PERAN PERGURUAN TINGGI DALAM MEMBANGUN DESA

Keberadaan perguruan tinggi memang tidak dimaksudkan sebagai sesuatu yang  sulit dijamah oleh masyarakat, alias sebagai menara gading, melainkan justru harus berada di tengah tengah masyarakat dan bergaul, berdialog serta  berdiskusi bersama.  Perguruan tinggi seharusnya memang menjadi agen perubahan ke arah yang lebih baik bagi masyarakat, karena itu perguruan tinggi memang harus tanggap terhadap semua persoalan masyarakat, sehingga secara ilmiah dapat membantu memecahkan  problem tersebut, dan bukan sebaliknya justru keberadaan perguruan tinggi malah menjadi beban bagi masyarakat.

Semua memahami bahwa perguruan tinggi merupakan tempat mempelajari dan meneliti serta mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan.  Artinya perguruan tinggi akan melihat sesuatu  dengan kacamata keilmuan sesuai  kaidah yang ada  dalam ilmu tersebut.  Semua persoalan akan dilihat dari sisi ilmu pengetahuan dan bukan dengan sisi lainnya, seperti kepentingan atau keberpihakan kepada  pihak tertentu.  Untuk itu kita tahu bahwa  muara dari semua itu ialah untuk kesejahteraan umat manusia bukan sebaliknya untuk menghnacurkan mereka.

Meskipun kita harus mengakui bahwa sikap dari perorangan yang ada di dalam perguruan tinggi  terkadang tdak sesuai dengan keinginan ideal kita.  Artinya masih banyak pihak yang tidak  menempatka dirinya sebagai insan akademisi yang harus selalu berpija kepada norma keilmuan, melainkan   berdasarkan emosi dan kepentingan sesaat saja.  Namun demikian kita harus yakin kalau tindakan yang dlakukan  dengan mengats namakan institusi perguruan tinggi, tentu akan bersikap sebagaimana akademisi, sehingga tindakannya akan selalu dibimbing oleh norma yang benar.

Alangkah idealnya jikalau semua masyarakat dapat berperilaku sesuai dengan nilai akademis yang ada, meskipun mereka ukan warga kampus.  Andaian tersebut dapat terwujud bilamana  para warga kampus senantiasa erperilaku  ilmiah ketika mereka berada di tengah tengah masyarakat, sehingga mereka  menjdikan diri mereka sebagai contoh bagi masyarakat banyak.  Namun barangkali hal tersebut hanya dianggap sebagai utopi saja, kerena pada kenyataannya saat ini sanat sulit untuk diwujudkan, bahkan mungkin  sebaliknya, sudah banyak warga kampus yang berperilaku tidak ilmiah.

Sementara itu kita  juga tahu bahwa sebagian wilayah kita terdiri atas perdesaan, bahkan bagian tersebut lebih besar dibandingkan bagian perkotaan yang ada.  Masyarakat kita juga lebih banyak yang berdiam  di perdesaan ketimbang yang berada di perkotaan.  Secara kasat mata kita juga dapat menyaksikan bahwa pembangunan di perdesaan tidak semaju derapnya dibandingkan di perkotaan, padahal sebagaimana  diketahui bahwa  mayoritas  masyarakat dan bangsa  kita berada di sana.  Untuk itu kalau kita mau masyarakat kita cepat maju, tidak bole tidak, pembangunan di perdesaan harus dipacu lebih sehingga masyarakat  yang ada diperdesaan tersebut tersentuh pembangunan dan kemjuan.

Nah, pemerintah juga sudah berupaya melakukan percepatan pembangunan yang ada di perdesaan, akan tetapi disebabkan luasnya wilayah tersebut, maka usaha tersebut belum maksimal dan masih sangat memerlukan  keterlibatan banyak pihak untuk  bersama sama membangun masyarakat yang ada diperdesaan tersebut.  Perguruan tinggi  dengan statusnya sebagai lembaga yang mengemban tugas tri dharma, yang salah satunya ialah pengabdian kepada masyarakat, sangat diharapkan perannya dalam mewujudkan pembangunan di perdesaan tersebut.

Tetapi bukan saja melalui program kuliah kerja nyata yang hanya  sekitar satu setengah bulan, melainkan melalui program yang khusus seprti desa binaan atau program pengabdian yang dirancang oleh para dosen untuk memberdayakan masyarakat dengan  sungguh sungguh dan terprogram dengan bagus.  Kiranya sudah saatnya perguruan tinggi memberikan enekananan dan sekaligus memfasilitasi para dosen untuk melakukan pengabdian masyarakat dalam bentuk yang khusus tersebut.

Ada banyak hal yang dapat dilakukan oleh para dosen dalam  merencanakan dan melaksanakan pengabdian masyarakat tersebut, seperti pembinaan kepada lembaga keagamaan, seperti masjid, madrasah atau perpustakaan desa.  Demikian juga  dapat dilaksanakan dalam bentuk mengintensifkan  pelaksanaan majlis taklim dengan memberikan pencerahan yang terprogram serta dengan kurilkulum yang jelas, sehingga akan dapat diraih manfaat yang terukur, bukan sekedar ceramah yang tidak terstruktur.

Demikian juga sudah saatnya kiranya para alumni dari perguruan tinggi mau terjeun langsung dan mengabdikan diri di tengah tengah masyarakat untuk memberikan pembinaan dan pencerahan kepada mereka.  Sebagaimana kita tahu bahwa sesungguhnya  banyak potensi yang masih tersimpan di perdesaan, dan mereka juga belum neyadari potensi tersebut, sehingga ketika  para alumni yang mempunyai bekal teori cukup kemudian mau membukakan pintu bagi mereka untuk melihat potensi tersebut,  diharapkan nantinya mereka akan berbondong bondong mengembangkan dan memanfaatkan potensi tersebut sehingga mereka akan lebih berdaya dan sejahtera.

Memang cukup berat bagi para alumni yang belum mempunyai  bekal ekonomi cukup dan kemudian harus erjun ke desa yang ada di pelosok, tetapi  setidaknya kalau  dimulai dari  desa tyang terjangkau, atau bahkan mungkin di desa asal para alumni tersebut tentu  sangat memungkinkan.  Persoalannya ialah  kebanyakan dari para alumni yang berasal dari desa tersebut berkeinginan untuk hidup enak di tengah kota, meskipun harus menjadi seorang buruh sekalipun.

Karena itu saat ini perguruan tinggi memang harus  memberikan bekal enterprneurship kepada seluruh mahasiswanya, sehingga mereka  akan siap terjun di manapun mereka berada untuk berusaha  sesuai dengan peluang dan minat mereka masing masing.  Jiwa enterpreneurship menjadi  sangat penting  untuk zaman ini, karena peluang untuk menjadi pegawai kantoran sangat tipis dan kalaupun mereka  dapat meraihnya, biasanya tidak akan  dapat menjadi kaya raya sebagaimana para pengusaha yang  berusaha dengan maksimal.

Secara umum kita memang harus mempersiapkan  para mahasiswa untuk mampu berusaha mandiri dan tidak bergantung kepada pihak lain.  Mental mandiri tersebut sangat menentukan kesuksesan seseorang, kartena tanpa mental mandiri tersebut sangat mustakhil seseorang mampu bertahan hidup ditengah tengah persaingan yang semakin kompleks.  Alumni perguruan tinggi yang setiap tahunnya selalu melebihi kapasitas  angkatan kerja yang btersedia, mengharuskan  kita untuk berpikir ke arah tersebut.

Demikian juga dengan para mahasiswa yang pada akhirnya akan terjun ke masyarakat secara nyata juga harus sudah  memprediksi hal tersebut dan kemudian mempersiapka diri sebaik mungkin dengan  ketrampilan berusaha dan menyiapkan mental untuk menjaid pengusaha.  Barangkali ada sebagia  alumni dari perguruan tinggi yang pesimistis dengan masa depan mereka sendiri, disebabkan persiangan yang demikian hebat, sementara kemampuan dirnya sangat minim dan tanpa pengalaman.

Namun kita yakin bahwa bagi  alumni yang telah dibekali dengan  pengetahuan dan sekaligus ketrampilan  dalam bidang usaha serta telah melati dirinya dengan mental mandiri, maka  belanara apapun yang ada di hadapann mereka, mereka aka tetap optimis dalam mengarunginya.  Mereka juga sadar bahwa dalam berusaha tersebut diperlukan kesabaran da ketabahan dalam menghadapi berbagai cobaan dan kegagalan.  Tetapi dengan keyakinan dan tekad yang membaja, mereka insyaallah akan suskses   dan mamp melewati setia rintangan yang muncul.

Kesuksesan seseorang bukan diukur dari raihan dalam  waktu yang yang singkat atas prestasi, melainkan sejauh mana  seseorang mampu meleewati rintangan dan kegagalan dalam berusaha.  Sduah barang pasti dalam usaha tersebut akan  ada kegagalan, tetapi ketika kegagala tersebut dijadikan sebagai pengalaman dan guru yang baik, maka kedepannya mereka tentu akan senantiasi diliput dengan kesuksesan.  Dan desa sangat menjanjikan kesuksesan begi orang orang hebat seperti itu.  Semoga banyak alumni perguruan tinggi yang  tertarik dan siap  membangun desa dengan meraih kesuksesan di sana.  Amin.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.