LIBUR BERSAMA

Negara Indonesia memang  sering diidentikkan dengan  Negara yang suka memberikan liburan kepada para pegawai, baik di lingkungan pemerinthana maupun swasta.  Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya libur bersama  yang menyertai  libur hari besar keagamaan.  Bahkan beberapa tahun yang lalu liburan sangat luar biasa banyak, sehingga  pernah diplesetkan dengan  Negara  libur.  Hari hari besar keagamaan saja sudah cukup banyak menyita  hari efektif, terutama kalau hari perayaannya jatuh pada hari efektif.  Kita dapat membayangkan  kalau setiap agama mempunyai hari besar dan tidak hanya satu, maka sudah dapat dihitung berapa kali libur untuk hari bersar keagamaan tersebut.

Hari besar Islam misalnya ada hari raya Idul Fitri, Idul Adlha, tahun baru Hijriyyah, mauled nabi Muhammad saw, dan juga Isra’ dan Mi’raj Nabi, kemudian jutga Nuzulul Quran.  Sementara di agama lain ada Paskah, kenaikan isa al-masih, Natal dan lainnya.  Demikian juga dengan agama lainnya yang juga mempunyai hari besar dan dijadikan sebagai libur nasional.  Belum lagi hari hari nasional yang  diliburkan, seperti peringatan  hari kemerdekaan RI dan lainnya. Jadi  memang tidak salah ketika  disebutkan sebagai sebuah kritik bahwa  terlalu banyak libur di negera kita ini.  Namun sesungguhnya tidak mengapa, asalkan dalam hari efektif semuanya dapat memrankan diri dengan bagus dan produktif.

Sebagai Negara pancasila,  dimana kita  menghormati dan mengakui keberadaan agama, tentu sudah menjadi konsekwensi bagi Negara untuk memberikan penghormatan kepada  umat beragama, termasuk memberikan hari libur nasional  bagi hari hari besar keagamaan  yang ada.  Rasanya aneh kalau Negara yang agamis dan  memberikan pengesahan kepada agama yang hidup dan tumbuh di negera kita, kemudian kita mengabaikan sama sekali hari hari besar yang diyakini  pemeluk agama tersebut.

Hanya saja memang perlu dipikirkan sebuah solusi yang bijak agar hari libur nasional tidak semakin bertambah yang pada akhirnya akan mengurangi  produktifitas masyarakat dan juga pemerintah.  Artinya pada saatnya nanti seluruh agama yang hidup secara riil di negera kita akan diakui, karena saat ini sudah banyak yang mengusulkan dan memberikan sinyal untuk pengakuan agama agama tersebut.  Pada saat ini memang baru ada 6 agama yang diakui oleh pemerintah, tetapi dalam kenyataannya  sudah banyak tumbuh agama lain yang juga perlu dipikirkan untuk diakui oleh Negara.

Nah, kalau semua agama nanti masing mempunyai  hari besar dua saja dan harus diakomondasi sebagai libur nasional, maka akan sangat banyak hari libur yang ditetapkan oleh pemerintah.  Untuk ituylah kiranya  diperlukan solusi bijak untuk menanggulangi hal tersebut.  Bukan dengan mengurangi  hari raya yang sudah ada,  karena kalu hal tersebut dilakukan, tentu akan terjadi gejolak dan tidak menguntungkan kehidupan  beragama yang selama ini sudah relative damai di negeri ini, melainkan dengan cara pengkuan, tetapi tidak harus  memberikan hari libur nasional.

Barangkali solusi ini akan ditentang karena dianggap tidak adil misalnya,  atau ada diskriminasi dan sejenisnya.  Karena itu sangat mungkin setiap agama baru akan diberikan satu hari libur nasional untuk merayakan  hari besar mereka.  Sedangkan yang sudah terlanjur ditetapkan oleh pemerintah sebagai hari libur nasional tidak diubah atau dikurangi.  Solusi ini meskipun  masih dirasa tidak adil, tetapi dapat dimengerti, apalagi kalau kemudian diberikan penjelasan bahwa pemberian  hari libur nasional tersebut didasarkan atas besar kecilnya  penganut agama tersebut.

Kata diskriminasi memang sangat sensitive dan seharusnya tidak  perlu dimunculkan, karena kalau hal tersebut menjadi dasar pijakan dalam berpikir kita, maka akan banyak hal yang kemudian menjadi sangat rentan terhadap persoalan diskriminasi tersebut.  Kita harus dapat menempatkan diri pada  persoalan yang lebih krusial.  Dalam kasus  pemberian  hari libur nasional bagi  hari raya keaagamaan, tentu kita harus tetap melihat urgensinya dan sekaligus juga  keberadaan umat beragama itu sendiri, serta sejarahnya di masa yang lalu.

Kalau Islam kemudian mendapatkan porsi yang lebih banyak  hari libur nasional untuk hari besarnya, tentu  mempunyai alasan historis yang tidak dapat diabaikan, dan hal tersebut sudah diterima oleh seluruh masyarakat Indonesia, sama seperti umat kristiani  mendapatkan hari hari libur nasional sebagai bentuk penghargaan atas hari besar mereka, seperti natal dan lainnya.  Untuk itu dalam persoalan ini memang tidak perlu diungkap kembali karena hanya persoalan datangnya agama baru di negeri ini.

Urgensi terhadapa pemberian libur bersama yang mengiringi hari raya umat begarama memang dimnaksudkan agar umat begarama tersebut mempunyai cukup waktu untuk merayakannya, karena hal tersebut dianggap sangat penting dan akan memberikan dampak yang bagus.  Kiranya hanya ada dua momen yang  diberikan libur bersama  bersama dengan libur nasional, yakni hari raya Idul Fithri bagi umat muslim, dan juga hari natal bagi umat kristiani.

Pada saat Idul fithri kita  semua tahu bahwa saat itulah umat Islam, dan bahkan saat ini tidak hanya umat muslim, memerlukan pulang kampong untuk bersilaturrahmi dengan seluruh keluarga, dan sekaligus sebagai  wahana untuk meminta maaf kepada sesame.  Karena itu dibutuhkan waktu yang cukup agar kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan khidmat dan  memberikan rasa puas bagi mereka. Kiranya akan sangat naif kalau libur tersebut hanya pada saat hari raya yang dua hari saja tanpa diberikan tambahan liburan.

Bahkan pada kenyataannya  masih banyak  pihak swasta yang meliburkan melebihi ketentuan yang ditetapkan oleh pemrintah. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah, karena  semuanya tergantung kepada masing masing pihak.  Hanya saja bagi pegawai pemerintah memang harus menfaati peraturan yang ditetapkan dan sudah dilakukan secara  bagus dengan memberikan toleransi  waktu libur bwersama tersebut.

Demikian juga dengan libur natal yang biasanya juga diranghkaikan dengan tahun baru, tentu sangat tidak bijak kalau hanya  diberikan waktu satu hari tanggal 25 desember saja, karena  banyak umat kritiani dan juga umat lainnya yang memanfaatkan libur tersebut untuk pulang kampong bertemu dengan keluarga dan merayakan  natal bersama.  Untuk itu pemberian libur tambahan secara bersama tersebut dianggap bijak dan  memenuhi harapan banyak masyarakat.

Hanya saja ke depannya kalau misalnya muncul agama  baru dan diakui oleh pemrintah dan mendapatkan simpatisan  banyak dari kalangan masyarakat, lalu mereka mempunyai kebiasan yang relative sama dengan kebiasaan Idul fithri dan natal, apakah juga harus disediakan ruang  sebagaimana  kedua  hari raya tersebut?.  Barangkali untuk jawabannya diperlukan  renungan yang cermat sebelum memutuskan.  Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam  menjawab masalah tersebut, seperti aspek kesejarahan dan juga penerimaan masyarakat secara umum.

Pendeknya kita memang harus bersyukur bahwa negera kita yang berdasarkan Pncasila tersebut benar benar memberikan kesejukan bagi umat beragama, dan sekaligus tetap memberikan jaminan keamanan bagi para pemeluk agama yang berbeda beda tersebut.  Negara juga memberikan penghormatan kepada umat beragama  dengan memberikan hari besar nasional bagi hari besar mereka.  Meskipun demikian bukan berarti setiap hari besar nasional yang diberikan oleh Negara tersebut harus diringi dengan penetapan  hari tersebut sebagai hari libur?  Itulah masalahnya.  Semoga ke depannya kita mendapatkan solusi terbaik dan sama sekali tidak menyinggung keberadaan umat beragama itu sendiri.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.