tidak cocok untuk orang lainnya, meskipun jenis penyakitnya  relatif sama.  Ada yang dengan mudah mendapatkan obat untuk penyembuhan penyakit yang dideritanya dan ada pula yang cukup lama berusaha dan belum mendapatkan obat yang cocok.  Semua itu adalah rahasia Tuhan, dan manusia hanya  dianjurkan untuk selalu berusaha dan tidak boleh berputus  asa.  Selama manusia mau berusaha, maka di situ akan ada  jalan untuk kewsembuhan.  Kita harus percaya hal tersebut.

Usaha untuk berobat tersebut tentunya tidak terbatas kepada mereka yang mempunyai keimanan yang sama, tetapi boleh uga beobat dan meinta tolong kepada  orang yang kebetulan imannya tidak sama, baik itu dokter maupun  yang lain.  Sebagaimana kita tahu saat ini banyak muncul  pihak yang  menawarkan pengobatan, dan juga ada yang  diketahui oleh orang dapat memberikan  penyembuhan dan tanpa harus dilakukan iklan, namun pasiennya sangat banyak.  Tentu saja ada sebagian diantara yang datang berobat terswebut yang mendapatkan kesembuhan dan ada pula yang belum sembuh alias gagal.

Nah, sehubungan dengan kondisi tersebut memang ada sementara pihak yang  tidak memperbolehkan meminta pertolongan kepada orang yang tidak seiman, tetapi tidak sedikit pula yang tidak mempermasalhkan persoalan tersebut, karena yang terpenting ialah  keyakinan yang tetap terpelihara, sementara  sarana untuk sembuh dapat saja melalui orang yang kebetulan bukan  dari orang yang seiman.

Bagi mereka yang mempersoalakan berobat kepada yang bukan orang seiman, tentunya akan mengalami kesulitan,semisal di sebuah tempat tertentu ternyata tidak ditemukan dokter, terkecuali  yang kebetulan bukan seiman, maka apakah seseorang tersebut tidak akan mendapatkan kesulitan besar? Atau kalau disebua tempat ada  seorang tabib yang kebetulan juga bukan seiman dan sudah terbukti banyak memberika pertolongan kepada masyarakat tentang ebberapa penyakit, apakah kalau kita sudah berusaha  mencari obat dan tidak mendapatka kecocokan, kemudian tidak boleh mendatangi orang tersebut?

Kedatangan kita ke tempat praktek orang yang tidak seiman tersebut sesungguhnya bukan untuk meghambakan diridan kemudian mengikuti cara mereka dalam beribadah, melainkan  semata mata  inginmendapatkan pertomlongan dalam menyembuhkan penyakit yang diderita.  Siapa tahu Tuhan memang memberikan perantara penyembuhan penyakit tersebut, leeat orang yang kebetulan tidak seiman.  Dalampersoalan ini seharusnya kita dapat memberdakan antara persoalan ibadah dan persoalan mencari pengobatan.

Mungkin kasusnya hampir sama dengan persoalan ucapan selamat natal yang diucapkan oleh seorang muslim kepada mereka yang nasrani.  Kontroversi tentang hal tersebut memang tetap dan terus terjadi, tetapi kalau kita  megingat hubungan kemasyarakat dan sosial yang kita bangun dengan didasarkan atas kebaikan bersama, tentu bukan menjadi persoalan mengucapkan  selamat natal tersebut.  Apalagi kalau emndatangi seseorang yang bukan seiman untuk menolong menyembuhkan penyakit yang diderita, tentu akan tidak dipersoalkan.

Hanya saja kita memang harus membedakan antara meminta tolong kepada berhala atau kepada pihak tertentu dengan persyaratan yang rumit dan mengharuskan kita untuk meninggalkan keyakinan, tentu hal tersebut harus dijauhi.  Artinya kalau ada pihak yang akan menolong penyembuhan penyakit, tetapi meminta sayarat tertentu, seperti sesaji, atau bahkan syarat menyerahkan kehormatan dan lainnya, tentu  hal tersebut sudah keluar dari koridor yang wajar untuk sebuah pertolongan untuk pengobatan, dan kalau hal tersebut ditemukan, maka harus dicegah dengqan cara yang baik.

Atau semisal pengobatan tersebut mengharuskan kita mengkonsumsi sesuatu yang diharamkan, misalnya dengan memakan babi bagi muslim, atau meinum khamr dan sejenisnya, maka  dengan alasan apapun, haruslah dijauhi, karena masih banyak  alternatif lain yang tidak mengganggun keyakinan kita sebagai pemeluk syariat Islam atau pemeluk agama lainnya.  Seyogyanya kita memang mencari pengobatan yang biasa dan lazim. Artinya pengobatan yang dilakukan secara transparan dan tidak menghatuskan kita melakukan hal hal yang aneh dan tidak rasional.

Bahkan persyaratan sebagaimana disebutkan diatas, juga berlaku bagi mereka yang  seiman.  Artinya kalau ada pihak yang sanggup mengobati penyakit tertentu, tetapi syarat yang sangat rumit dan harus melanggar aturan, maka hal tersebut harus ditinggalkan, karena sudah barang pasti tidak tidak dapat dibanarkan, baik secara pengobatan, maupunsecara hukum.  Untuk hal seperti itu kita juga sudah banyak enemukan pegalaman  yang cukup untuk kita jadikan sebagai pelajaran yang berharga.

Inti dari berobat ialah bagaimana kita dapat menemukankesembuhan atas penyakit yang kita derita, sehingga  harus dilakukan secara wajar.  Disamping itu kita juga harus tetap yakin bahwa  separah apapun sebuah penyakit, pasti ada obatnya.  Persoalannya ialah kita harus berikhtiyar untuk mencari dan menemukannya.  Untuk itu kita memang harus terus berusaha dan  tidak bosa untuk  melakukan pencaria, termasuk pada tempat yang jauh atau mungkin pada seseorang yang kebetulan tidak seiman dengan kita.

Sikap optimistis dalam menemukan kesembuhan, akan  dapat memunculkan semangat untuk sembuh dan sekaligus mempercepat  menemukan obat yang cock untuk penyakit tersebut.  Yakinlah bahwa Tuhantidak akan membiarkan hamaba-Nya yang tekun dalam mencari obat.  Past akan  diberikan petunjukuntuk itu dan disembuhkan penyakitnya. Kalaupun penyakit tersebut  menjadi sebab kematiannya,maka hal tersebut sudah menjadi takdir-Nya dan kita harus menerimanya dengan ikhlas.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.