MENILAI ORANG UNTUK PERSOALAN AKHIRAT

Baru baru ini  ketua MUI jatim menyelenggarakan shalat ghiab bagi para korban jatuhnya Air Asia, khususnya yang muslim, dan dinyatakan bahwa mereka akan masuk surge.  Sesungguhnya pernyataan tersebut biasa biaa saja dan tidak ada yang ganjil, tetapi ternyata  banyak yang menanggapinya, khususnya di media social, yang secara umum lebih banyak yang mengkritiknya.  Surga itu milik Tuhan, sehingga tidak ada yang dapat mengklaim seseorang itu masuk surge atau bukan, apalagi kalau tidak tahu perilakunya selama itu, dan hanya didasarkan atas cara matinya saja yang mendadak, dan kemudian dianggap sebagai mati syahid dan masuk surge.

Memang ada riwayat hadis dari nabi Muhammad saw yang menyatakan bahwa  orang mati syafid itu tidak Cuma merka yang  mati dalam peperangan membela agama Islam dengan benar, tetapi juga mereka yang mati disebabkan  wabah penyakit yang menyerang tiba tiba,  mati karena sakit perut, karena tenggelam, dan juga karena  tertimpa reruntuhan seperti longsor dan sejenisnya.  Tetapi tentu saja tidak secara lahir  orang yang seperti digambarkan tersebut secara otomatis  disebut mati syahid.  Contoh yang paling mudah ialah kalau ada orang yang nekat bunuh diri dengan emnceburkan diri ke sebuah sungai bsar dan arusnya sangat  kuat sehingga matinya tenggelam, tentu tidak masuk di dalamnya.

Demikian juga kalau ada orang yang  karena memakan makanan yang diharamkan atau meminum minuman keras, kemudian sakit perut dan kemudian mati, maka juga tidak masuk di dalam kategori syahid tersebut.  Pendeknya kalau ada orang yang kelakuannya sehari hari tidak baik dan sama sekali tidak menjalankan ibadah wajib, ketika mati dengan cara salah satu yang disebutkan di atas, tentu juga bukanlah mati syahid yang akan masuk surga.

Kita memang boleh menilai orang dari sisi yang lahir semata, dank arena itu tidak dapat memastikannya, melainkan hanya menilai dan menduga bahwa seseorang tersebut nantinya akan mendapatkan  surge dari Tuhan.  Misalnya kita dapat menilai kalau ada orang shalih, selalu mengerjakan kebajikan dan tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim dan  perbuatannya juga sangat bagus, yakni mudah memberikan pertolongan kepada orang lain, dermawan dan juga  tidak pernah membuat masalah dengan tetangga dan masyarakat, maka kita dapat menilainya sebagai calon ahli surge,

Sebaliknya kalau ada orang yang kelakukannya sehari hari selalu meresahkan dan kerap kali membuat masalah di masyaarakat, tidak pernah terlihat menjalankan shalat, meskipun dia seorang muslim, dan tidak pernah puasa saar bulan Ramadlan.  Ditambah lagi  selalu berbuat dhalim,  kerap main perempaun atau kelau perempuan sering  melakukan perzinahan, tidak baik dengan tetangga dan masih banyak lagi deretan kejelekan yang selalu dilakukannya, tentu kita  dapat menilainya bahwa dia  adalah calon penghuni neraka.

Tetapi sekali lagi semuanya  adalah didasarkan atas penilaian lahir  dan bukan substansi yang sesungguhnya.  Untuk itu kita tidak dapat memastikannya, karena keputusan atas semua itu berada di tangan Tuhan.  Siapa tahu  ada perbuatan baik di balik kejelekan tersebut  atau perbuatan jahat di balik kebajikan yang dilakukan oleh sesorang sehingga Tuhan memutuskan lain dari penilaian kita.

Namun kalau menilik penilaian ketua MUI Jatim tersebut sifatnya hanyalah penilaian yang didasarkan atas  apa yang dilihat sebagai  sesuatu yang mirip dengan tanda tanda mati syahid.  Atau dapat juga  hal tersebut diungkapkan sebagai bentuk pemberian tasliah kepada keluarga yang ditinggalkan.  Harapannya mereka yang  ditinggalkan  dapat terhibur dan tidak larut dalam kesedihan, karena  orang yang  meninggalkannya tersebut sudah mendapatkan tempat yang layak di sisi Tuhan.

Jadi pernyataan ketua MUI jatim tersebut tidak perlu diributkan atau dipolemikkan, karena penilaian tersebut dibenarkan secara lahir.  Apalagi kalau diingat pandangan yang disinyalir berasal dari Umar bin al-Khattab bahwa semua umat nantinya akan masuk surge, walaupun  harus menghuni neraka dahulu sesuai dengan perbuatan dosa yang dilakukannya.  Artinya tidak ada  satu pun umat yang akan tinggal di neraka untuk selama lamanya.  Kata kata abadi  dalam firman Tuhan di dalam al-Quran sesungguhnya hanya menujukkan suatu waktu yang sangat lama saja.

Dasar penilaian tersebut ial;ah bahwa sejelek  apapun seorang manusia, pasti ia pernah berbuat kebajikan.  Nah, setelah semua kejelekan dan dosanya  dibakar habis di neraka, maka saat itulah manusia tersebut akan dientaskan dan masuk surge.  Tentu tidak semua  orang sepaham dan sepakat dengan pendapat ini, karena  secara lahir pula banyak keterangan yang menyatakan hanya mereka yang  beraga Islam dan melakukan kebajikan saja yang akan masuk surge dan mereka yang musyrik sudah pasti akan berada di neraka untuk selama lamanya.

Nah, pendapat pendapat yang berbeda tersebut sekaligus juga memberikan wawasan jkepada kita bahwa  sesungguhnya untuk persoalan akhirat itu seluruhnya merupakan kewenangan sang Pencipta, sedangkan kita sebagai makhluk hanya diberikan  kewenangan untuk menilai dan memprediksi, dan bukan menentukan.  Boleh jadi memang apa yang  diriwaykan dari Umar tersebut  benar dan bisa jadi tidak.

Hal terpenting bagi kita sebagai umat, ialah  kita harus memegangi  teks yang lahir dan mengabaikan  pendapat yang  memberikan harapan terlalu mudah untuk  masuk surge.  Jangan jangan justru yang lahir tersebutlah yang sesuai dengan keputusan Tuhan.  Karena itulah kita memang harus tunduk dan patuh kepada semua titah Tuhan sebagaimana yang diinformasikan oleh nabi Muhammad saw, yakni melaksanakan semua perintah dan sekaligus menjauhi semua larangan.  Dengan begitu pendapat apapun yang nantinya sesuai dengan keputusan Tuhan, kita insyaallah akan terselamtakan dan masuk surge.

Sebagai seorang muslim, kita diwajibkan untuk melakuakn kewajiban individual, seperti shalat lima waktu dalam setiap sehari semalamnya, berpuasa pada  bulan Ramadlan, menunaikan zakat atas harta yang kita miliki dan sudah sampai pada batas yang ditentukan, dan melaksanakan ibadah haji ketika mampu dan aman.  Lebih dari itu kita juga mempunyai kewajiban yang bersifat social seperti berbuat ihsan kepada semua makhluk Tuhan, suka menolong kepada sesame yang membutuhkan, alias bersedekah, dan juga menjada lingkungan  agar tetap terjamin dari kerusakan dan lainnya.

Pada sisi lain kita juga dicegah untuk tidak melakukan sesuatu yang merugikan, baik bagi diri sendiri, maupun bagi orang lain.  Artinya ada hal hal yang dilarang bagi kita untuk dikerjakan, semisal memakan makanan yang  dengan dilarang seperti daging babi dan sejenisnya, dan ada pula larangan untuk meminum minuman, seprti khamr, termasuk di dalamnya narkoba dan lainnya.  Semuanya itu ditentukan untuk dijauhi oleh kita dengan harapan kita akan selamat, baik di dunia maupun diakhirat.

Nah, kalau kita mampu melakukan semua yang diperintahkan sebagaimana tersebut dan sekaligus juga dapat menghindari semua larangan, maka secara lahir kita boleh berharap bahwa Tuhan pada saatnya nanti akan menempatkan kta di surge  sebagaimana yang dijanjikan-Nya.  Artinya kita dapat menilai diri sendiri dan juga orang lain atas dasar  apa yang Nampak, sehingga penilaian tersebut bukan sebuah fitnah atau hanya sekedar utopi yang sama sekali tidak berdasar.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.